Dh,

Maaf, saya masih terima email dari [email protected]

Di delete aja ya.

Tks

Firda K
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________
From: ALFIAN JAHUHARI <[email protected]>
Date: Mon, 6 Feb 2012 08:18:47 +0700
To: [email protected]<[email protected]>
ReplyTo: "[email protected]" <[email protected]>, ALFIAN JAHUHARI 
<[email protected]>
Subject: -=+OPJA-7936+=- Siapakah Ibu anak ini,..?

Dicopy dari satu episode dalam catatan perjalanan seorang pendaki.  Mungkin 
teman-teman sudah pernah membacanya,..... mudah-mudahan dapat mengingatkan 
kembali untuk dapat membasuh nurani kita.


Siapakah Ibu anak ini,..?

Selesai mendaki gunung, saya harus kembali melalui jalan tol. Mengingat jalan 
tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah 
sebentar di sebuah rumah makan. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki 
berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.
"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangangnya segera menyelak daun 
pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya. "Tidak Dik, Abang sudah pesan 
makanan," jawab saya ringkas. dia berlalu.
Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian 
saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri 
sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.
"Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri 
meja saya.
"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil 
menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ 
dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, "Tak mau 
beli kue saya Bang, Pak... Kakak atau Ibu." Molek budi bahasanya.
Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui 
pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya 
melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda 
putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.
Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke arah si Koneng, 
Jip Jimny Sierra kesayangan saya yg saya parkir di depan rumah makan tsb. Anak 
itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, 
membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak 
tadi berdiri di sisi Jip saya. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan 
kaca jendela. Membalas senyumannya.
"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik-adik, 
Istri atau anak abang," katanya sopan sekali sambil tersenyum. Sekali lagi dia 
memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. 
Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. 
"Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah Abang beli kue itu." Saya berkata 
ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang 
tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima 
deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin Jip saya hidupkan, saya memundurkan Jip saya. Alangkah 
terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu 
kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya 
hentikan Jip saya, memanggil anak itu.

"Kenapa Bang, mau beli kue kah?" tanyanya.

"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan 
ke Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. 
Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya 
bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. 
Kata Mak mengemis adalah kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!" 
katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak 
itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul 
itu.

"Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya 
kelu tak dapat berkata-kata. "Rp 25.000,- saja Bang...." Selepas dia memasukkan 
satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan 
terima kasih dan terus pergi.

Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan mata saya yang berlinang air 
mata, ketegaran saya menghadapi hutan rimba, hujan dan badai,  luluh seketika.

Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? 
.....Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya?

Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, 
tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu 
penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu, dan merasa diri 
saya kecil, lebih kecil dari anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita 
sebenarnya.


Kirim email ke