Jakarta - Pemegang lisensi 3G, PT Cyber Access Communication (CAC), mengaku siap beroperasi tahun 2006. Sebelumnya, CAC sempat memicu 'kekisruhan' akibat menjual saham ke perusahaan asing.
Hal itu terungkap dalam demonstrasi layanan telkomunikasi seluler generasi ketiga (3G) yang digelar CAC di cafe Courtyard Terrace, Plaza Senayan, Jakarta, Jumat (24/6/2005). CAC berencana menghadirkan layanan 3G pada kwartal pertama 2006 di wilayah Jawa dan Bali. Pada periode itu, CAC mengaku optimis bisa menghadirkan layanan 3G dengan frekuensi UMTS 2100 Mhz bersamaan dengan layanan 2G di frekuensi 1800 MHz. Saat ini, CAC sedang mempersiapkan infrastruktur jaringan 3G bersama Motorola, Alcatel dan Ericsson. Demo 3G itu sendiri dilakukan dalam rangkaian Sony Ericsson Expo 2005 di tempat yang sama. Leo Koesmanto, GM Commercial Planning CAC, berharap demo ini bisa menjadi sarana edukasi konsumen. "Kami berharap masyarakat sudah mengenal 3G saat layanan 3G CAC diluncurkan secara komersial," kata Leo saat melakukan demo 3G. Menurut Leo saat ini layanan CAC baru siap di DKI Jakarta saja. CAC juga sudah melakukan percobaan sejak 2-3 bulan lalu di DKI. Trial tersebut mencakup seluruh titik di wilayah DKI, dari wilayah Utara (Ancol), Timur (LP Cipinang), Barat (Roxy) dan Selatan (Pondok Indah). Untuk konten provider, lanjut Leo, CAC juga sedang bekerjasama dengan Jatis, Iguana, Alfaomega, dan boleh.net. Sedangkan untuk video on demand dan live streaming video CAC akan menggandeng MetroTV dan Indosiar. Layanan video on demand adalah layanan download video melalui ponsel. "Jadi kalau anda ketinggalan program seperti televisi 'Headline News' anda tinggal request aja," Sementara itu Samudro Seto, Product Marketing Manager Sony Ericsson Indonesia mengatakan, kerjasama dengan CAC dilakukan secara bertahap. Seto menjelaskan, setelah layanan ini available, handset 3G Sony Ericsson diharapkan bisa meraih penjualan yang signifikan. 'Kisruh' Frekuensi 3G Sebelum ini CAC sempat memicu 'kekisruhan' frekuensi 3G. Perusahaan itu memang menerima lisensi 3G dari pemerintah tanpa proses tender. Seperti juga Natrindo Telepon Selular (NTS) yang ditunjuk langsung oleh pemerintah. Kemudian tahun ini CAC dikabarkan menjual sahamnya (60%) ke perusahaan asal Amerika Serikat, Hutchinson Telecommunication International. Hal yang sama juga dilakukan NTS yang menjual saham (51%) ke Maxis Communications Berhad, perusahaan asal Malaysia. Hal itu memicu penyelidikan (audit) yang dimotori Departemen Komunikasi dan Informatika. Hasil audit itu melahirkan keputusan akan dilakukannya tender terhadap frekuensi 3G. Apa hasil audit itu sebenarnya? Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil, pada kesempatan pekan lalu, Jumat (17/6/2005), seperti enggan merincinya. Ia hanya menyebutkan adanya ketidaksesuaian. Meski telah memiliki lisensi, CAC dan NTS juga diwajibkan mengikuti tender 3G tersebut. Menanggapi hal itu, CAC mengaku akan ikut dengan kebijakan pemerintah. "Selama fair untuk semua, kita akan ikuti semua kemauan pemerintah," kata Leo. Saat ini CAC memiliki alokasi pita frekuensi 3G sebesar 15 Mhz, cukup besar mengingat yang tersedia 'hanya' 60 Mhz. Menurut Leo, frekuensi 15 Mhz yang sudah didapat CAC sudah sesuai dengan kebutuhan mereka. Pemerintah, melalui Depkominfo, masih menggodok skema alokasi frekuensi yang cocok. Sempat juga muncul wacana alokasi pita frekuensi yang dimiliki CAC akan dikurangi. Satu hal yang pasti, pemerintah telah menyatakan akan mengikuti kebijakan International Telecommunication Union. Soal kisruh frekuensi 3G tersebut, konon Hutchinson sempat mempertanyakannya. Namun mengenai hal itu, Leo enggan berkomentar. "Belum saatnya untuk di-disclose," ujar Leo tenang. (wsh) ________________________________________ Website: http://www.m3-community.org Info: [EMAIL PROTECTED] Feedback: [EMAIL PROTECTED] Milis options: http://milis.m3-community.org --- Supported by: INDOSAT Contact center: [EMAIL PROTECTED] DutaHost: http://www.dutahost.net
