Halo mas Wardoyo... ini saya tanggapi

1. Memang pilihan pemerintah saat ini kayaknya berat
ya.. abis kemana-mana mentok terus. Mau nggak dinaikin
nanti (alasannya) APBN nombok, tapi kalo (terpaksa)
dinaikkin dampaknya luar biasa: daya beli rendah,
inflasi, penambahan penduduk miskin dsb ... belum
termasuk demonya nanti).

2. Tapi kalo kita kembali ke pertanyaan mendasar:
berapa sih sebenarnya ongkos produksi BBM kita
rata-rata? Terus kalo biayanya membengkak dimanakah
letak inefisiensinya (di hulu, atau karena kita nggak
punya oil refinery, atau dihilir distribusi, dsb atau
malah di institusinya atau sistem kontrak KPS nya
(maaf bukan menunjuk institusi tertentu). 

3. JAdi kyknya kondisi sekarang ini khan adanya di
buntut dari permasalahan yang sudah menumpuk, jadi
kalo solusinya masih berupa "menaikkan" harga kyk
sekarang ini, pasti sifatnya hanya temporer aja.. :(

4. Tapi sebetulnya kalo mau, pemerintah bisa narik
kembali dana sekitar 600T dari kasus BLBI dulu yang
katanya dikemplang dan dibawa keluar. Dari yang pernah
aku tahu, biaya recovery sistem perbankan di kita itu
hampir 4 kali besarnya dari biaya rata-rata Asia).
Sebetulnya kalo dana itu bisa kita ambil 30% aja
sekitar 180T, kyknya cukup banget tuh buat subsidi
selama 2,5 tahun (kalo setahunnya 72T seperti
tulisannya mas Wardoyo). Jadi sisanya bisa langsung
buat rakyat miskin untuk pendidikan dan kesehatan.

5. Oke lah kalo emang tetap harus naik tapi yang
paling penting kedepan menurut aku gimana caranya
supaya dana kompensasi pemerintah itu memang
bener-bener bisa sampe ke rakyat yang membutuhkan (aku
setuju bgt kalo itu bisa dipake buat pendidikan +
jaminan kesehatan). Jgn please jgn banyak yang disunat
(lagi).

