Info yg menarik, maturnuwun sudah membagikan tips2 nya. 

sekedar nambahin, menurut ku loo yaa... jadi pengusaha yang sukses memang 
menjadi impian semua orang yg bergelut di jalur yang satu ini, hanya saja dari 
beberapa orang yang sudah sukses mengatakan bahwa sukses adalah 1% dari 99% 
gagal, sungguh perbandingan yang jauuhh sekali. Jadi bagi orang yang berhenti 
menjadi enterpreneur dan kembali ke jalur karyawan setelah satu ato dua ato 
tiga bahkan sepuluh kali gagal, adalah karyawan sejati, karena menyerah sebelum 
menyelesaikan 99% etape menuju sukses sebagai pengusaha. Sederhananya, jangan 
pernah berhenti jadi pengusaha sejak langkah pertama dimulai, karena 
bagaimanapun dan dimanapun kegagalan pasti datang, dan "BERBAHAGIA"-lah karena 
gagal, karena tujuan sukses semakin dekat. mungkin kita gagal berbisnis IT, 
coba lagi, gagal lagi, pindah bisnis sepatu, gagal lagi, ganti bisnis daging 
kambing, gagal lagi...teruuss sampai akhirnya sukses pada bisnis ikan asin... 
wallahualam...

Hal yng gak kalah pentingnya adalah menghindari prilaku konsumtif, ini puenting 
banget!!!  kebanyakan, karena sudah mendapatkan laba usaha, gaya hidup langsung 
meningkat. Usaha yang sebenarnya baik, jadi nggak berkembang malah cenderung 
menurun karena yang dibelanjakan adalah keuntungan yang seharusnya dijadikan 
modal usaha. bagi orang yang berpenghasilan tetap, setelah pendapatan dikurangi 
dengan biaya operasional rumah tangga, sisanya bisa buat tabungan untuk sekolah 
anak atau bayar kredit rumah dan kendaraan. Namun bagaimana dengan pengusaha 
yang penghasilannya naik turun? tentu juga ingin punya rumah, punya saving 
untuk masadepan anak2, atau bahkan punya kendaraan yang lebih baik. nah 
disinilah serunya... :)  

Satu waktu, untuk makan saja harus ngutang, ditagih2 orang karena utang belom 
dibayar...lain waktu kita punya uang untuk GANTI Handphone, GANTI Kendaraan, 
BELI mesin cuci, UANG MUKA rumah dll. lhaa.. apa gak boleh bagi pengusaha untuk 
GANTI, BELI, UANG MUKA dll tadi?? hehehe... gila aja kalo gak boleh... :) yang 
nggak boleh adalah menggunakan uang dari keuntungan SATU saat untuk keperluan 
konsumtif tadi. yang utama pasti "selamatkan sandang pangan dan papan" keluarga 
dulu, yg pokok2 dan hidup hemat, betull  gak??..  sisanya (sisa keuntungan)  
digunakan untuk  memperbesar usaha, teruusss  begitu  sampai modal usaha pun 
aman jika suatu saat terjadi krisis usaha dan usaha pun semakin membesar. 
setelah modal usaha dipastikan aman, barulah menikmati hasil usaha yang 
sebenarnya... UANG MUKA dan CICILAN rumah diambilkan dari keuntungan dagang 
dengan pelanggan A, CICILAN mobil dibiayai dari keuntungan dagang dengan 
pelanggan B dst... kedengarannya enak nih
 teori... :) butuh waktu lama karena 99% banding 1%.

