----- Forwarded Message ----
From: Rahma Hidayati <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: wahid imawan <[email protected]>; Abdullah Hariri <[email protected]>
Sent: Wednesday, February 11, 2009 5:51:51 PM
Subject: [alumni-smanepa] aku-ingin-bersedekah
inspiring stories
Di Bontang, Kalimantan Timur ada sebuah perusahaan kaya raya dengan fasilitas
yang luar biasa bagi karyawannya. Penghasilan para pegawainya berlipat-lipat
dibanding dengan perusahaan swasta maupun nasional lainnya. Tunjangan berupa
rumah, mobil, pendidikan anak bahkan makan pun diberikan. Beberapa kali saya
berkunjung ke sana maka saya hanya berkomentar, "Betapa beruntungnya mereka
yang tinggal dan bekerja di tempat ini!" Mereka hidup di sebuah komplek yang
terisolir dari dunia Bontang. Pagar-pagar mereka kokoh berdiri dan lengkap
dengan petugas keamanan yang membuat komplek perumahan itu terisolir dari dunia
luar. Penghasilan besar yang mereka dapat, -mungkin sebab sulit untuk
mendapatkan mustahik-, maka kewajiban zakat dan sedekah pun barangkali tak
tersalurkan. Namun meski demikian hal yang menjadi hak Allah adalah tetap
menjadi hak-Nya. Dimana suatu saat Dia pun akan menagihnya.
Sore itu saya diminta bersilaturrahmi dengan sebuah majlis taklim kaum ibu di
sana . Tema yang diminta membuat saya berpikir keras untuk mencari
referensinya. BEROBAT DENGAN SEDEKAH!!! "Darimana saya harus memulai...?" saya
membatin.
Alhamdulillah atas izin Allah Swt ceramah pengantar yang saya berikan terasa
nikmat. Jangankan untuk mereka kaum ibu yang mendengarkannya, saya sendiri saja
merasakan kenikmatan itu. Rupanya Allah Swt memberi keberkahan pada majlis kami
saat itu. Tanpa terasa saya dapati beberapa 'ilmu ladunni' yang Allah berikan.
Sehingga saya belajar saat mengajar. Menjadi mengerti bersama orang-orang yang
mencari pemahaman.
Allah mewariskan ilmu yang diketahui seseorang, asalkan ia mengamalkan ilmu
yang sudah pernah ia ketahui. (Muhammad Saw)
Usai pembicaraan kurang lebih sekitar setengah jam, maka saya menawarkan kepada
peserta majlis untuk bertanya dan berdialog. Di sana rupanya ada seorang ibu
berusia lebih dari 40 tahun, sebutlah namanya Reni. Tiba-tiba ia mengacungkan
tangan dan ternyata ia bukan hendak bertanya akan tetapi ia ingin berbagi
pengalaman kepada semua peserta yang hadir. Reni pun memulai kisahnya:
Kira-kira 17 tahun yang lalu Reni hamil untuk pertama kali. Allah Swt
menakdirkan bahwa Reni keguguran. Maka dari Bontang, ia pun diantar oleh
suaminya pergi ke Balikpapan dengan pesawat untuk berobat ke seorang dokter
terkenal di sana bernama Yusfa. Akhirnya Reni dikuret rahimnya.
Sepulangnya dari Balikpapan , Reni mendapati dari qubulnya selalu keluar darah
dalam jumlah banyak. Bahkan lebih banyak dari menstruasi rutin. Apalagi bila ia
bangun tidur, ia dapati kasur dan sprei selalu bersimbah darah. Ia panik dan
kalut mengatasi hal ini. Maka ia pun kembali lagi ke Balikpapan bersama
suaminya untuk berobat ke dokter Yusfa.
Sayangnya sang dokter tidak mengerti sebab pendarahan hebat ini. Maka yang
terjadi adalah kali itu Reni dikuret lagi. Sakit dan perih, itulah yang
dirasakan Reni!