6. Dan yang penting kyknya kita harus kerja lebih hard
dan smart lagi nih he..he... 

7. Please CMIIW, mohon tanggapan dari temen-temen yg
lain.

-Dwi Handoko
Batch 26 Yk



--- Wardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Barangkali ada komentar dari milist mengenai
> kenaikan BBM.
> -------------------------------------------
> 
> Senin, 28 Feb 2005,
> 
> Sejumlah Profesional Dukung Kenaikan
> 
> Ketika politisi di Senayan memberikan reaksi negatif
> terhadap kenaikan harga
> 
> BBM, sejumlah profesional dan intelektual justru
> menggalang suara untuk 
> menyerukan pengurangan subsidi BBM.
> 
> Suara kelompok pro pengurangan subsidi -otomatis
> mendukung harga BBM naik- 
> digalang oleh Freedom Institute. LSM yang dipimpin
> Rizal Mallarangeng 
> tersebut berpendapat, subsidi selama ini tidak
> mengalir ke sasaran yang 
> tepat karena jatuh ke tangan orang kaya.
> 
> Mereka memobilisasi dukungan dengan cara memasang
> iklan yang mendukung 
> pengurangan subsidi BBM di sejumlah media. Dalam
> iklan itu, selain pengurus 
> Freedom Institute, sejumlah nama tenar dicantumkan.
> 
> Di antara nama itu, terdapat orang-orang yang selama
> ini dikenal dekat 
> dengan Presiden SBY. Contohnya, dua juru bicara
> kepresidenan, Andi 
> Mallarangeng dan Dino Patti Djalal. Juga ada nama
> Chatib Bisrie, ekonom muda
> 
> UI yang dikenal dekat dengan kelompok Cikeas.
> 
> Selain itu, ada nama kawan dekat Menko Perekonomian
> Aburizal Bakrie, yakni 
> pengusaha Sofyan Wanandi dan Ketua Umum Kadin M.S.
> Hidayat.
> 
> Menariknya, sejumlah sosok dari berbagai kalangan
> juga masuk. Termasuk tokoh
> 
> pers Goenawan Mohamad dan Fikri Jufri, filosof Franz
> Magnis-Suseno, dosen UI
> 
> M. Ikhsan, ekonom senior M. Sadli, tokoh CSIS Hadi
> Soesastro, tokoh Jaringan
> 
> Islam Liberal Ulil Abshar-Abdallah, ekonom LIPI Thee
> Kian Wee, dan Ketua 
> Amien Rais Center Jeffrie Geovannie.
> 
> Dalam kampanye, mereka memaparkan hasil penelitian
> Lembaga Pengabdian 
> Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI)
> tentang dampak penundaan 
> kenaikan harga BBM terhadap defisit APBN.
> 
> Menurut kampanye Freedom Institute, akibat kebijakan
> pemberian subsidi BBM, 
> negara harus mengeluarkan anggaran Rp 72 triliun per
> tahun atau sekitar Rp 
> 200 miliar per hari untuk membiayai konsumsi BBM
> orang kaya.
> 
> ... Kampanye itu juga memaparkan dampak kompensasi
> kenaikan harga BBM 
> terhadap jumlah penduduk miskin. Dalam
> kesimpulannya, mereka yakin bahwa 
> kompensasi kenaikan harga BBM yang disalurkan
> langsung ke rakyat miskin akan
> 
> mengurangi pertumbuhan penduduk miskin akibat
> kenaikan harga BBM.
> 
> Menurut Ketua Freedom Institute Rizal Mallarangeng,
> sikap mendukung 
> kebijakan kenaikan harga BBM tersebut didasarkan
> pada pertimbangan logis. 
> Yakni, hasil kajian LPEM UI terhadap kondisi
> keuangan negara serta dampak 
> sosial kompensasi kenaikan harga BBM terhadap jumlah
> penduduk miskin.
> 
> "Ada sikap pro-kontra menyikapi rencana kenaikan
> harga BBM. Dan, kami 
> termasuk yang pro dengan alasan jelas dan sudah kami
> paparkan di iklan 
> tersebut," tegasnya.
> 
> Rizal membantah bahwa pemaparan hasil kajian LPEM UI
> tersebut bertujuan 
> menyelamatkan citra Presiden Susilo Bambang
> Yudhoyono dan kabinetnya. 
> Apalagi, beberapa nama personal di Freedom Institute
> merupakan orang dekat 
> presiden. "Kakak saya (Andi Mallarangeng) dan Dino
> (Dino Patti Djalal) 
> memang all the president?s man. Tapi, mereka kan
> juga penulis buku dan 
> intelektual. Ada juga kalangan independen seperti
> Goenawan Mohamad. Intinya,
> 
> paparan itu bukan untuk tujuan personal, tapi
> dukungan terhadap kebijakan," 
> jelasnya.
> 
> Ekonom UI Chatib Basri menyatakan bahwa pihaknya
> hanya mengorganisasi ide 
> pembuatan iklan dukungan terhadap kenaikan harga
> BBM. Semua dukungan 
> terhadap kenaikan harga BBM didasari pada logika
> yang dimiliki Freedom 
> Institute serta dirinya.
> 
> "Kami sederhana saja kok. Kita pembayar pajak, pajak
> itu untuk memberikan 
> subsidi, dan subsidi untuk kelas menengah. Sedangkan
> penduduk miskin sulit 
> sekolah," katanya kepada koran ini.
> 
> Chatib tidak mau mengomentari secara detail mengenai
> pilihan Freedom 
> Institute yang mendukung kebijakan pemerintah
> menaikkan harga BBM. Padahal, 
> kenaikan harga BBM saat ini menjadi kontroversi di
> masyarakat. Dia mengaku 
> bahwa namanya memang ada dalam iklan di sebuah koran
> harian di Jakarta. 
> "Saya di Freedom di bagian penerbitan buku. Tapi,
> saya bisa mengomentari itu
> 
> secara pribadi," ujarnya.
> 
> Dia mengatakan, tidak ada bukti empiris yang
> mengatakan bahwa kenaikan harga
> 
> BBM akan menyengsarakan rakyat dalam waktu lama.
> Chatib mencontohkan pada 
> 2002, yang menurut dia, sebagai kenaikan BBM
> tertinggi, yaitu 54 persen. 
> Akibatnya, pada Januari 2002, terjadi inflasi 1,9
> persen dan Februari 2002 
> inflasi turun menjadi 1,4 persen. "Bulan Maret 2002,
> malah terjadi deflasi 
> minus 0,23 persen," katanya.
> 
> Chatib membenarkan bahwa kenaikan BBM itu pasti akan
> menaikkan harga. Hanya,
> 
> Chatib menilai selama ini masyarakat Indonesia bias
> dalam menilai 
> permasalahan itu. Semua berkaca pada warga kaya atau
> menengah yang 
> mengonsumsi barang-barang yang naik harganya.
> Padahal, masih banyak 
> masyarakat di desa yang menggunakan kayu bakar.
> "Mereka (orang desa, Red) 
> juga hanya menggunakan sepeda," ungkapnya.
> 
> Dia menilai selama ini, kenaikan BBM yang diiringi
> naiknya inflasi terjadi 
> karena adanya kenaikan harga beras. Seharusnya, kata
> dia, Bulog melakukan 
> operasi. Kalau harga beras tidak stabil karena harga
> BBM naik, keran impor 
> beras dibuka untuk sementara. "Setelah normal, keran
> impor harus segera 
> ditutup," kilahnya.
> 
> Chatib kembali memberi data bahwa setiap hari negara
> memberikan subsidi 
> untuk BBM Rp 200 miliar. Padahal, subsidi tersebut
> lebih banyak dimanfaatkan
> 
> orang kaya dan para penyelundup. "Bisa dibayangkan
> jika subsidi setiap 
> harinya untuk pelayanan puskesmas atau pendidikan,"
> ungkapnya.
> 
> Lebih lanjut, Chatib mengetahui konsekuensi kenaikan
> BBM tersebut. Dia 
> menyadari, ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan
> kenaikan BBM itu. 
> "Subsidi akan lebih baik dipindahkan ke masalah
> pendidikan dan kesehatan 
> untuk masyarakat. Saya membayangkan BBM naik, tapi
> sekolah gratis," ujarnya.
> 
> Sementar itu, menurut Ulil Abshar-Abdalla, dirinya
> menandatangani petisi 
> untuk mendukung kebijakan kenaikan harga BBM karena
> menilai pemberian 
> subsidi merupakan keputusan yang tidak masuk akal.
> "Kami ingin memberi 
> pencerahan pada masyarakat bahwa pencabutan subsidi
> bukan berarti 
> 
=== message truncated ===



                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Take Yahoo! Mail with you! Get it on your mobile phone. 
http://mobile.yahoo.com/maildemo 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/Tcy2bD/SOnJAA/cosFAA/ExDolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan 
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke