Bisa dilihat di Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=9mUqzno9Rk0

Tak Perlu Tambah Angin, Melaju dengan Kecepatan 80 Km/Jam (Keluarga
Edy Chandra; Penemu Sepeda Motor Bertenaga Angin)

Pontianak, Minggu, 8 Juni 2008 - Sepeda motor berbahan bakar bensin
sudah umum. Pun pula bertenaga listrik, atau baru-baru ini ada yang
berbahan bakar air, banyak yang sudah tahu. Lalu, bagaimana jika
sepeda motor itu bertenaga angin?

Efprizan, Pontianak

MOTOR Honda C-6 , 110 cc itu tak lagi berbentuk asli. Tangkinya telah
berganti menjadi sebuah tabung. Benda itu diambil dari tabung klakson
angin mobil. Di bawahnya ada sebuah picu. Di situlah tempat untuk
menyalurkan udara yang diperoleh dari kompresor berkekuatan besar.

Tabung itu masih ditambah dengan pipa besi yang biasa digunakan oleh
pandai besi untuk membuat pagar. Pipa itu sekaligus menjadi rangka
untuk jok motor itu. Di dalam pipa itu juga tersimpan angin. Total
tekanan angin di dalam tabung dan pipa itu mencapai ±300 psi.

Ya, tangki yang biasanya tempat menyimpan bensin sebagai bahan bakar
utama menggerakkan mesin motor kini berubah total. Semuanya telah
terisi angin. Sebagai sumber utama untuk menggerakkan mesin motor itu.

Mesinnya juga berubah total. Di atas blok motor masih tersimpan lagi
sebuah tabung kecil. Kalau di motor normal tersimpan kaburator sebagai
tempat keluar masuknya bensin. Nah di motor ini, fungsi tersebut
tergantikan oleh tabung kecil itu. Tabung kecil dengan sistem kran dan
selang itu berfungsi sebagai pengatur tekanan udara.

Selang udara itu masuk ke rongga blok, di mana di motor normal
terdapat sebuah busi untuk pengapian. Walaupun tidak berknalpot, motor
aneh itu masih menggunakan oli untuk pelumasan mesin-mesinnya.

Tabung motor ini harus berisi tekanan udara ±300 psi untuk
menjalankannya. Ada panel khusus untuk mengetahui tekanan udara yang
masuk. Panel itu diletakkan di atas stang, sebagai pengganti
speedometer.

Jika tabung hanya terisi angin kurang dari tekanan maksimal itu, motor
tak akan bertahan lama jalannya. Tekanan angin maksimal itu didapatkan
dari kompresor besar.

Jika angin sudah terisi, motor itu cukup digeber gasnya. Motor angin
itu pun langsung meluncur di jalanan. Sirkulasi udara yang terjadi
membuat motor itu tidak perlu lagi di isi dengan udara baru. Kecuali
jika terjadi kebocoran tabung atau selang. Jika kelebihan tekanan, ada
alat khusus yang akan membuang kelebihan udara. Total maksimal lajunya
motor itu bisa mencapai 80 km/jam.

Keluarga Edy Chandra (Cen Siong Kiun) yang menemukan motor ramah
lingkungan tersebut. Dalam pengerjaannya, pria kelahiran Batang Tarang
52 tahun yang lalu ini dibantu oleh lima putranya masing-masing; Budi
Chandra, Yuniarto Chandra, Suryadi Chandra, Hadianto Chandra, dan
Agustono Chandra.

Pria yang beralamat di Jalan Sungai Raya Dalam, Komplek Pesona Alam
Nomor E-6 Pontianak ini kesehariannya membuka bengkel mobil dan tampal
ban di Nanga Pinoh Kabupaten Melawi. Masyarakat di sana lebih mengenal
bengkel itu dengan sebutan Bengkel Simpang Tiga.

Menurut Edy Chandra atau biasa disapa Akiun ini, untuk merancang motor
bertenaga udara tersebut memerlukan waktu tiga bulan. "Motor ini masih
kasar. Kami akan terus menyempurnakannya," katanya.

Ia tengah merancang agar sistem motor ini bisa menyerupai kinerja
motor matik. "Nanti dibuatkan kontak seperti mobil. Sekali distarter
langsung nyala," katanya. Melalui rekannya, dia juga akan mematenkan
temuannya ini.

Sementara Budi Chandra menambahkan, sebelumnya mereka memang tidak
menyangka bisa membuat kendaraan ini. "Setiap hari kami memang selalu
berdebat untuk merakit motor ini. Memang awalnya ini ide yang tak
masuk akal. Banyak kawan-kawan yang sangsi juga. Mereka menyebutnya
dengan motor 'minyak angin' (dalam istilah keseharian masyarakat
Melayu, berarti bohong). Tapi setelah melihat langsung, geleng-geleng
juga mereka," ceritanya.

Budi atau karib dipanggil Asang ini mengatakan, ide awal pembuatan
motor ini terinspirasi dari kekuatan angin pada ban mobil yang biasa
mengangkat berat hingga belasan ton.

"Ke depan, mungkin kendaraan ini bisa menjadi alternatif bagi
masyarakat. Selain ramah lingkungan juga tidak menggunakan BBM yang
harganya semakin tinggi," ujarnya.



Gemar Modifikasi

Keluarga Edy Chandra memang terkenal jago eksperimen kendaraan. Tak
hanya motor angin, keluarga ini juga berhasil memodifikasi kendaraan
rongsokan menjadi berdaya guna.

Buktinya saja, genset dan mesin potong rumput diubah oleh mereka
menjadi motor kecil dengan model hard top. Bahkan limbah dari mobil
Suzuki pick up ST 20, 550 cc, rakitan tahun 1982, 'dikimpoikannya'
dengan RX King dan Yamaha Force I menjadi motor gede (Moge). Oleh Edy,
moge berwarna merah Ferari ini disebutnya dengan otomotor.

Perkimpoian antara mobil dengan motor ini menjadi kendaraan yang khas.
Otomotor ini bisa mengangkut tiga orang dewasa. Untuk mesin, masih
mengandalkan kepunyaan mobil Suzuki pick up tersebut dengan beberapa
bagian komponen mobil yang dihilangkan seperti suspensi depan, sistem
pengereman dan lainnya.

Sistem pengereman belakang masih menggunakan tromol sedangkan bagian
depan menggunakan pengereman cakram. "Untuk menjalankannya menggunakan
gas tangan, sedangkan perseneling masih menggunakan tangan, sama
seperti mobil," jelasnya.

Untuk roda, Edy menggunakan ban mobil taft dengan dua knalpot.
Otomotor yang dikerjakan selama tujuh bulan ini, menghabiskan biaya
sekitar Rp20 jutaan.
http://www.pontianakpost.com/berita/...tama&id=159543


-- 
.: Bram Andrian :.

Kirim email ke