Namun pendarahan itu masih tetap saja terjadi, padahal hampir setiap dua hari
sekali Reni dan suami terbang Bontang-Balikpapan untuk mengkonsultasikan
penyebab pendarahan ini. Namun tindakan yang diambil oleh dokter Yusfa hanyalah
mengkuret rahim Reni. Reni dan suami hanya bisa pasrah dan berharap pertolongan
Allah Swt atas musibah ini.
Kejadian ini berlangsung cukup lama. Hingga tubuh Reni bertambah ringkih, rumah
tangga tak terurus, uang tabungan terkuras dan suami tidak bisa bekerja tenang
sebab harus sibuk mengurusi Reni. Sepertinya ada sebuah cobaan besar yang
sedang Allah Swt timpakan kepada Reni dan suaminya.
Reni & suami terus berdoa kepada Allah Swt agar diberi jalan keluar dari
masalah ini.
Hingga akhirnya Allah Swt pun mendengar dan mengijabah doa mereka
Hari itu Reni dan suami hendak terbang ke Balikpapan untuk berkonsultasi dengan
dokter Yusfa. Namun ada suara hati yang berbisik pada diri Reni. Ia bawa
sejumlah uang dalam jumlah besar. Uang itu bukan ia niatkan untuk bayar biaya
pengobatan, akan tetapi ada sebuah cita-cita mulia di sana yang ingin ia
wujudkan. Cita-cita itu adalah, "AKU INGIN BERSEDEKAH!" Sejumlah uang itu pun
ia masukkan ke dalam tas tangan yang Reni bawa.
Pesawat telah membawa Reni dan suaminya pergi menuju Balikpapan . Setibanya di
bandara Sepinggan, Balikpapan Reni berjalan tertatih dipapah oleh sang suami.
Dengan susah payah, Reni pun akhirnya tiba di dalam ruang bandara. Di dalam
hati Reni berdoa kepada Tuhannya, "Ya Allah, datangkan untukku seorang pengemis
yang bisa menerima sedekahku. Izinkan aku untuk bersedekah di hari ini!"
Keinginan untuk bersedekah itu membuncah lagi di hati Reni. Sungguh ia amat
berharap untuk bisa bersedekah kali itu.
Pintu keluar bandara sudah dilalui oleh Reni dan suami. Subhanallah, tiba-tiba
ada seorang pria berpakaian lusuh menyapa Reni dan menjulurkan tangan tanda
minta sedekah. Reni bergembira dan yakin bahwa inilah ijabah doa dari Allah
Swt. Tanpa banyak berpikir, ia merogoh tas tangannya. Sejumlah uang yang sudah
disiapkan ia berikan ke tangan pengemis itu. Maka pengemis dan suami Reni
melongo melihat jumlah uang yang Reni sedekahkan. Reni pun melanjutkan
langkahnya bersama suami dan kemudian mereka masuk ke dalam sebuah taksi untuk
pergi ke rumah sakit tempat dokter Yusfa berpraktek.
"Untuk apa uang sebanyak itu kau sedekahkan?! " tanya sang suami. Reni menjawab
dengan yakin, "Boleh jadi dengan sedekah itu Allah Swt menyembuhkan penyakitku,
Pa!" Mendapati jawaban seperti itu suami Reni tidak banyak mendebat. Memang di
saat-saat seperti ini, hanya pertolongan Allah saja yang dapat menyelamatkan
mereka.
Seperti kali sebelumnya, tidak ada jawaban positif dari dokter Yusfa atas
penyebab pendarahan yang keluar dari qubul Reni. "Hingga saat ini, saya belum
tahu pasti apa penyebabnya" jelas dokter Yusfa.
Maka Reni dan suami pun kembali ke Bontang tanpa hasil memuaskan.
Pendarahan hebat masih terus terjadi dari rahim Reni setiap hari. Reni hanya
bisa bersabar dan pasrah atas takdir yang telah Allah Swt tetapkan pada
dirinya. Pagi itu, Reni tengah berada di dapur untuk membuat masakan ringan.
Tiba-tiba terasa olehnya ada sesuatu yang tidak beres di perutnya dan ia pun
ingin pergi ke toilet. Rasa ingin buang air itu seperti tak terkendali.. .
Hingga Reni harus berlari sebab khawatir ia tak kuasa menahannya. Atas izin
Allah Swt ia kini sudah berada di kamar mandi. Namun hanya pakaian luar saja
yang sempat ia buka, sedangkan pakaian dalam tak sempat ia tanggalkan. Rupanya
ada segumpal daging penuh darah yang keluar dari qubul Reni dan ternyata ia
tidak mau buang air. Segumpal daging penuh darah itulah rupanya yang membuat
Reni terdesak untuk buang air.
Merasa aneh dengan segumpal daging itu, maka Reni mengambil sebuah kantong
plastik kecil dan memasukkannya ke dalam kantong tersebut. Reni berpikir bahwa
ia harus menanyakannya kepada dokter Yusfa tentang benda aneh ini.
Pagi itu adalah jadwal Reni berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Ia seperti biasa
pergi ke Balikpapan didampingi oleh suaminya. Konsultasi kali itu, seperti
biasa tidak memberikan perkembangan ke arah positif sama sekali. Hampir saja
Reni putus asa dengan keadaan ini. Namun tiba-tiba ia teringat akan kejadian
aneh kemarin pagi. Lalu ia pun merogohkan tangannya ke dalam tas dan
mencari-cari plastik kecil berisi segumpal daging penuh darah. Ia keluarkan
plastik kecil itu dan ia sodorkan kepada dokter Yusfa. Kejadian aneh kemarin
pagi itu diceritakan oleh Reni kepada dokter Yusfa. Dokter Yusfa menerima
plastik berisikan benda aneh itu. Dahinya berkerut tanda bahwa ia berpikir
keras tentang benda ini. Dan beliau pun berkata, "Ibu dan bapak mohon tunggu
sebentar di sini. Saya akan pergi ke laboratorium untuk memeriksakan hal ini!"
Saat dokter Yusfa pergi meninggalkan ruangannya, Reni dan suami hanya berharap
bahwa dokter Yusfa akan datang membawa sebuah berita gembira untuk mereka.
Kira-kira 20 menit kemudian dokter Yusfa datang sambil berlari. Ya berlari,
bukan berjalan! Begitu pintu terbuka dokter pun berteriak dengan nada keras,
"Alhamdulillah bu Reni.... Alhamdulillah. ...!!! Saya baru mengerti rupanya
pendarahan selama ini disebabkan kanker rahim yang ibu alami... dan benda ini
adalah kanker rahim tersebut. Cuma saya hanya mau bertanya bagaimana cara
kanker ini bisa gugur dengan sendirinya.. .?!"
Subhanalllah. ... rupanya penyebab pendarahan hebat selama ini adalah sebuah
kanker yang tidak dapat terdeteksi. Pertanyaan terakhir dari dokter Yusfa tak
mampu dijawab langsung oleh Reni. Namun Reni hanya mampu bersyukur kepada Allah
bahwa akhirnya pertolongan itu datang juga untuknya setelah penantian yang
cukup lama. Akhirnya pendarahan pun terhenti begitu saja, dan rupanya
pertolongan Allah Swt tiba setelah Reni bersedekah dengan sejumlah harta yang
sudah ia cita-citakan.
"Sembuhkan penyakit kalian dengan cara sedekah. Lindungi harta yang kalian
miliki dengan zakat." HR. Baihaqi
Sedekah sungguh sebuah perkara yang mengagumkan. Apakah anda pernah
mengalaminya? !
http://kaunee. com/index. php?option=
com_content&view=article&id=552:aku-ingin- bersedekah&catid=38:cahaya-
langit&Itemid=122
________________________________
Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda?
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang!
[Non-text portions of this message have been removed]