Antara Dagadu dan Hard Rock Cafe (HRC) oleh : Hermawan Kertajaya dan Taufik
( MarkPlus&Co, Jakarta) 
Antara Dagadu dan Hard Rock Cafe (HRC) jelas tidak ada keterkaitan erat.
Bukan hanya karena yang satu adalah perusahaan asal Amerika dan yang lainnya
adalah perusahaan asal Yogya, tapi pemilik ataupun tim manajemen dari kedua
perusahaan itu tidak pernah melakukan kerjasama apapun. Paling tidak sampai
saat ini. Tapi dalam urusan dengan anak muda, keduanya, paling tidak di
Indonesia, mengalami nasib yang sama : sama-sama digandrungi oleh banyak di
antara mereka. Sepintas itu bukan suatu hal yang aneh. Karena kedua
perusahaan itu sama-sama membidik anak muda sebagai target marketnya. Selain
itu mereka juga terus berusaha mempertahankan positioningnya agar tampak
clear di mata target-market-nya dengan terus menjaga kesolidan
diferensiasinya. Pendeknya, respon tinggi dari anak-anak muda merupakan
suatu hal yang tak terelakkan bagi mereka di manapun mereka berada. Begitu
menyinggung aspek geografi, barangkali kita baru sadar bahwa ada hal yang
aneh. HRC berbeda dengan McDonalds, apalagi Coca-Cola. HRC tidak bisa
ditemukan di sembarang tempat. Di tingkat dunia, HRC yang begitu populer itu
tidak mesti ada di setiap negara di dunia. Di negara di mana HRC bisa
diketemukan, jumlahnya juga sangat terbatas. Di Indonesia misalnya, HRC itu
hanya ada di Jakarta dan Bali. Dan yang pasti, di setiap kota hanya ada satu
HRC. Meski secara geografis sangat terbatas keberadaannya, tapi ternyata HRC
sangat populer. Banyak anak muda yang tidak ragu-ragu untuk misalnya
mengenakan kaos atau tori HRC yang telah ditambahi dengan nama kota besar
tertentu di dunia. Kenapa hal itu dilakukan? Bagi mereka, memakai kaos atau
tori HRC dengan nama kota besar tertentu di dunia merupakan sebuah bentuk
pengumuman bahwa mereka pernah pergi ke kota tersebut atau paling tidak
mendapat kenang-kenangan dari ternan atau kerabat mereka yang baru pergi
dari kota tersebut. 
Tentu saja ini merupakan suatu hal menarik, HRC, sebagaimana halnya dengan
franchise lainnya, semisal McDonalds, sebetulnya hampir sarna bentuk dan
isinya di seluruh dunia. Sebagai theme restaurant yang membidik anak-anak
muda penggemar musik di berbagai penjuru dunia, HRC merasa tidak perlu
melakukan adaptasi dengan budaya lokal. Seperti yang dilakukan McDonalds
dengan membuat menu makanan yang mengadaptasi selera masyarakat lokal.
Localization tactic yang dilakukan, kalau boleh disebut begitu paling-paling
terbatas pada penampilan band lokal tentu yang sedang populer sebagai
pengisi acara musik hidup di situ. Tapi itupun sudah cukup. Kenapa?
Anak-anak muda sekarang, dimanapun dia berada, punya psikografis dan
behaviour yang sama : bahwa mereka menjadi penggemar musik selain sejak dari
dulu selalu dikenal sering memberontak pada kemapanan. Menjadi penggemar
musik itu berarti acara musik di radio, TV, kafe, atau sekarang menikmati
MP3. Selain itu, globalisasi membuat mereka menjadi lebih terbuka. Di mana
hal terse but kemudian mewujud antara lain dengan menjelajah berbagai tempat
menarik di dunia. Dan karena HRC bisa mengakomodasi kedua hal tersebut, maka
bukan hal yang mengherankan kalau akhirnya dipakai sebagai ekspresi. Apa
yang terjadi pada HRC itu juga terjadi pad a Dagadu. Bahkan mungkin lebJh
hebat kalau mengingat bahwa Dagadu secara resmi hanya ada di satu kota saja,
Yogyakarta. Tapi, ternyata banyak anak muda di Indonesia yang akrab dengan
Dagadu, yang memposisikan diri sebagai penyedia berbagai memorabila khas
Yogya khusus untuk anak muda. Ini terlihat dari cukup banyaknya anak muda
Indonesia yang menjadi pemakai atau kolektor produk Dagadu, terutama dalam
bentuk kaos. Baik bagi mereka yang baru saja pergi ke Yogya ataupun mendapat
oleh-oleh dari Yogya. Kok bisa sih? Padahal Dagadu sebetulnya tidak
mem-positioning-kan diri sesuai dengan bagian terbesar dari anak muda.
