dari milis sma-ku

--- On Mon, 11/17/08, u kusnanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: u kusnanto <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [alumni-smanepa] menyesal tidak menangis
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "abdul rokib" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "ucok tenis" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, November 17, 2008, 3:32 PM










    
            
MENYESAL TIDAK MENANGIS
 
Mengapa menjadi menyesal, jika seorang tidak bisa menangis...?
 
Pak Sumo adalah seorang karyawan dalam sebuah perusahaan yang berusia sekitar 
35 tahun. Dia termasuk seorang pekerja yang disiplin. Di samping 
kedisiplinanannya yang sudah diakui oleh manajernya, ia termasuk orang yang 
keras hati. Apa yang dikehendakinya, selalu ia usahakan untuk bisa meraihnya.
 
Ada satu hal yang menurutnya, merupakan kekuatan dari dirinya. Yaitu bahwa ia 
tidak pernah menangis. Melihat kejadian apa pun, ia mampu melihat dengan 
biasa-biasa saja. Tanpa tergoda dalam suasana sedih. Jika ada orang menangis 
karena terhanyut oleh sebuah cerita dalam sebuah sinetron atau drama, ia hanya 
ketawa saja. Kekuatan hatinya tersebut menjadi kebanggaannya.
 
Hari itu pak Sumo adalah sebagai salah satu jama'ah haji di kloterku. Ia 
berangkat dari maktab menuju masjid Nabawi kadang bersamaku kadang pula tidak. 
Hari itu di dalam masjid kebetulan dia bertemu denganku. Maka kami ramai dan 
asyik bercerita saling tukar informasi selama di kota Madinah.
 
Sambil menunggu datangnya waktu shalat ashar, kami berbincang-bincang seputar 
masalah ibadah. Serta saling bertanya bagaimana suasana hati kami ketika berada 
di tanah Haram ini. Pak Sumo tiba-tiba bertanya kepadaku, apakah aku pernah 
meneteskan air mata ketika melakukan shalat di masjid Nabawi ini? Aku menjawab 
sambil lalu saja:
"...wah, ya tentu saja pernah. Bahkan saya termasuk orang yang sering kali 
menangis jika melakukan shalat di sini." Jawabku.
Pak Sumo menimpali lagi :
"Sering kali?... Mengapa bisa begitu ?" tukasnya. "Saya juga tidak tahu pak" 
jawabku singkat. Begitu aku selesai menjawab petanyaannya itu, tiba-tiba di 
depan kami agak menyerong sebelah kanan, terlihat ada seorang lelaki setengah 
baya yang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya.
 
Begitu sejuknya ekspresi wajahnya. Matanya terpejam. Dagunya terangkat sedikit. 
Dari sela-sela lembar bulu matanya menetes air matanya. Tetesan itu membasahi 
pipinya yang agak sedikit cekung. Tangannya merapat di depan dadanya dan 
menengadah ke atas. Mulutnya nampak bergerak-gerak, tanda ia sedang berbisik 
pelahan.
 
Tanpa terasa aku ikut hanyut menyaksikan ekspresi orang tersebut. Sehingga aku 
agak lama terdiam. Aku lupa kalau di samping kananku ada pak Sumo yang sedang 
mengajakku untuk berbincang-bincang. ..
 
Tiba-tiba lenganku dipegang oleh pak Sumo. Seraya ia bertanya kepadaku.
:"Mengapa anda nampaknya ikut terhanyut melihat orang itu? apa yang istimewa 
pada diri orang itu?"
Sebelum aku menjawab, pak Sumo pun melanjutkan pertanyaannya lagi:
"... mengapa ya, sejak kemarin koq banyak orang menangis di sini? Apa yang 
menyebabkannya? " Saya sendiri tidak pernah mengalami hal semacam itu. Mengapa 
itu bisa terjadi.? " Katanya lagi.
 
Aku tidak memberi jawaban apa pun kepada pak Sumo atas pertanyaan-pertanya an 
itu. Pembicaraan kami terputus, karena terdengar bilal sudah memberi tanda 
bahwa shalat akan segera dimulai. Akhirnya kami berpisah mencari shaf 
masing-masing untuk mengikuti shalat berjama'ah.
 
Satu hari, dua hari, kami tidak bertemu dengan pak Sumo. Tetapi pada hari 
terakhir di Madinah, ketika kami melakukan shalat terakhir di masjid Nabawi, 
aku bertemu lagi dengan pak Sumo. Seperti biasanya ia mengajak duduk bersama 
sambil nunggu shalat berjama'ah. Menurut pengakuannya, ternyata selama kami 
tidak bertemu, pak Sumo bertambah sering melihat orang-orang menangis di masjid 
itu.
 
Bahkan katanya ada orang yang hampir pingsan menangis sesenggukan menyesali 
dosa-dosanya. :"...tetapi hati saya tetap hambar. Saya tidak menemukan alasan 
untuk menangis. Meski pun dalam hati kecil saya, saya juga ingin merasakannya. 
Tetapi setes pun saya tidak bisa mengeluarkannya. " Katanya lagi.
 
