Contact Person : Agus - 0818483823
 

Dalam minggu ini, rencana mas Hamid mo paparin mengenai kagama

untuk harinya, dia available kamis, 2 Februari 2006 jam 19.00 an

 

 

Mas Hamid adalah SEKUM KAGAMA.  Termasuk ring I nya SBY. Punya akses informasi primer ke pemerintah skrg.
 
 
Nah, untuk tema besok kamis apa cuma ttg ke-KAGAMA-an...?
Mas Hamid pernah jadi nara sumber di KLP dua. Materi ttg "Teknik Negosiasi". Resumenya ada dibawah ini.
 

TEKNIK NEGOSIASI
By : Ir. Abdul Hamid Dipopramono (pengusaha, pengurus KADIN, HIPMI dan Sekjen Prodem)
Disajikan pada Forum "Kagama Leadership Program 2 (KLP 2)"
Gd. MM UGM, 1 Maret 2005
Ditulis oleh : Danar Listiawan

Manusia sebagai makhluk yang multidimensional dibekali anugerah oleh Yang Maha Pencipta berbagai kelebihan yang berguna untuk kehidupannya kelak. Dari sejak pertama kali hadir di dunia manusia secara fitrah telah menunjukkan talenta/bakat-bakat untuk selalu berusaha agar bisa survive dalam kehidupannya. Kemampuan untuk bertahan hidup bisa meliputi segala macam hal, dari yang paling sederhana seperti kemampuan komunikasi sehari-hari hingga yang membutuhkan keahlian dan pengalaman khusus seperti pada pilot pesawat tempur. 'Long Life Learning' kiranya adalah sebuah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan pencapaian kemajuan manusia dalam kehidupannya. Manusia dituntut untuk selalu mempelajari semua hal-hal yang baru yang belum pernah dipelajari sebelumya, zaman yang berubah begitu cepat menuntut kualifikasi yang selalu 'up date' agar manusia tidak tergilas oleh perubahan, karena tiada yang kekal didunia ini kecuali perubahan itu sendiri.

Sebagai kemampuan dasar seorang manusia, negosiasi merupakan salah satu skill yang telah ada sejak lahir. Bayi yang menangis bisa menjadi sebuah indikator sebuah kemampuan alami yang dimiliki manusia dalam ber-negosiasi, ketika seorang bayi menangis maka sang ibu cepat-cepat menenangkannya, memberinya air susu, meninabobokannya dan sang ibu begitu khawatir bila ada suatu hal terjadi pada bayinya. Bila dilihat dari kacamata manajemen usaha dari si bayi tersebut bisa dikategorikan sebagai salah satu kemampuan 'Negosiasi', negosiasi agar sang ibu bersedia untuk menina bobokan dan memenuhi segala keinginan si bayi, dan usaha tersebut berhasil. Sang ibu pun dengan suka rela, tulus ikhlas, tanpa adanya rasa keterpaksaan, lego-lilo, legowo mau memenuhi keinginan si bayi.

Selama ini kita banyak mengenal istilah negosiasi terbatas hanya untuk urusan tender, proyek, dan segala hal yang berhubungan dengan bisnis, padahal sebenarnya setiap aspek dalam kehidupan kita tidak bisa terlepas dari segala hal mengenai negosiasi. Kalau boleh kita analogikan manusia sebagai khalifah di bumi ini, bumi adalah ibarat sebuah meja bundar di mana kita semua duduk sejajar satu sama lain tak ada yang lebih tinggi dan tak ada yang lebih rendah saling melakukan negosiasi untuk memakmurkan bumi ciptaan Tuhan ini. Berangkat dari kesadaran seperti itu sejatinya prinsip negosiasi harus memenuhi kriteria "Win-Win Solution", tidak adanya unsur meminta tanpa adanya feed back ataupun meminta dengan paksa.

Teringat sebuah kalimat indah yang berasal dari filsafat Jawa : "Nglurug Tanpo Bolo - Menang Tanpo Ngasorake".
Kalimat ini begitu indah dan sangat relevan jika kita kaitkan dengan prinsip-pronsip negosiasi.

