Oleh: Guntur Novrizal

*“Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja
sekedar bekerja, kera juga bekerja.” *- Buya Hamka

Bila dalam hidupmu, kamu masih bisa bekerja. Maka berbahagialah. Karena di
luar sana tidak banyak orang yang masih seberuntung kamu. Coba kita tengok
realita yang ada sekarang, dimana saat ada pembukaan lowongan pekerjaan
(job fair), disitu pasti banyak sekali pelamar yang berdesak-desakan
mencari pekerjaan. Rasio perbandingannya mungkin sudah tidak wajar lagi
antara orang atau perusahaan yang menyediakan lapangan pekerjaan dengan si
pencari kerja. Sehingga tidak heran mengenai pengangguran atau pencari
kerja ini menjadi isu yang cukup meresahkan. Tidak hanya untuk pemerintah
sebagai pengelola kehidupan bernegara. Tapi juga untuk masyarakat yang
ingin merubah kehidupannya.

Nyatanya sangat ironis memang, saat di luar sana banyak orang
berbondong-bondong, mencari pekerjaan. Di tempat lain, dimana orang sudah
memiliki pekerjaan. Banyak dalam pekerjaannya hanya sebatas rutinitas yang
menjemukan. Bekerja menjadi sebuah beban atau siksaan yang menakutkan.
Ingin segera bertemu dengan hari jumat. Sampai ada istilah TGIF (Thank God
it’s Friday). Dan menghawatirkan saat besok sudah hari senin. Ada juga
istilahnya untuk hari senin dengan sebutan I Hate Monday.

Sejatinya, bekerja tidak hanya sebatas alat untuk mencukupi kebutuhan.
Lebih dari itu bekerja adalah ibadah bila dilakukan dengan keikhlasan dan
sukacita. Bekerja juga bagian dari pengabdian dan pelayanan. Kata seorang
kawan, bekerja itu tidak harus selalu di ruang yang dingin, fasilitas yang
super mewah dan penghasilan yang melimpah. Bekerja apapun profesinya
apabila sesuai panggilan hati adalah cara kita untuk menikmati dan
merayakan kehidupan. Maka jadilah pelukis, seniman, petani, nelayan,
pengamen, dokter, atau auditor. Ikuti dorongan dan hasrat hati anda untuk
menjadi apapun yang diinginkan. Tidak harus jadi PNS semua atau bekerja di
BUMN ternama.

Teringat dulu alm. ayah saya yang sangat bangga dengan pekerjaannya.
Bekerja sebagai guru SD yang bayarannya delapan koma, artinya tanggal
delapan sudah koma. Tidak berlebihan rasanya karena saat itu memang gaji
guru SD tidak sebesar seperti sekarang. Sekarang kabarnya sudah ada
remunerasi dan beberapa tunjangan lainnya yang membuat profesi ini lebih
sejahtera. Namun dulu, dengan kondisi yang serba keterbatasan pun, ayah
tetap semangat untuk menekuni profesinya. Tiap hari dia harus berjalan
belasan kilometer untuk mencapai tempat mengajarnya. Beberapa kali dia
tertahan untuk pulang karena harus melewati sungai yang saat itu sedang
banjir. Baginya bekerja dengan kondisi tersebut tidak masalah. Bekerja
seperti panggilan jiwa untuk pengabdian dan memberi pelayanan ke sesama.
Tidak ada imbalan yang setimpal yang dia harapkan. Setidaknya saya sebagai
anaknya tidak pernah mendengar keluhan itu dari mulutnya. Cukup dengan
mengantarkan anak didiknya berprestasi, sudah cukup membuat dia berbangga
hati.

Belajar dari Ayah, bagi saya seorang laki-laki, bekerja itu adalah
kehormatan. Kerja menjadi alat bukti dan wujud kecintaan pada keluarganya.
Laki-laki yang bertanggungjawab, dia akan rela bekerja banting tulang untuk
bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Menjadi tulang punggung dan harapan
buat keluarga itu sudah menjadi fitrah seorang laki-laki. Makanya saya
berpesan kepada para wanita, jangan terlena pada pria yang hanya bisa
berkata-kata. Bagaimana bisa percaya pada pria yang mengatakan akan
menerjang lautan, mengarungi samudera dan mendaki gunung yang tinggi, tapi
untuk sekedar bangun pagi dan berangkat kerja saja masih malas.

Bekerja adalah alat untuk merubah nasib kehidupan. Rezeki baik tidak
mungkin dikirimkan pada orang yang hanya berpangku tangan. Bekerja menjadi
jembatan yang menghubungkan rezeki dari langit bisa turun ke bumi. Dan
sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang dilakukan oleh dorongan hati. Meminjam
kalimat Kahlil Gibran ” Dan segenap pekerjaan adalah sia-sia, kecuali jika
ada kecintaan.” Masih menurut Kahlil Gibran kerja adalah cinta yang
mengejawantah. Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya
dengan enggan, maka lebih baiklah jika engkau meninggalkannya. Lalu
mengambil tempat di depan gapura kuil, meminta sedekah dari mereka yang
bekerja dengan sukacita.

Hanya saja, saat kita bekerja keras dalam pekerjaan. Dengan dalih untuk
mencukupi kebutuhan anak istri. Jangan sampai, karena pekerjaan kita,
keluarga yang jadi korban. Saking sibuknya kita bekerja, kita mengabaikan
kesehatan kita. Kita juga menjadi lalai untuk memberi perhatian pada
hal-hal kecil. Kita terjebak dalam kondisi dimana kita sibuk memeras
keringat dalam bekerja, tapi kita lupa menyisihkan waktu untuk keluarga.
Kesuksesan yang kita raih pun akan menjadi sia-sia. Bila kita bekerja di
perusahaan, sepenting apapun posisi kita, saat kita berhalangan hadir,
pasti ada yang bisa menggantikan. Atau semisal kita berhenti pun, pasti
dengan mudah perusahaan akan mendapatkan pengganti kita. Tapi buat keluarga
kita, posisi dan peranan penting kita dalam keluarga tidak akan pernah
tergantikan. Karena mungkin bagi dunia anda hanya dianggap seseorang, tapi
buat keluarga anda lah dunia mereka.

*) Guntur Novizal dapat di hubungi di [email protected] atau kunjungi
di www.vizal_jr.blogspot.com

-- 
Info program lengkap dan jadwal training Proaktif terdekat silahkan hubungi 
kami di: 

Tel. 021 22103478
Email: [email protected]
Website: www.mitrapembelajar.com

Untuk keluar dari grup ini, kirimkan email ke:
[email protected]
[email protected]
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Proaktif Network" dari 
Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke