Saya pernah baca bukunya dulu waktu masih kuliah, "SOE HOK GIE
Catatan Seorang Demonstran", dan baru bisa nonton filmnya tadi malam,
saya kasih jempol dua........, untuk SHG dan Riri Riza yg mengingatkan
saya dgn  Teguh Karya....!!


http://www.indomedia.com/intisari/1999/desember/sohokgi.htm

KENANGAN KEPADA SEORANG DEMONSTRAN
SOE HOK GIE

Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan
pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari
Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang
berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya,
Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman),
Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.

"Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar
secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember,
juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan," kata Herman O.
Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih
amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia
merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi
Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama
kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. "Kita juga akan berdoa, sekalian
mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu," lanjutnya.

Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan
malah baru 20 tahun. "Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa
meninggalkan kita sejak Orde Baru ... perkembangan yang terjadi di
Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa
yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita
kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis
mahasiswa kala itu," begitu bunyi naskah buku kecil acara "Mengenang
Seorang Demonstran", (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa
dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan
Alumni Mapala UI.

Kasih batu dan cemara

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku
harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD)
(LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari
bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G.
Semeru.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak
Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus
membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni
dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah
bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk
dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir
kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami
berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan
menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya,
"Simpan dan berikan kepada kepada 'kawan-kawan' batu berasal dari
tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung
tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI." Begitu kira-kira
kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan
darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala
kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan
tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya
Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan
lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara
berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil
memerosotkan tubuhnya yang jangkung. "Soe dan Idhan kecelakaan!"
katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap
racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke
arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan
berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke
tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah
meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali
berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan
Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan
tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.

Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan.
Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju
perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri
dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang
hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan
Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke
jurang kecil.

"Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya," begitu ucap Tides
sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat
tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta
tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan
Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami
jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap
berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah
semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan
Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam
dan sedih.

Mengapa naik gunung

Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari
ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15
Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang
amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami
menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang.
Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan
tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk
rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan
hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan
rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. "Pokoknya gue akan
berulang tahun di atas," katanya sambil mesam-mesem. "Nyanyi lagi
dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali."

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke
puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek,
kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia
mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung.
"Keren enggak?" Tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di
kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel
besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia
mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau
karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro
Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan,
sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal
muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru
yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun
sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil
DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi
gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci.
Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan "falsafahnya", kala
mengajak seseorang mendaki gunung. "Ngapain lama-lama tinggal di
Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri
dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan
ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki
gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik
sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo
ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma
Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini," kira-kira begitu
katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar
30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI
1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan
dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan
betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati
banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama
sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa
sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat
menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.

Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah
jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga
bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan
Maman dll. secepatnya mendahului rombongan ... Tides dan Wiwik
18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa
surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan
bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang
dan bermaksud menunjukkan "site" tempat jenazah Soe dan Idhan ...
kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat ...
sebanyak mungkin!
Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul
lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman
terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan
Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.
Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda,
terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi
hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet tua yang dikurung

Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan
dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh.
Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang
mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di
CSD, Hok Gie menulis: "... Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat
pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru
...."

Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan "Cina Kecil",
memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata "sakti"
filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis:
"Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak
dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial
adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang
mati muda."

Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing,
banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru
itu sempat berujar: "Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya.
Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan
tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras
... diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong
hutan dan mandi di sungai kecil ... orang-orang seperti kita ini tidak
pantas mati di tempat tidur."

Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah,
juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan
Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia
berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang
saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang
... makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang
mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa
sebenarnya yang saya lakukan ... Kadang-kadang saya merasa sungguh
kesepian." (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering
gelisah dan berkata: "Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari
musuh saja, tidak mendapat uang." Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan
berkata: "Ah, Mama tidak mengerti".

Arief pun menulis kenangannya lagi: ... di kamar belakang, ada sebuah
meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik
turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang
lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik ... dari
kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik
membuat karangan ... saya terbangun dari lamunan ... saya berdiri di
samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, "Gie kamu tidak
sendirian". Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag
saya katakan itu.

Mimpi seorang mahasiswa tua

John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie - A Biography of
A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997),
menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok
Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya
mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan
moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial
khusus: ...Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe
Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model
seorang pejuang tanpa pamrih ... kita membutuhkan orang seperti dia,
sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita
melakukan kesalahan.

Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI
Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai
berikut: ... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe
Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan
dari generasi muda pasca kemerdekaan .... Komitmennya yang mutlak
untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang
teguh dalam perjuangan ... bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi
tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang
benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah
disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket
Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, ... Saya merasa
semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput
petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!

Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan
pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya
mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda,
bangkit dan berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan
atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun,
dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya
sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969,
Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua.
Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: ... Beberapa bulan lagi saya
akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat
dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa.
Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan ... Masih terlalu
banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan,
tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap
ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen
menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu
dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak
tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: ... Hanya
mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau
mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka
ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok
Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya
wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah.
Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki
"politisi berkartu mahasiswa". Langkah Soe ini membuat mereka
terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas
tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

Berpolitik cuma sementara

John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran
(November 1999), menulis begini, "Saya sadar telah menulis tentang
seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini
dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas."

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan
peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun
... namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya
sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua
orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan
partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental
"asal bapak senang", serta "yes men", atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral
dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya
untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan
argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari
arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun
kembali institusi politik bangsa." Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada
ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan
kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu
produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara
diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk
puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di
kalangan pendaki gunung.

Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI,
selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton
film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus
bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya
gembul.

Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan
puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar
Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya "Pesan" dan cukilan pentingnya
berbunyi:

Hari ini aku lihat kembali

Wajah-wajah halus yang keras 

Yang berbicara tentang kemerdekaaan 

Dan demokrasi 

Dan bercita-cita 

Menggulingkan tiran

 

Aku mengenali mereka 

yang tanpa tentara 

mau berperang melawan diktator 

dan yang tanpa uang 

mau memberantas korupsi

 

Kawan-kawan 

Kuberikan padamu cintaku 

Dan maukah kau berjabat tangan 

Selalu dalam hidup ini? 



-- 
Nazar Rahman


Free SMS click here :  http://thesmszone.com/?ref=nazar




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hpfl0ul/M=362343.6886682.7839641.1493532/D=groups/S=1705000004:TM/Y=YAHOO/EXP=1123581591/A=2894354/R=0/SIG=11qvf79s7/*http://http://www.globalgiving.com/cb/cidi/c_darfur.html";>Help
 Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan 
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke