This is a forwarded message
From: Rini Hastarati <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  [EMAIL PROTECTED]
Date: Tuesday, October 19, 2004, 4:22:34 PM
Subject: [airputih] TakKan Kumaafkan diriku ini

===8<==============Original message text===============

Takkan Kumaafkan Diriku Ini.


Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu
mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk
belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun
lalu,
ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang
bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di
Teluk
Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang lebih
besar.
Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya
mengajaknya
tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.

"Nggak usah. lain kali saja.!"jawab ayah. Jawaban itu yang selalu
diberikan
kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan
mau
menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar balik.
Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan
sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan
bersenda-gurau
dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta pulang.
Seperti
biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. "Saya sibuk, ayah. tak
boleh
ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan antar
ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka. "Biarlah
ayah
pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah."
katanya
yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah berkali-kali
pulang
naik bus sendirian.

"Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu
masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak
berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya
tiket
bus. "Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang sibuk,
sibuuukkkk!!!" balas saya terus keluar menghidupkan mobil.

Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat
mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, "Mengapa bersikap
kasar
kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus
membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya
penuhi
permintaan ayah. "Jangan lupa, bang.. belikan tiket buat ayah," katanya
singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin
untuk
keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.

Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. "Bus
berangkat pk. 14.00," kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap
agak
kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah. Ayah
tanpa
banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya kedalam
tas
dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara sepatah
kata pun.

Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.
Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya
pamit
dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya
memandang
keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat
melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja
dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan teringat ayah
yang
sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu
minta
dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.

Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu.
Ingat
pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat
istri
yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego
saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang
biasa
saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya,
istri
bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. "Nggak mungkin belum
tiba,"
jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan.
"Ayah
sudah tiada." kata sepupu saya disana. "Beliau meninggal 5 menit yang
lalu
setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu meminta saya
agar
segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon
masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, "Ada apa,
bang?"
Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata,
"Ayah
sudah tiada!!"

Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat
itu
saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang,
kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri
mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.

Hanya Allah yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu.
Saya
sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya
mencurahkan
perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang sangat
mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan
seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum
meninggalkannya buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati
saya
bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya
tidak
dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat
akhir
saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan
diri
ini. Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan
ibu
masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak
berarti lagi.

Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka.
Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.


RENUNGKANLAH.




-Rini Hastarati-
http://januari12.blogspot.com





- segelas air putih, untuk kesegaran jiwa
- simak catatan lengkapnya di www.airputih.tk





===8<===========End of original message text===========



-- 
Best regards,
 Setiaji                            mailto:[EMAIL PROTECTED]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/x3XolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

================> HAPUS IKLAN DIATAS DAN FOOTER INI JIKA ME-REPLY <================
Posting   : [EMAIL PROTECTED]
Archive   : http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/
                www.mitek.unibraw.ac.id || www.himamitek.cjb.net
************************************************************************************ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mitek/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke