Mungkiiiin bermanfaat
 
Wassalaaaam, AA

"Nelly A. Kusumastuti" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
To: <[EMAIL PROTECTED]>,
"sman4jkt-71" <[EMAIL PROTECTED]>
CC: "tuti kadir" <[EMAIL PROTECTED]>,
susan kuma�t <[EMAIL PROTECTED]>,
"galinar kartakusuma" <[EMAIL PROTECTED]>,
"wati" <[EMAIL PROTECTED]>,
"dewi djarot" <[EMAIL PROTECTED]>,
"alien" <[EMAIL PROTECTED]>,
"Martha Konrad" <[EMAIL PROTECTED]>,
"gayatri hardjapamekas" <[EMAIL PROTECTED]>,
"Lies Sudianti" <[EMAIL PROTECTED]>,
<[EMAIL PROTECTED]>
From: "Nelly A. Kusumastuti" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 23 May 2005 15:11:24 +0700
Subject: [sman4jkt] Fw: [Petrochina Moslem] Cinta yang Tak Rumit dari Faiz


Subject: [Petrochina Moslem] Cinta yang Tak Rumit dari Faiz


>
>
> Masih ingat Muhammad Faiz si penulis surat kepada Presiden itu?
>
> Cinta yang Tak Rumit dari Faiz
>
> Apa yang menyebabkan kita menyapa atau tidak menyapa, saat bertemu
> seseorang? Kebanyakan kita menyapa karena kita mengenal atau minimal
> mengetahui seseorang itu. Bisa juga karena kita menyukai atau menghormati
> orang tersebut, karena memang kebiasaan, atau punya keperluan. Mungkin
juga
> sekadar basa basi. Apa pun itu, saya belajar banyak soal ini dari seorang
> anak kecil yang berbeda umur 26 tahun dari saya.
>
> Setiap hari saat berjalan kaki menuju sekolahnya yang tak begitu jauh
> dari rumah, Faiz akan melewati deretan panjang rumah yang ada di sekitar
> kami. Empat tahun yang lalu, ketika Faiz masih TK, saya takjub menyaksikan
> bagaimana cara ia menyapa! Semua tetangga yang kebetulan dilewati atau
> ditemuinya di jalan, tak akan luput dari teguran ramah disertai senyum
lebar
> Faiz.
>
> "Selamat pagi, Pak, selamat pagi, Bu...."
>
> "Assalaamu'alaikum...."
>
> "Mari Oma, mari Opa..."
>
> "Dari mana, Tante?"
>
> "Wah hari ini Kakak berseri sekali!"
>
> "Mau kuliah, Bang?"
>
> "Eh, ketemu adik cakep. Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?"
>
> Dan seterusnya....
>
> Saat ia duduk di kelas II SD, saya pernah bertanya pada Faiz," Mas
> Faiz,apa kamu tak lelah menyapa begitu banyak orang setiap pagi?"
>
> Faiz tertawa. "Tidaklah, Bunda. Aku senang karena senyum dan sapaku
> mungkin bukan mengawali pagiku saja. Tapi mengawali pagi orang lain.
> Lagipula senyum itu kan sedekah, Bunda."
>
> Saya nyengir. Pernyataan yang unik dari anak yang waktu itu belum berumur
> delapan tahun. "Subhanallah. Kalau dihitung dengan uang, sedekahmu mungkin
> sudah milyaran," ujar saya sambil mencium pipi Faiz yang memerah.
>
> Setiap kali hadir pada arisan yang diadakan ibu-ibu sekitar rumah, mereka
> kerap membicarakan Faiz.
> "Waduh, Faiz itu ramah sekali ya, Bu. Kalau bertemu saya selalu menegur
> lebih dulu, senyumnya manis sekali."
>
> "Kok bisa seperti itu sih, Bu? Bagaimana mendidiknya?"
>
> Saya tersenyum. Bagaimana mengatakannya? Sesungguhnya saya tak pernah
> mendidik Faiz secara khusus untuk menyapa dan tersenyum. Sayalah yang
> banyak belajar dari Faiz!
>
> Terbayang lagi berbagai peristiwa yang terjadi sejak Faiz mulai duduk di
> bangku SD.
>
> Ketika ia ada di teras rumah, semua pengemis yang lewat selalu
> dipanggilnya, diajak makan dan minum. "Hari ini di rumah masak sop dan
> perkedel." Atau "Bapak mau bawa kopi untuk di jalan biar tidak mengantuk?
> Mau teh manis dingin?" Ia akan berlari ke kamar, mengambil celengan dan
> mengeluarkan lembaran kertas dari sana untuk diberikan pada mereka.
>
> Belum lagi, semua tukang jualan, tukang sol sepatu, yang lewat pun
> disuruh mampir. Ada saja yang ditawarkannya. "Istirahat dulu di sini, Pak.
> Kan capek. Hari panas sekali. Sini, makan kue dan minum dulu. Atau mau
> makan nasi?" Selain itu ia pun akan bisik-bisik pada anggota keluarga
> lainnya untuk membeli sesuatu dari tukang jualan itu, meski kami tak
> terlalu membutuhkannya. "Apa salahnya sih menolong orang?" ujarnya.
>
> Maka di rumah mungil yang kami tempati, tak pernah ada hari di mana kami
> memasak sekadar pas untuk keluarga. Selalu ada tamu-tamu istimewa yang
> entah siapa. Faiz mengundang mereka secara tak terduga.
>
> "Ikhlas yaaa, Bunda...," katanya sambil tersenyum manis.
>
> Lalu apakah ada lagi yang bisa saya ucapkan, meski dengan terbata? Saya
> hanya mampu memeluk Faiz kuat-kuat.
>
> Sumber: Cinta yang Tak Rumit dari Faiz oleh Helvy Tiana Rosa
>
>
>
>
>
>
>
>
> =======================================================================
>
> Untuk bergabung di milist ini, kirimkan email kosong ke :
> [EMAIL PROTECTED]
>
> =======================================================================
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/i8TXDC/5WnJAA/HwKMAA/e3qrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

=======================================
IMAN ILMU AMAL SMA 4 JAYA !!!
Sekretariat HIMALS4: +62217363843
Website: http://esema4.freeservers.com/
Website: http://portal.ictusu.org/sma4/
=======================================

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sman4jkt/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/



Yahoo! Mobile
- Download the latest ringtones, games, and more!

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke