Penjelasannya Clear, dan OK punya. Pa' Akhmad, saya lagi mikirin bagaimana ttg royalty? Semacam permanent insentive. Seorang engineer yang kompeten, tentunya telah berbuat banyak/ kreasi pada perusahaan tempat bekerja.
Soalnya kalau matok di salary, masing2 perusahaan sdh punya plafon yang berbeda. Kalo' nolak kita bisa kena stroke. KaloK pasang harga terlalu tinggi, katanya sok laku dan terkesan "greedy". Dan banyak perusahaan yang tetap senang membayar "dead engineer" yang sdh tidak kreatif dan produktif. Walhasil, seorang engineer yang kreatif di masa tuanya akan SECURE. Bukan karena SALDO, tapi karena ROYALTY. Asyiik kan! KaloK di negara lain belum pernah terjadi, biar kita yang mulai aja. Sekali2 jadi leader, boleh dong! Perlu mulai dipikirkan, tapi jangan terlalu serius! Wasalam, Boi Sormin --- Akhmad Bukhari Saleh <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > dwi handaya wrote: > > >Misal saya telah bekerja di petrokimia selama 10 > tahun, sedang kuliah baru selesai tahun yang lalu > ... apakah saya harus tetap menunggu minimal 3 tahun > untuk dapat sertifikasi? > > > Kalimat "... menunggu minimal 3 tahun ..." kurang > tepat. Karena untuk > dapat disertifikasikan bukan berapa tahun > menunggunya yang penting, > tetapi apa dan bagaimana pengalaman profesionalnya. > > Bisa saja sudah 50 tahun kerja setelah lulus, tetapi > pengalaman kerjanya > tidak ada relevansinya dengan bakuan kompetensi, > sehingga tetap saja > tidak bisa disertifikasi. > Sebaliknya, bisa saja kerja baru 3 tahun setelah, > lulus tetapi > pengalaman kerjanya itu terstruktur secara > meluas/melebar maupun > mendalam sedemikian sehingga memenuhi syarat bakuan > kompetensi, > karenanya bisa disertifikasi. > > Tetapi, berdasarkan pengalaman di dunia engineering > secara universal, > seseorang baru akan dapat mengakumulasikan > pengalaman yang memenuhi > syarat bakuan kompetensi setelah bekerja 5 tahun > sejak ia mencapai gelar > kesarjanaan. Atau bisa juga terakumulasi dalam waktu > hanya 4 tahun atau > 3 tahun, apabila majikannya dengan sengaja dan > terencana memberikan > padanya penugasan-penugasan kerja yang sedemikian > well designed sehingga > ter-akselerasi akumulasi pengalaman yang relevan > dengan permintaan > bakuan kompetensi. > > Secara umum, nanti setelah seseorang mencapai > kesarjanaannya barulah ia > mampu memberikan engineering solutions yang kreatif > dan inovatif > (solutions yang didasarkan pada kecendekiaan seorang > sarjana) pada > engineering problems. > Sebelum itu, ketika dasar-dasar matematika, fisika, > kimia dan > engineering science-nya belum mencapai tingkat > kecendekiawanan, maka > umumnya pengalaman kerjanya (kalau ia sudah bekerja) > belum merupakan > "creative and innovative engineering solutions to > engineering problems", > melainkan masih merupakan pengalaman ketrampilan > kerja seorang tukang > (skilled labor). > > Tentu saja bisa terjadi pengecualian, apalagi kalau > pengalaman kerja itu > mencapai waktu selama 10 tahun misalnya, namun itu > semua akan dapat > diukur, apakah itu benar merupakan pengalaman kerja > sebagai seorang > professional engineer atau hanya pengalaman kerja > sebagai seorang > tukang, dengan mempergunakan bakuan kompetensi > sebagai tolok ukurnya. > > Jadi kesimpulannya, kalau seseorang merasa telah > mempunyai pengalaman > kerja yang dapat dinyatakan sebagai pengalaman kerja > profesional, > silahkan mengukur dirinya dengan mengacu pada bakuan > kompetensi insinyur > profesional. Kalau memenuhi ketentuan bakuan itu, ya > OK, kalau tidak, ya > belum OK. > > Wasalam. > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Yahoo! Movies - coverage of the 74th Academy Awards� http://movies.yahoo.com/ --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Jika gagal dengan cara di atas, email: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
