Berlian Idris <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
To: ppi belanda <[EMAIL PROTECTED]>,
ppi rotterdam <[EMAIL PROTECTED]>, ppmr <[EMAIL PROTECTED]>
From: Berlian Idris <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue, 3 Jan 2006 15:17:56 -0800 (PST)
Subject: [ppi-rotterdam] Dokumen Rahasia di Balik Peledakan Bom di Indonesia

Artikel seru banget! Kebenaran yg mengejutkan, langsung dari sumbernya.. dari milis tetangga..
 
salam,
bili 
 
Date: Sun, 18 Dec 2005 00:28:51 -0800 (PST)
From: muhamad thorik
Subject: Wawancara Fredrick (K2PSI)


Dokumen Rahasia di Balik Peledakan Bom di Indonesia


Frederick Blake Burks
(Mantan Penerjemah Departemen Luar Negeri
Amerika Serikat)

Pertemuan kami di rumah Ibu Mega terjadi pada tanggal 16 September
2002. Waktu itu saya diminta untuk mendampingi seorang utusan CIA, anggota
dewan keamanan nasional Amerika, Kareen Brooks, juga Ralph L Boyce
selaku duta besar Amerika untuk Indonesia. Pertemuan ini sangat
dirahasiakan, dan hanya berlangsung sekitar 20 hingga 30 menit saja.

Saya masih ingat ketika rombongan kami mendesak Presiden Megawati agar
menuruti permintaan George W Bush, supaya Abubakar Ba’asyir segera
diekstradisi ke Amerika. Namun beginilah jawaban Ibu Mega: “Maaf, saya
tidak bisa memenuhi permintaan kalian. Ba’asyir itu cukup terkenal, dan
kalau saya serahkan pada Amerika, tentulah akan mempersulit posisi saya di
sini.”

Para utusan itu kaget melihat keberanian Ibu Mega. Kemudian mereka
berusaha mendesak secara halus, hingga seorang utusan CIA mengangkat
kepalanya, dan berkata:
“Kami mengerti kesulitan yang dialami Ibu Presiden. Tapi Anda harus
paham dan mengerti, siapa itu Ba’asyir? Dia itu orang berbahaya. Dari
keterangan Omar Al-Farouk, kelompok Islam yang dipimpin Ba’asyir itu sudah
dua kali merencanakan untuk membunuh Ibu Presiden. Bahkan pengeboman
gereja di malam natal kemarin, juga Ba’asyir-lah yang menjadi otaknya….”

Hingga akhir pertemuan itu Ibu Mega tetap pada pendiriannya. Ia tidak
menanyakan apa bahayanya kalau Indonesia tidak menyerahkan Ba’asyir
kepada Amerika. Namun di akhir perdebatan sengit itu, Ibu Mega sempat
melontarkan kata-kata: “Pokoknya kami tidak akan menyerahkan Ba’asyir,
kecuali kalau ada opini-opini negatif tentang dia….”

Setelah itu apa yang terjadi? Belum genap sebulan setelah pertemuan
kami, pada tanggal 12 Oktober 2002 terjadilah peledakan Bom Bali, yang
kebanyakan korbannya adalah turis-turis Australia.

Tentu saja saya harus menghubungkan peristiwa itu dengan pertemuan di
rumah Ibu Mega. Sudah sejak itu saya membaca bahwa pengeboman itu
pastilah kerjaan elite penguasa Amerika, dengan memakai kaki-tangan
orang-orang lokal sebagai pelakunya. Tujuannya untuk membuat citra-buruk kepada
Ba’asyir yang akan dijadikan kambing-hitam sebagai pelaku pengeboman
itu.

Kemudian yang menjadi pertanyaan: kenapa yang dijadikan korban justru
turis-turis Australia? Hal ini mudah dipahami, karena sebelum peristiwa
Bom Bali itu, pemerintah dan rakyat Australia kurang mendukung perang
terhadap terorisme yang gencar dipropagandakan Amerika. Dan pada
kenyataannya, siapakah yang diuntungkan setelah peristiwa pengeboman itu? Di
sinilah kunci utamanya….

Saya sendiri baru mengenal Ba’asyir dalam kunjungan-kunjungan terakhir
ke Indonesia. Di Amerika dia kurang dikenal, karena memang rakyat
Amerika kurang tertarik untuk mengikuti kejadian-kejadian di luar negerinya.
Dalam bulan-bulan ini memang ada beberapa artikel yang membahas
terorisme yang disangkut-pautkan dengan Ba’asyir, tapi hampir semuanya
cenderung tendensius, dan hanya dibuat-buat untuk menelek-jelekkan Ba’asyir.
Entahlah, untuk apa mereka capek-capek menulis artikel semacam itu….

