----- Original Message -----
Sent: Thursday, January 12, 2006 9:24 AM
Subject: [asia91] tentang bahaya formalin
Aneh ya... kok
jadi kontradiktif dengan yang dikirim Dani Hari. Ini gue nemu tulisan di
http://puterakembara.org dari salah
satu dokter yang tergabung di organisasi tsb.
Pengaruh Formalin
Bagi Sistem Tubuh
Dr Widodo Judarwanto SpA, Rumah Sakit Bunda
Jakarta
Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian laboratorium yang
dilakukan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) di Jakarta, ditemukan
sejumlah produk pangan seperti ikan asin, mi basah, dan tahu yang memakai
formalin sebagai pengawet. Produk pangan berformalin itu dijual di sejumlah
pasar dan supermarket di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, dan Bekasi.
Adanya bahan aditif dan pengawet berbahaya dalam makanan ini sebenarnya sudah
lama menjadi rahasia umum. Tetapi masalah klasik tersebut kembali menjadi
pembicaraan hangat akhir tahun ini karena temuan Balai POM. Fakta ini lebih
menyadarkan masyarakat bahwa selama ini terdapat bahaya formalin yang
mengancam kesehatan yang berasal dari konsumsi makanan sehari-hari.
Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10-40% dari
formaldehid. Bahan ini biasanya digunakan sebagai antiseptic, germisida, dan
pengawet. Formalin mempunyai banyak nama kimia diantaranya adalah : Formol,
Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols,
Methanal, Formoform, Superlysoform, Formic aldehyde, Formalith,
Tetraoxymethylene, Methyl oxide, Karsan, Trioxane, Oxymethylene dan Methylene
glycol. Di pasaran, formalin bisa ditemukan dalam bentuk yang sudah
diencerkan, dengan kandungan formaldehid 10-40 persen.
FORMALIN DALAM
KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Formalin sudah sangat umum digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Di sektor industri sebenarnya formalin sangat banyak
manfaatnya. Formaldehid memiliki banyak manfaat, seperti anti bakteri atau
pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih lantai, kapal, gudang dan
pakaian, pembasmi lalat dan berbagai serangga lain. Dalam dunia fotografi
biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas. Bahan pembuatan
pupuk dalam bentuk urea, bahan pembuatan produk parfum, pengawet produk
kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formalin juga dipakai
sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak.. Di bidang industri kayu sebagai
bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). Dalam konsentrasi yag sangat
kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen
seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat
sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet. Di industri perikanan, formalin
digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan. Formalin
diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit ikan akibat
ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Meskipun demikian, bahan ini
juga sangat beracun bagi ikan. Ambang batas amannya sangat rendah, sehinggga
terkadang ikan yang diobati malah mati akibat formalin daripada akibat
penyakitnya. Formalin banyak digunakan dalam pengawetan specimen ikan untuk
keperluan penelitian dan identifikasi. Di dunia kedokteran formalin digunakan
untuk pengawetan mayat manusia untuk dipakai dalam pendidikan mahasiswa
kedokteran. Untuk pengawetan biasanya digunakan formalin dengan konsentrasi
10%.
Besarnya manfaat di bidang industri ini ternyata disalahgunakan
untuk penggunaan pengawetan industri makanan. Biasanya hal ini sering
ditemukan dalam industri rumahan, karena mereka tidak terdaftar dan tidak
terpantau oleh Depkes dan Balai POM setempat. Bahan makanan yang diawetkan
dengan formalin biasanya adalah mi basah, tahu, bakso, ikan asin dan beberapa
makanan lainnya. Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat
menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air,
sebagai bahan pengawet biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen. Bila
tidak diberi bahan pengawet makanan seperti tahu atau mi basah seringkali
tidak bisa tahan dalam lebih dari 12 jam.
