ARTIKEL MENARIK TENTANG DUNIA PENDIDIKAN
> Ratna Megawangi . > > "OTONOMI SEKOLAH" > > SAAT ini sedang dikembangkan konsep pendidikan > Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 melalui > penerapan model "Pendidikan Holistik Berbasis > Karakter". Model pendidikan holistik ini adalah > pendidikan yang secara eksplisit ditujukan untuk > mengembangkan seluruh dimensi manusia, yaitu aspek > akademik (kognitif), emosi, sosial, spiritual, > motorik, dan kreativitas. > > Konsep pendidikan ini sudah menjadi tren pembaruan > sistem pendidikan yang dianggap cocok untuk abad > ke-21. Reformasi pendidikan di Jepang misalnya, ada > tiga kalimat kunci yang sering disebut, yaitu > kokoro-no-kyoiku (pendidikan untuk hati, jiwa, atau > kedirian manusia), sogo-gakushyu (pembelajaran > holistik), dan tokushyoku, koseika (keunikan > masing-masing sekolah dan masing-masing individu). > > Ministry of Education of British Columbia, Canada, > pada tahun 2000 juga mencanangkan tujuan pendidikan > untuk mengembangkan aspek estetika dan kesenian, emosi > dan sosial, intelektual, fisik dan kesehatan, serta > aspek tanggung jawab sosial. Perubahan ini telah > membawa iklim perubahan baik dari segi manajemen > sekolah (otonomi penuh), maupun kurikulum dan metode > pembelajaran di kelas. > > Sebetulnya, kalau kita serius menjalankan amanat > Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Pasal 3, konsep > pendidikan yang harus dijalankan adalah holistik untuk > membangun karakter, karena "bertujuan untuk > berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi > manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang > Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, > kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang > demokratis serta bertanggung jawab". Kebijakan KBK > 2004 sebenarnya ditujukan untuk mencapai tujuan > tersebut. > > Revolusi > > Untuk menjalankan KBK 2004 ini, diperlukan sebuah > revolusi paradigma pendidikan, karena memerlukan > berbagai metode, strategi, dan teknik pembelajaran > yang berbeda dengan sistem pendidikan sebelumnya. > Misalnya, kelas yang sunyi di mana anak duduk pasif > dengan menyimak dan mencatat selalu dianggap sebagai > suasana kelas yang baik. Padahal suasana kelas seperti > itu akan membuat anak bosan, dan proses belajar > menjadi tidak efektif. > > Menurut Vigotsky, proses belajar yang dapat > meningkatkan semangat siswa adalah dengan berdiskusi, > banyak bertanya, bereksplorasi, dan bermain (fun > learning), sehingga kemampuan verbal dan motoriknya > berkembang, termasuk juga kemampuan berpikir kritisnya > (higher order thinking). > > Intinya, agar KBK 2004 berhasil, para pendidik > dituntut untuk bersikap profesional, kreatif dan > fleksibel, agar terbentuk proses belajar yang efektif. > Untuk itu, otonomi sekolah mutlak diberikan, yaitu > dengan payung Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS > adalah sebuah konsep yang memberikan wewenang kepada > sekolah (bersama masyarakat sekitar), untuk mengambil > keputusan-keputusan konkret dalam mengelola > pendidikan, memperbaiki kurikulum sehingga mutunya > meningkat. > > Nah, inilah masalah yang sering kami hadapi di > Indonesia Heritage Foundation, ketika melatih para > guru untuk mengubah metode pembelajaran di kelas agar > tujuan membangun manusia holistik yang berkarakter > dapat tercapai, yaitu berupa ketakutan dan keengganan > para guru untuk memperbaiki metode pembelajaran di > kelas agar sesuai dengan teori-teori yang berlaku > (misalnya, Piaget, Erik Erikson, Vigotsky, dan > lain-lain). > > Alasannya, mereka takut dengan para penilik sekolah > dan para birokrat dari dinas pendidikan setempat yang > kerap datang ke sekolah dan menanyakan hal-hal yang > sudah baku. Pernah ada sebuah sekolah TK di daerah > yang para gurunya disponsori oleh sebuah perusahaan > minyak untuk mengikuti training di Jakarta, dan > meninjau beberapa sekolah yang bagus di Jakarta. > > Ketika kembali ke daerahnya, para guru tersebut begitu > antusias untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya, dan > mengubah setting kelas dan menyediakan fasilitas > eksplorasi di alam terbuka. Ketika seorang penilik > datang untuk inspeksi, semuanya menjadi buyar, karena > penilik tersebut tidak suka dengan "wajah" baru > sekolah tersebut. Tempat bermain pasir dan fasilitas > agar anak dapat bereksplorasi di alam terbuka dilarang > diadakan, karena menurutnya semua kegiatan belajar > harus dilakukan di dalam kelas. > > Karena ingin menunjukkan "gigi" kekuasaannya, para > penilik sering tidak mau mendengar alasan yang > dikemukakan oleh para guru yang sudah tercerahkan. > Baik kepala sekolah maupun guru, apalagi yang pegawai > negeri, biasanya takut untuk melakukan hal yang > bertentangan dengan para penilik sekolah, karena > ancamannya mutasi, atau dipersulit urusan kenaikan > pangkatnya. > > Sikap Birokrat > > Kami pernah mengira para penilik tidak setuju dengan > perubahan karena mereka belum mengetahui, dan berharap > apabila mereka diundang dalam training kami, mereka > pun akan setuju. Ternyata setiap kami mengundang para > birokrat dari dinas setempat, jarang yang mau ikut > sampai selesai, tetapi hanya pada pembukaan saja. > > Sering kejadian ketika saya memberikan seminar > berharap agar ada para birokrat yang mau duduk > mendengarkan seminar saya sampai selesai, namun kerap > melihat mereka meninggalkan acara setelah memberikan > kata sambutan. Padahal sebagai birokrat wajib > memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin > terselenggaranya pendidikan yang bermutu sesuai UU No > 20/2003 Pasal 11. > > Bagaimana mereka dapat memberikan yang terbaik, > apabila mereka tidak mau meningkatkan pengetahuan > mereka tentang metode pendidikan yang efektif? > > Reformasi pendidikan di Jepang untuk membangun manusia > holistik dilakukan dengan memberikan otonomi penuh > kepada sekolah, bahkan dalam revisi kurikulum tahun > 1998 isi kurikulum yang dikurangi 70 persen dari > standar sebelumnya, serta jumlah hari belajar menjadi > lima hari. > > Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan belajar > yang lebih fleksibel, dan menyenangkan, serta sekolah > lebih mempunyai otonomi, sehingga mutu SDM Jepang > meningkat. Seperti yang diungkapkan dalam > International Review of Curriculum and Assessment > Frameworks (2003), "The new course of study is > intended to give teachers more control over their > teaching, foster more children-centered and creative > learning through individual instruction and group > work, increase the importance of learning a foreign > language, and emphasis experiential problem-solving > learning activities throughout the school curriculum. > The revised course of study for elementary education > also calls for education to produce citizens who are > creative and considerate and for a unique system of > education, which will foster children's willingness to > learn in a relaxed environment". > > Korea juga telah merevisi sistem pendidikannya yang > sekarang disebut the Seventh National Curriculum yang > tujuannya adalah: "To loosen the rigid and centralized > curriculum framework. Specifically, teachers are > encouraged to be directly and actively involved in the > decision and planning process for the curriculum". > > Bahkan Korea juga mengurangi jam mata pelajaran wajib > dan menambah mata pelajaran pilihan, yang alasannya > adalah: "In preparation for the 21st Century, the > development of creativity in children should be given > high priority" (Presidential Commission of Education > Reform). > > Kurikulum pendidikan di Korea sudah sejak lama diubah > dari yang sistem lama (menghafal dan latihan > soal-drilling) ke arah yang lebih meningkatkan daya > berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah > kehidupan. Sehingga anak-anak SD sudah dapat mempunyai > kompetensi bagaimana bisa hidup dengan bijak (wise > life-disciplined life), cerdas (proper life, > intelligent life), dan bahagia (happy life-pleasant > life). > > Buruknya sekolah-sekolah negeri di AS sudah disadari > sejak tahun 1980-an karena terlalu ketatnya sistem > birokrasi yang memberikan kekuasaan besar kepada para > penilik sekolah (superintendent), sehingga sekolah > tidak berkutik dalam melakukan perubahan. > > Ketika William Bennett (mantan menteri pendidikan AS) > pada tahun 1988 mengumumkan kota Chicago sebagai kota > yang sekolahnya terburuk di AS, pemerintah Illinois > langsung mengeluarkan peraturan baru yang memberikan > otonomi penuh kepada sekolah, yang tujuannya: "to free > them from the shackles of the massive, top-down > bureaucracy of the superintendent's central office". > > Hasil studi yang dilaporkan oleh William G Ouchi, > Making Schools Work: A Revolutionary Plan to Get Your > Children the Education They Need (Simon & Schuster, > 2003), ternyata sekolah-sekolah yang tadinya mempunyai > reputasi buruk di Illinois, setelah diberikan hak > otonomi penuh, telah berubah menjadi jauh lebih baik, > bahkan sekolah Goudy Elementary School, berubah dari > "the worst school in America become one of the best". > > Sekarang ribuan Charter School di AS telah diberikan > ijin untuk beroperasi, yaitu sekolah-sekolah yang > diberikan kebebasan dari ketentuan dan regulasi, > sehingga bisa mengadopsi kurikulum dari planet mana > pun, asalkan berhasil mencapai tujuan pendidikan. > > Di Indonesia sebetulnya sudah dijamin oleh > undang-undang mengenai otonomi sekolah dan hak > masyarakat untuk ikut berperan dalam perencanaan, > pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program > pendidikan (Pasal 8). > > Apabila ada birokrat yang menghalangi ini, kita bisa > menuntut mereka karena melanggar undang-undang. Maka, > para pendidik dan masyarakat luas perlu menyadari hak > dan kewajiban mereka. Kalau tidak, kualitas pendidikan > kita tidak akan berubah. * > > http://www.suarapembaruan.com/News/2005/06/09/Editor/edit02.htm ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/Rcy2bD/UOnJAA/cosFAA/ExDolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini. *** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION *** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
