Dikutip dari milis KRLMania, karya Edi Haryanto

 

WAGINO DAN CUTI BERSAMA MENDADAK

Syahdan di sebuah kerajaan antah berantah, yang ada di alam ketoprak,
sang raja 
sedang bersantai. Waktu menunjukan pukul setengah empat sore waktu
kerajaan 
antah berantah. Ditemani sang permaisuri, baginda raja sedang menikmati
es 
campur dipinggir kolam kerajaan. Rupanya baginda sedang dalam keadaan
penat, 
karena siang hari tadi baginda raja cukup sibuk mengikuti protokoler
istana 
menerima utusan dari daerah-daerah.
Tiba-tiba datang ajudan baginda, " Ampun baginda, perkenankan hamba
menghadap, 
mengganggu baginda yang sedang istirahat", begitu sang ajudan meminta
ijin pada 
Baginda. Dan dengan agak malas Baginda menjawab, " Ada apa lagi, tidak
bolehkah 
aku istirahat sejenak".
"Ampuni hamba Baginda, saya rasa hamba harus menghadap sekarang pada
Baginda 
karena ada yang penting yang hendak hamba sampaikan", kata sang ajudan.
"Begini baginda, baru saja hamba memeriksa agenda kerja Baginda untuk
minggu 
depan, dimana Baginda sesuai agenda hari Senin harus berkeliling wilayah

kerajaan untuk inspeksi"
"Ya, saya tahu itu, bukankah itu memang tugas rutinku setiap Senin?"
potong 
Baginda raja.
"Betul Baginda, tapi sepertinya Baginda kurang memperhatikan almanak.
Hari 
Selasa minggu depan itu kan hari Waisak Baginda. Kalau Baginda keliling
kerajaan 
pada hari Senin, maka Baginda tidak akan bisa ketemu para Gubernur,
residen, 
bupati, maupun camat. Mereka pasti tidak berdinas pada hari Senin depan
Baginda, 
karena itu hari kejepit" adjutan kerajaan menerangkan.
"Jadi mohon ijin Baginda, sebaiknya Baginda menjadwal ulang kegiatan
baginda 
khusus untuk Senin depan baginda" saran sang ajudan.
"Hmm... coba ambilkan iPad itu" kata baginda sambil menunjuk iPad beliau
di atas 
meja di tepi kolam.
Sang ajuda mengambilkan iPad tersebut dan menyerahkannya pada Baginda.
Baginda kemudian menyalakan iPadnya, dan melihat aplikasi almanak.
"Betul juga, kenapa hari Senin yang kejepit ini tidak dijadwalkan tanggl
merah, 
dan kenapa tidak ada menteri yang mengingatkanku kalau hari Selasa depan
libur" 
kata Baginda.
"Begini saja, tolong menteri urusan agama, menteri urusan tenaga kerja,
dan 
menteri urusan nayaka praja suruh menghadap saya secepatnya!" Baginda
memerintah 
sang ajudan.
"Baik Paduka, hamba mohon diri" Sang ajudan pamit untuk melaksanakan
tugas.
Tak berapa lama, datang menteri yang dimaksud. Diawali kedatangan
menteri urusan 
nayaka praja, disusul menteri agama dan menteri tenaga kerja.
Setelah mengajukan sembah, diwakili oleh menteri urusan nayaka praja,
mereka 
menanyakan ada apa gerangan mereka dipanggil, padahal waktu telah sore,
dimana 
mereka tengah siap-siap pulang.
"Mohon maaf Baginda, mengapa ada urusan pentingkah Baginda memanggil
kami 
bertiga, sementara hari telah sore, dimana kami tengah bersiap untuk
pulang" 
begitu menteri urusan nayaka memulai pembicaraan.
"Kalian ini bagiamana, saat menyusun almanak cuti, mengapa hari Senin
besuk yang 
kejepit itu tidak kalian jadikan merah sekalian, biar efektif dan
efisien 
kinerja seluruh nayaka praja" Jawab Baginda.
"Maaf Baginda, coba kami cek dulu kalender kami" kata sang menteri
sambil 
mengeluarkan iPadnya diikuti dua menteri yang lain.
Kemudian menteri urusan agama, yang rupanya lebih dulu menemukan
almanaknya 
menjawab.
"Maaf Baginda, sepertinya ini kesalahan hamba, hamba kurang teliti,
kurang 
memerhatikan kalau Selasa ada upacara Waisak"
"Begini saja Baginda, kita bertiga saat ini juga akan membuat keputusan
bersama, 
agar Senin diliburkan saja" kata menteri urusan nayaka. Sementara
menteri urusan 
tenaga kerja masih bingung, memikirkan bagaimana nanti mengatur agar
para buruh 
bisa libur. Namun sang menteri tenaga kerja rupanya terima saja usulan
menteri 
urusan nayaka. Nanti biar nantilah diataus, begitu gumamnya dalam hati.
"Ya sudah, segera buat itu keputusan, dan umumkan sgera, agar para
nayaka bisa 
bersuka ria, dan segera mengatur jadwal liburan besuk" kata Baginda
"Aku akan melanjutkan istirahatku, kalian bertiga atur semuanya" lanjut
Baginda.
Para menteri kemudian mohon diri, dan segera berunding membuat surat
keputusan 
bersama. Mereka kemudian menandatanganinya dan segera mengirimkan surat 
keputusan bersama itu kepada radio dan televisi istana untuk
mengumumkannya 
kepada kalayak. Tak lupa foto kopi surat keputusan bersama itu
dikirimkan kepada 
para menteri lainnya, para bupati, walikota dan para demang.
Sore itu mendadak terjadi kegembiraan di kalangan para nayaka praja
kerajaan. 
Gembira karena mereka bisa libur panjang. Tak lupa para nayaka ini
mengirimkan 
kabar libur ini kepada para teman-teman kerja yang telah terlanjur
pulang. 
Mereka kirim kabar libur ini lewat backberry messenger, sms dan
Facebook.

Pagi hari, Senin Wage, 12 Jumadilakir, dipangkalan kereta Serpong
wilayah 
kerajaan antah berantah. Seorang rakyat jelata sebut namanya Wagino
hendak 
berangkat bekerja. Namun betapa bingung dirinya, menyaksikan keadaan
pangkalan 
kereta yang penuh sesak. Saat masih bingung itu tiba-tiba ada woro-woro
dari 
punggawa kereta.
"Woro-woro, diumumken kepada pengguna kereta cepat, bahwa keretanya
batal 
berangkat, karena sesuai instruksi punggawa tertinggi kereta, bahwa hari
ini 
hari cuti bersama sesuai surat keputusan bersama tiga menteri". Harap
seluruh 
pengguna kereta maklum, jika tetap mau menggunakan jasa kereta,
diharapken rela 
berdesak-desakan, atau silahkan pulang saja" begitu bunyi pengumumannya.
"Waduh apa pula ini, kereta dengan jadwal normal saja berantakan,
bagimana 
kereta dikurangi jadwalnya kayak hari libur nih. Payah nih" begitu guman
Wagino 
mendengar woro-woro punggawa kereta.
Namun dirinya tetap bergegas membeli karcis, karena tugas hari ini tidak
bisa 
ditinggalkan. "Bisa dipecat saya sama bos kalau tidak berangkat hari
ini" gumam 
Wagino lagi.
Setelah mendapatkan karcis segera dia menuju kereta yang sedang
menaikkan 
penumpang. Namun kereta yang dia mau naiki ternyata sudah penuh, bahkan 
penumpang sudah menggelantung dipintu. "waduh gimana ini, masak mesti
naik ke 
atap. Bisa kena semprot cat warna nanti kalau naik ke atap kereta. Coba
deh aku 
tunggu kereta berikutnya, moga-moga ada ruang untuk masuk" gumam Wagino.
Tak lama kereta berangkat, dan dengan was-was si rakyat menunggu kereta 
berikutnya. "Aku harus bisa naik kereta berikutnya, entah bagaimana
caranya, 
kalau tidak, aku bisa dipecat" gumamnya. Tampak orang-orang di
sekelilingnya 
juga was-was. Mereka sama seperti dirinya, kawatir tidak dapat kereta.
Saat kereta berikutnya datang, semua orang menyerbu. dan terjadilah 
dorong-dorongan. "tolong-tolong... pelan-pelan dong... jangan main
dorong.. saya mau 
jatuh..." teriak seorang ibu. "ayo cepat bu... jangat banyak omong" kata
seorang 
bapak. Tiba-tiba sebuah dorongan kuat menerjang danWagino yang dari tadi

berusaha naik terjatuh di depan pintu kereta.... Tiba-tiba dia bangun,
dang "Plak, 
plak" tangannya menampar seorang bapak yang mendorongnya dari
belakang.."jangan 
dorong-dorongan dong!" katanya. "Apa kamu, main tampar... aku juga
didorong dari 
belakang!" kata si Bapak yang ditampar.
Namun Wagino tidak memperhatikan bantahan si Bapak, dengan sekuat tenaga
dia 
meringsek masuk ke gerbong. Samar-samar Wagino masih mendengar si Bapak
memaki 
dirinya.
Tak berapa lama, kereta berjalan, dan dari dalam kereta dia bisa
melihat, banyak 
penumpang yang belum terangkut. "Ah betapa enaknya jadi nayaka praja
kerajaan, 
tidak perlu desak-desakan hari ini" gumam Wagino. Kereta berjalan dengan
berat, 
namun di setiap pemberhentian masih saja ada calon penumpang yang
mencoba naik, 
meski kereta sudah penuh, sesak, sangat sesak, seperti tumpukan 'mbako
semprul' 
(tembakau yang sudah jelek).
Saat kereta sampai tujuan, berlarianlah penumpang keluar. berebut paling
dulu 
untuk menghirup udara.
"Syukur sampai juga. Tapi jam berapa sekarang?" gumam Wagino. Dia segera

berlari, dan menghampiri ojek sepeda. "Bang Cideng... cepat ya Bang!"
kata Wagino 
pada tukang ojek sepeda.
Tanpa berkata tukang ojek segera mengbelokkan sepedanya dan menyuruh
Wagino 
naik. Dan tanpa komando lagi mengayuh sepedanya secepat mungkin.
Sesampainya di tujuan, Wagino membayar ojek sepedanya... dan segera
berlari, namun 
rupanya Wagino telah terlambat. Dia melihat jam besar di pintu masuk
kantornya.. 
"Wah,... kena potong gajiku bulan ini gara-gara telat. Kurang ajar...
padahal bulan 
depan mesti uang pendaftaran ulang anakku yang naik kelas" gumam Wagino
sedih. 
"Asem... gak bakal lagi aku mau menghadap ke kerajaan. Negara ngatur
jadwal saja 
kagak becus!"







Maryoto Soemarko
-------------------------------------------------
PT. Cakrawala Andalas Televisi | Menara Standard Chartered Bank Lt. 31-32 Jl. 
Prof. Dr. Satrio No. 164 Jakarta 12950
Phone: +62 21 3040 5555 | E-mail: [email protected]



Disclaimer added by CodeTwo Exchange Rules      
http://www.codetwo.com  

<<inline: logo.gif>>

<<inline: program-campaign.jpg>>

Kirim email ke