The below e-mail might see the discussion from different points of view. May this provide us with better understandings!

Cheers,

GS

----Original Message----
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Feb 8, 2006 18:53
To: "gsoemart"<[EMAIL PROTECTED]>
Subj: Re: Recruitment



gsoemart <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Coba diperhatikan, penulis menyebutkan: "Saya pernah tinggal cukup
lama di Singapura...". Singapura saja sudah pasang iklan seperti di
negara paling maju, yaitu Amerika Serikat.

Kalau Anda perhatikan esensinya, Singapura saja bisa kenapa
Indonesia tidak. (Kita seharusnya jangan tergesa-gesa menanggapi
substansinya, karena isinya adalah hal biasa tentang iklan yang
penyampaiannya tergantung kondisi masyarakat masing-masing.) Saya
melihat ada suatu peremehan di sini, yaitu Amerika yang hebat dan
negara Asia (kebetulan tetangga kita) lebih inferior!
=========================================================
Pak GS yang Budiman
Permasalahan yang saya sampaikan adalah sesuatu yang bersifat umum didalam tatanan etika dan moral bisnis yang tidak mengenal batas waktu dan ruang. Inilah esensi yang saya sampaikan, sehingga iklan lowongan pekerjaan yang disampaikan oleh perusahaan menggunakan prinsip etika dan moral berdasarkan prinsip2 GCG.
Kondisi masyarakat dan bargaining power tidak bisa menjadi judgement, apakah sedang over supply employment atau under supply. Jika ini menjadi acuan dan titik berangkatnya, maka ada suatu dualisme dan inkonsistensi.
Saya sependapat bahwa tidak dapat membandingkan secara langsung antara AS/Singapura dengan negara lain seperti Indonesia, mengingat ada perbedaan yang mendasar setiap negara, namun didalam prinsip2 yang universal (etika dan moral bisnis maupun GCG) semestinya setiap negara dapat diperbandingkan.
=========================================

Menurut saya seharusnya, penulis (yang nampaknya tinggal di
Australia) langsung saja menyebutkan perbedaan cara mengiklankan di
negara-negara maju (misalnya Amerika dll.) berbeda dengan Indonesia!

Please be smart!
==============================================
Seharusnya smart tidak cukup Pak, akan tetapi juga criticsm.

