---------------------------- Original Message ----------------------------
Subject: [indo-com] 2,5 jam di banda aceh
From: "Thomas Tjahja T." <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, December 29, 2004 7:09 am
To: [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------------------------------
senin 27 desember lalu saya berangkat ke banda aceh untuk liputan buat
associated press television news (salah satu media tempat saya menjadi
kontributor) ternyata apa yang saya saksikan disana jauh lebih
mengenaskan daripada sekedar menyaksikannya lewat layar kaca.
di sini saya bisa berinteraksi langsung dengan pada korban, baik yang
masih hidup maupun yang sudah mati. dengan yang hidup saya masih bisa
berbincang-bincang seadanya (tak etis rasanya saya menanyai mereka panjang
lebar karena mereka baru tertimpa bencana, dan saya tau mungkin mereka
belum makan sejak minggu pagi saat bencana itu terjadi). saya juga bisa
merasakan langsung kesedihan yang terpancar dari wajah-wajah kuyu yang
kecapaian dan masih trauma itu. mungkin kalau saya mengerti bahasa aceh
kesedihan itu bisa jadi berlipat-lipat. sedangkan dengan si mati saya bisa
melihat langsung kondisi mereka yang sangat mengenaskan, mencium aroma
yang konon bisa "melekat" di tubuh anda selama sepekan. saya mendapat
informasi ini dari seorang dokter yang kebetulan sering berurusan dengan
mayat.
dalam kunjungan singkat itu (sekitar 2,5 jam saja, sekitar satu jam saya
habiskan dengan terbengong di bandara iskandar muda karena tak adanya alat
transportasi ke kota) saya sempat menyaksikan kepanikan luar biasa dari
warga kota serambi mekah itu. beberapa tenda militer didirikan tak jauh
dari pintu keluar bandara. di jalan-jalan warga bersileweran
seperti orang ling-lung. mungkin masih trauma, atau mungkin ada
keluarganya yang hilang. atau malah sudah mati... kondisi ini memaksa
kendaraan yang melintas untuk berjalan pelan. waktu biasa sekitar 20 menit
dalam perjalan dari bandara ke kantor gubernuran terasa menjadi lebih
lama.
di lambaro saya bersama rombongan (3 dokter dari medan, seorang anggota
DPR RI asal aceh, kadis kesehatan pemprov. NAD, dan 2 jurnalis kantor
berita xinhua beijing) singgah di lokasi pemakaman massal. saat tiba
disana, areal sekitar 20 m x 15 m itu sedang digali dengan menggunakan
excavator. penggalian belum selesai, 5 kantong berisi mayat teronggok di
pinggir lubang raksasa itu. sekitar 5 menit mengambil gambar, kami
melanjutkan perjalanan.
semakin jauh mendekati kota suasana chaos semakin terasa. crowd manusia
yang kebingungan semakin banyak terlihat. tak sedikit dari mereka yang
membawa buntalan-buntalan besar. mungkin pakaian, atau harta yang
tersisa. mobil-mobil dan sepeda motor lalu lalang dengan lampu
dihidupkan. sesekali ambulans melintas kencang. entah membawa korban yang
masih hidup, atau mayat yang sudah mulai membengkak. saya tidak sempat
memeriksa.
sebelumnya saya dengar banyak beredar rumor bakalan terjadi gempa dan
tsunami susulan. berita-berita seperti ini tentu menyesatkan karena bisa
saja menimbulkan hal tak diinginkan. entah siapa yang menghembuskan, yang
jelas banyak warga yang menjadi korban. mungkin karena mereka masih
trauma. sedikit saja terdengar jeritan, "air..." niscaya orang-orang
langsung berlarian menyelamatkan diri. si anggota DPR RI sempat
bercerita kalau dia juga sempat menjadi korban.
mendekati bundaran lambaro di aceh besar aura kehancuran dan kematian
semakin terasa. beberapa kali saya melihat mayat teronggok di pinggir
jalan. aroma udara yang terhirup juga mulai tak sedap. saya menduga pasti
ada konsentrasi pengumpulan mayat. dugaan saya benar. di sebelah kiri
simpang lambaro yang dikenal dengan sebutan bundaran itu, tepatnya di
depan kantor PMI teronggok sekitar 700 an mayat dari berbagai tempat di
kota banda aceh.
ya tuhan... saya hampir tak percaya dengan penglihatan sendiri. selama
saya bekerja sebagai jurnalis inilah konsentrasi mayat terbanyak yang saya
lihat! mayat-mayat itu membusuk lebih cepat karena terendam air. saya
sempat terbodoh sebentar, apalagi saat melihat jejeran mayat anak kecil
(mungkin berusia 5 tahunan). ada lagi mayat anggota polisi yang masih
berpakaian lengkap. ada mayat seorang wanita yang biji matanya hampir
mencelat. ada mayat yang mulutnya masih mengeluarkan darah dan buih...
ah... saya tidak tahu kenapa saya begitu kuat siang itu. entah dimana air
mata saya. sebelumnya saya mendengar cerita seorang kameramen sctv yang
menangis sambil mengambil gambar. ada juga cerita seorang jurnalis lain
yang sampai tak sanggup mengambil gambar. bisa anda
bayangkan?
tapi saya teringat saya tidak punya waktu banyak disitu. apalagi si
pemilik mobil kijang yang kami tumpangi juga sedang tergesa-gesa hendak
melanjutkan perjalanan mengantarkan 3 orang dokter yang bersama saya itu.
akhirnya camcorder saya hidupkan dan lensa kamera mulai saya
arahkan dengan beberapa variasi shoot. kamera saya juga sempat merekam
seorang bapak yang berusaha mengenali sesosok mayat anak kecil dengan
meraba-raba bagian belakang kepalanya. mungkin dia berharap bisa
mengenali si anak dari tanda lahir di belakang kepala itu. sejenak dia
seperti tidak yakin kalau itu putranya. dia terdiam.
tapi tiba-tiba dia menangis kencang dan terisak. sayang saya tidak
mengerti ucapannya. mata saya sempat berkaca-kaca...
sore itu orang-orang hilir mudik berusaha mengenali mayat demi mayat.
sedangkan tentara dan relawan palang merah indonesia mengangkati mayat ke
truk untuk diantarkan ke tempat pemakaman. truk lain masuk ke lokasi
mengantarkan mayat baru. entah dari mana. pasokan mayat sepeti tak
berhenti. sinar matahari yang lumayan terik membuat aroma tak sedap
semakin menyeruak. untunglah seorang teman yang terbiasa dengan liputan
yang berhubungan dengan orang mati pernah memberikan resep. saat saya coba
ternyata memang mujarab.
"kalau berada di dekat mayat, bagaimanapun kondisi dan bau nya, jangan
sekali-kali membuang ludahmu. karena itu bisa memancing muntah.
sebaiknya telanlah ludahmu kalau merasa ingin muntah, bagaimanapun mualnya.
mudah-mudahan kau tak akan muntah," kata si teman.
teman yang memberikan resep adalah stringer salah satu kantor berita asing
di NAD. ingat dia saya sempat kuatir karena saya belum melihat seorangpun
jurnalis yang saya kenal disana. ada cerita kalau kebanyakan para jurnalis
tinggal di daerah dekat pantai. padahal itulah lokasi yang paling ringsek
dihantam tsunami. saya ngeri membayangkan kalau dia ikut menjadi korban.
perjalanan lalu berlanjut. konsentrasi orang semakin banyak. di sebuah
spbu saya melihat antrian panjang orang. tak sedikit dari mereka membawa
jirigen plastik. antrian itu semakin tak tertib. petugas spbu sepertinya
sengaja menjatah karena persediaan tak banyak.
di sebelah kiri dan kanan jalan saya melihat gedung permanen bertingkat
yang rubuh karena gempa. kalau tidak salah, bangunan yang di sebelah kiri
gedung keuangan dan yang di sebelah kanan bangunan gedung asuransi. saya
ngeri membayangkan seandainya bencana terjadi pada saat hari kerja. berapa
banyak korban yang bakalan tertimpa?
oia, si kadis kesehatan yang menyetir mobil yang kami tumpangi cerita
kalau air (bah) sampai ke lokasi yang saya lihat. padahal jarak bibir
pantai dengan tempat tersebut hampir mencapai 15 kilometer. sebegitu jauh,
tapi air sampai kesitu. tinggi pula lagi. saya bisa melihat bekas air
bercampur lumpur dari tembok-tembok itu...
sampah-sampah dan kayu-kayu teronggok di pinggir jalan membuat
pemandangan semakin kumuh. "tadi pagi sampah-sampah masih di tengah jalan.
tapi barusan dibersihkan pakai buldoser," tambah si kadis.
beberapa mayat masih teronggok di pinggir jalan.
sayang saya tak bisa melihat detail ke seluruh tempat karena duduk
terjepit di tengah-tengah mobil. saya juga tak bisa mengambil gambar
dengan posisi seperti itu. ah, seandainya tadi saya bisa
mencarter/menyewa sebuah sepeda motor untuk berjalan sendiri. tentu gambar
yang saya dapat bisa jauh lebih bagus. tapi saya ingat juga tak punya
waktu lama karena paling tidak mesti mengirimkan kaset untuk segera
dikirimkan ke jakarta.
mobil kami lalu berbelok mengarah ke kantor gubernuran. si kadis rupanya
hendak bertemu seseorang di sana sehingga tak sempat membawa kami
berkeliling lebih jauh. di pendopo gubernuran sudah banyak warga yang
mengungsi. tempat itu memang jauh lebih manusiawi dibanding
tempat-tempat yang saya lihat sebelumnya.
dalam sekian menit itu saya sempat menimbang-nimbang untuk terus jalan
sendirian atau ikut balik ke bandara dengan rombongan wapres jusuf kalla.
tapi tenggat waktu memaksa saya mengambil keputusan cepat.
apalagi cuma ada satu bus yang bisa saya tumpangi untuk kembali ke bandara.
pertimbangannya, kalau saya tinggal saya mesti mencari sepeda motor untuk
dicarter. jangan berharap ada angkot atau taksi disana. kalau saya
tinggal, saya pasti akan kesusahan mencari penginapan dan makanan.
jangankan untuk saya, warga setempat saja sudah 2 hari tidak makan. belum
lagi saya betul-betul asing dengan medan banda aceh. saya pernah ke kota
ini hampir 17 tahun lalu. banyak perubahan bukan?
melihat orang-orang mulai menaiki bus yang akan kembali ke bandara naluri
saya memaksa untuk ikut. sempat saya kuatir, bagaimana kalau paspampres
memaksa saya untuk turun? tapi saya teringat deadline untuk mengirimkan
kaset hasil rekaman. tanpa berpikir panjang lagi saya ikut naik ke bus. di
dalam saya melihat najwa shihab (presenter metro tv), beberapa wartawan
dan fotografer lain dan seorang reporter perempuan yang membawa-bawa
camcorder berstiker TV7. belakangan saya tahu kalau dia ternyata uni z.
lubis.
perjalanan setengah jam kembali ke bandara ternyata belum berbeda dengan
saat saya menuju gubernuran tadi, selain orang-orang semakin banyak dan
jalanan semakin padat.
saat melintas dari lokasi pemakaman massal saya sempat melihat kalau
pemakaman belum dilakukan. padahal sore itu rencananya mesti dikuburkan
karena mayat bertambah dan yang jelas semakin menebar bau tak sedap. saya
berharap iring-iringan mobil wapres singgah di situ. tapi rombongan jalan
terus.
rombongan akhirnya berhenti di hanggar lanud iskandar muda. rupanya wapres
mau melihat pasokan bantuan yang baru tiba dari medan. sore itu, 1 pesawat
hercules baru saja landing membawa ratusan kardus makanan dan obat-obatan.
prajurit tni tampak hilir mudik mengangkuti kardus-kardus itu dari lambung
pesawat. tak lama wapres berangkat naik helikopter untuk meninjau beberapa
lokasi yang tak terjangkau lewat jalan darat.
kesempatan itu lalu saya manfaatkan dengan berbincang-bincang dengan
kapolda nad irjen bachrumsyah.
"bencana ini memang sangat mengerikan dik. saya juga turut menjadi korban.
saya kehilangan kontak dengan banyak saudara-saudara saya. saya tak bisa
berharap banyak. kalau mereka masih hidup tentu mujizat.
kalaupun sudah tak ada, saya tak bisa berbuat apa-apa," katanya pada saya.
polisi berbintang dua dan berkumis lebat itu sepertinya memang sedang
depresi ringan. wajar-wajar saja karena dia mesti berkeliling
kesana-kemari. belum lagi laporan banyak anak buahnya yang hilang.
termasuk sekitar 1 kompi saat mereka mau apel pagi di minggu naas itu.
kelelahan terpancar dari wajahnya. celana lapangan yang dikenakannya
belepotan lumpur. sangat jarang saya melihat pemandangan seperti itu.
menyadari itu saya urungkan untuk menanyai hal-hal lain.
sore menjelang malam itu juga, sekitar pukul 18.30 akhirnya saya jadi
terbang ke medan menumpang pesawat pelita air yang disulap menjadi pesawat
RI-2. sebelumnya saya sempat cemas, bagaimana saya mengirimkan kaset saya.
untuk menumpang di pesawat wapres rasanya mustahil karena saya belum
diregistrasi.
sambil mencari akal bagaimana caranya untuk ikut pulang tiba-tiba
seorang bapak menegur saya. saya tidak mengenalnya, selain baju safari
coklat yang dikenakannya dan pin kecil di ujung kerahnya. seingat saya,
seluruh anggota pasukan pengamanan presiden/ wakil presiden mengenakan pin
tersebut. tapi, dia terlihat lebih tua dari anggota paspampres lainnya.
"mau pulang dik?" katanya sambil menepuk pundak saya.
"iya pak, kalau memang ada seat," kata saya ragu-ragu.
"ya udah, kalau mau pulang ikut saja. jangan berlama-lama lagi. ayo ikut
aja," katanya ramah.
mendengar tawaran tersebut saya berbinar dan melangkah pasti ke tangga
pesawat. akhirnya pikiran saya soal bagaimana mengirimkan kaset mendapat
jawaban.
jam 19.00 pesawat meninggalkan banda aceh. saya masih kepingin kembali
kesana, mungkin dalam waktu dekat. rasanya saya ingin menebus kesalahan
tidak sempat melakukan reportase lengkap. selain kaset berdurasi sekitar
20 menit. sebagai seorang jurnalis ini sebenarnya kesalahan yang tak bisa
ditolerir.
satu pertanyaan terus membayangi saya selama 45 menit di udara, bahkan
sampai hari ini saat saya mengetik di sebuah warnet tak jauh dari rumah
saya setelah seharian menongkrongi posko bencana di lanud auri medan.
kenapa pemerintah cenderung lambat menangani bencana ini? apalagi
setelah beberapa pengungsi yang selamat dan pindah ke medan yang curhat
mengatakan belum makan dan mendapat air bersih hampir 3 hari belakangan.
jangankan makanan, snack pun hampir tidak ada.
"kami sampai mesti mengorek-ngorek lumpur siapa tau ada makanan yang
terbenam," kata si pengungsi tadi siang kepada saya. ucapannya tentu
membuat saya terhenyak, apalagi setahu saya pasokan makanan sudah mulai
dikirimkan sejak sehari sebelumnya. buat apa makanan itu sampai kesana
kalau tak segera didistribusikan?
sampai tadi malam pasokan makanan dan obat-obatan masih terus masuk ke
posko dan "tertimbun" disitu.
kenapa semuanya terasa sangat lambat? sikap pemerintahan srilangka membuat
saya iri. mereka cepat tanggap walau cuma sebuah negara kecil. militer
dikerahkan untuk mengevakuasi korban. baik yang masih hidup atau sudah
mati. mereka juga dikerahkan untuk mendistribusikan pasokan
bantuan makanan dan obat-obatan. mereka bisa kenapa kita tidak? ayo kita
bantu mereka yang jadi korban sebisa kita.
sayang saya tak sempat menanyakannya kepada mr president saat beliau
megunjungi posko satkorlak bencana aceh di lanud auri medan selasa malam
tadi.
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Dapatkan artikel2 yang menarik untuk anda baca di sela2 kesibukan anda
bekerja. Ada joke2 yang bisa membuang stress dan penat anda; artikel2
renungan yang bisa memberi anda inspirasi; tip2 yang mungkin bermanfaat
buat anda; info yang sedang beredar; cerita2 yang menyentuh; dan masih
banyak lagi... ^_^
untuk berlangganan :[EMAIL PROTECTED]
mengirim article :[EMAIL PROTECTED]
untuk berhenti :[EMAIL PROTECTED]
membaca message2 terdahulu
:http://groups.yahoo.com/group/indonesia-community/messages
Yahoo! Groups Links
================================================================
Pusat Pengembangan Informasi dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Malang - 2003
http://www.ppimk.or.id/
================================================================
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/x3XolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
================> HAPUS IKLAN DIATAS DAN FOOTER INI JIKA ME-REPLY
<================
Posting : [email protected]
Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
www.mitek.unibraw.ac.id || www.himamitek.cjb.net
************************************************************************************
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/mitek/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/