Strategi Investasi Saham di Kondisi Bearish Tanpa Stres
Sejumlah pemain saham khawatir Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta akan terus merosot sampai akhir tahun 2005 ini. Sejumlah asumsi yang melandasi pemikiran ini antara lain laju inflasi yang sangat tajam selama bulan Oktober mencapai 8.7% akibat kenaikan BBM, inflasi periode Januari – Oktober sebesar 15,65%, inflasi Oktober 2004 – Oktober 2005 mencapai 17 %, naiknya suku bunga SBI menjadi 12,25% dan rupiah yang cenderung belum menguat terhadap dolar.
Angka-angka tersebut adalah indicator yang telah terjadi, bahkan inflasi 2005 diperkirakan bisa menyentuh titik 17 % dan SBI rate diperkirakan akan berada pada angka 14%. Sebuah bencana besar bila sampai terjadi.
Banyak investor yang sudah pasrah terhadap nilai saham yang dibelinya diharga atas. Mereka cenderung menahan saham itu hingga suatu saat berharap akan mencapai harga beli kembali. Tetapi adakah strategi lain untuk berinvestasi saham di kondisi pasar modal yang bearish atau menurun?
Kalau kita berpikir ada jalan, maka akan ada jalan keluar. Tetapi bila kita berpikir tidak ada jalan, maka jalan itu tidak akan ada. Paling tidak harus mencoba segala upaya untuk memperkecil tingkat risiko/rugi.
Prinsip dasar investasi ialah high risk high return. Saat seseorang memutuskan investasi saham seharusnya sudah memahami prinsip itu dan memiliki tingkat toleransi terhadap risiko. Alangkah bijaknya bila investor memiliki batas bawah toleransi terhadap penurunan harga saham. Misalnya bila harga saham telah turun lebih dari 1 – 2 % maka secara rela dilakukan realisasi rugi dengan menjual saham.
Saya mencoba membahas sebuah contoh sederhana bagaimana strategi investasi saham saat pasar turun. Namun ada asumsi-asumsi yang harus kita sepakati bersama.
Pertama, tidak sertamerta teknik ini bisa digunakan di semua saham. Paling tidak teknik ini bisa digunakan untuk saham-saham bluechips dan yang mempunyai rata-rata frekuensi yang besar tiap harinya. Sudah pasti strategi ini kurang cocok dan sangat berisiko untuk saham gorengan (saham yang dimainkan oleh pihak tertentu).
Kedua, investor harus mempunyai keberanian untuk merealisasikan kerugian baik untuk sementara waktu atau selamanya. Lebih baik berani stop loss dibandingkan membiarkan nilai asset kita terus mengecil akibat harga saham yang turun. Bila ternyata harga saham yang kita stop loss itu naik maka kita sebut realisasi rugi, dan –meskipun sulit- kita harus menerima kondisi itu dengan ucapan syukur agar kita tidak stress.
Ketiga, asumsi bahwa kita tidak kapok untuk bermain saham kembali. Bila kita sudah babak belur di saham dan memutuskan berhenti bermain saham, maka selesai sudah sampai disini. Justru teknik ini digunakan untuk mengurangi nilai kerugian.
Keempat, kita harus mempunyai broker/pialang saham yang dipercaya untuk memantau dengan detail pergerakan saham yang kita miliki. Broker tersebut harus senantiasa memberikan informasi terhadap perubahan harga atau berita-berita yang sangat berpengaruh, baik secara fundamental maupun secara teknikal.
Baiklah, sekarang kita mulai. Saya memakai contoh harga saham Astra International yang berkode ASII. Pada perdagangan Rabu 9 November 2005, harga saham ini dibuka di Rp. 9250,- meski sempat naik satu point, harga saham ini terus merosot hingga ditutup diharga Rp. 9050,-. Hari itu adalah saat cum deviden untuk ASII sebesar Rp. 100,-, artinya mereka yang mempunyai saham ASII sampai penutupan perdagangan akan mendapat deviden. Seringkali, harga akan turun ketika saham berada di ex deviden (satu hari setelah cum deviden).
