*TIGA BESAR* *Oleh: Andrias Harefa*
Dalam sebuah wawancara dengan Bondan Winarno di paruh kedua tahun 80-an, ia pernah mengatakan bahwa modalnya dalam berbisnis hanya tiga hal saja. Nomor satu, semangat dan motivasi. Nomor dua, semangat dan motivasi. Nomor tiga, semangat dan motivasi (B. Winarno, Tantangan Jadi Peluang, Grafitipers, 1987; hlm.33). Ya, dengan semangat dan motivasi itulah arsitek lulusan ITB ini memasuki kota Jakarta. Setelah berusaha kesana dan kemari, melalui seorang kenalan, ia berhasil memperoleh kesempatan bertamu ke rumah Dr. Soemarno Sostro-atmodjo, Gubernur DKI Jaya waktu itu. Pak Gubernur begitu terkesan pada arsitek muda yang dengan penuh gairah menyatakan keinginannya untuk ikut membangun ibu kota. Karena diberi kesempatan oleh Soemarno, ia bekerja seperti kesetanan dibantu teman-temannya. Dalam dua minggu ia sudah merampungkan rencana kerja yang siap diajukan kepada Gubernur Soemarno, lengkap dengan arus kas proyek—meski ia belum pernah menangani proyek semacam itu. Peremajaan Pasar Senen, itulah proyek pertama yang dikerjakannya dengan semangat membara. Selanjutnya, sejarah mencatat kiprahnya dalam pembangunan perumahan, tempat hiburan, sampai pembangunan kota. Setelah berbisnis selama 25 tahun, ia kemudian menja-barkan tujuh kunci sukses untuk jadi pegangan seluruh kar-yawan diperusahaan yang ia pimpin. Rumusannya adalah: 1. Layanan masyarakat 2. Membuat laba 3. Pengembangan sumber daya manusia 4. Pemantapan organisasi 5. Pengendalian mutu 6. Produktivitas dan efisiensi 7. Inovasi dan kreativitas Tujuh kunci sukses atau key success area itu agaknya berhasil ia tanamkan kepada seluruh karyawan, sehingga perusahaan yang dipimpinnya—PT Pembangunan Jaya atau Grup Jaya—tetap eksis melewati badai-badai krisis sampai 25 tahun berikutnya, bahkan ketika ia sudah tidak lagi aktif memimpin (Ia menjadi CEO Grup Jaya selama 35 tahun, lalu menjadi Komisaris sejak 1996 sampai sekarang). Ciputra memang sebuah nama besar di negeri ini. Disamping Grup Jaya (mulai 1961) dan Grup Metropolitan (mulai 1971), ia juga sukses membangun usaha keluarga Grup Ciputra, yang dimulai saat usianya 50 tahun (tahun 1981). Dan belakangan ini namanya kembali ramai dibicarakan dalam konteks kewirausahaan. Ia membangun Universitas Ciputra di Surabaya yang dilengkapi dengan Entrepreneurship Center sebagai ciri khas yang diunggulkan. Ia mencanangkan pentingnya Indonesia memiliki jumlah wirausaha di atas 2 persen, agar negeri ini lebih makmur (Indonesia disinyalir baru punya 0,24 persen wirausaha saat ini; sementara Singapura 7,2 persen; Thailand 4,1 persen; Malaysia 2,1 persen dari total penduduknya). Belum lama ini, ketika saya ikut mewawancarai trio pendiri Pembangunan Jaya yang masih hidup, pria kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931 ini mengatakan bahwa mereka bertiga mewakili tiga nilai pokok yang menopang kiprah Pembangunan Jaya. Ir. Soekrisman mewakili nilai integritas dan kejujuran. Ir. Hiskak Secakusuma SE mewakili nilai profesionalisme. Dan Ir. Ciputra sendiri mewakili nilai entrepreneurship. Saat ditanya hal apa saja yang perlu dimiliki seseorang untuk bisa tumbuh menjadi wirausaha tangguh, Ciputra dengan spontan menjawab, “Tiga besar. Keinginan yang besar, semangat dan motivasi yang besar, dan percaya diri yang besar untuk berani melakukan inovasi-inovasi.” Ketiganya merupakan refleksi dari kehidupannya sendiri. Sebab hal yang membuat Ciputra muda datang ke Jakarta tahun 1961 adalah keinginan yang besar, ingin ikut membangun ibu kota. Keinginan itu muncul setelah membaca tulisan Harjoko Trisnadi di majalah Star Weekly tentang rencana Gubernur Soemarno untuk membangun Jakarta. Keinginan itu ditopang semangat dan motivasi yang besar, ditunjukkan dengan kerja keras yang spartan dengan fasilitas minimum waktu itu. Juga rasa percaya dirinya besar sekali, karena meski baru saja lulus jadi arsitek, ia berani menemui Gubernur Soemarno untuk mengutarakan niatnya ikut membangun ibu kota negara. Disamping “tiga besar” yang merupakan kunci sukses Ciputra, terselip juga kesederhanaannya. Bondan Winarno mencatat, “Ciputra pun sering memakai kaus kaki bolong yang terlihat nyata bila sedang menginspeksi rumah-rumah real estate sambil membuka sepatu. Mobilnya adalah Volvo 264 GL yang sudah dipakainya lima tahun (tahun 1986-pen).” Juga perlu ditambahkan bahwa Ciputra adalah orang yang senang membaca. Saat saya mewawancarainya untuk menulis buku The Ciputra’s Way (Elex Media Komputindo, 2006), dalam setiap pertemuan ia menceritakan buku yang sedang dibacanya. “Anda harus membaca buku ini,” katanya berulang kali tentang buku yang telah atau sedang dibacanya. Ciputra, dapatkah ia ditiru? **) Andrias HarefaAuthor: 40 Best-selling Books; Speaker-Trainer-Coach: 22 Years PlusAlamat www.andriasharefa.com <http://www.andriasharefa.com> – Twitter @ aharefa* **) *Artikel ini diambil dari buku ke-40 Andrias Harefa yang berjudul "Menjemput Keberuntungan: Agar Orang Biasa Menjadi Luar Biasa" (Elexmedia, 2013)* -- Info program lengkap dan jadwal training Proaktif terdekat silahkan hubungi kami di: Tel. 021-3260 3383; 0815 896 3889 Email: [email protected] Website: www.mitrapembelajar.com, www.pembelajar.com Untuk keluar dari grup ini, kirimkan email ke: [email protected] --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Proaktif Network" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
