Driver Taxi Itu Trainerku
BY JAMILAZZAINI ⋅ MAY 31, 2011 ⋅ POST A COMMENT

Senin kemarin saya Sengaja “mengistirahatkan” driver yang selama ini
setia menemani saya. Setelah jadwal training yang begitu padat saya
khawatir ia jatuh sakit. Untuk memulihkan stamina, ia saya bebaskan
mengantar saya. Hari itu, saya menggunakan jasa taxi, Blue Bird.

Begitu saya naik taxi sang driver menyapa dengan kata-kata yang
lembut dan bahasa tubuh yang mengesankan. Semakin saya ajak ngobrol,
saya semakin “jatuh cinta” dengan driver itu. Dalam hati saya
bergumam, “Pasti ada sesuatu di dalam diri driver ini sehingga
pribadinya begitu mempesona. Saya ingin banyak belajar dengan driver
ini.”

Agar punya kesempatan yang lebih luas untuk ngobrol, driver ini saya
ajak makan siang di salah satu restoran kesukaan saya di Bogor.
Awalnya dia menolak, tetapi setelah saya “paksa” akhirnya ia
bersedia menemani saya. Ketika saya tanya mau pesan apa, dia
menjawab, “Terserah bapak.” Driver itu saya pesankan menu sama
persis dengan pesanan saya: Sate kambing tanpa lemak dan sop
kambing, masing-masing satu mangkok.

Sebelum makan saya bertanya, “Tinggal dimana?” Dia menjawab,
“Balaraja Tangerang.” “Berapa jam perjalanan ke pool?” sambung saya.
Diapun menjawab, “Empat jam.” Saya terkejut, “Hah! Empat jam? Pergi
pulang delapan jam. Kenapa gak nginep saja di pool?” Dia segera
menjawab, “Saya harus menjaga ibu saya.”

“Menjaga ibu?” batinku. Bagaimana mungkin menjaga ibu, sampai rumah
jam 23.30 berangkat kerja jam 03.30 dini hari? Untuk mengurangi rasa
penasaran, kemudian saya bertanya lagi, “Bukannya sampai rumah ibu
sudah tidur, berangkat ibu belum bangun?”

Dengan agak terbata dia menjawab, “Setiap saya berangkat ibu sudah
bangun. Saya hanya ingin mencium tangan ibu setiap pagi sebelum
berangkat kerja, sambil berdoa semoga saya bisa membahagiakan ibu.”
Jawaban itu menusuk sanubariku, hanya sekedar mencium tangan ibu dan
mendoakannya ia rela menempuh perjalanan delapan jam setiap hari.
Sayapun ke belakang sejenak menghapus air mata yang mengalir di pipi.

Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan untuk
membahagiakan ibu?” Dengan lembut ia menjawab, “Saya sudah daftarkan
umroh di kantor.”

“Maksudnya?” seru saya. Ia menjawab, “Kalau saya berprestasi dan
tidak pernah mangkir kerja, saya berpeluang mendapat hadiah umroh
dari kantor. Bila saya menang, hadiah umroh itu akan saya berikan
kepada ibu tercinta.”

Mendengar jawaban itu saya menarik napas panjang. Dengan nada agak
bergetar ia melanjutkan, “Setiap hari saya pulang agar bisa mencium
tangan ibu dan mendoakannya agar ia bisa pergi umroh. Saya
benar-benar ingin membahagiakan ibu saya.” Mendengar jawaban itu,
haru dan malu bercampur menjadi satu. Air matapun mengalir deras di
pipiku. Malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan
driver taxi ini.

Bila selama ini saya yang membuat peserta training berkaca-kaca.
Hari ini Asep Setiawan, driver taxi itu, yang membuatku menangis
tersedu. Dia telah menjadi trainer dalam kehidupanku. Ya, Asep
Setiawan telah menjadi trainerku… bukan melalui kata-katanya tetapi
melalui tindakannya.

Salam SuksesMulia!

-----------------------| Milis Opja |--------------------------
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa 
lampau --Khalil Gibran.

Foto-foto Ekslusif FGO 2004 ada di: http://www.opja.or.id/gallery
Arsip Milis Opja di: http://www.opja.or.id/

Kirim email ke