SEVEN SUPPRISES FOR NEW CEO
By: Michael E. Porter, Jay W. Lorch and Nitin Nohria
HBR edisi Oct 2004
Banyak para CEO baru itu adalah mereka yg dipromosi dari jabatan COO atau sejenisnya, dan saat menjadi CEO mereka sering terhenyak menghadapi kenyataan bahwa sebagai CEO waktu mereka begitu banyak tersita oleh hal-hal external yg sebelumnya jarang mereka handle seperti berhubungan dengan berbagai constituent pihak luar, stake holders, dll yg sering malah semakin menjauhkan mereka dari kegiatan operasional perusahaan, untuk itu anda menbutuhkan team yg kokoh & tangguh, sehingga peran anda dapat balance & produktif sekaligus sebagai mr. inside dan mr. outside perusahaan.
Fakta menunjukkan bahwa sebagai seorang CEO baru, sering kali dia ingin menunjukkan powernya sebagai orang nomor satu, sehingga proyek-proyek matang yg sebelumnya telah disetujui oleh CEO lama, sering di hold sampai dia mempelajarinya terlebih dahulu. Sementara karena sebagai orang baru dia sering tidak punya waktu untuk mempelajari proyek tersebut secara cepat, sehingga keputusan untuk menghold proyek tersebut memberikan signal negatif kepada kepala divisi yg bertanggung jawab atas proyek tersebut karena merasa powernya telah disunat dan mengakibatkan frustrasi dalam ketidak pastian yang beruntut ke anak buahnya. Pada saat-saat genting tersebut, sering terjadi para CEO baru kehilangan orang-orang
cakap/talented, karena merasa power mereka disunat, merasa tidak dihargai/tidak akan dipakai lagi. Intinya adalah kegagalan dalam memberikan signal dan policy yg jelas pada saat-saat �phasing in� sebagai CEO baru. Jadi peran/tanggung jawab seorang CEO yg effektif sebenarnya adalah meng-empower mereka yg berada disekelilingnya supaya menjadi powerful & produktif.
sebenyarnya yang terjadi)
Saat anda menjadi seorang CEO, informasi yg masuk ke anda bisa jadi bias dan unbalanced khususnya yg berasal dari internal perusahaan, karena pada dasarnya model �ABS� itu dimana-mana pasti terjadi, karena secara alamiah bawahan itu harus mempertahankan posisinya untuk memberikan informasi yg menguntungkan posisinya. Jadi harus diciptakan mekanisme yg baik untuk memperoleh informasi (dari sumber internal maupun dari external) supaya informasi yg diperoleh akurat dan balanced.
Sebagai CEO baru, umumnya segala tindak-tanduk, perilaku, perkataannya akan menjadi barometer dan signal tersendiri kepada seluruh karyawan dan juga kepada pihak luar. Hal ini bisa juga disalah artikan oleh berbagai pihak, jadi mengelola komunikasi dengan baik dan konsisten pada saat-saat �phasing in� period ini sangat penting agar tidak dimis-interpreted oleh pihak-pihak terkait.
Pada awalnya, CEO baru akan merasa bahwa dia telah mencapai puncak kekuasaan diperusahaannya tetapi perasaan ini akan segera berakhir seiring dengan perjalanan waktu, karena akhirnya dia akan sadar bahwa dia bertanggung jawab kepada dewan direksi, yg bisa saja jumlahnya puluhan orang & belum tentu dia kenal sebelumnya, dan setiap saat bisa memecatnya, Jadi membina hubungan yg harmonis dan produktif dengan dewan direksi ini (board of directors yg di Indonesia disebut sebagai dewan komisaris) dan berbagai stake holder, serta dengan pihak luar lainnya adalah suatu keniscayaan, untuk menjamin posisinya dapat berjalan aman sesuai/selama periode kontrak.
6. Pleasing share holders is not the goal (Menenangkan para pemegang saham itu bukanlah tujuan)
Para CEO baru umumnya sering salah kaprah yg beranggapan bahwa tujuan utamanya adalah membuat para pemegang saham happy, hal ini didasari oleh mitos sejak dulu bahwa goal manajemen adalah untuk meningkatkan value para pemegang saham, faktanya bahwa peningkatan value pemegang saham dalam jk pendek sering bertentangan dengan tujuan perusahaan dalam jk panjang, sebagai perusahaan publik, para pemegang sahamnya dapat berubah sewaktu-waktu (diAmerika malah rata-rata pemegang saham hanya memegang sahamnya dalam 1 tahun saja), maka bagi mereka ini peningkatan value (capital gain) jangka pendek adalah goal utama mereka. Sementara sebagai CEO, seharusnya lebih focus pada penciptaan peningkatan nilai ekonomis perusahaan yg sustainable dalam jangka panjang.
Kadang pressure dari para pemegang saham dan para analist sering menjadi destruktif (merusak) misalnya dengan saran untuk menjual unit-unit usaha tertentu supaya memperoleh laba jk pendek, tetapi policy ini malah sering akan merugikan perusahaan secara jk panjang.. Nah bertentangan
Bisa mencapai posisi CEO seringkali diartikan sebagai/menjadi orang yg super, tetapi sebagai CEO, seharusnya harus tetap sadar bahwa dia adalah tetap sebagai manusia biasa yg mempunyai banyak keterbatasan (waktu, pengetahuan, ketakutan, dll). Jadi kemampuan untuk bisa �membalance� (menyeimbangkan); hidup ini antara pekerjaan, keluarga dan kehidupan pribadi adalah salah satu kunci untuk bisa bertahan sebagai CEO dengan baik. Kehidupan pribadi & keluarga juga mejadi sering ter-ekspose ke publik saat menjadi CEO, sehingga secara mental harus siap dengan konsekuensi-konsekuensi tersebut. Jadi sangat penting sebagai CEO harus bisa tetap bersikap sederhana, bersahaja (humble) , selalu introspeksi, mendengarkan orang lain, menempatkan orang-orang
jujur disekitar, menciptakan hubungan yg harmonis dengan lingkungannya, masyarakat sekitarnya, supaya tidak tergilas oleh kehidupan korporasi yg sering sangat kejam.
Dan sebagai penutup, dari ke 7 fakta kejutan diatas, penulis menyimpulkan bahwa tantangan utama bagi seorang CEO baru dalam menyikapi/mendefinisikan tugasnya adalah: pertama seorang CEO harus lebih menekankan untuk bisa mengelola overall organisasi secara baik daripada mengurusi hal-hal yg sifatnya operasional, menciptakan value yg menjadi panutan bagi semua karyawan, menciptakan suasana kerja yg produktif & kondusif agar organisasi dapat berjalan dengan lancar, kedua adanya kesadaran bahwa posisi CEO tidak menjamin orang lain akan tunduk dan loyal 100% kepada anda, tetapi orang lain harus secara sukarela loyal kepada anda karena integritas dan professionalitas anda, karena legitimasi anda bisa saja luntur seketika, bila tindak-tanduk, perilaku
dan value yg hendak anda coba terapkan tidak meyakinkan, atau tidak konsisten, ketiga bahwa sebagai seorang CEO seharusnya seseorang itu tidak bersifat takabur, arogan, lupa diri, karena bagaimanapun dia tetap hanyalah sebagai manusia biasa yg punya banyak keterbatasan. Dengan tetap mempunyai kesadaran tersebut, mudah-mudahan anda dapat menjadi seorang CEO yg handal, baik dan suksess�..
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.
Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