Khususnya kalau mengingat bahwa sebagian besar anak muda itu adalah
penggemar musik. Tidak ada contentatau context diferentiation Dagadu yang
menuju ke musik. Lalu kenapa anak-anak muda bisa begitu welcome pada Dagadu
yang khas Yogya. Kebetulan ada sebuah ciri khas Yogya dalam beberapa tahun
terakhir ini yang memang pas sekali dengan psikografis- behaviour anak-anak
muda yang selalu memberontak pada kemampanan: plesetan berbicara. Karena
plesetan bicara ini khas Yogya, maka tidaklah salah kalau Dagadu yang
mem-positioning-kan diri sebagai penyedia souvenir khas Yogya
memanfaatkannya sebagai content differentiation produknya. Tapi Dagadu
cerdik dalam membaca pasar. Bahwa sekalipun budaya plesetan itu di
Yogyakarta tidak mengenal batasan demografis, seperti umur, namun budaya
plesetan itu di mana-mana lebih gampang diterima anak-anak muda. Terutama
kalau mengingat bahwa anak-anak muda itu cenderung melawan kemapanan. Karena
itulah Dagadu kemudian membidik pasar anak muda.Segmentasi yang cukup teliti
dan diikuti dengan targeting yang cermat serta positioning yang tepat
membuat Dagadu seperti menemukan dan kemudian membangun sebuah pasar baru:
produk souvenir untuk anak-anak muda. Dan karena -memang didukung dengan
diferensiasi yang solid, pasar terse but bisa membesar. Bahkan jauh lebih
besar dari imajinasi paling liar dari para pendiri Dagadu. Lihat saja,
sekalipun outlet Dagadu sampai saat ini hanya dibatasi dua outlet saja,
yaitu di Posyandu Lower Ground Malioboro Mall dan UGD JI. Pakuningratan 15
Yogyakarta, tapi ternyata kaos-kaos Dagadu itu bisa ditemukan di berbagai
kota di Indonesia. Penyebaran produk yang meluas itu memang bukan hal yang
menyenangkan bagi Dagadu. Sebab kaos-kaos Dagadu yang banyak ditemukan
diberbagai kota itu dipastikan bukan produk asli Dagadu. Sehingga bukan hal
yang mengejutkan kalau ada yang bilang bahwa Dagadu mungkin lebih sukses
dibandingkan HRC khususnya kalau mengingat bahwa Dagadu bisa menang dan
terus tumbuh di sebuah pasar yang sekali lagi bed a dengan HRC- entry
barrier-nya sangat rendah. Begitu rendahnya sampai-sampai Dagadu sendiri
bingung dalam melindungi intelectual property rights-nya. Tentu saja
prestasi terbesar bagi Dagadu adalah bisa menang dan terus tumbuh di pasar
anak muda. Pasar anak muda bagaimanapun juga bukan , sebuah pasar yang
gampang dibidik. Kalau Anda diminta menyebutkan produk yang khusus membidik
anak muda dan mencatat sukses hingga kini, pasti Anda tidak akan mengalami
kesulitan. Sebab jumlahnya tidak banyak. Kenapa haI tersebut bisa terjadi?
Soalnya pasar anak muda adalah pasar yang sangat dinamis untuk tidak
mengatakan labil. Anak-anak muda gampang mengadopsi tren baru. Sehingga
kalau sebuah prod uk tidak bisa mengikuti perkembangan tren tersebut maka
umurnya tidak panjang. Dan di Indonesia kita misalnya sudah melihat banyak
produk yang semula digemari anak muda ternyata tidak bisa berumur panjang.
Karena produk tersebut hanya cocok untuk anak muda pada kurun waktu tertentu
saja. Suatu hal yang mungkin terasa aneh barangkali kalau mengingat bahwa
anak-anak muda itu dari dulu secara psikografis dan behaviour sarna :
memberontak pada kemapanan. Tapi yang namanya memberontak pada kemapanan itu
sendiri bersifat dinamis. Sebab apa yang disebut sebagai sebuah kemapanan
itu sendiri juga mengalami kemapanan. Dulu yang disebut sebagai kemapanan
itu misalnya adalah orangtua yang dalam berkomunikasi pada anaknya bersifat
top-down. Tapi ketika kini banyak orangtua yang memilih komunikasi dua arah,
alias lebih banyak mengandalkan dialog, maka bisa jadi yang tersebut
terakhir itulah yang kini disebut sebagai kemapanan. Repot memang. Karena
itulah dalam upaya win the market-share, mind-share, dan heart-share secara
efektif, saya biasanya tidak langsung melakukan segmentasi, lalu targeting
dan positioning dan kemudian membangun diferensiasi serta diikuti dengan
melakukan langkah core elements of marketing lainnya, tapi melihat dulu
business landscape-nya. Yaitu lebih dulu melihat change, perkembangan
competitive setting, perkembangan customer profile dan behaviour maupun
perkembangan company itu sendiri. Dimana change itu sendiri terdiri dari
teknologi, political-legal, economy, social-culture dan market. Perkembangan
teknologi mendorong globalisasi informasi, yang akan mendorong penyesuaian
di bidang political legal suatu negara. Misalnya tranparansi dan
demokratisasi. Di pihak lain, globalisasi informasi juga mendorong
universalitas nilai-nilai yang dianut. Pada gilirannya hal tersebut akan
mendorong liberalisasi perekonomian dan pasar. Karena itu, nine core
elements of marketing yang dikembangkan tanpa merujuk pada perkembangan di
4C bisa dibilang tidak akan tepat sasaran. Dan inilah yang sebetulnya
terjadi pada produk-produk yang hanya sukses membidik anak muda pada kurun
waktu tertentu saja. Alias beda yang terjadi pada Dagadu dan HRC.
Setidak-tidaknya kalau melihat kesuksesan mereka dalam menang dan terus
tumbuh di sebuah pasar yang diliputi dengan kondisi turbulensi tinggi. 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hjemnn2/M=362343.6886682.7839641.1493532/D=groups/S=1705000004:TM/Y=YAHOO/EXP=1122974396/A=2894350/R=0/SIG=10tj5mr8v/*http://www.globalgiving.com";>Make
 a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan 
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke