Kalo maryoto udah ada bayangan..
Tapi kalo herman tohari yang mana seh???


BR,

Desy Zuraedah
INDOSAT, NDQ - JBRO #
WA,G.fl.# M  0855 10000 72
P. 02130007174  F.02130005701

Keep SMILE K !!!



-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, May 09, 2006 1:52 PM
To: [email protected]
Subject: -=+OPJA-4261+=- Lebih Nyaman tanpa Televisi?


Penulis kayaknya masih saudara sama herman tohari nih :)

  Lebih Nyaman tanpa Televisi?


  SEBUAH keluarga muda dengan suami-istri sarjana dan keduanya sudah
lama bekerja tapi di rumah mereka tak ada televisi. Barangkali inilah
sebuah kecuali. Karena, televisi saat ini sudah menjadi kebutuhan utama
masyarakat dari segala tingkatan di kota maupun di desa. Ketika ditanya
mengapa di rumah tak ada televisi, mereka menjawab ringan. "Ternyata
kami bisa hidup lebih nyaman justru tanpa televisi."

  Jawaban singkat itu justru membuat saya berfikir. Mungkin mereka
benar. Toh kebutuhan akan berita dan informasi bisa mereka dapatkan dari
koran atau majalah yang terpilih. Hiburan, baik yang audio maupun yang
visual bisa diperoleh melalui VCD yang juga terpilih dan diputar melalui
perangkat multimedia. Mereka berdaulat dan menentukan sendiri cara
berkomunikasi dengan dunia luar. Mereka juga menentukan sendiri cara
memasuki dunia hiburan. Sedangkan televisi, meskipun juga menyajikan
acara-acara yang mereka butuhkan ternyata membuat hidup mereka kurang
nyaman. Mengapa? Pertanyaan ini bisa saya jawab sendiri setelah selama
dua hari siang-malam saya menjadi penonton setia acara yang disiarkan
oleh dua stasiun televisi.


  Riset amatiran ini membuat saya sungguh yakin keluarga muda yang saya
ceritakan tadi benar. Bahwa pada dataran sikap dan akal yang wajar
tayangan televisi kita memang membuat orang bisa kehilangan kenyamanan
hidup. Saya pun jadi makin sadar, hanya karena kepentingan bisnislah
maka televisi ada. Ya, kepentingan bisnis yang bermental steril dan amat
menomorsatukan akumulasi keuntungan terus-menerus. Untuk mencapai tujuan
itu kepentingan bisnis sangat agresif bahkan ofensif dalam memperluas
wilayah pasar. Dan mereka punya pasukan sangat mahir yang bernama iklan.

  Ya, iklan. Lihatlah misalnya, iklan rokok yang mendominasi tayangan
televisi. Iklan rokok makin hebat, baik kualitas maupun intensitasnya.
Belum lagi iklan rokok di luar layar televisi. Dan terbukti mereka telah
sukses menciptakan bangsa ini menjadi bangsa perokok terbesar di dunia.


  Dari tayangan iklan di televisi kita mendapat gambaran industri rokok
(yang telah melahirkan orang Indonesia terkaya di dunia) sedang menuntun
puluhan juta generasi muda kita menjadi konsumen nikotin dengan cara
yang demikian cerdas dan memikat. Dan kita seakan tak peduli pendapat
para ahli bahwa rokok adalah jendela untuk mengenal dunia narkoba. Juga
kita yang mengaku muslim tidak peduli bahwa merokok sangat diajurkan
untuk ditinggalkan (makruh). Apakah karena industri rokok punya peran
penting dalam perekonomian kita, dan tanpa industri rokok perekonomian
Indonesia akan lebih terpuruk? Jawaban "ya" seakan menjadi nalar yang
harus kita telan setelah kita menyaksikan tayangan iklan rokok yang
dahsyat itu. Kondisi ini memang membuat siapapun yang punya pikiran
logis merasa tidak nyaman. Dan iklan permen? Iklan ini dibuat dengan
membangun sensasi kenikmatan luar biasa, di luar nalar, yang dijanjikan
kepada konsumen. Orang dijamin akan memperoleh sensasi kebahagiaan luar
biasa hanya dengan mengulum sebutir permen. Nalar? Memang tidak, kecuali
orang yang mimpi dalam dunia sensasi. Dan memang mimpi kosong itulah
yang dibangun dengan biaya triliunan dalam bisnis iklan.

  Demikian juga iklan mi, susu, sabun, pasta gigi, dan semuanya. Semua
penuh sensasi yang membuat orang yang ingin hidup sewajarnnya jadi
merasa kurang nyaman. Untung, atau sayang, orang jenis ini sekarang
sudah menjadi mahluk langka sehingga sensasi dan provokasi iklan bisa
terus merajalela. Bukankah sudah nyata jauh lebih banyak orang yang
asyik menikmati tayangan iklan (termasuk iklan pembalut dan kondom) dari
pada mereka yang merasa risi dan merasa tidak nyaman.

  Di luar masalah iklan tayangan televisi juga didominasi oleh orientasi
cari untung. Rate atau jumlah penonton adalah kata kunci. Untuk
mendongkrak rate, apa saja dilakukan. Sinetron yang penuh kekerasan,
dengan pertumpahan darah yang sangat kejam, eksploitatif terhadap dunia
anak-anak sampai menyerempet-nyerempet masalah akidah terus ditayangkan.
Kuis gampangan dengan hadiah milyaran terus disajikan, tak peduli hal
ini merupakan pornografi sosial yang hanya akan membuat penonton menjadi
pemimpi. Panggung dan kehidupan gemerlap disodorkan setiap saat tanpa
empati sedikitpun terhadap penonton yang mayoritas terdiri atas
orang-orang miskin.

  Dan berita-berita kriminal disajikan dengan mengekploitasi sensasi
kejahatan dan kekejaman. Kelihatan sekali penayangan berita kriminal
diusahakan bisa menggambarkan kembali peristiwa yang seungguhnya. Dengan
kata lain mereka mau membawa penonton menyaksikan kembali tindak
kejahatan yang mereka beritakan. Maka jadi lengkap; di satu sisi
televisi kita menyodorkan dunia mimpi dan dunia gemerlap yang merupakan
pornografi sosial, pada sisi lain mereka menampilkan dunia kejahatan dan
kekejaman yang biasanya terjadi di masyarakat pinggiran.


  Ah, rasanya pasangan muda itu benar. Hidup tanpa televisi bisa lebih
nyaman. Tanpa televisi berarti tanpa rayuan dan provokasi yang
berlebihan, yang mendorong-dorong kita menjadi pembeli. Kita juga akan
bebas dari tayangan pornografi sosial yang menyebalkan.


  Tapi nanti dulu. Bagaimana dengan puluhan juta orang yang sudah
terbina oleh rezim televisi? Sekarang mereka sudah menganggap televisi
sebagai kebanggaan bahkan kiblat kehidupan mereka. Mereka menikmati
iklan dan sajian lain dengan amat khusuk. Dan mungkin mereka tidak bisa
mengerti bahwa ibarat makanan, tayangan televisi memang enak meskipun
lebih banyak narkobanya.

  (Ahmad Tohari )


-----------------------| Milis Opja |--------------------------
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa

lampau --Khalil Gibran.

Foto-foto Ekslusif FGO 2004 ada di: http://www.opja.or.id/gallery
Arsip Milis Opja di: http://www.opja.or.id/


==================================
Scanned by Indosat TM-IMSS System

=================================
scanned by Indosat TM-IMSS System

-----------------------| Milis Opja |--------------------------
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa
lampau --Khalil Gibran.

Foto-foto Ekslusif FGO 2004 ada di: http://www.opja.or.id/gallery
Arsip Milis Opja di: http://www.opja.or.id/

Kirim email ke