Terus, gimana kalo keuntungan = kebutuhan pokok yang sudah dihemat? alias hidup 
pas2-an tanpa peluang usaha yang membesar??... BERHUTANG-LAH.... iya.. 
HUTANG.... banyak yang alergi dengan action yang satu ini... seolah olah 

class OrangHidupController < ApplicationController
 before_filter :doAction, :except => [ :index]

def doAction
        if params[action]["madjoe"] == "HUTANG"
            display_notice_redirect "Lu Gile Ndroo, ogah ahh!!"
            redirect_to :action => 'index'
        else
            .....
        end
end
end #end of class

bekerjalah dengan "hutang pintar" iaitu hutang yang hanya digunakan untuk modal 
usaha, bukan yang lain.... kalo 
impian,motivasi = steer, yang mengarahkan pada tujuan,
kerja keras = mesin, yang mengusahakan pencapaian tujuan,
maka "hutang pintar" = transmisi nya, yang memberikan pilihan kecepatan jika 
digunakan secara benar... 
jangan lupa berdo'a, yang gak ada padanannya seperti diatas... :)... ada yang 
tau??
wuihh.... mbengkel tenannn.. :)

Setiap usaha (nurutku) butuh totalitas, ada orang yang punya usaha sambilan 
kemudian berhasil dan akhirnya memilih untuk membesarkan usaha yang tadinya 
"sambilan" itu. tapi itu hanya "kelihatannya", kenyataanya bisnis tidak hidup 
hanya karena konsep yang paling mandjoer djaja sekalipoen. Untuk men-dualisme 
sebagai pekerja dan pengusaha, tetap saja istri/suami/kakak/adik/tante/om yang 
total mengurusi usaha, kita? hanya meluangkan sedikit persen waktu yg ada untuk 
memberi "konsep dan arahan", pada akhirnya kita pun sampai pada pilihan. But, 
apapun teknisnya, sepanjang tujuan sukses bisa tercapai secara halal dan benar, 
segalanya layak diperjuangkan...

Dengan segala hormat, saya tidak bermaksud membandingkan profesi pengusaha dan 
karyawan dari sisi negatif maupun positif, karena perbedaanya hanya apakah 
pekerjaan kita disyukuri atau tidak. Tulisan diatas hanya sedikit hikmah dari 
pengalaman yang pernah saya alami, beberapa kali "berbahagia", akhirnya jadi 
karyawan beberapa tahun, sekarang coba bangkit lagi dengan usaha yg lain, 
semoga kali ini benar-benar berbahagia.... ayo.. kita pindah ke kuadran 
kanan... tempat dimana kita hidup dengan harap-harap-harap-harap-cemas namun 
berbahagia.... :)


Regard's



Irwan (MI-A 99)
PT. Rezky Aulia
Mobile Bunker Agent of Pertamina
mobile: 081253087900


----- Original Message ----
From: Bram Andrian <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, March 27, 2008 9:40:25 AM
Subject: [ MiteK-L ] Fwd: Empat Kiat Meminimalisir Resiko dlm Memulai Bisnis

                dari milis tetangga, semoga bermanfaat.
----

Bahwa profesi pengusaha (entrepreneur) menjanjikan peluang peningkatan
penghasilan yang berlipat? Yes, karena itulah banyak diantara kita
ingin jadi entrepreneur sukses. Bahwa profesi pengusaha memungkinkan
kita bebas finasial di hari tua karena tabungan cukup sehingga kita
bisa pensiun lebih tenang dan fokus untuk misi hidup yang lain? Betul
demikian dan sudah banyak yang membuktikan. Hanya saja memang tak
mudah menjadi entrepreneur sukses, terbukti banyak pula yang gagal.

Selain itu, tak sedikit orang yang masuk ke dunia wirausaha dengan
terburu-buru dan emosi. Tanpa pikir panjang dan pertimbangan matang ia
langsung tinggalkan pekerjaan sebelumnya yang notabene merupakan
andalan mata pencaharian keluarga. Angan-angannya langsung melambung,
membumbung, dan membayangkan hidup serba-enak bila menjadi pengusaha
sukses dengan penghasilan berlipat. Ia lupa bahwa berwirausaha juga
punya resiko, resiko gagal dan bangkrut. Ia lupa merencanakan
bagaimana seandainya ia gagal memulai. Harus diakui, banyak sekali
orang bertindak semacam ini, yang akhirnya bukannya makin bersemangat
berwirausaha namun justru menjadi antipati alias benci dan menyesal
kenapa melangkah jadi entrepreneur. Bahkan kadang jadi menyalahkan
orang lain. Apalagi kalau yang hingga cerai dengan istri atau dibenci
sanak keluarga. Cara pandang dan cara memulai entrepreneur 'yang asal
berani' seperti ini tentu saja kurang elegan.

Disini saya ingin memberikan beberapa informasi alternatif cara aman
masuk menjadi entrepreneur sesuai yang saya tahu dari relasi-relasi
saya pengusaha yang sudah terbukti sukses. Kalau kita ingin mandiri
berwirausaha alias menjadi entrepreneur, kita tidak harus langsung
cabut dari profesi lama kita. Tidak perlu grusa-grusu. Kita harus
dengan dingin membedakan antara berani dan nekad. Apalagi kalau yang
sudah punya tanggungan keluarga, kita juga harus menimbang ada sekian
jiwa yang ikut dalam gerbong kita sehingga kalau kita salah kemudi
mereka juga bisa kejeblos.

Berikut ini beberapa informasi cara yang lebih aman untuk pindah ke
kuadran entrepreneur.

Pertama; kita bisa memulai berwirausaha dengan melakukan penyertaan
saham di bisnis teman kita sembari kita tetap kerja dulu di perusahaan
lama kita. Jadi kita setor modal ke kawan yang punya bisnis bagus dan
nanti bagi kita dapat bagi hasil. Dari sini kita juga sekalian mulai
belajar mengelola usaha. Pelan-pelan kita mulai aktif terjun di
dalamnya dan membantu kerja bareng dengan si teman itu. Kalau skala
usaha joinan dengan teman itu bagus dan penghasilan dari bagi hasil
itu sudah bisa untuk menutup kebutuhan hidup kita dan keluarga,
barulah kita putuskan keluar. Jadi ketika kita keluar dari perusahaan
lama tidak kaget karena tetap ada penghasilan.

Kedua, jurus menginjak dua kapal. Artinya, kita masih sebagai karyawan
di sebuah perushaaan mapan, namun di waktu yang sama juga merintis
usaha alias menjalankan usaha milik sendiri. Cara ini dimungkinkan
bagi mereka-mereka yang punya cukup waktu luang sehingga bisa nyambi.
Sebenarmnya cara ini sekarang lebih dimungkinkan karena adanya HP dan
telpon yang memudahkan koordinasi. Jadi, sementara kita di kantor kita
bisa sembari mengendalikan bisnis sendiri dari jarak jauh. Hingga
skala tertentu nyambi ini sangat dimungkinkan, namun kalau bisnisnya
mulai membesar kita pasti harus cabut. Yang jelas, strategi menginjak
dua kapal ini merupakan pilihan aman agar kita dalam melangkah jadi
entreprenur. Jadi sementara satu kaki kita masih ada di kapal milik
perusahaan lain, satu kaki kita melakukan test market untuk membangun
bisnis sendiri. Cara ini paling umum dijalankan oleh para perintid usaha.

Ketiga, kalau anda tidak mau joinan dengan orang lain dan tidak bisa
berdiri di dua kapal, kita bisa berdayakan pasangan kita
(istri/suami) . Jadi, sementara kita masih kerja di perusahaan lama,
pasangan kita (istri atau suami) yang mengurusi bisnis sendiri untuk
masa-masa perintisan ini. Artinya sekoci pendapatan keluarga masih ada
yang bisa diandalkan, baik buat beli beras atau susu anak-anak. Kalau
usaha sendiri ini sudah jalan, silahkan saja keluar dari kerja di
perusahaan orang lain itu.

Soal tip ini saya juga punya contoh kasus riel. Ada pengusaha sukses
kawan baik saya, Pak Budiyanto Darmasatono yang beliau pengusaha kurir
ekspress yang sudah kaeryawan 2.700 orang padahal waktu awal-awal di
jakarta selulus D3 UGM juga gelantungan naik bis kota. Waktu beliau
memulai usaha dia tidak langsung keluar dari pekerjaan lamanya sebagai
supervisor di Dinners Club, namun istrinya dulu yang menjalan usaha.
Tapi kalau ide dan konsep-konsep bisnisnya tetap Pak Budiyanto yang
memotori. Istrinya yang melakukan eksekusi. Kalau ada meeting2 yang
penting, beliau juga cuti dari kantornya dan ikut istri melakukan
presentasi ke calon klien. Jadi dia tidak gegabah langsung cabut dari
kerjaan kantor lamanya. Nah, ketika usahanya sudah berjalan baik dan
pendapatannya sudah mulai bisa diandalkan, barulah ia keluar secara
baik-baik dari perusahaan lamanya, berpamitan dengan sopan untuk usaha
sendiri. Bisnis sendiri itupun langsung ia komandani dan menjadi
dirut-nya. Bisnisnya pun kemudian makin berkembang dan pengusaha yang
rajin berbagi ke yatim dan fakir-miskin ini sekarang sudah punya 2.700
karyawan dengan kantor operasional sudah ada di semua propinsi di
Indonesia. Yang pasti, tip ketiga ini tentu saja berlaku untuk yang
ketika akan mulai mandiri berwirausaha sudah berkeluarga, kalau yang
masih single, tentu saja pasangan Anda ini bisa kakak atau Adik anda.
Ini cara sukses dan aman untuk masuk ke kuadran entrepreneur namun
tidak mengganggu keamanan sumber penghasilan keluarga.

Keempat, kalau Anda sudah ngebet sekali untuk menjadi entrepreneur dan
yakin bakal sukses merasa tak perlu pakai ban serep seperti itu,
setidaknya Anda tetap bisa melakukan pengamanan lain, yakni dana
pendidikan anak. Cara ini juga dilakukan salah satu pengusaha kawan
saya, Pak Harijanto, pengusaha sepatu produsen Nike dan Piero yang
punya karyawan 9.000 orang. Ketika beliau akan menjadi entrepreneur
dengan membeli saham perusahaan dimana ia bekerja ia juga
mempertaruhkan masa depannya: bisa sangat sukses namun juga bisa
menjadi miskin kalau gagal. Nah, untuk mengamankan proses untuk
menjadi entrepreneur ini, beliau dan istri mufakat. Diputuhkan, maju
menjadi entrepreneur dengan membeli perusahaaan dimana ia bekerja
namun sebelumnya tabungan pendidikan untuk anak tidak boleh
diotak-atik. Tabungan anak harus tetap ada dan disendirikan. Jadi
katakanlah proses dia menjadi entrepreneur itu gagal, dana pendidikan
anak tetap aman.

Jadi itu beberapa kiat aman pindah ke kuadran entrepreneur. Semoga
dengan cara itu proses transisi menjadi pengusaha sukses menjadi
melegakan semua pihak, tidak ada penyesalan-penyesal an. Silahkan
kawan2 yang ingin memulai usaha memilih jalan yang terbaik.
Kawan-kawan semua bisa meyimak lebih dalam tentang kiat-kiat menjadi
entrepreneur ini (termasuk kisah Pak Budianto Darmastono dan Pak
Harijanto) di buku erbitan Gramedia, "10 Pengusaha Yang Sukses
Membangun Bisnis dari 0" disusun Sudarmadi yang baru saja dicetak ulang.

Semoga informasi ini bermanfaat dan saya ikut berdoa semoga sukses
buat kawan2 semua.

Wassalam
-- 
.: Bram Andrian :.

[Non-text portions of this message have been removed]


    
                                
<!--

#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->

<!--

#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->
        
<!--

        #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-reco {
margin-bottom:20px;padding:0px;}
#ygrp-reco #reco-head {
font-weight:bold;color:#ff7900;}

#reco-grpname{
font-weight:bold;margin-top:10px;}
#reco-category{
font-size:77%;}
#reco-desc{
font-size:77%;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->
                





      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke