*Pemimpin memprakarsai proses perubahan atau proses pembelajaran. Menjadi pemimpin sejati berarti menjadi pembelajar … seumur hidup. * Dalam buku bertajuk *Menjadi Manusia Pembelajar* (Penerbit Kompas, 2000), saya mengajukan hipotesis bahwa manusia dilahirkan sebagai pembelajar (learner) yang dimungkinkan menjadi pemimpin (leader) bahkan tumbuh sampai ke tahap manusia guru (master). Dan “belajar” saya sinonimkan dengan “berubah”, sehingga “proses pembelajaran” saya beri makna yang sama dengan “proses perubahan”. Belajar berarti berubah, dan berubah berarti belajar. Bila seseorang, sebuah organisasi, dan sebuah negara bangsa (nation state) tidak belajar atau sangat kurang belajar, maka ia mandeg, *status quo*, tak berubah. Dan karena perubahan adalah sesuatu yang konstan, maka seseorang, sebuah organisasi, dan sebuah negara bangsa yang kurang sekali belajar––terutama dari sejarah––akan terancam “gagal”, bangkrut, punah, hancur, dan masuk museum bersama Dinosaurus.
Hipotesis ini menjelaskan bahwa sekitar 60 persen organisasi bisnis yang hancur digilas krisis multidimensi di Indonesia pada tahun 1997-1998 adalah organisasi-organisasi yang tidak mampu memperkembangkan dirinya menjadi apa yang populer disebut *learning organization*. Organisasi-organisasi tersebut tidak mampu membangun dan memperkembangan budaya belajar di dalam dirinya, sehingga mereka amat sangat rentan terhadap perubahan, apalagi perubahan yang bersifat radikal seperti reformasi total. Ibarat wortel mentah yang cukup liat dan lentur, sistem politik-ekonomi-sosial-budaya-pertahanan-keamanan-nasional (poleksosbudhankamnas) Orde Baru telah “merebus” wortel mentah itu (baca: konglomerasi yang terbentuk dari hasil ber-KKN-ria) hingga menjadi begitu keras dan karenanya mudah dipatahkan, bahkan oleh seorang anak batita (bawah tiga tahun). Jangankan bermimpi menjadi perusahaan yang inovatif, menjadi perusahaan yang adaptif pun mayoritas konglomerasi Orde Baru tak cukup mampu. Sistem pengajaran nasional yang serba seragam dan militeristik, telah memasung kreativitas sekian generasi setelah angkatan 1928, yang kemudian menduduki posisi-posisi penting di perusahaan (dan pemerintahan). Pada level personal, hancurnya karier para “eksekutif muda” yang menduduki jabatan-jabatan mentereng dalam waktu singkat (proses instant)––baik di pemerintahan, tetapi juga di berbagai konglomerasi–– mengukuhkan hipotesis bahwa kita semua sangat kurang belajar. Sementara pada level nasional, sulitnya mereformasi lembaga tertinggi (MPR) dan lembaga-lembaga tinggi negara (Presiden, DPR, MA, DPA, dan BPK) menunjukkan bahwa sistem politik yang militeristik dan dikendalikan sepenuhnya oleh seorang “Raja Mataram Baru” ––disebut sebagai sistem Demokrasi Pancasila––telah “sukses” menciptakan pejabat-pejabat tinggi negara yang “anti belajar” dan “anti sejarah” (baca: penjaga dan pemuja *status quo*). Sungguh celaka sebuah organisasi, apa lagi sebuah negara bangsa yang tidak memiliki pemimpin yang mempersepsi dirinya pertama-tama dan terutama sebagai *longlife learner*, pembelajar seumur hidup. Sungguh tragis nasib sebuah masyarakat yang hanya memiliki manusia-manusia lupa diri yang ingin menjadi *longlife leader*, pemimpin seumur hidup, entah sebagai Pemimpin Besar Revolusi atau pun sebagai Bapak Pembangunan Nasional, tetapi sesungguhnya sudah berhenti belajar. Mungkin kepada mereka kaum *New Agers* lupa memberikan karya-karya terbaik J. Krishnamurti seperti *Freedom From The Known* (1969), *The Urgency of Change* (1970), atau *The Impossible Question* (1972), yang semuanya mendobrak kemapanan semu dan memicu proses refleksi kritis. Khusus dalam konteks bisnis, para eksekutif puncak perusahaan mungkin memang perlu didongengi cerita sepasang tikus dan sepasang kurcaci dari buklet *Who Moved My Cheese*?––yang diberi *hard cover* agar bisa dijual mahal oleh penerbitnya di Indonesia––sebab akal sehat mereka tidak cukup mampu untuk menerima kenyataan bahwa perubahan adalah proses alamiah yang sangat disadari oleh* longlife learner*. Sementara khusus untuk aparat birokrasi mungkin perlu dikarang juga dongeng serupa dengan judul tentatif *Who Moved My Chair*? Kalau yang terakhir ini ditulis oleh Gus Dur atau Akbar Tandjung, mungkin akan masuk daftar *best-seller* juga. Sekali lagi, hipotesis saya adalah untuk menjadi pemimpin sejati atau untuk tidak kehilangan kesejatian sebagai pemimpin, mereka yang menduduki posisi-posisi kepemimpinan dalam organisasi perlu melihat dirinya sebagai *longlife learner* dan bukannya berambisi menjadi *longlife leader* tanpa proses pembelajaran yang tak berkesudahan, membebaskan diri dari apa yang “telah diketahuinya” (masa lalu dan masa kini) menuju kepada yang “belum diketahuinya” (masa depan). Pemimpin sejati (true leader) tidak begitu bodoh untuk mempersamakan begitu saja makna “belajar” dengan “sekolah”, sehingga kalau sudah “lulus sekolah” tak lagi “belajar”. “Belajar” bagi pemimpin sejati dipahami sebagai proses yang berlangsung seumur hidup, bukan hanya di gedung sekolahan/universitas, bukan cuma dalam kelas dan ruang-ruang kuliah atau laboratorium yang steril dari persoalan-persoalan hidup yang nyata. “Belajar” bagi pemimpin sejati adalah di semua tempat, kepada semua orang, dan dalam segala situasi dan kondisi, baik yang menyenangkan, maupun yang tidak menyenangkan, baik saat dinilai “sukses” maupun “gagal”. Pemimpin yang suka berubah, suka belajar. Pemimpin yang suka belajar, tidak anti perubahan, tetapi justru memprakarsai perubahan. Ia menggagas visi, “membuahi” realitas masa kini agar “melahirkan” realitas baru di masa depan, yang secara mendasar lebih baik. Ia membaca, mendengarkan (listening), berpikir, ber-refleksi, bereksperimentasi, bertindak. Ia membangun kultur yang lebih manusiawi, otentik, berperadaban. Ia mengatur strategi, memompakan motivasi juang, melayani “konstituen” yang menyepakati dan menghormati “konstitusi” yang disepakati bersama. Pembelajar sebagai pemimpin (learner as a leader) pada hakikatnya adalah pembelajar yang sudah terbebaskan dari pengajarnya. Ia belajar tanpa menunggu, tanpa disuruh, tanpa didikte, tanpa dipaksa oleh kaum pengajar (teacher) atau pun pelatih (trainer). Ia belajar karena baginya hidup itu belajar, bukan sekadar belajar untuk hidup, apalagi belajar untuk dapat “hadiah” berupa gelar, jabatan/ kekuasaan, dan harta kekayaan. Ia belajar karena ia pembelajar. Ia tak bisa dan memang tidak berkeinginan untuk menolak perubahan, tetapi justru ingin menciptakan gelombang-gelombang perubahan. Ia belajar dan dengan cara itu ia makin membuat dirinya berproses menjadi manusiawi (humanize him/her-self). Pembelajar sebagai pemimpin menolak menjadi atau dijadikan *longlife leader*, sebuah pertanda bahwa ia menolak dikultuskan. Ia justru mempersiapkan sejumlah pengganti potensial, dan sangat sadar bahwa hanya dengan meninggalkan jenjang kepemimpinan, maka ia akan memasuki tahap tertinggi untuk menjadi manusia guru (becoming a master). Ia sadar bahwa “jubah” kepemimpinan yang membedakan antara organisasinya dan organisasi lain, kepentingan kelompoknya dengan kepentingan kelompok “oposisi”, harus “dicopot” jika ia ingin menjadi “guru bangsa” dan bahkan “guru umat manusia”. Pembelajaran seorang pemimpin akan mendorong pertumbuhannya untuk mengubah “paradigma organisasi” (termasuk “paradigma partai politik”) ke tingkat “paradigma kebangsaan” bahkan “paradigma kemanusiaan”. Jika pada tahap “pembelajar” ia menguatkan individualitas (harap tidak dikacaukan dengan individualisme) dan identitas kelompoknya, sehingga menjadi “aku” dan “kami” (tahap pemimpin), maka pada tahap “guru” ia justru melepaskan “keakuannya” dan “kekamian”-nya untuk menjadi bagian dari “kita”. Pembelajar sebagai pemimpin adalah mereka yang selalu mengejar pengetahuan “diri” (self knowledge), dan pengetahuan tentang “sesama manusia” (“*the other*”, termasuk rakyat dan konstituen). Pembelajar sebagai pemimpin tak hanya mempelajari “teks”, tetapi juga menafsirkan “konteks” ajaran-ajaran mulia di dunia (baik dalam arti “Agama” yang universal, maupun “agama-agama” yang partikular). Pembelajar sebagai pemimpin selalu berupaya menyelaraskan sikap-sikap dan pandangan hidupnya agar lebih berkesesuaian dengan nilai-nilai luhur dan mulia yang diyakininya. Pembelajar sebagai pemimpin menyediakan waktu untuk meningkatkan kompetensi teknis dan manajerialnya. Pembelajar sebagai pemimpin selalu mencari kesempatan untuk merenung, melakukan refleksi, retreat, tahajud, meditasi, dan berbagai kegiatan mengasah kearifan spiritual-nya (*spiritual wisdom*, tak berhenti pada *spiritual intelligence*). Pembelajar sebagai pemimpin mengembangkan kesadaran (awareness) dalam dirinya bahwa tugas pokoknya adalah menciptakan realitas masa depan yang lebih baik dengan cara mengintervensi realitas masa kini sesuai kapasitas dirinya sebagai manusia otentik, unik tak terbandingkan dengan apapun dan siapapun yang “bukan dirinya”. Saya kira, negeri yang masih *amburadul *tak karuan ini memerlukan sosok-sosok pembelajar sebagai pemimpin. Pertama-tama di lembaga tertinggi dan lembaga-lembaga tinggi negara. Lalu di berbagai organisasi prolaba (dari UKM sampai konglomerasi) maupun nirlaba, organisasi politik dan organisasi nonpolitik. Namun juga di lembaga-lembaga pengajaran atau persekolahan dan lembaga pelatihan, dimana kaum muda di-ajar (agar melek budi) dan dilatih (agar memiliki life skills), serta dirumah-rumah, dimana kaum muda itu seharusnya mengalami proses pendidikan pertama dan utama. Benarkah? (AH) http://bit.ly/MP-inspiringleadership -- Info program lengkap dan jadwal training Proaktif terdekat silahkan hubungi kami di: Tel. 021 22103478 Email: [email protected] Website: www.mitrapembelajar.com Untuk keluar dari grup ini, kirimkan email ke: [email protected] --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Pembelajar" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
