Hacker Malang Ditantang Ganggu Komputer KPU

  Malang, JP.-

  Para hacker dari Malang yang tergabung hackerlink.or.id, kemarin menerima
  ''tantangan'' hacker lain yang tergabung dalam hacker k-elektronik yang
  mengklaim sudah bisa menguasai DSN yang dipakai untuk penyimpanan
  data-data hasil pemilu di KPU. ''Kalau DSN tersebut sudah diketahui dan bisa
  diterobos, maka mereka (hacker k-elektronik, Red) sudah bisa memainkan
  data,'' kata Robby Wijaya SKom, supervisor STIKI (Sekolah Tinggi Ilmu
  Komputer dan Informatika) Malang yang aktif bergabung dalam kelompok
  hackerlink, kemarin.

  Menurut Robby, di Indonesia ini ada dua kelompok hacker yang saling
  berebut pengaruh. Yakni, hacker yang tergabung dalam k-elektronik dan
  hacker yang tergabung dalam hackerlink. Tantangan hacker k-elektronik
  tersebut disampaikan kepada hackerlink melalui internet. Tantangan itu
  dilengkapi kode-kode tertentu yang dimiliki KPU. 

  ''Saya menyampaikan masalah ini dengan tujuan agar para ahli komputer di
  KPU bisa mengambil antisipasi. Misalnya, mereka segera mengubah
  kode-kode yang sudah diketahui para hacker yang tergabung dalam
  k-elektronik tersebut, sehingga mereka tidak bisa lagi bermain-main data
  yang sangat penting itu,'' ujarnya.

  Ketika ditemui kemarin, Robby yang didamping Ketua Laboratorium STIKI,
  Kadwi Suharsono Skom itu, pihaknya mengusulkan agar pemerintah segera
  membuat peraturan yang mengatur tentang sanksi para hacker yang
  merusak program pihak lain. ''Di Amerika, para hacker yang merusak data
  pihak lain sudah dianggap sebagai penjahat,'' kata Kadwi.

  Menurut Kadwi, untuk melacak para hacker yang merusak program lain,
  sebenarnya tidak terlalu sulit. Sebab, semua komputer mempunyai nomor,
  sehingga bisa dilacak dari komputer mana para hacker yang merusak
  program tersebut merusak program. ''Penyebar virus Chaer Nobyel yang bisa
  merusak hard disk dan membuat heboh dunia bisa ditangkap oleh petugas
  AS. Padahal, penyebar virus tersebut berada di Taiwan,'' kata Kadwi.

  Bukan hanya itu, hacker yang berhasil masuk ke Pentagon, juga bisa
  ditangkap. Padahal hacker tersebut berada di Australia. ''Jadi, menurut saya,
  harus ada undang-undang dulu. Nanti kalau ada hacker yang merusak
  program, bisa ditangkap ramai-ramai oleh para hacker lain yang tidak jahat,''
  ujarnya.

  Dr Eko Ganis S., ketua laboratorium komputer STIE Malangkucecwara yang
  ditemui kemarin langsung mencoba melacak kode-kode yang dikeluarkan
  hacker k-elektronik tersebut. Ternyata kode-kode tersebut memang benar
  kode KPU. ''Tapi, meski sudah tahu kode-kodenya, namun belum tentu
  hacker k-elektronik tersebut bisa mengacak data yang ada di KPU,'' kata
  Ganis.

  Sebab, kata Ganis, untuk bisa mengacak data KPU, masih harus
  mengetahui log in dan password. ''Kalau hanya mengetahui kode-kode saja,
  belum tentu bisa mengacak. Apalagi pengamanan data di KPU ektraketat,''
  ujarnya.

  Menurut Ganis, dirinya sejak pemilu Senin lalu, selalu berada di depan
  komputer untuk memonitor hasil pemilu yang dikeluarkan KPU. ''Selama
  pengumuman hasil pemilu ini, saya selalu berada di depan komputer. Dan
  saya tidak melihat adanya gangguan dari para hacker. Sebab, kalau data ini
  dirusak, maka akan tampak ada gangguan. Selama ini, tidak pernah ada
  gangguan. Jadi menurut pengamatan saya, selama ini tidak ada pengacakan
  dari para hacker,'' lanjutnya. (kh) 


 http://www.securitysearch.net/cgi-bin/search/vote.cgi?ID=928555811
 -------------------------------------------------------------------
 untuk berhenti kirim  email  ke  [EMAIL PROTECTED]
 untuk melihat peraturan kirim email  ke  [EMAIL PROTECTED]
 arsip berada di  http://www.mail-archive.com/[email protected]
 

Kirim email ke