1.Nglurug Tanpo Bolo
Berarti 'Menyerang Tanpa Pasukan' ini adalah simbolisasi halus dari perjuangan diplomasi. Dimanapun kita berada, permasalahan apapun yang kita hadapi prioritaskan untuk selalu kita selesaikan melalui musyawarah dengan akal sehat, berdiplomasi serta bernegosiasi dengan pihak kawan, lawan, relasi atau bahkan dengan klien.

2.Menang Tanpo Ngasorake
Berarti 'Memenangkan (pertarungan) Tanpa Merendahkan (martabat & harga diri lawan)' adalah ungkapan untuk sebuah keberhasilan negosiasi atau musyawarah secara 'Win-win Solution', dari sudut pandang kita, kita pada hakikatnya adalah memenangkan pertempuran dan berhasil mengalahkan lawan akan tetapi pihak lawan tidak merasa dikalahkan dan sebagai pihak yang kalah (di mata kita) tidak pernah merasa direndahkan harga dirinya oleh kita. Sebuah sikap yang sungguh mulia, memuliakan seorang lawan.

Layaknya sebuah perjuangan, negosiasi kadangkala sangat menguras energi, biaya, waktu bahkan kadang-kadang juga emosi dan harga diri, tapi harus kita ingat tidak ada kesuksesan yang bisa diraih tanpa adanya perjuangan. Semakin berat negosiasi yang kita lakukan, semakin menguras energi negosiasi yang kita jalankan akan semakin besar pula tingkat kepuasan yang akan kita dapatkan. Negosiasi akan bernilai tinggi jika semakin sulit untuk mendapatkan kata sepakat antara kita dengan lawan negosiasi atau klien kita.

Sebenarnya bukanlah hal yang terlampau sulit bagi kita untuk bisa memenangkan sebuah negosiasi, yang pertama dan paling penting adalah bagaimana kita bisa menghimpun informasi sebanyak-banyaknya mengenai apa saja yang kira-kira nanti akan menjadi bahan negosiasi. Materi-materi tersebut bisa berupa latar belakang informasi, informasi-informasi pendukung negosiasi, data-data hasil penelitian baik empiris maupun kualitatif, isu-isu ekonomi (baik mikro maupun makro), politik, sosial & budaya. Apalagi di jaman ultra modern seperti sekarang ini di mana segala informasi bisa kita dapatkan setiap saat dalam genggaman tangan kita, penguasaan informasi adalah suatu syarat mutlak bagi berhasilnya sebuah proses negosiasi.

Dengan semakin banyaknya informasi yang kita kuasai secara langsung ataupun tidak langsung akan mengubah pandangan orang lain terhadap diri kita, citra diri kita akan terangkat dengan sendirinya, di mata orang lain kita menjelma menjadi sosok yang bernilai tinggi berkat dalamnya pengetahuan serta luasnya informasi serta jaringan/network yang kita miliki. Dengan kata lain negosiasi bisa menjadi sebuah media untuk menunjukan citra diri kita (personal/korporasi) dan seberapa tinggi nilai kita dimata orang lain, apalagi kalau kita berhasil memenangkan proses negosiasi tersebut.

Hambatan-Hambatan Yang Terjadi Dalam Proses Negosiasi
--------------------------------------------------------------------------------------
1. Experience (pengalaman)

Kurangnya pengalaman adalah salah satu faktor penyebab kegagalan/kekalahan kita dalam melakukan negoisasi. Pengalaman dalam artian banyaknya 'jam terbang' kita dalam bidang yang menjadi materi negosiasi ataupun kurangnya pengalaman kita dalam menghadapi negosiasi dan berhubungan dengan lawan negosiasi. Orang yang dibesarkan dari kecil hingga besar di kota Yogyakarta relatif akan mempunyai mindset dan kepribadian yang berbeda dengan mereka yang dibesarkan di Jakarta, Bandung ataupun Surabaya. Hal ini pulalah yang kelak akan membedakan sikap kita ketika kita dalam saat-saat yang cukup genting, dalam negosiasi gaji contohnya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa rata-rata lulusan Fresh Graduate UGM memiliki sifat yang 'nrimo' alias mau nerimo berapapun gaji yang akan dibayar oleh perusahaan kepada dirinya. Bahkan ada joke dari seorang rekan yang bekerja di sebuah konsultan manajemen, menurutnya "yaa pantes lah kalo reksa dana UGM paling kecil asetnya dibandingkan dengan reksa dana ITB ataupun UI lha wong rata-rata standar gaji lulusan UGM juga masih dibawah lulusan ITB dan UI je". Ini sebuah indikasi kecil bagi lulusan UGM bahwa kebanyakan dari kita kurang atau tidak bisa menetapkan harga yang pantas bagi diri kita sendiri. Itu semua akibatnya kurangnya pengalaman, baik pengalaman yang diperoleh melalui pergaulan, buku-buku, majalah ataupun dalam mengakses informasi-informasi yang penting untuk menetapkan seberapa besar sebenarnya nilai kita di mata perusahaan pencari tenaga kerja.

Ada sebuah cerita menarik, sebuah studi kasus dimana raksasa IT semacam IBM selama 20 tahun lebih berdiri di Indonesia tidak pernah mau mempekerjakan lulusan dari UGM. Kebanyakan karyawan IBM Indonesia berasal dari ITB, IPB, UI dan juga lulusan luar negeri. Sebuah kasus yang sungguh ironis di mana sebagai institusi akademik terbesar di tanah air lulusan UGM tidak dihargai sama sekali oleh perusahaan multinasional sekaliber IBM.Hal ini berawal dari kesalahan para lulusan UGM terdahulu yang kurang bisa menetapkan harga yang 'pantas' bagi dirinya sendiri. Memang secara logika IBM benar, bagaimana si karyawan ini minta dihargai oleh perusahaan, sedang menghargai dirinya sendiri saja dia tidak bisa.

2. Belajarlah Untuk Menuntut
Orang yang terlalu penurut dan tidak pernah menuntut akan dihargai rendah oleh orang lain, kita akan dianggap lemah, tidak punya pendirian, mudah diperintah oleh orang lain, dan berbagai sebutan negatif lainnya, bahkan yang lebih parah orang lain akan dengan mudah menginjak-injak kita karena berpikiran kita tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya. Selama kita belum menunjukkan bahwa kita mempunyai 'nilai tawar' yang tinggi orang lain akan dengan mudah meremehkan kita dan bisa berbuat semaunya terhadap diri kita. Cobalah untuk sesekali kita menuntut lebih demi kebaikan diri kita, tapi dengan catatan kita juga telah memberikan kontribusi yang sebanding dengan apa yang akan kita tuntut. Menuntut fasilitas yang lebih baik, menuntut kenaikan gaji yang layak, menuntut untuk minta dipromosikan naik jabatan, dsb. Untuk itulah yang pertama-tama harus kita lakukan adalah merubah mindset kita, jadikan diri kita adalah orang sosok yang dibutuhkan banyak orang dan kita orang lain, relasi, kawan, atasan kita atupun bahkan lawan kita semua bergantung kepada kita. Setelah mereka mulai bergantung kepada kita sebenarnya saat itulah momen di mana citra dan nilai diri kita sedang menanjak naik, gunakanlah seoptimal mungkin momen itu untuk merubah apa yang ingin kita rubah dalam hidup kita. Orang bijak pernah berkata : "Jika engkau menginginkan perubahan yang kecil, rubahlah tingkah lakumu, Jika engkau menginginkan perubahan yang besar dalam hidupmu rubahlah cara berpikir kamu".

Sebagai seorang karyawan kita bisa meningkatkan posisi tawar kita di mata perusahaan ataupun atasan dengan cara mentaati segala peraturan perusahaan, taat perintah atasan, serta bekerja keras memberikan kontribusi yang maksimal untuk kepentingan perusahaan. Ubahlah dari hal-hal yang terkecil yang bisa kita lakukan, ingatlah bahwah perubahan yang besar hanya bisa dibangun melalui perubahan-perubahan kecil yang secara konsisten, teratur kita lakukan dalam jangka waktu yang panjang. Perubahan yang besar dalam hidup tidak bisa kita bangun hanya dalam waktu semalam.