Formaldehid juga dipakai
untuk reaksi kimia yang bisa membentuk ikatan polimer, dimana salah satu
hasilnya adalah menimbulkan warna produk menjadi lebih cerah. Sehingga
formalin dipakai di industri plastik. bahan pembuatan sutra buatan, zat
pewarna, cermin kaca. Sehingga formalin juga banyak dipakai di produk rumah
tangga seperti piring, gelas dan mangkuk yang berasal dari plastik atau
melamin. Bila piring atau gelas tersebut terkena makanan atau minutan panas
maka bahan formalin yang terdapat dalam gelas akan larut. Dari penelitian
hasil air rebusan yang kemudian dibawa ke Laboratorium Kimia Universitas
Indonesia, ini didapatkan hasil, bahwa kandungan formalin pada hampir semua
produk yang diteliti, kandungan formalin sangat tinggi antara 4,76 ? 9,22
miligram per liter.
Barang-barang tersebut bila digunakan dalam
keadaan dingin sebenarnya tidak berbahaya. Tetapi sangat berbahaya bila
wadah-wadah ini dipakai untuk menaruh bahan makanan panas seperti membuat
minuman teh, kopi, atau makanan berkuah panas.
BAHAYA PAPARAN
FORMALIN
Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yaitu
mulut dan pernapasan. Sebetulnya, sehari-hari kita menghirup formalin dari
lingkungan sekitar. Polusi yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik,
mengandung formalin yang mau tidak mau kita hirup, kemudian masuk ke dalam
tubuh. Asap rokok atau air hujan yang jatuh ke bumi pun sebetulnya juga
mengandung formalin.
Formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai
kulit dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa : luka bakar pada
kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada
manusia. Jika kandungan dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan
hampir semua zat di dalam sel, sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan
kematian sel yang menyebabkan kerusakan pada organ tubuh. Formalin merupakan
zat yang bersifat karsinogenik atau bisa menyebabkan kanker. Beberapa
penelitian terhadap tikus dan anjing pemberian formalin dalam dosis tertentu
jangka panjang secara bermakna mengakibatkan kanker saluran cerna seperti
adenocarcinoma pylorus, preneoplastic hyperplasia pylorus dan adenocarcinoma
duodenum. Penelitian lainnya menyebutkan pengingkatan resiko kanker faring
(tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat
paparan formalin melalui hirupan.
Dalam jumlah sedikit, formalin akan
larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. Sehingga
formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah. Imunitas tubuh sangat
berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. Jika imunitas tubuh
rendah atau mekanisme pertahanan tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan
kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. Usia anak khususnya
bayi dan balita adalah salah satu yang rentan untuk mengalami gangguan ini.
Secara mekanik integritas mukosa (permukaan) usus dan peristaltik (gerakan
usus) merupakan pelindung masuknya zat asing masuk ke dalam tubuh. Secara
kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi zat berbahaya
tersebut. Secara imunologik sIgA (sekretori Imunoglobulin A) pada permukaan
mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal zat asing masuk ke
dalam tubuh. Pada usia anak, usus imatur (belum sempurna) atau sistem
pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan
bahan berbahaya masuk ke dalam tubuh sulit untuk dikeluarkan. Hal ini juga
akan lebih mengganggu pada penderita gangguan saluran cerna yang kronis
seperti pada penderita Autism, penderita alergi dan sebagainya.
Menurut
IPCS (International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas
aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter. IPCS adalah lembaga khusus
dari tiga organisasi di PBB, yaitu ILO, UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan
pada keselamatan penggunaan bahan kimiawi. Bila formalin masuk ke tubuh
melebihi ambang batas tgersebut maka dapat mengakibatkan gangguan pada organ
dan system tubuh manusia. Akibat yang ditimbulkan tersebut dapat terjadi dalam
waktu singkat atau jangka pendek dan dalam jangka panjang, bisa melalui
hirupan, kontak langsung atau tertelan.