Sebenarnya, saham ASII pada saat itu tengah berada pada titik krusial, titik dimana menentukan arah selanjutnya. Apakah naik atau justru turun. Secara grafik teknikal titik itu ada di posisi 9000,-. Artinya bila harga menyentuh angka di bawah itu, maka signal turun sedikit terbuka. Padahal hari itu ASII sempat menyentuh harga terendah 8900 dibawah harga krusial 9000, sekalipun naik kembali dan ditutup harga 9050 hari itu.
Ketika itu seorang nasabah yang membeli saham ini di harga 9150 – 9250 seharusnya sudah harus mengambil ancang-ancang jual sekalipun rugi. Ternyata hal ini terbukti diperdagangan 2 hari berikutnya hingga jumat 11 November 2005 dimana harga ASII ditutup di harga 8650,-
Ini sebuah pelajaran berharga agar investor harus berani menjual sahamnya disaat rugi sekalipun, untuk menghindari nilai asset yang mengecil akibat harga yang terus turun.
Mari kita hitung, beli di harga 9150, hari itu ditutup di 9050. Sebuah signal teknikal telah dijelaskan di atas menunjukkan arah turun. Bila kita rela menjual saham tersebut di harga 9000 di hari berikutnya (kamis), maka dihari itu pula saham ASII kita bisa dibeli harga Rp. 8800,-.
Artinya di hari kamis, saham ASII kita tetap ada tetapi kita memperoleh uang untuk memperkecil nilai rugi saat beli di 9150.
Bila saham di 9150 itu tidak dijual maka nilai asset kita tergerus 350. Tetapi karena ketika itu kita jual di 9000 dan beli kembali di 8800 maka ada uang masuk sebesar 200 perak diluar komisi transaksi. Bukankah ini memperkecil nilai kerugian??
Hari Jumatnya, kita lakukan hal yang sama. Ketika pembukaan bursa jumat lalu kita jual ASII kita di 8800,- hari itu saham tersebut bisa kita beli kembali di 8600,-.
Ada
uang masuk sebesar 200 perak lagi.
Saya coba hitung di excel dengan fee beli 0.3 % dan fee jual 0.4 % untuk asumsi perdagangan ASII tadi. Kesimpulannya :
Satu, bila saham yang kita beli di harga 9150 sebanyak 10 lot tidak kita jual hingga jumat 11 November 2005 lalu maka akan ada potensial rugi sebesar Rp, 3.059.250,- (sudah termasuk komisi). Asumsi potensial rugi itu dihitung bila saham terjual di 8600,-
Kedua, bila kila lakukan trading jual beli di hari kamis dan jumatnya maka kita akan mendapat uang yang memperkecil nilai rugi kita sebesar Rp. 1.383.000,-. Nilai tersebut akan mengurangi jumlah potensial rugi sehingga total potensial rugi kita menjadi ‘hanya’ Rp. 1.676.250,-. Bandingkan bila saham itu tetap kita simpan dan tidak kita jual maka nilai potensial rugi mencapai Rp. 3.059.250,-
Strategi itu bisa dilakukan dengan dasar kepasrahan untuk merealisasikan kerugian serta keberanian membeli kembali saham bila harganya turun. Tanpa asumsi itu tak mungkin strategi ini bisa dijalankan. Dan kita hanya bisa membiarkan nilai asset saham kita turun tanpa upaya memperkecil potensial rugi.
Siapapun bisa melakukan strategi sederahana ini, namun jangan lupa berkonsultasi dengan pialang saham agar kita mendapat analisis yang mendekati kecocokan dengan kondisi yang berlaku. Jangan takut bertransaksi saham di pasar bearish, karena selalu ada peluang saat bursa naik maupun turun. Sekali lagi, keberanian menghentikan kerugian untuk mengantisipasi penurunan harga kelihatannya bisa diterapkan untuk bursa yang menurun. ([EMAIL PROTECTED])
Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
| Undergraduate business schools | Business school essay | Business school and education |
| Top business schools | Best business schools | Business school minnesota |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "mm-ugm" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