Lantas bagaimana sosok Ba’asyir itu yang sebenarnya? Setelah saya lebih
akrab mengenalnya, sungguh pada diri Ba’asyir itu tidak ada watak
teroris sama sekali. Memang sepintas dia kelihatan teguh dan tegas pada
sikap dan pendiriannya. Namun kenyataannya dia orang baik-baik. Dalam
perbincangan dengan saya, dia memang mengakui pernah bercita-cita membangun
Indonesia berdasarkan syariat Islam. Menurut saya, hal ini wajar dan
sah-sah saja. Pemikiran seperti itu tak bisa dilarang dan merupakan hak
asasi dia. Selama pikiran itu tidak dipaksakan dengan kekerasan kepada
pihak lain, hal itu harus kita anggap sebagai perbedaan pendapat dan
wacana saja. Kenapa yang kewalahan dan uring-uringan justru adalah
elite-elite Amerika? Hal ini harus dipahami secara kultural dan struktural.

Dalam soal ini memang ada peneliti Amerika yang tidak sependapat dengan
saya, misalnya Sidney Jones selaku Direktur International Crisis Group
(ICG). Saya menilai, cukup banyak kelemahan pada analisis Sidney Jones.
Dia tidak paham tentang seluk-beluk rekayasa yang menjadi proyek bagi
oknum-oknum elite penguasa Amerika. Tapi saya bisa mengerti, karena
Sidney memang tidak punya basis di bidang itu. Pengalaman dan aktifitas dia
hanya di sekitar human right sebelum terjun ke dunia penelitian tentang
jaringan terorisme.

Sebelum masuk ke wilayah Asia Tenggara, boleh jadi Sidney hanya
menerima laporan secara sepihak, atau menghimpun informasi yang dibuat-buat
oleh intelijen. Bolehlah dikatakan bahwa Sidney salah sumber sebelum
melakukan penelitian tentang terorisme, hingga akhirnya dia tak punya
pegangan yang kokoh seperti sekarang ini.

Secara pribadi, pada awalnya saya sendiri kurang yakin mengenai adanya
konspirasi di tingkat elite penguasa Amerika, tapi setelah saya
mendengar, menerima masukan dari mantan-mantan FBI dan CIA, bahkan saya
mengalaminya sendiri, waduh, luar biasa kelicikan dan kebohongan yang menjadi
proyek-proyek mereka itu. Karena itu saya berkewajiban untuk mengungkap
dan membongkarnya, dan itulah yang menjadi aktifitas saya sekarang ini.

Sebelum diminta sebagai saksi atas persidangan Abubakar Ba’asyir, saya
sering diwawancarai oleh media-media lokal di Amerika, juga sering
diundang selaku narasumber di kampus-kampus. Di hadapan ribuan mahasiswa
saya sampaikan terang-terangan mengenai kegiatan yang sedang saya geluti
sekarang ini.

Kalau ada yang menanyakan, apakah saya tidak takut diancam atau
diintimidasi oleh Pemerintah Amerika? Saya tegaskan bahwa saya percaya pada
Kekuasaan Yang di Atas. Saya hanya mengungkap apa-apa yang saya ketahui,
berdasarkan fakta dan data-data yang saya yakini kebenarannya. Saya
tidak tertarik untuk mencari-cari musuh. Dan saya percaya, masih banyak
orang Amerika yang baik dan menggunakan hatinuraninya, termasuk di
kalangan pejabat pemerintahannya sendiri.

Saya hanya membongkar cara-cara kerja dari kalangan elite penguasa
tertentu, yang banyak mencelakakan umat manusia di bumi ini, termasuk
peristiwa WTC dan Pentagon itu. Persoalan ini memang tidak gampang, dan
butuh persatuan dan kekompakan dari kawan-kawan pejuang di seluruh dunia.

Hal ini perlu saya tegaskan, karena kawan-kawan jurnalis di Amerika
sendiri belum siap menghadapi kenyataan ini. Mereka masih gemar
mengunyah-ngunyah opini bikinan yang dicekoki dari mulut penguasa, dan karenanya
mereka masih takut memberi pernyataan ilmiah, dan hanya penyataan
politik belaka. Dalam kaitan ini saya sangat menghargai perkembangan dunia
pers di Indonesia, yang nampaknya lebih berani dan terbuka untuk
mengungkap fakta-fakta dari kejadian yang sebenarnya. Selamat berjuang….


(Dihimpun oleh Hafis Azhari, dari perbincangan bersama K2PSI di kampus
Universitas Paramadina, Jakarta)

atau klik disini -------------> www.geocities.com/k2psi_lsm






 Adisusanto

Sebastianus Adi Susanto


Yahoo! Photos – Showcase holiday pictures in hardcover
Photo Books. You design it and we’ll bind it!

Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***




SPONSORED LINKS
Undergraduate business schools Business school essay Business school and education
Top business schools Best business schools Business school minnesota


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke