<<purdiephoto01.gif>> 
Wawancara Dengan Majalah BERWIRAUSAHA 22-09-2004

  <http://www.purdiechandra.com/images/stories/purdiephoto01.gif>Untuk jadi
seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal
uang. "Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu
street smart saja," ungkap Purdi E Chandra, Dirut Yayasan Primagama. 

Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah
memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar.
Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya
jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses.

"Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia
malah tidak akan berani buka usaha," tambah 'konglomerat bimbingan tes' itu.


Purdi yang lahir di Lampung 9 September 1959 memang jadi model wirausaha
jalanan' plus modal nekad. la tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM
dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp.300 ribu ia dirikan lembaga
bimbingan tes Primagama 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis
potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. la sukses membuat
Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 200 outlet di lebih
dari 106 kota. la dirikan IMKI, Restoran Sari Reja, Promarket, AMIKOM,
Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di
Yogyakarta. Grup Primagama pun merambah bidang radio,penerbitan, jasa
wisata, ritel, dll. Semua diawalkan dari keberanian mengambil risiko. Kini
Purdi lebih banyak lagi 'berdakwah' tentang entrepreneurship. Bagi Purdi,
entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun,
itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini. "Saya memimpikan bisa
melahirkan banyak lagi pengusaha-pengusaha. Dengan demikian, makin banyak
pula lapangan kerja diciptakan. Itulah Mega Entrepreneur," ungkap Purdi
kepada Edy Zaqeus dan David S. Simatupang dari Majalah BERWIRAUSAHA. 

Berikut petikan wawancara yang berlangsung di kantor cabang Primagama
Jakarta. 

Bagaimana semangat wirausaha masyarakat kita?
Mungkin begini. Salahnya pendidikan kita itu, kebanyakan orang lulus sarjana
baru cari kerja. Jadi pengusaha itu mungkin malah orang-orang yang kepepet.
Yang tidak diterima di mana-mana, baru dia sadar dan bikin usaha sendiri.
Mestinya, kesadaran seperti ini bisa untuk orang-orang yang tidak kepepet.
Alasannya, kalau mau usaha harus ada modal, punya ketrampilan. Padahal tidak
harus begitu. Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa.
Ibaratnya kalau kita punya ijazah pun, tidak usah dipikirin. Saya dulu tak
tergantung dengan selembar kertas itu. Sekarang mau dijaminkan di bank juga
tidak bisa. Hanya buat senang-senang saja kalau sudah sarjana.

Memang saya lihat pendidikan kita itu dari otak kiri saja. Padahal kalau
kita garap yang kanan, porsinya banyak, maka otomatis otak kirinya naik.
Tapi kalau kita banyakin kiri, kanan ndak ikut naik. Kanan itu adalah
praktek. Saya bilang street smart. 

Cerdas di lapangan, di jalanan. Orang yang akademik, sekolahnya pintar, IP
atau nilai tinggi, dia tidak berani menentang teori. Jadi robotlah. Kalau di
situ jadi topeng monyet. Dia tidak berani membuat kreasi sendiri. Padahal
hidup dia itu bukan di masa lalu. Hidup dia itu kan di masa datang, dan itu
serba berubah cepat. Tidak ada yang sama dengan teori yang dia pelajari.
Teori itu kan hasil temuan. Kenapa kita tidak bisa menemukan sendiri? Saya
punya contoh, manajemen di Primagama, yang tidak ada di teori. Kalau pun ada
di teori pasti disalah-salahkan.

Apa itu?
Di Primagama, suami-istri bekerja dalam satu kantor itu malah kita anjurkan.
Di lain tempat dan di teori itu ndak boleh! Tapi saya praktekkan, ternyata
jalan, bagus. Saya melihat, mereka masing-masing bisa saling mengontrol.
Maka, menantang teori itu yang utama. Saya malah bisa menaikkan omset
Primagama 60%. 

Contohnya lagi, iklan Primagama yang pakai aktor Rano Karno. Menurut orang
kampus, dan pernah dibahas di sana, itu ndak bener! Menurut teori ndak
benar. Tapi nyatanya, bagus hasilnya? Saya dulu pernah pakai Sarlito (pakar
psikologi dan pendidikan:rec), malah ndak ada hasilnya, walau dia doktor
atau apa. Jadi street smart itu... 

Apa artinya street smart?
Cerdas di jalanan. Ada academic smart atau school smart. Tapi street smart
itu cerdas dengan praktek. Jadi begini, kalau kita punya pengetahuan dengan
benar, pengetahuan itu kan akademik. Kita tidak strong, gugur! Kita tidak
akan bisa. Kita tidak akan bisa benar. Waktu SD itu ada bacaan-bacaan
begini; "Ibu pergi ke pasar membeli sayur." Kok tidak yang menjual sayur
saja? 

Kok kata-katanya selalu membeli, bukan menjual? Teryata setelah saya
urut-urut, yang nulis itu guru. Coba kalau isinya diubah menjadi menjual,
itu akan lain.

Kenapa tertarik menonjolkan sisi menjualnya?
Kalau saya bertransaksi, itu nilai tambah. Dalam transaksi, duit paling
banyak itu kan pengusahanya? Dan paling banyak milik pengusaha. Coba kalau
misalnya yang satu membeli saja. Akan terbatas transaksinya. Sehingga kalau
memang harus banyak pengusahanya, ya untuk menjual.

Setuju dengan pemikiran Kiyosaki "If you want to be rich and happy, don't go
to school" ?
Kalau saya if you want to be rich and happy, ya.... Kalau ingin kaya,
ngapain sekolah? Kalau di sekolah tidak akan happy dan kaya. Pendidikan kita
tidak bikin happy, malah bikin stres anak. Porsi mainnya kurang. Sejak Taman
Kanak-kanak sudah dipaksa main otak kiri. Mungkin itu karena dari mentrinya
sampai orang-orang tuanya itu otak kiri semua, kan? Dikatakan figur yang
bagus itu yang profesor, yang doktor. Padahal kalau kita pilah, yang pintar
sekolah memang jadi dosen, jadi dokter. Yang sedang-sedang saja jadi
manajer. Tapi yang bodo-bodo sekolahnya malah jadi pengusaha. Penelitian di
Harvard begitu. Penyikapan guru terhadap anak yang bodo kok divonis tidak
punya masa depan? Mungkin dia berani, kreatif, bisa menemukan apa yang tidak
ditemukan oleh anak-anak pintar. 

Nah, pendidikan kita itu semua mau dijadikan ilmuwan. Seolah ngejar otak
kiri saja, ngejar school smart saja. 

Apa yang harus dilakukan untuk membongkar sistem seperti itu?
Memang berat karena dari dulu juga begitu. Maka harus lewat luar,
kegiatan-kegiatan ekstra. Maka saya usulkan pendidikan kita dibuat dua
sistem; sistem ijazah dan sistem tanpa ijazah. Kalau sekolah tanpa ijazah,
orang akan cenderung cari ketrampilan dari praktek yang kelihatan. Yang
pakai ijazah untuk yang mau jadi dosen, jadi dokter, jadi ilmuwan. Kalau
pelajaran kimia yang pakai ijazah, ya ilmuwan itulah. Kalau kimia yang tidak
pakai ijazah, pilihannya ya bikin deterjen, bikin sirup, bikin apa saja yang
ada manfaatnya. Kalau semua harus belajar kimia, padahal kita tidak
tertarik, berarti dipaksa dan tidak happy jadi nya.

Kalau di tataran konseptual, apa yang mesti dilakukan?
Saya kira Dikbud itu merasa bahwa yang menentukan masa depan Indonesia itu
dia. Bikin kurikulum, walaupun sumbernya dari masyarakat, tapi sering
terlambat. Kurikulum tahun lalu baru dipakai sekarang. Lebih cepat di luar,
kan? Maka kalau saya, pendidikan itu tidak usah diatur. Perguruan Tinggi
siapa pun boleh bikin. Dan itu masyarakat yang menilai. Hukum pasar! Titel
MBA atau apa dilarang, kenapa? Alamiah aja. Nanti kalau kebanjiran itu orang
ndak mau pakai, kan ndak masalah? Kalau banyak manajer belajar ilmu untuk
mendapatkan MBA, itu kan bagus? Dalam pendidikan itu sebenarnya mereka
dagang. 

Kalau model-model pendidikan itu masyarakat yang mengembangkan, mungkin baru
bagus. Karena pas dengan zaman itu. Misalnya Mc Donald mau bikin Universitas
Mc Donald, kenapa tidak?

Bagaimana dengan Entrepreneur University yang Anda dirikan?
Sebagai entrepreneur, saya punya visi Mega Entrepreneur. Artinya bagaimana
seorang pengusaha bisa menciptakan pengusaha lainnya. Kalau pengusaha bisa
menciptakan lapangan kerja, itu sudah biasa. Yang saya kejar adalah
bagaimana saya bisa menciptakan banyak pengusaha. Dulu visi saya memang
menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Kalau seperti itu kan lama.
Mungkin hanya ribuan lapangan kerja. Tapi kalau bisa menciptakan banyak
pengusaha, lapangan kerja yang tercipta lebih banyak lagi.

Karyawan saya pun saya usahakan bisa jadi pengusaha. Kayak manajer-manajer
saya, semua sudah punya usaha di luar. Saya ditentang oleh Renald Kasali.
Katanya menurut teori itu tidak bisa. 'Orang kerja kok diajak merangkap jadi
pengusaha, itu ndak bisa!'. Saya praktekkan ternyata bisa. Manajer saya
punya perusahaan mebel.