3. Kekeliruan Memilih Orang Yang Tepat Untuk Negosiasi
Seorang negosiator ulung bisa kita ibaratkan seperti samurai yang sedang bertempur menghabisi lawan-lawannya, dimana pengalaman, pengetahuan, jam terbang dalam melakukan negosiasi sangat menentukan kesuksesan ataupun kegagalan proses negosiasi bisnis yang akan kita lakukan. Kecepatan, kecermatan serta keakuratan dalam mengambil keputusan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan ataupun kegagalan proses negosiasi. KIita sebagai pemilik bisnis tentu sangat mengharapkan agar setiap proposal proyek yang kita ajukan akan menang dalam tender.

Seorang pebisnis yang ulung akan sangat cermat dalam memilih siapa orang yang pantas maju untuk negosiasi dengan klien, bak seorang raja dia harus pintar memilih siapakah yang berhak menjadi panglima tempurnya agar pasukannya memperoleh kemenangan gemilang di dalam peperangan nantinya. Seorang negosiator profesional bagaikan sebuah ujung tombak yang akan menentukan maju-mundurnya sebuah perusahaan, untuk itu wajar kiranya seorang negosiator bisa berharga sangat mahal. Harga seorang negosiator ulung (konon) ada yang bisa mencapai 5-10% dari nilai total sebuah proyek. Kesalahan dalam memilih seorang negosiator akan berakibat sangat fatal bagi kelanjutan nasib perusahaan, satu kesalahan kecil akan bisa mengakibatkan perusahaan merugi miliaran rupiah.

 
Semoga bermanfaat...
 
Salam,
Respati
 
=====================
 
Minggu, 29 Jan 2006,
Menjadi Kapitalis Ringan Tangan

Judul Buku : Spiritual Capital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis
Penulis : Danah Zohar & Ian Marshall
Penerjemah : Helmi Mustofa
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : I, Agustus 2005
Tebal : 254 halaman

Bisnis biasanya diidentikkan dengan pendapatan dan keuntungan --kalau bisa sebesar-besarnya dan secepat-cepatnya. Sejalan dengan itu, para pebisnis digambarkan sebagai orang-orang yang mementingkan diri sendiri, serakah, egoistis, oportunistis, berpikir jangka pendek, dan sejenisnya.

Namun, dalam kenyataannya, tidak semua pelaku bisnis memiliki sikap-sikap tersebut. Dalam buku Spiritual Capital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis, Danah Zahar dan Ian Marshall, menceritakan kisah "lain" seorang pelaku bisnis bernama Mats Lederhuasen. Ia adalah Chief Executive McDonald's Swedia. Dalam usia 30-an, ia sudah berada di puncak karir, memiliki keluarga yang harmonis, dan berlimpang uang, tapi ia tidak bahagia. Ia bimbang dengan pilihan hidupnya.

Mats sangat prihatin dengan keadaan dunia, khususnya tentang krisis lingkungan yang mendera dunia dan tentang runtuhnya masyarakat. Kata Mats, "Perusahaan-perusahaan besar seperti McDonal's tidak cukup banyak melakukan sesuatu untuk semua itu." Lebih lanjut ia mengatakan, "Saya hanya mencari uang. Saya habiskan sepuluh hingga dua belas jam setiap hari untuk bekerja pada McDonal's, dan saya tidak mengabdikan diri untuk hal-hal yang sangat saya pentingkan. Saya ingin memiliki arti. Namun, saya tidak tahu bagaimana caranya. Saya hanya tahu bahwa saya ingin menjadi bagian dari solusi, bukannya menjadi bagian dari masalah" (hlm. 111).

