WTC rasanya belum ada tahun 1945. Empire State Building mungkin?

 

-----Original Message-----
From: Akhmad Bukhari Saleh [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Saturday, September 15, 2001 12:16 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [ PII ] Dari milis Sipil (Re: [ PII ] Penjelasan Tambahan WTC-US)

 

Indradjaja Dalel wrote:

Terima kasih atas penjelasannya Mr. Oei, Fuk Jin. Penjelasannya sangat
konprerhensif yang membukakan mata kita terhadap apa sebenarnya yang
terjadi. Sekali lagi terima kasih. (The explanation is very clear and
comprehensive, thank you)

Di bawah ini dari salahsatu milis Sipil.
Seru sih seru, tapi kayaknya koq logic-nya melompat-lompat terlalu jauh.
"Lompatan logika" semacam ini, yang jelas terlihat adalah soal B-25 menabrak salah satu tower WTC di tahun ... 1945!

Wasalam.

==========================================================================

 From: Moko Darjatmoko <[EMAIL PROTECTED]>
 Date: Thu, 13 Sep 2001 12:33:36 -0500
 Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
 Subject: [milis kuyasipil euy] Mekanisme runtuhnya WTC 

 Memang itulah yang umumnya terjadi pada bangunan tinggi, satu lantai
 jatuh ke lantai di bawahnya, yang selanjutnya menjatuhi lantai
 di bawahnya lagi, dst. Sampai akhirnya semuanya menjadi tumpukan lantai
 di dasar bangunan. Fenomena ini dikenal sebagai "pancakes collapse."
 Tetapi yang terjadi di WTC ini agak lain.

 Waktu saya lihat bagaimana bangunan ini seolah "melorot" ke bawah -
 jantung saya hampir copot. Implosion! [where the building will
 collapse into itself] Itu kata yang langsung muncul di kepala saya.
 Teknik implosion (lawannya explosion) inilah yang biasanya dipakai
 oleh para demolition spe
cialists untuk meminimalkan menebarnya
 reruntuhan - yang bisa mengganggu keselamatan bangunan dan manusia
 di sekitarnya (misalkan demolition yang dilakukan di urban area yang
 padat). Teknik ini diakukan dengan menempatkan bahan peledak (charge)
 di beberapa tempat strategis setelah mempelajari gaya-gaya yang
 bekerja di struktur (esensinya membiarkan "gravity" bekerja dengan
 sendirinya).

 Beberapa menit saya terpaku dengan keyakinan pasti ada bahan peladak
 yang secara profesional telah diletakkan di tempat-tempat strategis,
 sehingga runtuhnya begitu "rapih" seperti itu. Tetapi kemudian saya
 teringat bahwa struktur WTC ini agak istimewa --dan inilah yang
 menyebabkan belum ada preseden sebelumnya-- kalau pernah memperhatikan
 disana, TIDAK ada kolom penyangga di tengah. Arsitek Minoru Yamasaki
 mendesign struktur ini dengan menempatkan bebannya pada "outer shell"
 yang berupa kerangka baja. Jadi struktur ini praktis mirip pi
pa
 raksasa dengan penampang bujur sangkar. Cukup kaku dan kuat mendukung
 beban lantai (beton bertulang) yang diteruskan kebawah lewat "kulit"
 pipa tadi, maupun beban gempa, angin badai, bahkan sesekali tumbukan
 pesawat (tahun 1945 sebuah bomber B-25 menabrak salah satu tower
 karena kabut tebal di Manhattan).


 Kalau sekedar tumbukan saja, walaupun lebih besar dan lebih kencang
 daripada insiden bomber 56 tahun sebelumnya, WTC tidak akan runtuh.
 Tetapi faktor lain lebih berpengaruh. Panas yang ditimbulkan oleh
 terbakarnya bahan bakar jet (24 ribu gallons full tank) mencapai
 temperature 1000-2000 derajad. Struktur utama yang terdiri dari baja
 menjadi lemah, kalau tidak sampai meleleh - yang mengakibatkan
 runtuhnya lantai. Runtuhnya lantai ini "menarik" kolom baja ke dalam
 (implosion) yang selanjutnya jatuh ke atas lantai di bawahnya, diikuti
 kolom yang menyangganya ke dalam, dst. Ini yang menyebabkan seolah-olah
 bangunan tersebut "tenggelam" ke dalam tanah (in slow motion).

 Apa yang terjadi selanjutnya adalah kompresi yang luar biasa hebat
 (dan juga panas yang ditimbulkannya) di mana lantai beton menjadi
 hancur-lebur (pulverized). Ini yang menyebabkan hujan "debu" setebal 6
 inci yang menyelimuti beberapa block sekitarnya. Pertanyaan yang
 sampai sekarang masih belum terjawab adalah: where have all those
 people gone? karena sampai saat ini paramedic bisa dibilang nganggur,
 menunggu korban atau jasad untuk diidentifikasi. Diperkirakan sekitar
 20-30,000 manusia masih di dalam ketika bnagunan tersebut kolaps - 6000
 body bag yang sudah ada masih belum dipakai. And this is the scariest
 part ...

 Kalau beton yang begitu keras saja bisa lumat, bisa dibayangkan apa
 yang terjadi dengan manusia yang terdiri dari darah-daging. Dugaan
 saya --I wish I am wrong-- mereka juga mengalami nasib yang sama
 dengan beton tersebut. Lumat bersam
a, dan menjadi satu dengan beton
 (dan segala perabotan kantor). Tetapi di mana, kenapa seperti "tidak
 ada bekas" nya di antara reruntuhan yang sekarang mulai diangkati
 tersebut?

 Spekulasi saya, jasad mereka --dalam keadaan hancur lumat-- berada di
 dasar bangunan (basement), menjadi satu padat dengan butir-butir
 remukan beton. Ini terjadi karena pada waktu runtuh ke dalam,
 reruntuhan tersebut mengalami semacam efek "liquefaction" di mana
 partikel yang kecil berada paling bawah, dan potongan yang lebih besar
 --seperti batang-batang baja-- menumpuk di atasnya*. Efek "caving" yang
 seringkali menjadi tempat berlindung (kadang ada yang survive sampai 2
 minggu) di dasar bangunan yang runtuh kali ini kelihatannya tidak akan
 terjadi. Semuanya memadat di dasar bangunan.

 [*Catatan: Gejala "sorting" kecil di bawah besar di atas ini sudah well
 proven (ada matematical modelnya). Anda bisa melakukan eksperimen
 sendiri denga
n menaruh kelereng dalam kolom pasir dalam botol atau
 tabung yang agak panjang, lalu kocok beberapa kali. Kelerengnya akan
 naik keatas (kadang "berlawanan dengan "logika" kita yang melihat
 kelereng lebih besar/berat, maka akan jatuh kebawah). Fenomena ini
 juga menjelaskan kenapa kalau kita beli "mixed nuts" dalam kaleng,
 kacang yang besar (mmisalnya Brazil nuts) kebanyakan berada di atas,
 dan kacang tanahnya turun ke bawah - karena goncangan selama
 perjalanan.]

 Terus terang saya "tidak berani" (tepatnya "tidak sampai hati") menulis
 "spekulasi" saya ini dalam bahasa Inggris. I don't have the heart to be
 the messenger of this bad (really bad) news to the thousands of
 families now still waiting and hoping to hear anything from their
 loved ones. Tetapi saya takut kalau dugaan saya ini menjadi kenyataan.
 Temperature retorik saat ini sudah begitu tinggi, dan "kenyataan" ini
 akan berfungsi sebagai "jet fuel" yang mempercepa
t tragedy 11 September
 kolaps menjadi krisis global.

 Be afraid ... be VERY afraid!

Moko/

 

Kirim email ke