Akibat jangka pendek yang
terjadi biasanya bila terpapar formalin dalam jumlah yang banyak, Tanda dan
gejala akut atau jangka pendek yang dapat terjadi adalah bersin, radang
tonsil, radang tenggorokan, sakit dada, yang berlebihan, lelah, jantung
berdebar, sakit kepala, mual, diare dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat
tinggi dapat menyebabkan kematian.
Bila terhirup formalin mengakibatkan
iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada
hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk. Kerusakan jaringan sistem saluran
pernafasan bisa mengganggu paru-paru berupa pneumonia (radang paru) atau edema
paru ( pembengkakan paru).
Bila terkena kulit dapat menimbulkan
perubahan warna, kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa
terbakar. Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata
memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air
mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat
menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa
mata.
Apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa
terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi
pendarahan , sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah
rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi
kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat
dan ginjal.
Meskipun dalam jumlah kecil, dalam jangka panjang formalin
juga bisa mengakibatkan banyak gangguan organ tubuh. Apabila terhirup dalam
jangka lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala,
gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual,
mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru. Gangguan otak mengakibatk
efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, gangguan emosi,
keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi, daya ingat berkurang dan
gangguan perilaku lainnya. Dalam jangka panjang dapat terjadi gangguan haid
dan kemandulan pada perempuan. Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut,
tenggorokan, paru dan otak juga bisa terjadi.
Apabila terkena kulit,
kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari
tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan terjadi radang kulit
yang menimbulkan gelembung. Jika terkena mata, bahaya yang paling menonjol
adalah terjadinya radang selaput mata. Jika tertelan akan menimbulkan iritasi
pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada
tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada.
PENANGANAN
BILA TERPAPAR FORMALIN
Bila terkena hirupan atau terkena kontak
langsung formalin, tindakan awal yang harus dilakukan adalah menghindarkan
penderita dari daerah paparan ke tempat yang aman. Bila penderita sesak berat,
kalau perlu gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis untuk melakukan
pernafasan buatan. Bila terkena kulit lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu
yang terkena formalin. Cuci kulit selama 15-20 menit dengan sabun atau
deterjen lunak dan air yang banyak dan dipastikan tidak ada lagi bahan yang
tersisa di kulit. Pada bagian yang terbakar, lindungi luka dengan pakaian yag
kering, steril dan longgar.
Bilas mata dengan air mengalir yang cukup
banyak sambil mata dikedip-kedipkan. Pastikan tidak ada lagi sisa formalin di
mata. Aliri mata dengan larutan dengan larutan garam dapur 0,9 persen (seujung
sendok teh garam dapur dilarutkan dalam segelas air) secara terus-menerus
sampai penderita siap dibawa ke rumah sakit atau ke dokter. Bila tertelan
segera minum susu atau norit untuk mengurangi penyerapan zat berbahaya
tersebut. Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah
sakit.
Yang lebih menyulitkan adalah pemantauan efek samping jangka
panjang. Biasanya hal ini terjadi akibat paparan terhadap formalin dalam
jumlah kecil. Dalam jangka pendek akibat yang ditimbulkan seringkali tanpa
gejala atau gejala sangat ringan. Jangka waktu tertentu gangguan dan gejala
baru timbul.
BAGAIMANA MENYIKAPINYA?
Isu adanya formalin yang
terdapat dalam bahan makanan dan alat makan sehar���ari ini memang harus
diwaspadai. Tetapi sebaiknya tidak harus disikapi secara berlebihan. Bukan
berarti kita harus sama sekali tidak makan tahu, bakso, mi basah atau ikan
asin. Atau kita tidak harus menghindari bahan plastik atau melamin untuk alat
makan kita. Karena tidak semua bahan makanan atau alat makan tersebut
mengandung formalin. Yang penting konsumen harus jeli dengan memperhatikan
kualitas makanan dan alat makan yang dibeli atau dipakai.
Untuk alat
makan berasal dari plastik atau melamin, kalau mudah sekali pudar atau kusam,
berarti bahannya banyak yang terkikis maka produk seperti ini perlu dihindari.
Jika tidak yakin akan kualitas produk melamin yang Anda punya, sebaiknya
jangan gunakan piranti makan tersebut untuk makanan serta minuman panas. Untuk
makanan dingin, biasanya tidak berbahaya. Formalin yang sudah membentuk
polimer dalam keadaan dingin sulit untuk terurai.
Dalam mengonsumsi
bahan makanan kita harus mencermati makanan yang mengandung formalin. Kalau
tahu tahan sampai berhari-hari, kenyal dan padat sangat mungkin mengandung
formalin. Sebetulnya, makanan yang mengandung formalin memiliki bau yang khas,
sehingga bisa dideteksi oleh orang awam sekalipun.
Pencegahan paparan
langsung terhadap formalin harus dilakukan, khususnya bagi pekerja industri
yang memakai formalin. Agar tidak terhirup gunakan alat pelindung pernafasan,
seperti masker, kain atau alat lainnya yang dapat mencegah kemungkinan
masuknya formalin ke dalam hidung atau mulut. Lengkapi sistem ventilasi dengan
penghisap udara (exhaust fan) yang tahan ledakan. Gunakan pelindung mata atau
kacamata pengaman yang tahan terhadap percikan. Sediakan kran air untuk
mencuci mata di tempat kerja yang berguna apabila terjadi keadaan darurat.
Pencegahan paparan pada kulit sebaiknya menggunakan sarung tangan dan pakaian
pelindung bahan kimia yang tahan terhadap bahan kimia. Hindari makan, minum
dan merokok selama bekerja atau cuci tangan sebelum makan.
Meskipun
dampaknya sangat berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh, sangatlah tidak
bijaksana jika melarang penggunaan formalin. Banyak industri memerlukan
formalin sehingga harus bijaksana dalam menggunakannya. Paling utama adalah
dengan tidak menggunakannya pada makanan, karena masih ada pengawet makanan
yang aman. Depkes atau Badan POM beserta instansi terkait harus mengawasi
secara ketat dan terus menerus dalam masalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA :
1. Hurni, H. and H. Ohder. 1973. Reproduction study with
formaldehyde and hexamethylenetetramine in beagle dogs. Food Cosmet. Toxicol.
11: 459-462.
2. Johannsen, F.R., G.J. Levinskas and A.S. Tegeris.
1986. Effects of formaldehyde in the rat and dog following oral exposure.
Toxicol. Lett. 30: 1-6.
3. Seidenberg, J.M., D.G. Anderson and R.A.
Becker. 1986. Validation of an in vivo developmental toxicity screen in the
mouse. Teratol. Carcinogen. Mutagen. 6: 361-374.
4. Takahashi, M., R.
Hasegawa, F. Furukawa, K. Toyoda, H. Sato and Y. Hayashi. 1986. Effects of
ethanol, potassium metabisulfite, formaldehyde and hydrogen peroxide on
gastric carcinogenesis in rats after initiation with N-methyl-
N'nitro-N'nitrosoguanidine. Jap. J. Cancer Res. 77: 118-124.
5. Til,
H.P., R.A. Woutersen, V.J. Feron, V.H.M. Hollanders, H.E. Falke and J.J.
Clary. 1989. Two-year drinking water study of formaldehyde in rats. Food Chem.
Toxicol. 27(2): 77-87.
6. U.S. EPA. 1989. Draft Drinking Water Health
Advisory for Formaldehyde. Office of Drinking Water, Washington, DC.
7. Acheson, E.D., M.J. Gardner, B. Pannett, H.R. Barnes, C. Osmond and
C.P. Taylor. 1984. Formaldehyde in the British Chemical Industry. The Lancet.
p. 611-615.
8. Albert, R.E., A.R. Sellakumar, S. Laskin, M. Kuschner,
N. Nelson and C.A. Snyder. Gaseous formaldehyde and hydrogen chloride
induction of nasal cancer in the rat. J. Natl. Cancer Inst. 68(4):
597-603.
9. Blair, A., P.A. Stewart, R.N. Hoover, et al. 1986.
Mortality among industrial workers exposed to formaldehyde. J. Natl. Cancer
Inst. 76(6): 1071-1084.
10. Blair, A., P. Stewart, P.A. Hoover, et al.
1987. Cancers of the nasopharynx and oropharynx and formaldehyde exposure. J.
Natl. Cancer Inst. 78(1): 191-193.
11. Consensus Workshop on
Formaldehyde. 1984. Deliberations of the Consensus Workshop on Formaldehyde,
October 3-6, 1983. Little Rock, AK. (Final report)
12. Dalbey, W.E.
1982. Formaldehyde and tumors in hamster respiratory tract. Toxicology. 24:
9-14.
13. Hayes, R.B., J.W. Raatgever, A. de Bruyn and M. Gerin. 1986.
Cancer of the nasal cavity and paranasal sinuses, and formaldehyde exposure.
Int. J. Cancer. 37: 487-492.
14. Kerns, W.D., K.L. Pavkov, D.J.
Donofrio, E.J. Gralla and J.A. Swenberg. 1983. Carcinogenicity of formaldehyde
in rats and mice after long-term inhalation exposure. Cancer Res. 43:
4382-4392.
15. Liebling, T., K.D. Rosenman, H. Pastides, R.G. Griffith
and S. Lemeshow. 1984. Cancer mortality among workers exposed to formaldehyde.
Am. J. Ind. Med. 5: 423-428.
16. Olsen, J.H., S.P. Jensen, M. Hink, K.
Faurbo, N.O. Breum and O.M. Jensen. 1984. Occupational formaldehyde exposure
and increased nasal cancer risk in man. Int. J. Cancer. 34:
639-644.
17. Rusch, G.M., J.J. Clary, W.E. Rinehart and H.F. Bolte.
1983. A 26-week inhalation toxicity study with formaldehyde in the monkey, rat
and hamster. Toxicol. Appl. Pharmacol. 68: 329-343.
18. Sellakumar,
A.R., C.A. Snyder, J.J. Solomon and R.E. Albert. Carcinogenicity of
formaldehyde and hydrogen chloride in rats. Toxicol. Appl. Pharmacol. 81:
401-406.
19. Stayner, L.S., A.B. Smith, G. Reeve, et al. 1985.
Proportionate mortality study of workers in the garment industry exposed to
formaldehyde. Am. J. Ind. Med. 7: 229-240.
20. Stayner, L.T., L.
Elliott, L. Blade, R. Keenlyside and W. Halperin. 1988. A retrospective cohort
mortality study of workers exposed to formaldehyde in the garment industry.
Am. J. Ind. Med. 13(6): 667-682.
21. Tobe, M., T. Kaneko, Y. Uchida, et
al. 1985. Studies of the inhalation toxicity of formaldehyde. National
Sanitary and Medical Laboratory Service (Japan). p. 1-94.
22. Ulsamer,
A.G., K.C. Gupta, M.S. Cohn and P.W. Preuss. 1982. Formaldehyde in indoor air:
Toxicity and risk. In: Proceed. 75th Ann. Meet. Air Pollut. Control Assoc. 16
p.
23. U.S. EPA. 1987. Assessment of Health Risk to Garment Workers and
Certain Home Residents from Exposure to Formaldehyde. Office of Toxic
Substances, Washington, DC.
24. Vaughn, T.L., C. Strader, S. Davis and
J.R. Daling. 1986a. Formaldehyde and cancers of the pharynx, sinus and nasal
cavity: I. Occupational exposures. Int. J. Cancer. 38:
677-683.