Dalam kebimbangan itu, Mats menetapkan tiga opsi. Yakni tetap bekerja di McDonald's, meninggalkan McDonald's untuk menjadi konsultan independen, atau pergi ke biara di Tibet untuk bermeditasi. Pilihan Mats jatuh pada opsi yang pertama, yakni tetap bekerja di McDonald's. Lalu Mats menulis surat ke Jack Greenburh, CEO McDonald's, untuk menyatakan keprihatinannya.

Yang mengejutkan, Mats diundang ke Chicago untuk berdiskusi dan mendapatkan promosi yang tidak pernah ia bayangkan, menjadi Vice President Strategy yang bertanggung jawab untuk "mendongkrak perubahan". Pada posisi itu Mats digaji sebagai "tukang kritik perusahaan". Mats menjalankan upaya menentang organisme yang dimodifikasi secara genetik, kampanye untuk pembuatan kandang ayam yang lebih luas, dan komitraan dengan Conservation International untuk menanggulangi kerusakan ekosistem bumi dan merancang sumbangan McDonald's dalam mewujudkan pertanian yang berkelanjutan (hlm. 128).

Kegelisahan yang dirasakan Mats, keprihatinannya, dan kebutuhannya yang mendalam untuk melakukan sesuatu guna menjadikan hidupnya melayani tujuan yang penuh makna itu, menurut Danah Zahar dan Ian Marshall, adalah tanda-tanda "kecerdasan spiritual (SQ)" yang tinggi.

Kecerdasan yang menyebabkan seseorang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai makna dan nilai hidup, dan hal itu menjadikannya ingin melibatkan hidupnya dalam jenis-jenis pengabdian demi perkara yang lebih tinggi atau lebih dalam. Kecerdasan hati nurani yang memberi manusia akan moralitas dan kesadaran akan yang sakral, satu kesadaran bahwa hidup punya dimensi lebih dalam ketimbang semata-mata "mendapatkan dan menghabiskan" modal material.

Lewat buku ini, penulis buku best seller SQ ini menawarkan pandangan baru dalam dunia bisnis. Menurutnya, budaya kapitalis dan praktik bisnis yang beroperasi di dalamnya tengah berada dalam krisis. Keduanya melukiskan bisnis global sebagai "monster yang memangsa dirinya sendiri". Hal ini terjadi lantaran etos dan asumsi-asumsi kapitalisme yang mendasarinya, dan banyak dari praktis bisnis yang berangkat dari etos dan asumsi-asumsi tersebut, tidaklah berkelanjutan. Para manajer dan eksekutif perusahaan umumnya digerakkan oleh motivasi-motivasi rendah seperti ketakutan (-4), keserakahan (-3), kemarahan (-2), dan penonjolan diri (-1) yang secara langsung ataupun tidak, mengorbankan kualitas hidup manusia. Dengan kata lain, jika kapitalisme dan bisnis --sebagaiman kita kenal-- digerakkan oleh motivasi-motivasi itu, maka tak punya masa depan jangka panjang.

Padahal, bisnis yang berkelanjutan digerakkan oleh SQ yang tinggi, terutama hasratnya untuk memperjuangkan visi dan nilai-nilainya. SQ itu menyebabkan pergeseran dalam motivasi kerja pelaku bisnis dari -3, serakah (bekerja hanya untuk uang), ke paling tidak +3, kekuatan dari dalam. Danah Zahar dan Ian Marshall menempatkan Mats pada +6, pengabdian lebih tinggi --sebagai seorang kesatria. Selain itu, penulis juga mencatat bahwa spritualitas itu bukan masalah agama atau sistem kepercayaan apa pun. Spiritualitas menyangkut sesuatu yang universal, yaitu values, meaning, dan purpose dalam hidup manusia yang tidak tergantung agama apa pun yang dianut seseorang.

Bisnis tanpa SQ tidak berkelanjutan, karena terbukti menimbulkan krisis kepemimpinan pada perusahaan-perusahaan terkemuka di negara-negara maju. Para pengelola perusahaan kehilangan spirit atas apa yang dilakukan. Dalam bekerja mereka melakukan apa saja seperti menipu, bermain curang, manipulasi, memotong gaji buruh, membuat laporan palsu dan sebagainya yang tujuan utamanya untuk menumpuk uang. Tapi setelah uang diperoleh, mereka merasa hampa makna, hidup tidak berarti, dan hanya sebagai makhluk pemburu uang. Padahal, manusia sejatinya tidak sekadar "makhluk ekonomi", tapi juga makhluk spiritual yang dahaganya membutuhkan siraman makna dan nilai yang dalam.

