Meningkatkan Kualitas Keyakinan Diri
( KH Abdullah Gymnastiar )
"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya telah Aku haramkan kepada-Ku untuk
berbuat zalim, dan mengharamkan pula kepada kalian perbuatan zalim.
Karena itu, janganlah kalian saling menganiaya diri kalian. Wahai
hamba-Ku, kalian seluruhnya sesat kecuali orang yang telah Aku beri
hidayah. Karena itu, mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya kalian akan
Aku beri petunjuk, dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan apa
saja jika kita yakin memintanya, tanpa sedikit pun keraguan dalam
dirinya." (HR Muslim, Ibnu Hibban, dan Hakim).
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa ia sedang menzalimi diri dan
penciptanya; Allah Azza wa Jalla. Ia terus meminta kesuksesan dan
kebahagiaan dalam hidup, tanpa disertai keyakinan bahwa Allah akan
memberikan apa yang dimintanya.
Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seorang hamba yang yakin akan
pertolongan Allah, maka dengan sangat meyakinkan pula Allah akan
menolongnya. Seorang hamba yang yakin bahwa doanya akan dikabulkan,
maka Allah akan mengabulkan doa-doanya tersebut lebih dari yang ia
minta.
Andaikan seorang ragu akan pertolongan Allah, dan lebih yakin akan
kemampuan diri atau pertolongan makhluk, maka yakinlah bahwa hidup
orang tersebut akan penuh dengan kekecewaan. Siapa saja yang hidupnya
ingin selalu dilindungi dan dimudahkan semua urusannya, namun ia tak
pernah bersungguh-sungguh meningkatkan mutu keyakinannya pada Allah,
maka keinginannya tersebut hanya angan-angan belaka.
Bagaimana cara kita meningkatkan keyakinan diri? Ada tiga tahapan yang
harus kita lewati dalam usaha meningkatkan kualitas keyakinan diri.
Pertama, 'ilmul yaqin. Yaitu meyakini segala sesuatu berdasarkan ilmu
atau pengetahuan. Misal, di Makah ada Kabah. Kita percaya saja karena
teorinya seperti itu.
Kedua, 'ainul yaqin. Yaitu keyakinan yang timbul karena kita telah
melihatnya dengan mata kepala sendiri. Orang yang telah menunaikan
ibadah haji sangat yakin bahwa Kabah itu ada karena ia telah
melihatnya. Keyakinan karena melihat, kualitasnya akan lebih baik
dibandingkan dengan keyakinan karena ilmu.
Ketiga adalah haqqul yaqin. Orang yang telah haqqul yakin akan
memiliki keyakinan yang dalam dan terbukti kebenarannya. Orang yang
telah merasakan nikmatnya thawaf, berdoa di Multazam, merasakan
ijabahnya doa, akan memiliki keyakinan yang jauh lebih mendalam dari
dua keyakinan sebelumnya. Inilah tingkat keyakinan tertinggi yang akan
sulit diruntuhkan dan dicabut dari hati orang yang memilikinya.
Cara meningkatkan kualitas keyakinan diri, sejatinya harus melalui
proses dan tahapan-tahapan, mulai dari 'ilmul yaqin, 'ainul yaqin,
hingga haqqul yakin.
Mengenal tingkat keyakinan diri
Semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Maka, rugilah
orang-orang yang hatinya bergantung pada selain Allah. Yakinlah, bahwa
Allah adalah Dzat Yang Maha Mengatur segalanya. Sayangnya, kita sering
mengatakan bahwa Allah itu Mahakaya, tapi kita sering takut tidak
mendapatkan rezeki. Kita tahu bahwa Allah itu Maha Menentukan segala
sesuatu, yang Menciptakan manusia berpasang-pasangan, tapi kita sering
risau tidak mendapatkan pasangan hidup. Bila demikian, kita masih
berada dalam tingkat 'ainul yaqin dan belum sampai ke tingkat haqqul
yaqin.
Mengapa ada orang yang keluar dari Islam (murtad)? Sebabnya, keyakinan
yang ia miliki baru sebatas 'ilmul yaqin; sebatas tahu. Ternyata,
yakin kepada Allah hanya sebatas ilmu tidak cukup untuk membuat kita
istikamah. Keyakinan kita harus benar-benar meresap ke dalam sanubari.
Cahaya keyakinan yang tersimpan di dalam hati seorang hamba ternyata
datang dari khazanah kegaiban Allah Azza wa Jalla. Alam semesta ini
terang benderang karena cahaya dari benda-benda langit yang
diciptakan-Nya. Sedangkan cahaya yang menerangi hati manusia berasal
dari cahaya Ilahi.
Ibnu Atha'illah dalam Hikam bertutur, "Nur yang tersimpan di dalam
hati, datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah
kegaiban. Nur yang memancar dari panca indramu berasal dari ciptaan
Allah; dan cahaya yang memancar dari hatimu berasal dari sifat-sifat
Allah".
Dengan demikian, keterbukaan hati dalam menerima cahaya inilah yang
harus selalu kita jaga. Mulailah kita usahakan untuk selalu dapat
mengenal hikmah di balik setiap kejadian. Jangan hanya melihat setiap
kejadian dengan mata lahir saja, tapi gunakan mata hati kita. Namun,
mata hati tidak akan berfungsi dengan baik, kalau selalu dikotori
dengan kemaksiatan dan dosa. Wallahu a'lam bish-shawab.
---
sumber:
(http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=105&kat_id1=232&kat_id2=234
( KH Abdullah Gymnastiar )
"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya telah Aku haramkan kepada-Ku untuk
berbuat zalim, dan mengharamkan pula kepada kalian perbuatan zalim.
Karena itu, janganlah kalian saling menganiaya diri kalian. Wahai
hamba-Ku, kalian seluruhnya sesat kecuali orang yang telah Aku beri
hidayah. Karena itu, mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya kalian akan
Aku beri petunjuk, dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan apa
saja jika kita yakin memintanya, tanpa sedikit pun keraguan dalam
dirinya." (HR Muslim, Ibnu Hibban, dan Hakim).
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa ia sedang menzalimi diri dan
penciptanya; Allah Azza wa Jalla. Ia terus meminta kesuksesan dan
kebahagiaan dalam hidup, tanpa disertai keyakinan bahwa Allah akan
memberikan apa yang dimintanya.
Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seorang hamba yang yakin akan
pertolongan Allah, maka dengan sangat meyakinkan pula Allah akan
menolongnya. Seorang hamba yang yakin bahwa doanya akan dikabulkan,
maka Allah akan mengabulkan doa-doanya tersebut lebih dari yang ia
minta.
Andaikan seorang ragu akan pertolongan Allah, dan lebih yakin akan
kemampuan diri atau pertolongan makhluk, maka yakinlah bahwa hidup
orang tersebut akan penuh dengan kekecewaan. Siapa saja yang hidupnya
ingin selalu dilindungi dan dimudahkan semua urusannya, namun ia tak
pernah bersungguh-sungguh meningkatkan mutu keyakinannya pada Allah,
maka keinginannya tersebut hanya angan-angan belaka.
Bagaimana cara kita meningkatkan keyakinan diri? Ada tiga tahapan yang
harus kita lewati dalam usaha meningkatkan kualitas keyakinan diri.
Pertama, 'ilmul yaqin. Yaitu meyakini segala sesuatu berdasarkan ilmu
atau pengetahuan. Misal, di Makah ada Kabah. Kita percaya saja karena
teorinya seperti itu.
Kedua, 'ainul yaqin. Yaitu keyakinan yang timbul karena kita telah
melihatnya dengan mata kepala sendiri. Orang yang telah menunaikan
ibadah haji sangat yakin bahwa Kabah itu ada karena ia telah
melihatnya. Keyakinan karena melihat, kualitasnya akan lebih baik
dibandingkan dengan keyakinan karena ilmu.
Ketiga adalah haqqul yaqin. Orang yang telah haqqul yakin akan
memiliki keyakinan yang dalam dan terbukti kebenarannya. Orang yang
telah merasakan nikmatnya thawaf, berdoa di Multazam, merasakan
ijabahnya doa, akan memiliki keyakinan yang jauh lebih mendalam dari
dua keyakinan sebelumnya. Inilah tingkat keyakinan tertinggi yang akan
sulit diruntuhkan dan dicabut dari hati orang yang memilikinya.
Cara meningkatkan kualitas keyakinan diri, sejatinya harus melalui
proses dan tahapan-tahapan, mulai dari 'ilmul yaqin, 'ainul yaqin,
hingga haqqul yakin.
Mengenal tingkat keyakinan diri
Semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Maka, rugilah
orang-orang yang hatinya bergantung pada selain Allah. Yakinlah, bahwa
Allah adalah Dzat Yang Maha Mengatur segalanya. Sayangnya, kita sering
mengatakan bahwa Allah itu Mahakaya, tapi kita sering takut tidak
mendapatkan rezeki. Kita tahu bahwa Allah itu Maha Menentukan segala
sesuatu, yang Menciptakan manusia berpasang-pasangan, tapi kita sering
risau tidak mendapatkan pasangan hidup. Bila demikian, kita masih
berada dalam tingkat 'ainul yaqin dan belum sampai ke tingkat haqqul
yaqin.
Mengapa ada orang yang keluar dari Islam (murtad)? Sebabnya, keyakinan
yang ia miliki baru sebatas 'ilmul yaqin; sebatas tahu. Ternyata,
yakin kepada Allah hanya sebatas ilmu tidak cukup untuk membuat kita
istikamah. Keyakinan kita harus benar-benar meresap ke dalam sanubari.
Cahaya keyakinan yang tersimpan di dalam hati seorang hamba ternyata
datang dari khazanah kegaiban Allah Azza wa Jalla. Alam semesta ini
terang benderang karena cahaya dari benda-benda langit yang
diciptakan-Nya. Sedangkan cahaya yang menerangi hati manusia berasal
dari cahaya Ilahi.
Ibnu Atha'illah dalam Hikam bertutur, "Nur yang tersimpan di dalam
hati, datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah
kegaiban. Nur yang memancar dari panca indramu berasal dari ciptaan
Allah; dan cahaya yang memancar dari hatimu berasal dari sifat-sifat
Allah".
Dengan demikian, keterbukaan hati dalam menerima cahaya inilah yang
harus selalu kita jaga. Mulailah kita usahakan untuk selalu dapat
mengenal hikmah di balik setiap kejadian. Jangan hanya melihat setiap
kejadian dengan mata lahir saja, tapi gunakan mata hati kita. Namun,
mata hati tidak akan berfungsi dengan baik, kalau selalu dikotori
dengan kemaksiatan dan dosa. Wallahu a'lam bish-shawab.
---
sumber:
(http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=105&kat_id1=232&kat_id2=234
Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