Ketika batasan waktu untuk di Madinah sudah dinyatakan habis, dan kami semua 
harus berkemas untuk menuju kota Mekah, aku melihat sesekali waktu pada diri 
pak Sumo. Ku lihat ia sering berdiam. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia 
selalu nampak ceria, lincah, penuh gaya , dan penuh semangat.
 
Saat itu nampak serius sekali. Maka aku pun mendekatinya sebagai teman jama'ah 
se kioter yang berangkat dan pulang kami sering bersama-sama. "Ada apa gerangan 
pak Sumo?" tanyaku.
 
Setelah sejenak mamandang kepadaku, dan sedikit menatap mataku, pak Sumo 
bercerita. Ternyata selepas kami beberapa hari tidak bertemu di dalam masjid, 
pak Sumo bertambah sering melihat orang menangis dalam berdo'a. Bahkan ketika 
pulang dari masjid, ia masih sempat menyaksikan seorang ibu yang matanya masih 
basah oleh air mata.
 
Dan yang lebih menggugah perasaannya adalah, ketika suatu saat pak Sumo 
berdekatan dengan beberapa jamaah, yang sedang berdiskusi tentang masalah 
suasana hati. Dari hasil pendengarannya yang tidak sengaja itu, pak Sumo 
mengambil sebuah kesimpulan, bahwa seharusnya hati seorang mukmin itu adalah 
sensitif. Gampang trenyuh, gampang peduli, dan gampang melihat kesalahan diri 
sendiri... Maka sejak itu pak Sumo sering merenung sendiri. Ia mulai melihat 
ada beberapa keanehan dalam dirinya. Ia mulai merasa betapa salahnya ia. Betapa 
keras hatinya, betapa tak tahu dirinya ia...
Penyesalan demi penyesalan ia renungi sendiri.
 
Dan tidak ada yang menyuruhnya, tiba-tiba saja jatuhlah air mata pertama pak 
Sumo selama dalam hidupnya. Air mata yang sangat mahal harganya. Yang akan 
mengubah suasana hati pak Sumo dalam kehidupannya.
 
Dia bertambah sedih, dan merasa sangat besar dosanya, ketika teringat pernah 
mengejek temannya yang menangis ketika di Raudhah. Bahkan ketika ia melihat 
orang-orang melelehkan air mata, saat itu ia pernah mengejeknya di dalam hati. 
Akh, kepingin sekali rasanya pak Sumo mencari orang-orang itu, dan ia ingin 
memeluk untuk mohon maaf, atas kedangkalan pikiran dan hatinya.
 
Hari itu Pak Sumo terus menerungi kesalahannya. Ku lihat sampai ia naik ke 
dalam bus, dan duduk di bagian belakang, ia tetap menundukkan kepala. Akh, 
rupanya pak Sumo telah 'mampu' menangis! Pak Sumo yang merasa bangga dengan 
kekerasan hatinya itu, pak Sumo yang selama hidupnya pantang mengeluarkan air 
mata itu, sekarang terlihat menangis, justru setelah semua orang telah berhenti 
dari menangisnya. ..
 
Bus kami pun melaju dengan cepat menuju ke kota Mekah Al-Mukaromah. Di dalam 
bus yang lain, aku duduk bersama teman serombonganku, dan tanpa terasa aku pun 
terus merenung dan berfikir tentang peristiwa yang terjadi pada diri pak Sumo. 
Memang masalah hati adalah masalah hidayah. Yang sangat sulit diterobos oleh 
kata-kata atau kalimat yang tajam sekali pun.
 
Firman Allah Swt, dalam Al-Qur'an menunjukkan betapa manusia mempunyai bermacam 
hati. Ada hati yang berpenyakit, ada hati yang tertutup. Ada hati yang keras 
membatu, ada pula hati terkunci mati. Bahkan ada hati yang sesat. Bergantung 
bagaimana mereka mampu melatih dan memenejnya masing-masing.
 
QS. Al-Baqarah (2) : 7
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka 
ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
 
QS. Al-Baqarah (2) : 10
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi 
mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
 
QS. Ali Imran (3) : 8
(Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong 
kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah 
kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha 
Pemberi (karunia)."
 
QS. Al-Maidah (5) : 13
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan 
hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari 
tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka 
telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat 
kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak 
berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah 
menyukai orang-orang yang berbuat baik.
 
QS. Al-An'am (6) : 25
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami 
telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) 
memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka 
melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. 
Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir 
itu berkata: "Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu".


      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

================> HAPUS IKLAN DIATAS DAN FOOTER INI JIKA ME-REPLY 
<================
Posting   : [email protected]
Archive   : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
                www.mitek.unibraw.ac.id || himamitek.brawijaya.ac.id
************************************************************************************Yahoo!
 Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mitek/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mitek/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke