|
Untuk Pak
Herman dan yang lain, ijinkan saya menjelaskan: Saya
mengangkat isu orang miskin tapi “cum laude” yang akan dibantu. Saya
mengkritiknya dengan tujuan untuk mencari pemahaman di balik penawaran bea
siswa tersebut, sebagai “brain storming” untuk mencari cara atau ide-ide yang
barangkali lebih baik atau lebih dapat diterima. Tidak ada maksud lainnya. Jadi tidak
ada hubungannya apakah saya lama bergaul dengan orang-orang seberang! Terus
terang saya berteman dengan siapa saja, khususnya yang berpikir positif dan
terbuka dengan ide-ide. (BTW, memang kadang kita mudah men-“judge” orang lain
dan menarik kesimpulan sendiri.) Karena
itu, baca baik-baik seluruh penjelasan saya, dan seharusnya itu semua dikaitkan
dengan konteks. Khususnya, dalam kalimat: tidak ada AKAR (artinya beasiswa
penuh) maka ROTAN (artinya beasiswa sebagian seperti yang ditawarkan MM-UGM)
pun jadi. Di sini tidak ingin diperbandingkan antara kualitas akar dan rotan,
di sini hanya masalah memilih dukungan keuangan bagi orang yang tidak mampu
(miskin, yang pasti akan memilih akar); apalagi, di sini tidak bermaksud
membandingkan antara kualitas HBS dan MM-UGM. Bahkan,
setahu saya di sana pun (khususnya HLS), mereka menawarkan beasiswa hanya
“tuition” (SPP) (bisa sebagian atau seluruhnya), dan tidak termasuk beaya
hidup, dll. Jadi, sama dengan yang ditawarkan MM UGM, dan hal ini perlu saya
garisbawahi untuk menghindari kesalah-pahaman! Bedanya, tentu saja tawaran
beasiswa tersebut berlaku bagi semua mahasiswa yang telah diterima (yang tidak
mampu). Sudah menjadi rahasia umum, hampir semua Universitas/Fakultas yang
bergengsi yang memiliki saringan ketat, dan akhirnya menerima sejumlah
mahasiswa, akan terus berusaha membantu mereka. Pertimbangannya adalah,
mahasisiwa itu telah berprestasi (terbukti dapat diterima), jadi sayang jika
mereka harus keluar hanya karena tidak mampu. Dari
uraian di atas, perlu saya pertegas bahwa yang menjadi isu/persoalan dengan MM
UGM adalah, “Apakah harus dikaitkan antara penerimaan lulusan terbaik (“cum
laude”) tetapi miskin, dan pemberian beasiswa sebagian (SPP)? Apakah tawaran
itu cukup menarik, dan cara itu dapat berhasil dengan baik? Mengapa tidak semua
mahasiswa yang TELAH DITERIMA memperoleh kesempatan yang sama, yaitu beasiswa
pembebasan SPP (sebagian atau seluruhnya), dengan syarat sangat berprestasi dan
atau tidak mampu. Karena itu, saya sempat minta diberitahu “berapa calon
mahasiswa yang tertarik dengan tawaran tersebut, diterima, dan akhirnya
mendaftar”. Jika
tawaran tersebut kurang berhasil, barangkali diperlukan formula lain yang
membuatnya lebih menarik. Apalagi, jika hal itu dikaitkan dengan tujuan akhir,
yaitu mendapatkan lulusan MM UGM yang lebih bermutu (yang nantinya dapat
menjadi aset), maka di forum diskusi inilah pemikiran-pemikiran strategis dapat
dikembangkan. Jadi,
“please be positive my friends!” Salam, GS -----Original
Message----- Cuma mau
komentar sedikit saja... Saya tidak
tahu apakah pemahaman saya tepat apa tidak atas email Bp. Gatot S, khususnya
pada bagian pepatah (saya kutip di bawah dan diberi warna merah). Menurut yang
saya ketahui sewaktu sekolah dulu, pepatahnya adalah: "Tidak ada ROTAN,
AKAR-pun jadi". Akar merupakan pilihan kedua setelah rotan. Mungkin saya
salah menangkap maksudnya atau barangkali Bp. Gatot udah kelamaan bergaul
dg orang2 dari seberang. Salam, man's
Oleh karena itu, mereka (karena tidak mampu, padahal
yang terbaik) akan lebih baik mencari sumber/pemberi beasiswa lainnya (yang
bersedia menanggung semuanya). Tawaran MM-UGM tersebut akan dijadikan pilihan
terakhir (artinya: ........ Suherman Sow a
thought and you will reap an act Sow a
character and you will reap a destiny __________________________________________________
Yahoo! Groups Links
|
- [mm-ugm] Beasiswa MMUGM 2005 asih
- RE: [POSSIBLE SPAM] [mm-ugm] Beasisw... Gatot Soemartono
- RE: [POSSIBLE SPAM] [mm-ugm] Bea... --------------------------------
- [mm-ugm] Beasiswa MMUGM 2005 (Se... Herman HP
- Re: [mm-ugm] Beasiswa MMUGM ... Henry Salassa Go
- Gatot Soemartono
