Wah benar2 kisah yang bagus, membuat diri tertohok
----- Original Message ----
From: agung firdaus <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, December 17, 2007 7:57:34 AM
Subject: [ MiteK-L ] Fwd: Kisah Yu Timah
Kisah yang inspiratif untuk menyambut Iedul Adha...
--- In [EMAIL PROTECTED] .com, momon <[EMAIL PROTECTED] > wrote:
Assalamu'alaikum,
kisah yang sangat menyentuh, semoga bermanfaat utk kita semua
wassalam,
Kisah "YU TIMAH"
(dicuplik dari RESONANSI - Republika Desember 2006/Ahmad Tohari)
Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga
kami. Dia
salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini
sudah
berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang
diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah
penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah,
berdinding
anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di
tempati
gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin,
ditambah yatim
sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu
Timah
perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu
Timah
bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring
usianya
yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu
rumah
tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong
membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat
renta.
Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung
anak dan
emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia
berjualan nasi
bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di
pesantren
kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan
nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah
emaknya
meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu
hingga
tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia
tersedot
arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di
Jakarta.
Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara
dan
mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus.
Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah
anak-anak
petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah. Kemarin Yu
Timah
datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal
tabungan.
Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank
perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu
Timah
tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang
miskin dan
buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun
setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp
250
ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah,
emas.
Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan
mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya
bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya
yang
kecil.
''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah
tutup.
Bagaimana bila Senin?''
''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''
''Mau ambil berapa?'' tanya saya.
''Enam ratus ribu, Pak.''
''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
''Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya
tambahi
dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.''
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi
kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan
tanggapan,
mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya.
Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu
Timah
membeli kambing kurban.
''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam
ratus ribu.
Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib
menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi,
apakah
niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?''
''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama
Ini
memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi
pemberi
daging kurban.''
''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu
minta
diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah
mendengar,
mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang
ditinggalkan
oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya
keikhlasan
demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?
Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal
itu
tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu
Timah, saya
jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik
haji,
namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin,
tapi
uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus.
Uangmu
malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang
dokter
makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin
menikmati
daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan
kamu
mabrur sebelum kamu naik haji.
Lebih baik Memberi Dari pada Menerima.
Semoga Kita dapat mengambil Hikmahnya. Amien.
"SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1428 H"
<!--
#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->
<!--
#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->
<!--
#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean,
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}
#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}
#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
[Non-text portions of this message have been removed]
================> HAPUS IKLAN DIATAS DAN FOOTER INI JIKA ME-REPLY
<================
Posting : [email protected]
Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
www.mitek.unibraw.ac.id || himamitek.brawijaya.ac.id
************************************************************************************
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/mitek/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/mitek/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/