Buku ini menyarankan jika ingin mengembangkan bisnis yang berkelanjutan, maka para pemimpin perusahaan harus mengambil keputusan yang radikal. Yakni, kelompok inti di masa kini dan para pemimpin potensial perusahaan di masa depan bisa mendayagunakan kecerdasan spiritual mereka demi menciptakan modal spiritual (spiritual capital) dalam budaya organisasi mereka yang lebih luas, dan dengan begitu membuat budaya mereka lebih berkelanjutan. Tujuannya adalah sebuah kapitalisme yang di dalam dirinya sendiri berkelanjutan dan sebuah dunia yang di dalamnya kapitalisme berkelanjutan bisa menghimpun kekayaan yang dapat memenuhi semua kebutuhan kita (hlm. 23).

Transformasi kecerdasan spiritual bisa diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) berupa kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan manusia secara umum. Sebuah budaya perusahaan dan bisnis yang memanusiawikan karyawan, tidak merusak lingkungan, dan peduli terhadap kelompok-kelompok miskin. Perusahaan dan lembaga bisnis tidak hanya mengeruk keuntungan, tapi juga berbagi keuntungan dengan manusia lainnya. Bentuk tanggung jawab sosial ini tidak berupa amal sosial, tapi sebuah program yang berkelanjutan dan berdampak luas. Misalnya, Coca-Cola menggunakan jaringan distribusinya di India untuk melayani pemerintah India dalam mendistribusikan vaksin polio ke daerah perbatasan terpencil dan mendirikan klinik-klinik kesehatan di sepanjang pedalaman Tiongkok dan Asia Tenggara. Merck Phamrmaceutical menyediakan obat-obatan gratis untuk mencegah meluasnya kebutaan akibat parasit river blindness di Afrika.

Buku ini banyak mengkritik kapitalisme dan bisnis sebagaimana umumnya. Namun, buku ini tidaklah antikapitalis atau antibisnis, dan juga tidak menampik mekanisme ekonomi yang telah menghasilkan kekayaan yang belum pernah sebelumnya dihasilkan umat manusia. Penulis tidak bermaksud menolak kapitalisme, melainkan mengubahnya agar lebih manusiawi, berjangka panjang, dan berhati nurani. Karena, keduanya menyakini potensi yang besar dalam bisnis dan bidang-bidang lain untuk meningkatkan --dalam kerangka yang lebih luas-- kekayaan dan nilai, yang sebagian bisa dipakai untuk kepentingan bersama umat manusia. []

*) Kusti'ah Alumnus IKIP PGRI Semarang
===============
 
Untuk mencapai SQ tidaklah mudah, tidak hanya mengedepankan sosok potensi individu
yang bersangkutan, tetapi juga membutuhkan dukungan lingkungan, agar ia dapat memaksimalkan semua resources yang tersedia guna mencapai maksud dan arti kebahagiaan / kesuksesan yg seutuhnya.
 
Jika buku ini ditanggapi dari sisi teoritis nya saja, saya yakin ia menjadi sebuah buku yang layak baca. Namun esensi yg jauh lebih penting adalah bagaimana sesegera mungkin kita dapat melahirkan dan menumbuh kembangkan pebisnis2 tangguh seperti yg diharapkan buku tsb?
 
Jika ia menempati posisi puncak, niscaya ia memiliki wewenang yang luas. Namun toh kita juga perlu memperhitungkan tekanan2 di dlm perusahaan tsb, misal pemegang saham, kreditor, pemerintah, dll.
 
Kalau mengacu kepada Indonesia, kira-kira siapakah pebisnis yg masuk dlm kriteria buku itu yah...?
 
Salam,
Respati
================= 
 

 


Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke