--- On Thu, 1/15/09, rina djuariah <rina_r...@yahoo. com> wrote:


From: rina djuariah <rina_r...@yahoo. com>
Subject: [TIC-Indo] Fw: Bebas Kanker dengan Shalat Tahajjud
To: mbak_e...@yahoo. com, "TIC members japan" <tic-i...@yahoogroup s.com>, 
"belinda arunarwati" <arunarw...@gmail. com>, "syaefulloh muhammad" 
<ms...@yahoo. com>
Date: Thursday, January 15, 2009, 9:58 AM






FYI
 
dari seorang teman
semoga bermanfaat

wassalam
 

 
----- Forwarded Message ----
From: Djoko Poerwoko <dj.poerwoko@ yahoo.com>
To: Onrad Radin Sudarno <hosradinxyz@ gmail.com>; ujang sugiman 
<ujang...@yahoo. co.id>; Sodikin terjemah Al Qur'an <sodi...@mail. qita.co.id>; 
Supramono Tetada <mulya...@yahoo. com>; Adang Sopandi Tetada <dangapa...@yahoo. 
co.id>; Soedjatmiko Tetada <tri_soedjatmiko@ yahoo.com>; Rina Djuariah Tetada 
<rina_r...@yahoo. com>; Neneng Nurhasanah Tetada <nengj...@hotmail. com>; 
Meiriyanto Tetada <meirya...@cp. co.id>; Ediyanto Pudjiono Tetada 
<ediyanto.pujiono@ conocophillips. com>; Darda Effendi Tetada <dardaefendi@ 
yahoo.com>
Sent: Tuesday, January 13, 2009 11:57:42 AM
Subject: Bebas Kanker dengan Shalat Tahajjud







- 





BEBAS KANKER DENGAN TAHAJJUD

Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya 
mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga 
sangat penting bagi dunia kedokteran. 

Menurut hasil penelitian Dr. Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu 
shalat sunnah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit 
kanker.

Tidak percaya? 
"Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. Jika anda melakukannya secara rutin, 
benar,khusuk, dan ikhlas, niscaya anda terbebas dari infeksi dan kanker", ucap 
Sholeh. Ayah dua anak itu bukan "tukang obat" jalanan. 

Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul "Pengaruh 
Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Respons ketahanan Tubuh 
Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunolog i" 

Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu 
kedokteran pada
 Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan 
lalu. 

Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah salat 
tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat 
gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons 
ketahanan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya 
yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan k 
emampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi. (coping). Sholat 
tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang 
muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas 
sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan.

Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental 
psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi 
kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai
 misteri, dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.

Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi 
normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya anatara 38-690 
nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 
69-345 nmol/liter. "Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan 
orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu
sebaliknya, ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma 
lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden 
sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa 
itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan 
penuh. Setelah diuji lagi, tinggal  19 siswa yang bertahan sholat tahjjud 
selama dua bulan. Sholat dimulai pukul
 02-00-3:30
sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga 
rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di 
Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika). 

Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara 
ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang 
rajin dan ikhlas
bertahajjud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk 
menangulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil.

"Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan 
muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara 
memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang 
positif dapat menghindarkan seseorang dari stress." Nah, menurut Sholeh, orang 
stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan 
sholat tahjjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan
 ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, 
yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, 
berdasarkan hitungan tekhnik medis
menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai 
ketahanan tubuh yang baik.

"Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah" , (Q.S Al-Kautsar:2) . 
Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua 
rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. 
Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ? Seorang Doktor di Amerika 
telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban
yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan 
tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang 
Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam 
dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan
 Melalui Al Quran", kajian pengobatan melalui Al-Quran
menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat di dalam Al-Quran. 
Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut 
memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat 
saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci 
otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih 
normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akkhirnya dia menemukan bahwa 
darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika 
seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan 
darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian 
urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang di wajibkan oleh Islam. 
Begitulah
keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang
 tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang 
secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini 
sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah 
kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah
ini.

Kesimpulannya : Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang 
apalagi yg bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara 
normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang 
pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak 
heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk
melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal 
mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai 
dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara 
lebih normal. Maka tidak heranlah timbul
bermacam-macam
 gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini. 

Marilah kita membiasakan diri shalat tahajjud, yg hasilnya dapat kita
rasakan di dunia dan diakhirat.

Anda ingin beramal shaleh? Tolong kirimkan kepada rekan-rekan muslim
lainnya yang anda kenal. Wassalam.



 














      


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke