Hm sangat menarik analisis mas Hanif, Mba Flori dan Case-nya mas Joko. Sangat membantu menambah wacana kita dan tentunya akan berguna sekali. Padahal kalau di negara maju budaya membeli saham sudah sangat akrab dan saya pernah baca di states sono pensiunan mengandalkan saham sebagai sarana investasinya. Hal ini nampaknya belum berjalan di kita dimana pemegang saham belum tentu dapet sharing power, malah resiko sudah pasti meski juga ada peluang gain yg lbh besar, ya high risk high return-lah. Pernah ada yang bilang, untuk bermain saham gunakanlah uang bebas, jangan uang/tabungan yg akan kita gunaan dalam jangka dekat, dimana hal ini terkait bila harga saham bakal jatuh. Menurut pak Anis transaksi saham ada biaya lain semacam fee-nya, sehingga bila kita beli dan jual harga sama -pun kita masih rugi sebesar fee yg dibyrkan tadi. Lagipula investor saham kita masih sangat dipengaruhi investor asing, dimana mereka umumnya yang dominan. Ditambah kegiatan goreng menggoreng saham yg kesemuanya justru kurang menjadikan saham sebagai sarana investasi yang menarik masy luas.
Mas Hanif, itu total nilai 6 persh belum ada separo kredit BLBI yang hilang menguap ya.
----------
From: [EMAIL PROTECTED]:[EMAIL PROTECTED] on behalf of flori widyarsi[SMTP:[EMAIL PROTECTED]
Reply To: [email protected]
Sent: 18 Nopember 2005 10:05
To: [email protected]
Subject: Re: [mm-ugm] seputar 'IPO'
Saya setuju dengan yang diungkapkan mas Hanif Mantiq, tetapi sehubungan dengan dunia pasar modal kita. Kalau ada perusahaan Indonesia yang go public, berapa persenkah dari sahamnya yang dijual ke bursa ? Apakah mereka rela melepaskan pengaruhnya terhadap perusahaannya yang go public ?
Jadi kalau berharap dengan membeli saham kita bisa ikut mengendalikan perusahaan, berapa persen share kita ? Untuk di Indonesia saya tidak yakin bahwa bursa bisa mengendalikan jalannya perusahaan. Mengapa ? Karena saham yang di go publickan mungkin hanya sekitar 5%-20%, sebagian besar tetap dikuasai pemilik agar mereka tetap bisa mengendalikan perusahaannya. Hal inipun pernah diungkapkan oleh Teten Masduki kalau gak salah, dia bilang gimana mau ikut share power kalau persentase kepemilikan hanya kecil, dan itu sengaja dibuat demikian oleh pemiliknya.
Soal mau beli obligasi atau saham, tergantung seberapa besar nyali kita untuk berani mengambil resiko. Kalau berani ambil resiko dengan perhit analisis kondisi makro dan mikro belilah saham, tetapi kalau ingin aman ya belilah obligasi. Berapa yang akan kita peroleh kan tinggal membandingkan dengan tingkat bunga yang berlaku di pasaran (tingkat bunga bank). Kalau ingin moderat, ya belilah reksa dana. Kalau gak salah jamannya yang ngajar pak Anis Baridwan, semua peserta kuliah diwajibkan membeli saham ataupun obligasi, dan harus monitor day by day, dengan diberi modal tertentu . . . (itung-itungan aja ngasihnya). Sayang saya bukan peserta kuliah beliau, karena saya major HRM, jadi gak tahu persisnya bagaimana.
Jadi untuk di Indonesia saya kurang yakin dengan membeli saham kemudian kita bisa ikut share power.
Tetapi paling afdol kalau kita mencobanya . . . learning by doing.
Selamat mencoba
fw
hanif-mantiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Teman-teman yang baik
Menurut Warren Buffet Pasar modal adalah lembaga yang
paling fair buat siapa saja untuk menyatakan pendapatnya
tentang harga suatu perusahaan, jadi salah satu tujuan
perusahaan itu go public ya untuk mengetahui nilai dari
perusahaan tersebut. Dan ini juga bisa dipergunakan untuk
kreditor menilai perusahaan tersebut apakah patut
mendapatkan kredit atau tidak, karena untuk menjadi
perusahaan listed tidak sedikit harus keluar biaya
misalnya laporan keuangan harus tepat waktu dan
sebagainya.
Tujuan lainnya adalah untuk mendapatkan modal kerja.
Tujuan lainnya untuk good corporate governance,
bagaimanapun perusahan publik relatif lebih dianggap baik
dibandingkan perusahaan keluarga, misalnya untuk urusan
karir para pegawainya. Seringkali di perusahaan keluarga
top management diberikan kepada keluarganya dan karir para
bawahannya menjadi mentok.
BTW, harga perusahaan google.com search engine internet
yang terkenal itu nilainya lebih tinggi dari nilai seluruh
perusahaan publik yang listed di BEJ
Menyedihkan memang..........
Berikut nilai perusahaan yang paling besar di Indonesia
dan menjadi jantung perekonomian di Indonesia
1. TLKM (PT. Telkom) nilainya 102 Trilyun rupiah
2. BBCA (PT. Bank Central Asia) nilainya 39,5 Trilyun
rupiah
3. ASII (PT. Astra International) nilainya 35 Trilyun
rupiah
4. BBRI ( PT. Bank Rakyat Indonesia) nilainya 31 Tirlyun
rupiah
5. ISAT (PT. Indosat) nilainya 27,5 Trilyun rupiah
6. BMRI (PT. Bank Mandiri) nilainya 23 Trilyun rupiah
(Source Bloomberg, 17 Nov 2005)
Total 6 Perusahaan tersebut 258 Trilyun Rupiah
Kalo saya tidak salah Jamsosteknya Malasyia memiliki uang
600 Trilyun Rupiah
Kalo saya tidak salah Jamsosteknya Singapura memiliki uang
lebih besar lagi
Jadi kalo semua perusahaan tersebut pengen dijual semua
relatif akan langsung terbeli dan kita jadi kuli di negeri
sendiri
Seperti kata Bung Karno,
Janganlah kita menjadi bangsa Kuli dan Kuli diantara
bangsa-bangsa
hiks.....hiks.....hiks.........
Selamat merayakan hari pahlawan 10 November, semoga
pengorbanan para pahlawan kita tidak sia-sia
Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "mm-ugm" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
