|
Hari-hari Terakhir Cak Nur
Oleh: Komaruddin Hidayat
Senin,
29 Agustus 2005, bertepatan dengan 24 Rajab 1426, pukul 14.05 WIB, Nurcholish
Madjid yang biasa dipanggil Cak Nur kembali ke pangkuan Ilahi. Sejak Cak Nur
operasi lever di China, dirawat di rumah sakit Singapura, sampai perawatan
intensif di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, teman-teman Cak Nur
berdatangan memberikan doa dan dukungan moril.
Sejak
dari Presiden RI, tokoh-tokoh lintas agama, aktivis LSM, jajaran intelektual,
dan politikus datang silih berganti. Ini menunjukkan posisi, kiprah, dan
pengaruh Cak Nur yang amat inklusif, bukan sekadar tokoh pergerakan Islam,
tetapi pejuang kemanusiaan dan kebangsaan.
Spirit
keindonesiaan dan humanisme Cak Nur tak diragukan lagi. Hal ini muncul
sebagai buah penghayatan dan keyakinan akan ajaran Islam. Karya-karya tulis
Cak Nur menunjukkan perhatian yang amat besar bagi tumbuhnya demokrasi modern
di Indonesia dengan dasar nilai-nilai keislaman. Di sinilah sumbangan pemikiran
Cak Nur yang besar dan orisinal.
Persoalan bangsa
Berbagai
teori ilmu sosial dan filsafat yang dipelajari ujungnya diberi nilai dan
fondasi keislaman, diambil dari Al Quran dan khazanah Islam klasik. Pemahaman
dan sikap Cak Nur yang demikian sering disalahpahami sebagian tokoh Islam
lain yang sering dikategorikan pendukung faham skripturalis beraliran keras.
Ahad
malam lalu saya menemuinya di rumah sakit. Apa yang dipikirkan Cak Nur masih
menyangkut persoalan bangsa. Omi Komaria, istrinya, sempat merekam sebagian
yang disampaikan Cak Nur di pembaringan. Dia selalu menyampaikan
keprihatinannya tentang kondisi bangsa yang telah membuat rakyat sengsara.
”Yang harus selalu kita lakukan adalah bagaimana membahagiakan orang
lain,” kata Omi menirukan Cak Nur.
Membangun
peradaban dan demokrasi tidak mungkin terwujud tanpa suasana damai dan taat
hukum, pesan Cak Nur yang diulangi kembali oleh Nadia yang sengaja datang
dari Washington.
Suatu
hal yang membuat para dokter perawatnya heran, semangat hidup Cak Nur amat
tinggi, mengalahkan kepedihan sakit fisiknya. Cak Nur tidak pernah
mengeluhkan sakitnya dan tidak pernah membantah nasihat dokter. Bahkan, Cak
Nur sendiri yang sering menghibur istrinya untuk bersabar karena apa yang
dideritanya belum seberapa dibanding apa yang menimpa para rasul Allah.
Matanya
selalu berbinar saat bicara tentang kondisi bangsa dengan teman-teman
dekatnya. Hingga Senin pagi kemarin Cak Nur dengan cerah masih bicara dengan
teman-teman yang menjenguknya, ada Ginandjar
Kartasasmita, Try Sutrisno, dan Imaduddin Abdurrahim. Kepada anaknya, Nadia
dan Mikel, serta menantunya, David, Cak Nur berpesan agar mendalami bahasa
Arab. Tanpa penguasaan bahasa Arab yang baik akan menemui banyak kesulitan
saat memahami Islam.
Pesan
lain sebelum ajal yang disampaikan pada Nadia dan David, ajaran Al Quran
milik semua bangsa, jangan dimonopoli oleh umat Islam. Tunjukkan kepada
dunia, Islam ajaran perdamaian dan kemajuan, bukan mengajarkan kekerasan.
Seorang demokrat
Sejak
mengenal dekat Cak Nur di Yayasan Paramadina akhir 1990, banyak sekali kesan
dan pelajaran yang saya peroleh. Antara lain, dia betul-betul seorang
demokrat. Dia akan menghargai pendapat siapa pun meski berseberangan asal
disampaikan dengan beradab, jangan memaksa orang lain untuk menerimanya.
Kalau tidak keterlaluan, Cak Nur hampir tidak pernah menjelekkan pribadi
orang. Semua temannya dipuji, terlebih jika ada anak muda yang suka menulis
baik di surat kabar maupun buku, biasanya Cak Nur akan memberi apresiasi
secara terbuka. ”Dia itu hebat, amat potensial, calon pemikir masa
depan”, adalah ungkapan yang sering saya dengar.
Karena
sulit berkata tidak dan selalu ingin menggembirakan semua pihak, Cak Nur
diterima dan disenangi semua pihak. NU maupun Muhammadiyah menerima
kehadirannya, bahkan kalangan non-Muslim pun merasa dekat dan memperoleh
pengayoman Cak Nur. Sikap inklusif inilah yang sering menimbulkan salah paham
terhadap dirinya. Di mata umat Islam beraliran keras, Cak Nur dianggap lemah
dan terlalu toleran kepada agama lain. Di mata pemeluk agama lain, Cak Nur
dianggap santri tulen yang menyebarkan Islam secara sejuk, intelek, dan
simpatik.
Warisan
ijtihad politik Cak Nur yang amat fenomenal adalah saat menawarkan pemikiran:
”Islam Yes, Partai Politik Islam No” tahun 1970-an. Saat itu partai
politik hampir disakralkan bagai agama sehingga umat Islam wajib masuk partai
politik berbasis Islam. Padahal, kondisi dan perilaku elite partai saat itu
tidak mencerminkan akhlak mulia sehingga banyak umat Islam alergi pada
parpol.
Untuk
mendobrak kejumudan umat dan agar Islam tidak selalu diidentikkan dan
dipersempit kiprahnya dengan gerakan parpol yang pengap serta sibuk berebut
jabatan, Cak Nur mengusung gerakan Islam kultural dengan jargon: ”Islam
Yes, Partai Politik No”.
Hemat
saya, pemilu tahun lalu menunjukkan, pemikiran Cak Nur tahun 1970-an masih
relevan, bahwa perjuangan Islam tidak bisa dihadapkan dengan agenda
pembangunan demokrasi dan bangsa sehingga jika parpol Islam dan dakwah Islam
ingin maju, harus ditopang kekuatan moral-intelektual serta keseriusan dan
kesanggupan memecahkan problem bangsa serta menciptakan perdamaian.
Selamat
jalan Cak Nur! Bukankah Cak Nur pernah mengajarkan kepada saya, kematian
adalah hari wisuda untuk memasuki tahapan hidup lebih tinggi? Bukankah
kematian tak ubahnya pulang mudik ke kampung halaman Ilahi yang lebih
membahagiakan?
Komaruddin Hidayat Anggota Dewan Guru Besar Universitas Paramadina;
Mantan Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina
|