Menurut Kiyosaki, di sini dia sebagai employee, di luar dia sebagai business
owner karena yang mengelola orang lain. Ada manajer saya yang buka bengkel
motor. Sopir saya punya kenteng mobil. Sopir saya yang lain punya bisnis
jual bell handphone. 

Karyawan-karyawan itu mau jadi manajer semua ? ndak mungkin kan... 
Harapan paling besar saya, ya mereka jadi pengusaha.

Sejak kapan Entrepreneur University berjalan?
Entrepreneur University (EU) berjalan baru setahun. Sebelumnya kita sudah
sering adakan pelatihan di mana-mana. Tapi cuma beberapa hari, lalu selesai
tidak ada follow up. Sekarang lebih jelas, kita ada follow up. Misalnya kita
adakan tiga bulan, setelah itu ada klub entrepreneur. Yang itu bisa
dilakukan lewat internet, pertemuan-pertemuan, dan juga konsultasi seperti
tadi. Di EU diutamakan yang indeks prestasinya (IP) rendah. Memang pernah
ada yang protes, orang mau masuk tapi IP-nya tinggi, dia jadi minder. Tapi
memang saya lebih mudah mengajar orang yang tidak pintar. Kalau otak kiri
sudah kuat, susah berubahnya. 

Misalnya dia kuliah di akuntansi, yang feasible tidak feasible, udah, ndak
berani-berani dia. Usaha itu bukan perhitungan sebelumnya. Hitungan yang
terjadi, itulah usaha. Banyak yang terjadi kita tidak tahu dan tidak kita
pikirkan sebelumnya. Saya di Primagama dulu kalau dipikir tidak rasional.
Modal saya cuma Rp.300 ribu saja. Sekarang asetnya sudah hampir Rp.100
milyar, kan? 

Rasionalnya di mana?
Tadi seorang direksi bank yang ingin membuat usaha. Seperti dia,
dihitung-hitung terus, selalu tidak positif. Akhirnya tidak berani buka
usaha. Saya bilang, "Jangan dihitung terus!" Usaha itu dibuka, baru
dihitung. Ini street smart. Kalau dihitung baru dibuka, ndak akan buka-buka
usaha. Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru
sisi terang. Karena terang itu tahu hitung-hitungannya, tahu risikonya
gedhe, jadi takut. Kalau gelap, tidak tahu apa-apa, usaha itu tidak takut.
Dihitung atau tidak dihitung itu sama saja kok. 

Padahal entrepreneur harus berani ambil risiko...
Itulah, ambil risiko itu berarti harus gelap. Maksudnya jangan terlalu
banyak tahu. Setelah jalan, kita pakai ilmu street smart tadi. Street smart
itu yang melahirkan kecerdasan entrepreneur yang dibutuhkan untuk pemula
usaha. Isi kecerdasan entrepreneur itu ya kecerdasan emosional, spiritual,
dan basisnya di otak kanan.

Bagaimana cara Anda merealisasikan gagasan Mega Entrepreneur?
EU ini saya yang buka dan pelatihannya saya yang mengajar sendiri. Saya
bukan cari untunglah, tapi semacam aktulisasilah buat saya. Karena saya
ingin jadi Mega Entrepreneur tadi. Sehingga saya bela-belain, ndak harus
untung. Kalau nombokpun saya mau untuk memberikan dakwah tentang
entrepreneurship ini. Itu yang saya lakukan, dan sudah dua angkatan EU di
lima kota. Perkembangan pesertanya cukup positif. Yang sama sekali tidak
berani berusaha, kini jadi berani.

Bagaimana tren kewirausahaan ke depan?
Saya kira itu suatu keharusan. Kalau negara ini mau maju, harus banyak
pengusahanya. Kita belum ada kementrian yang khusus mengurusi wirausaha. Di
Indonesia banyak bisnis yang bisa dikembangkan menjadi franchise dan tidak
harus yang mahal. Di Malaysia sudah ada kementriannya, dan mentrinya
mendorong mereka yang mau usaha franchise dsb.

Bagaimana entrepreneur yang ideal itu?
Ukuran ideal saya adalah dari banyaknya lapangan kerja yang diciptakan.
Pengusaha yang bisa melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Bisnisnya kalau
bisa yang baik-baiklah. Saya suka mengurusi bisnis yang langsung ke pasar.
Yang menilai dan menentukan bisnis saya ya pasar. Saya ndak model dengan
bisnis lobi-lobi yang harus berhubungan dengan pemerintah.

Pernah mengalami pencerahan selama menjadi entrepreneur?
Saya mengembangkan sisi spiritual melalui dzikir atau meditasi. Bisnis itu,
kalau bisa ya melibatkan yang "di atas". Tidak bisa berjalan dengan diri
kita sendiri. Maka saya kembangkan kecerdasan spiritual. Kalau menggunakan
intuisi saja, hanya bisa menunjukkan sesuatu tujuan itu seperti apa.... Tapi
kalau dzikir, melibatkan Tuhan, kuncinya justru membuat tujuan itu terjadi. 

Misalnya diramal orang kita tidak hoki. Dengan dzikir itu bisa jadi hoki.
Yang tidak baik jadi baik. Arah negatif bisa jadi positif. Maka, menantang
teori itu yang utama! Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi
gelap, tapi justru sisi terang. 

Bangkit
Wujudkanlah mimpi anda, kembangkanlah "penglihatan pemikiran" yang selama
ini terpendam, berikanlah arti pada hidup yang anda cintai ini. Semuanya
berawal dari sebuah impian. Dunia dengan segala isinya diciptakan Tuhan dari
"impian-Nya". 

Kisah-kisah keberhasilan para tokoh yang berhasil mengubah dunia, bermula
dari mimpi, seperti apa yang dilakukan Galiileo, Thomas Alva Edison,
Einstein, dan lain-lain. Bangunan-bangunan besar seperti candi dan piramid
juga dimulai dari impian. Bahkan, majalah ini hingga akhirnya sampai ke
tangan pembaca, juga diawali dari impian. Bila demikian, tampaknya segala
sesuatu sangatlah mungkin untuk diwujudkan. Masalahnya adalah kebanyakan
orang telah membuang jauh-jauh mimpi mereka ke tempat sampah, atau merasa
bahwa mimpi mereka merupakan hal yang mustahil. Padahal, hampir semua mimpi
bisa diwujudkan dengan sedikit kecerdikan, sedikit keberanian serta dukungan
emosional. 

Sebagai ilustrasi, pertengahan tahun 70-an Bill Gates bermimpi bahwa
komputer akan tersedia di setiap rumah pada suatu masa nanti; Akio Morita
bermimpi is bisa mendengarkan musik favoritnya sambil main tenis, tanpa
harus mengganggu tetangga kiri-kanan; atau Sosrodjoyo yang bermimpi nantinya
orang-orang akan memilih teh botol bikinan pabrik daripada repot-repot
menyeduhnya di rumah.

Tetapi perlu kiranya dibedakan antara "mendambakan" dan "memimpikan".
Mendambakan bersifat pasif dan menunggu, hanya merupakan selingan iseng
tanpa otak, tanpa upaya untuk mewujudkannya. Sedang memimpikan bersifat
aktif dan berani mengambil inisiatif. la didukung oleh rencana dan tindakan
untuk membuahkan hasil.

Tokoh-tokoh yang disebut di atas adalah contoh perbuatan memimpikan. Mereka
tidak sekadar beranganangan, melainkan berupaya keras mewujudkan impiannya.
Microsoft, Sony, dan Teh Sosro adalah hasil nyata dari mimpi-mimpi mereka.

Singkatnya, penglihatan pikiran membuka pintu untuk mewujudkan impian kita.
Namun begitu pintu tersebut terbuka, harus ada tindakan nyata berupa:
disiplin, kebulatan tekad, kesabaran, dan ketekunan bila kita ingin membuat
impian tersebut menjadi kenyataan.

Penglihatan Pikiran
Pada hakikatnya setiap insan memiliki dua jenis penglihatan: penglihatan
mata dan penglihatan pikiran. Penglihatan mata adalah apa yang kita lihat
ada secara fisik di sekeliling kita, misalnya: mobil, gunung, pulpen atau
teman-teman kita. Sebaliknya, penglihatan pikiran adalah sebuah kekuatan
untuk melihat bukan apa yang ada secara fisik, tetapi apa yang bisa ada
setelah intelegensia manusia diterapkan. Penglihatan pikiran adalah kekuatan
untuk bermimpi.

Dr. David Schwartch, dalam The Magic of Thinking Success, yakin bahwa
perasaan kita yang paling tak ternilai harganya adalah penglihatan pikiran.
Penglihatan tersebut membentuk gambaran masa depan yang kita harapkan, rumah
yang kita idamkan, hubungan keluarga yang kita dambakan, liburan yang akan
kita ambil, atau penghasilan yang akan kita nikmati kelak.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hej8e4j/M=362131.6882500.7825259.1493532/D=groups/S=1705000004:TM/Y=YAHOO/EXP=1123673761/A=2889190/R=0/SIG=10r90krvo/*http://www.thebeehive.org
">Put more honey in your pocket. (money matters made easy) Welcome to the Sweet 
Life - brought to you by One Economy</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan 
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Attachment: purdiephoto01.gif
Description: GIF image

Kirim email ke