GS
=========
Salam hangat dan jebat erat
Enson Samosir


--- In [email protected], enson samosir <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
>
>
> Gandewo Soegiarto <[EMAIL PROTECTED]>wrote: > tanggapan
singkat saya ... memakai pepatah = LAIN LADANG, LAIN >BELALANGNYA.
> =============
> Yth Pak GS
> Pepatah ini nampak kurang pas kalo kita terjemahkan dalam topik
bahasan kita, pikiran Lain Ladang, Lain Belalang merupakan suatu
bentuk opini untuk menarik benang merah perbedaan, meskipun tidak
semua ladang, berbeda belalangnya, karena satu dua hal ada persamaan
diantara belalangnya.
>
> Memang benar bahwa Singapura, Malaysia, Amerika, Indonesia dll
berbeda didalam tatanan ekonomi, tetapi ada persamaan didalam
konteks etika dan moral bisnis terutama dalam Human Rights dan GCG.
Sehingga persamaan tersebut sesuatu yang indah untuk diperbandingkan
dan didiskusikan.
> ==================
>
> mengapa????
> keadaan/kondisi Indonesia (baca ladang-nya) kayak apa si????
> kan jelas, tingkat penganggurannya tinggi, sampai yg lulusan S1
yg hanya -/+ 2% dari penduduk alias cuma 5 jutaan pun banyak yg
masih menganggur, lihat saja sebagian masih masuk kelas reguler MM
(a.l. UGM, Unpad dll), setahun (2004-2005) saya lihat sendiri
penganggur yg umumnya SLTA duduk di-lantai2 koridor gedung kanwil
Depnaker Kabupaten Bekasi dikota baru Deltamas;
> mau bicara kompentensi? setuju sekali, tapi ... gima na dgn
kondisi (baca ladang-nya) puluhan ribu sarjana palsu????
> masih ingatkah beberapa bulan lalu ada yg membuka "bursa
lowongan kerja" yg peminatnya berjubel sampai pintu kaca gedungnya
(di Jakarta) pecah???!!!
> =============================================
> Saya sependapat bahwa tingkat penganguran di Indonesia masih
cukup tinggi sehingga penyerapan tenaga kerja semakin terbatas baik
dari lulusan SMA, Universitas, dan S-2.
>
> Tentu ini tidak terlepas dari masalah pertumbuhan ekonomi
indonesia yang tidak mampu menyerap tenaga kerja yang ada. Tentu
masalah ini menjadi perhatian pemerintah untuk dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi untuk dapat mengatasi penganguran tersebut.
> ====================================================
>
> dilain pihak ... dapat saya tambahi kondisi pencarian lowongan
kerja di LN = ... '(karenanya) ... CV para pelamar jarang yg
mencantumkan tanggal lahir dan agama, lha w ong nggak diminta/ditanya
kok; begitu juga baru2 ini CV saya pun tidak mencantumkannya, waktu
diwawancara di perguruan tinggi untuk jadi pengajar maupun staf ahli
rektor, ya saya (selalu) ditanya 'umurnya berapa pak?' ini fakta,
tapiiiiiii memang saya memang S2 ... selain lulusan MM-UGM yg
berarti S2, saya juga S2 yg berarti 'sudah sepuh', ya pantas saya
ditanya umurnya, ... the thing is .... CV di lamaran
saya ... 'ikut2an kayak diluar negri' ... walau disengaja supaya gak
ketahuan sudah sepuh! ... tapi ... untungnya, rejekinya, gak
bermaksud nyombong lho ... saya ketrima di 2 perguruan tinggi,
sedang dipertimbangkan di 2 perguruan tinggi lainnya.
> =============================================
> Pada prinsipnya rekrutmen di LN tidak semata2 didasarkan kepada
apa yang tercantum didalam CV pelamar. CV hanya merupakan suatu
refleksi singkat tentang individu si pelamar, sehingga tidak menjadi
relevan untuk mencantumkan agama, ras dsb, mengingat proses seleksi
dilakukan berdasarkan seleksi potensi dan ketrampilan yang dimiliki
si pelamar yang dicocokkan dengan kebutuhan perusahaan yang
membutuhkan.
>
> Akan menjadi suatu bentuk pelanggaran apabila perusahaan
mendasarkan seleksi kepada faktor individual (baca umur, gender,
agama, ras, IPK) dan bukan berdasarkan faktor kemampuan, kompetensi,
pengalaman dan keahlian yang dimiliki....inilah sebenarnya perbedaan
praktek yang diterapkan oleh negara2 maju dengan negara kita
Indonesia.
> =======================================================
>
> sebagai gambaran, berikut adalah fakta begitu banyaknya pelamar
karena banyaknya penganggur di kita; tahun 2001-2002, saya kerja di
FSI, perusahaan HRD/recruitment Jepang, atas permintaan client, kita
pasang iklan kecil, dlm bahasa Inggris, kira2 8 X 10 cm, di kompas,
