dear All

flash disk ku muncul keterangan the file or directory is corrupted and
unreadable. di format juga dak mau, klik kanan juga dak mau knp yaaa...?
merk samsung, drivernya udah dak ada
gmn ya solusinya

Terima Kasih,
Hudiman

Merapi Advanced System Dept
PT Merapi Utama Pharma
Phone [021] 314-1906 ; 391-4870 ext 212,213
direct : [021] 314-7727 ; 314-8819
Fax [021] 390-5820 ; 391-8329
email : [EMAIL PROTECTED]
"Keselarasan,keserasian dan keseimbangan
meniscayakan keberhasilan. Tidak ada yang lebih
berperan dan kurang berperan,baik ditengah maupun
dibelakang. SEMUA berpotensi menyukseskan atau
menggagalkan, kuncinya adalah 'KEBERSAMAAN'."
----- Original Message ----- 
From: "setiaji kurniawan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "budi.parsanto" <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
"wawan.hrd" <[EMAIL PROTECTED]>; "'Anton Tj'"
<[EMAIL PROTECTED]>; "bima_mujahid" <[EMAIL PROTECTED]>; "Dimaz
Janu" <[EMAIL PROTECTED]>; "dwi_nanto" <[EMAIL PROTECTED]>;
"'Kusnadi'" <[EMAIL PROTECTED]>; "'Mairi'" <[EMAIL PROTECTED]>;
"mitek" <[email protected]>; "Tju Sui Him" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, December 01, 2005 3:02 PM
Subject: [ MiteK-L ] Fwd: [airputih] 'Telur Emas' dari Diri dan Keluarga


This is a forwarded message
From: Alfin Agung <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, December 1, 2005, 8:02:44 AM
Subject: [airputih] 'Telur Emas' dari Diri dan Keluarga

Sebuah dongeng rakyat yang sampai sekarang masih cukup terkenal, dan sampai
sekarang tetap saya ingat karena telah memberikan inspirasi yang mendalam
bagi saya. Dikisahkan seorang peternak angsa, memiliki begitu banyak angsa
di peternakannya. Sang peternak adalah seorang yang rajin memelihara
angsa-angsanya, hanya saja karena pengelolaan peternakannya yang sederhana
dan tidak pernah diupayakan untuk ditingkatkan, maka hasil telur dari
angsa-angsa ini selalu begitu-begitu saja tidak pernah memberikan
peningkatan penghasilan bagi sang peternak.

Suatu pagi, seperti biasa sang peternak bangun dari tidurnya dan bergegas
menuju kandang-kandang angsanya untuk segera mengumpulkan telur-telur yang
dihasilkan si angsa hari itu. Betapa terkejutnya sang peternak ketika
mendapati sebuah telur berwarna kuning keemasan dari seekor angsa tua di
kandang paling ujung.

"Siapa yang pagi-pagi telah berusaha mempedayai saya…", gumamnya dalam hati
sambil memungut telur keemasan tadi. "Mungkinkah ini sebuah telur dari
emas", pikirnya kemudian.

Lama dia berpikir me-logika terhadap apa yang terjadi dengannya pagi itu,
sambil terus memandangi telur keemasan digenggamannya. Merasakan beratnya,
mengetuk-ngetukkannya pada batu, menggores-goreskannya, sampai pada suatu
keyakinan dalam hati pak peternak bahwa dia harus bergegas memastikan benda
apa itu.

Bergegas dia menuju ke tempat ahli logam tak jauh dari rumahnya, yang
kemudian dia meminta sang ahli logam untuk menganalisa benda apakah yang dia
temukan pagi itu. Sang ahli logam mengambil lup-nya, yang kemudian
mencermati telur keemasan yang diterimanya.

Beberapa saat kemudian dia memandangi si peternak, sambil menyerahkan telur
tersebut dan berkata, "Ini adalah emas murni 24
karat berbentuk bulat telur dengan berat hampir satu kilogram..!".

Setengah tak percaya si peternak kemudian meminta sang ahli logam untuk
menukar telur emas tersebut dengan uang sesuai dengan taksiran harganya.
Segepok uang yang diterimanya kemudian segera dibelanjakan segala barang
yang dia impikan selama ini untuk dimiliki dari pakaian-pakaian yang bagus
dan mahal, perabot-perabot mahal, dan sebagainya.

Esok harinya, karena masih banyak sisa uang untuk hidupnya hari itu, dengan
langkah malas dia menuju ke kandang angsanya untuk memunguti telur-telur
hasil pada hari itu. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa kejadian telur
emas kemarin hari akan berulang lagi pada hari itu. Dan benar dia kembali
menemukan telur emas pada angsa yang sama. Bergegas dia berlari menuju kota
untuk kembali menjual telur tersebut.

Esok paginya setelah bangun pagi, dengan berharap-harap cemas dia kembali
menuju angsa tua petelur emas. Dan benar! Kembali sang angsa mempersembahkan
satu telur emas kepada sang peternak.

Hal yang sama terjadi esok paginya, esok paginya, dan seterusnya, sehingga
membuat si peternak menjadi rajin bangun pagi-pagi sekali untuk sekedar
segera mendapat telur emas dari angsa tua itu.

Dalam waktu singkat, kehidupan si peternak pun berubah. Si angsa tua juga
sudah diberi tempat khusus di sebelah kamar tidur si peternak agar telur
emas hasil si angsa tua tiap pagi tidak dicuri orang dan dengan mudah dapat
segera diambil oleh sang peternak untuk dijual. Rumahnya kini telah berubah
menjadi begitu mewah. Lama kelamaan timbulah sifat tamak dari si peternak.

"Mengapa saya harus menunggu satu butir telur emas setiap harinya dari si
angsa tua", pikirnya.., ..betapa bodohnya saya…". "Isi perut angsa tua itu
pastilah penuh dengan emas,…kenapa tidak sekarang saja saya ambil semuanya,
sehingga saya tidak perlu susah-susah menunggu tiap pagi, serta dalam sekali
waktu saya sudah bisa dapatkan semua…", begitulah pikir sang peternak.

Diambilnya parang besar miliknya, dan dalam sekejap dibelahlah dada si angsa
tua. Tapi apa yang terjadi? Tak ada secuil pun telur emas di dalam perut si
angsa tua. Dan yang lebih buruk, si angsa tua saat itu juga mati digenggaman
sang peternak. Telur emas tiap pagi pun tinggal kenangan.

Cerita ini terkenal dengan sebutan Aesop's fable dengan judul `The goose and
the golden eggs'. Mengapa cerita ini begitu menarik bagi saya? Seseorang
yang telah menginjak dewasa dan mulai harus menghidupi dirinya tentunya
mulai sadar bahwa dia harus memiliki `sesuatu' yang bisa dijadikan semacam
modal agar dia bisa selalu terus menerus menghasilkan *sesuatu* yang bisa
menghidupi dirinya. Apalagi kalau orang tersebut sudah memutuskan untuk
membangun sebuah rumah tangga.

`Sesuatu' (dengan tanda kutip) yang saya maksud bisa berupa keahlian,
kepandaian, pengetahuan, ketrampilan, ketekunan,
keberanian, dsb. Sedang sesuatu (dengan huruf tebal) di atas adalah bisa
berupa uang, penghargaan, pengakuan, kesempatan, dsb.

Sesuatu (dengan huruf tebal) tadi adalah sebuah `telur emas' bagi kita.
Ketika kita mulai menekuni sebuah profesi, ketika kita mulai merintis sebuah
usaha, ketika kita mulai meniti karir, hari demi hari, bulan demi bulan,
tahun demi tahun, sedikit demi sedikit akan muncul `telur emas-telur emas'
bagi kita.

Lalu dimanakah letak angsanya? Tak lain adalah `Sesuatu' (dengan tanda
kutip) yang saya sebutkan di atas. `Sesuatu' yang semua itu bermuara kepada
diri kita, baik badan kita secara fisik, pemikiran kita, serta jiwa, emosi
dan rohani kita. Dan bila dikembangkan, keluarga adalah juga merupakan
bagian dari `angsa' kita, baik itu manusianya, suasananya, semangatnya,
kebersamaannya, rasa cita kasihnya, keteduhannya dan semua hal yang bisa
memastikan bahwa kita bisa akan selalu menghasilkan `telur emas', hari demi
hari, sedikit demi sedikit.

Kisah fabel yang saya ceritakan diatas sepertinya bisa terlihat sebagai
kisah yang terlalu ekstrim. Tapi bila kita mau berkaca pada kehidupan di
sekitar kita, kita mungkin akan sadar bahwa perumpamaan sang peternak
membelah dada angsa untuk segera memperoleh semua telur emas sekaligus dalam
sekejap ternyata banyak terjadi di sekitar kita.

Kita lihat di sekitar kita bagaimana sesorang yang ingin mengejar karir
sampai ke puncak dengan segera, justru mengabaikan kesehatan dirinya
sendiri, pola makannya, jam istirahatnya. Tak lain dia pelan-pelan membelah
dada angsanya sendiri.

Masih banyak diantara kita, dalam menjalankan profesinya, atau dalam
melakukan usahanya, ingin mendapatkan keuntungan yang berlipat dalam
sekejap. Sehingga sampai lupa waktu mengabaikan saat-saat istri dan
anak-anaknya membutuhkan sebuah kebersamaan dengannya. Tanpa dia sadari,
dalam mencoba dia mendapatkan telur emas, justru dia berusaha `membunuh' si
angsa.

Bisa jadi kita sebagai manusia yang memiliki keahlian, ketrampilan,
pengetahuan, semangat, keberanian adalah manusia-manusia yang akan selalu
menghasilkan telur emas-telur emas setiap harinya. Dan hari demi hari kita
selalu bangga akan telur emas yang kita hasilkan. Tapi yakinkah kita akan
selalu ada telur emas ketika kita justru mulai tidak begitu menghiraukan
angsa-angsa kita. Ketika kita lupa untuk memperhatikan kesehatan fisik diri
kita, ketika kita mulai mengabaikan kesehatan rohani kita, ketika kita
melalaikan sumber daya manusia di keluarga kita.

Itulah yang saya selalu coba untuk mengingatkan diri saya, bahwa untuk
menjamin selalu adanya telur emas, begitu penting usaha untuk memberdayakan
diri dan keluarga kita.

Simber: 'Telur Emas' dari Diri dan Keluarga oleh Pitoyo Amrih


--
Best regards,
 setiaji                            mailto:[EMAIL PROTECTED]





================> HAPUS IKLAN DIATAS DAN FOOTER INI JIKA ME-REPLY
<================
Posting   : [email protected]
Archive   : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
www.mitek.unibraw.ac.id || himamitek.brawijaya.ac.id
************************************************************************************
Yahoo! Groups Links








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/iEagnA/LpQLAA/HwKMAA/x3XolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

================> HAPUS IKLAN DIATAS DAN FOOTER INI JIKA ME-REPLY 
<================
Posting   : [email protected]
Archive   : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
                www.mitek.unibraw.ac.id || himamitek.brawijaya.ac.id
************************************************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mitek/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke