Ini saya baca dari detik.com silahkan disimak...
Telkom Naikkan Tarif Telepon ISP
Tarif Langganan Internet Naik 75%
Reporter: Donny B.U.
detikcom - Jakarta, Tampaknya Telkom (baca: KSO) tak jera jua menuai caci-maki.
Pasalnya, entah karena berkuping tebal atau sebab lain, KSO yang 'menguasai' Divre I
Sumatera, Divre VI Kalimantan dan Divre VII Indonesia Timur (Bali dan NTB) menaikkan
tarif abonemen line telepon call in only yang digunakan oleh Internet Service Provider
di atas kewajaran.
Akibat kenaikan ini beberapa ISP terpaksa menaikkan tarif abonemen berlangganan
internet hingga 75 persen. IndoNet Denpasar misalnya menaikkan aboneman dari Rp 22.000
per bulan menjadi Rp 38.500.
Mulanya line telepon ISP yang digunakan pelanggannya untuk melakukan dial-up ke
Internet tersebut dimasukkan ke dalam kelompok bisnis dan hanya dikenakan biaya
sebesar Rp. 32.700 (belum termasuk PPN). Entah karena apa, Beberapa bulan terakhir ini
tarif tersebut harus ditambah dengan biaya Commitment Fee ISP sebesar Rp. 240.900
(belum termasuk PPN). Sehingga total yang harus dibayar oleh ISP kepada Telkom untuk
setiap satu line telepon adalah sebesar Rp 273.600 (belum termasuk PPN) per bulan!
Ujung-ujungnya, para pelanggan akses Internet di ISP-ISP tersebut harus menanggung
biaya berlangganan yang terpaksa ikut-ikutan naik. Contohnya ISP IndoNet yang di
kota-kota lain mengenakan tarif abonemen Rp 22.000,- per bulan, khusus di Denpasar
terpaksa naik menjadi Rp 38.500 per bulan. Kenaikkan sebesar 75% tersebut tentu saja
memberatkan pelanggan ISP dan ujung-ujungnya akan menghambat penetrasi Internet di
Indonesia.
Di mailing-list Genetika ([EMAIL PROTECTED]) juga disebutkan bahwa IndoNet
Balikpapan juga turut menaikkan biaya abonemen kepada pelanggannya. Sedangkan
WasantaraNet Samarinda tidak sanggup menambah lagi line telepon karena untuk setiap
penambahan 10 line akan dikenakan tarif Rp 3 juta per bulan. Padahal jumlah line
telepon yang sudah terpasang tidak lagi sebanding lagi dengan pertumbuhan jumlah
pelanggan.
Sedangkan ISP di Bandung tidak bisa lagi mendapatkan line telepon tambahan karena KSO
Divre Jawa Barat enggan memasok line telepon tambahan karena kuota line telepon yang
disepakati untuk dibangun telah terpenuhi.
Heru Nugroho, ketika dihubungi detikcom pada Rabu (24/1/2001), menyatakan kegusarannya
terhadap KSO tersebut. "Operator (KSO - Red.) tersebut bakal tutup kuping dan masa
bodo karena mereka tidak punya hati nurani," ujar Heru. "Kita ini seperti jaman
penjajahan, cuman sekarang bedanya penjajahan tersebut dilakukan oleh operator
tersebut yang dimotori oleh orang asing sebagai mitra KSO-nya Telkom," tambah Ketua II
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Managing Director MelsaNet
tersebut dengan nada geram.
Senada dengan Heru, Onno W. Purbo melalui e-mail kepada detikcom turut menyesalkan
tindakan KSO tersebut. "KSO sudah cukup keterlaluan bagi masyarakat Indonesia," ujar
Onno. "Apakah kita harus menunggu hingga selesainya perjanjian KSO tahun 2010?" tanya
Onno gusar. "Hal tersebut memalukan. Mentang-mentang masyarakat tidak ada pilihan,
terus seenak perutnya saja KSO bikin kebijakan tarif," tandas praktisi Internet dan
anggota Masyarakat Telematika (Mastel) tersebut.
Dalam mailing-list Genetika tersebut juga diungkapkan bahwa pihak pemerintah, dalam
hal ini Dephub, Ditjen Postel dan Telkom tidak dapat berbuat banyak dengan tingkah
polah KSO tersebut. Tentu saja pemerintah jeri menghadapi KSO, karena memprotes
tindakan KSO bagaikan memercik air di dulang akan terkena muka sendiri. Siapa lagi
yang mengundang KSO masuk untuk bermitra dengan Telkom, kalau bukan pemerintah
sendiri. Siap-siap saja daerah lain kena getah KSO tersebut. Tampaknya anda akan perlu
merogoh kocek anda lebih dalam untuk dapat menikmati Internet. (dbu)