Kompas Selasa, 30 Agustus 2005

 

 

 

Hari-hari Terakhir Cak Nur

Oleh: Komaruddin Hidayat

Senin, 29 Agustus 2005, bertepatan dengan 24 Rajab 1426, pukul 14.05 WIB, Nurcholish Madjid yang biasa dipanggil Cak Nur kembali ke pangkuan Ilahi. Sejak Cak Nur operasi lever di China, dirawat di rumah sakit Singapura, sampai perawatan intensif di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, teman-teman Cak Nur berdatangan memberikan doa dan dukungan moril.

Sejak dari Presiden RI, tokoh-tokoh lintas agama, aktivis LSM, jajaran intelektual, dan politikus datang silih berganti. Ini menunjukkan posisi, kiprah, dan pengaruh Cak Nur yang amat inklusif, bukan sekadar tokoh pergerakan Islam, tetapi pejuang kemanusiaan dan kebangsaan.

Spirit keindonesiaan dan humanisme Cak Nur tak diragukan lagi. Hal ini muncul sebagai buah penghayatan dan keyakinan akan ajaran Islam. Karya-karya tulis Cak Nur menunjukkan perhatian yang amat besar bagi tumbuhnya demokrasi modern di Indonesia dengan dasar nilai-nilai keislaman. Di sinilah sumbangan pemikiran Cak Nur yang besar dan orisinal.

Persoalan bangsa

Berbagai teori ilmu sosial dan filsafat yang dipelajari ujungnya diberi nilai dan fondasi keislaman, diambil dari Al Quran dan khazanah Islam klasik. Pemahaman dan sikap Cak Nur yang demikian sering disalahpahami sebagian tokoh Islam lain yang sering dikategorikan pendukung faham skripturalis beraliran keras.

Ahad malam lalu saya menemuinya di rumah sakit. Apa yang dipikirkan Cak Nur masih menyangkut persoalan bangsa. Omi Komaria, istrinya, sempat merekam sebagian yang disampaikan Cak Nur di pembaringan. Dia selalu menyampaikan keprihatinannya tentang kondisi bangsa yang telah membuat rakyat sengsara. ”Yang harus selalu kita lakukan adalah bagaimana membahagiakan orang lain,” kata Omi menirukan Cak Nur.

Membangun peradaban dan demokrasi tidak mungkin terwujud tanpa suasana damai dan taat hukum, pesan Cak Nur yang diulangi kembali oleh Nadia yang sengaja datang dari Washington.

Suatu hal yang membuat para dokter perawatnya heran, semangat hidup Cak Nur amat tinggi, mengalahkan kepedihan sakit fisiknya. Cak Nur tidak pernah mengeluhkan sakitnya dan tidak pernah membantah nasihat dokter. Bahkan, Cak Nur sendiri yang sering menghibur istrinya untuk bersabar karena apa yang dideritanya belum seberapa dibanding apa yang menimpa para rasul Allah.

Matanya selalu berbinar saat bicara tentang kondisi bangsa dengan teman-teman dekatnya. Hingga Senin pagi kemarin Cak Nur dengan cerah masih bicara dengan teman-teman yang menjenguknya, ada Ginandjar Kartasasmita, Try Sutrisno, dan Imaduddin Abdurrahim. Kepada anaknya, Nadia dan Mikel, serta menantunya, David, Cak Nur berpesan agar mendalami bahasa Arab. Tanpa penguasaan bahasa Arab yang baik akan menemui banyak kesulitan saat memahami Islam.

Pesan lain sebelum ajal yang disampaikan pada Nadia dan David, ajaran Al Quran milik semua bangsa, jangan dimonopoli oleh umat Islam. Tunjukkan kepada dunia, Islam ajaran perdamaian dan kemajuan, bukan mengajarkan kekerasan.

Seorang demokrat

Sejak mengenal dekat Cak Nur di Yayasan Paramadina akhir 1990, banyak sekali kesan dan pelajaran yang saya peroleh. Antara lain, dia betul-betul seorang demokrat. Dia akan menghargai pendapat siapa pun meski berseberangan asal disampaikan dengan beradab, jangan memaksa orang lain untuk menerimanya. Kalau tidak keterlaluan, Cak Nur hampir tidak pernah menjelekkan pribadi orang. Semua temannya dipuji, terlebih jika ada anak muda yang suka menulis baik di surat kabar maupun buku, biasanya Cak Nur akan memberi apresiasi secara terbuka. ”Dia itu hebat, amat potensial, calon pemikir masa depan”, adalah ungkapan yang sering saya dengar.

Karena sulit berkata tidak dan selalu ingin menggembirakan semua pihak, Cak Nur diterima dan disenangi semua pihak. NU maupun Muhammadiyah menerima kehadirannya, bahkan kalangan non-Muslim pun merasa dekat dan memperoleh pengayoman Cak Nur. Sikap inklusif inilah yang sering menimbulkan salah paham terhadap dirinya. Di mata umat Islam beraliran keras, Cak Nur dianggap lemah dan terlalu toleran kepada agama lain. Di mata pemeluk agama lain, Cak Nur dianggap santri tulen yang menyebarkan Islam secara sejuk, intelek, dan simpatik.

Warisan ijtihad politik Cak Nur yang amat fenomenal adalah saat menawarkan pemikiran: ”Islam Yes, Partai Politik Islam No” tahun 1970-an. Saat itu partai politik hampir disakralkan bagai agama sehingga umat Islam wajib masuk partai politik berbasis Islam. Padahal, kondisi dan perilaku elite partai saat itu tidak mencerminkan akhlak mulia sehingga banyak umat Islam alergi pada parpol.

Untuk mendobrak kejumudan umat dan agar Islam tidak selalu diidentikkan dan dipersempit kiprahnya dengan gerakan parpol yang pengap serta sibuk berebut jabatan, Cak Nur mengusung gerakan Islam kultural dengan jargon: ”Islam Yes, Partai Politik No”.

Hemat saya, pemilu tahun lalu menunjukkan, pemikiran Cak Nur tahun 1970-an masih relevan, bahwa perjuangan Islam tidak bisa dihadapkan dengan agenda pembangunan demokrasi dan bangsa sehingga jika parpol Islam dan dakwah Islam ingin maju, harus ditopang kekuatan moral-intelektual serta keseriusan dan kesanggupan memecahkan problem bangsa serta menciptakan perdamaian.

Selamat jalan Cak Nur! Bukankah Cak Nur pernah mengajarkan kepada saya, kematian adalah hari wisuda untuk memasuki tahapan hidup lebih tinggi? Bukankah kematian tak ubahnya pulang mudik ke kampung halaman Ilahi yang lebih membahagiakan?

Komaruddin Hidayat Anggota Dewan Guru Besar Universitas Paramadina; Mantan Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina

 

 

Note: This email has been scanned by Indosat VirusWall Systems
Note: This email has been scanned by Indosat VirusWall Systems
--------------------------------------------------------------------
Note : This email has been scanned by Indosat IMSS systems !!!
Indosat Mail Administrator
Note: This email has been scanned by Indosat VirusWall System
--------------------------------------------------------------------
Note : This email has been scanned by Indosat IMSS systems !!!
Indosat Mail Administrator

Kirim email ke