yg nglamar jumlahnya ber-karung2 kira2 seluas 2 meja-kerja,
ribuanlah, padahal yg dicar i -/+ 3 manager dgn beberapa staf, sortir
lamaran perlu dibantu para driver kantor misalnya untuk membuka
amplop2 besar dgn pemotong kertas, lalu dibaca singkat apakah
lamarannya dlm bahasa Inggris atau tidak, karena beberapa lamaran
dalam bahasa Indonesia!
> =======================================================
>
> Sebenarnya permasalahannya bukan terletak pada banyak surat
lamaran yang masuk sehingga membuat petugas HR menjadi bekerja keras
untuk membuka dan menyeleksi surat lamaran. Akan tetapi
permasalahannya adalah dalam faktor Equality, Diveristy, dan Non
Discrimination dalam proses seleksi.
>
> Equality dan Non Discrimination merupakan tatanan GCG yang
berlaku umum disetiap negara sehingga perusahaan harus mengedepankan
faktor Etika dan Moralitas dalam proses seleksi tenaga kerja.
> Tatanan ini merupakan perubahan konsep "Pertanggungjawaban
terhadap Shareholders" menjadi " Pertanggungjawaban terhadap
Stakeholders", yang merupakan penerapan GCG dan Etika Bisnis.
>
> Yang menjadi bahan pemikiran kita bersama adalah, bagaimana
kepedulian pemerintah Indonesia untuk melakukan aturan pemaksa
kepada perusahaan untuk tidak melakukan discrimination didalam
proses seleksi berdasarkan umur, gender, universitas dll sebagaimana
negara lain sudah melakukan hal yang sama.
>
> Pembatasan seleksi berdasarkan gender, ras, agama, dan
universitas/IPK, berdampak terhadap cost perusahaan, jika
dibandingkan dengan tidak melakukan pembatasan seleksi, karena
perusahaan tidak akan mendapatkan calon karyawan yang benar2
memenuhi kriteria dan kompetensi yang diperlukan. Berapa cost yang
akan dikeluarkan perusahaan untuk mendidik dan melatih karyawan yang
tidak sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan?
>
> Alasan "jumlah tenaga kerja yang tersedia" sangat besar di
Indonesia juga tidak dapat diterima, sehingga perusahaan semena2
melakukan syarat terhadap pelamar berdasarkan umur, universitas,
IPK, ras, gender dll dan hal ini juga merupakan tindakan tidak etis
perusahaan dalam proses seleksi.
> Bagaimana seandainya jika jumlah tenaga kerja yang tersedia
sangat kecil, sehingga mereka tidak melakukan pembatasan sedemikian
rupa? Ini merupakan bentuk inkonsistensi dan dualisme.
>
> Sedikit hasil riset menyatakan bahwa proses seleksi yang
didasarkan kepada PERSONAL, REFERENCES, TYPICAL INTERVIEWS, maka
hasilnya adalah POOR dan akan membebani perusahaan. Seleksi yang
ideal adalah WORK SAMPLE TEST, ABILITY TEST dan berdampak pada
minimum cost pada perusahaan. Sedangkan seleksi yang didasarkan
kepada BIODATA (CV), ASSESSMENT CENTRE (TEST IQ), STRUCTURE
INTERVIEWS, hasilnya juga tidak maksimal, meskipun acceptable.
>
> Yang menjadi harapan bersama adalah, perusahaan publik, skala
besar dan global company yang ada di Indonesia semestinya sudah
mulai menerapkan konsep GCG sehingga Equality, Diversity, dan Non
Discrimination dapat berlaku.
> ==================================================
>
> salam GS, E-6A-Jakarta.
>
> =============================
>
> Salam hangat dan jabat erat
> Enson Samosir
>
> ----- Original Message -----
> From: Wardoyo
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, February 02, 2006 10:33 AM
> Subject: [mm-ugm] Recruitment
>
>
>
>
> Rekan beberapa saat lalu saya bertugas di negeri tetangga
singapura untuk
> jangka waktu yang relatif lama, iseng-iseng saya suka
memperhatikan iklan
> lowongan kerja di koran-koran lokal singapura, saya perhatikan
beberapa hal
> yang sangat berbeda dengan iklan-iklan lowongan kerja di
Indonesia, dan cara
> mereka mengiklankan lowongan kerja hampir sama dengan iklan
lowongan kerja
> di neger i yang konon paling maju di dunia yaitu amerika serikat.
> beberapa hal yang saya amati sebagai berikut :
> 1. mereka tidak pernah membuka lowongan kerja dengan membatasi
gender,
> laki-laki atau perempuan.
> 2. mereka tidak pernah mencantumkan batasan usia pelamar.
> 3. mereka tidak pernah mencantumkan nilai GPA/IP atau bahkan
dengan
> menyebutkan menyukai lulusan universitas terkemuka atau
universitas
> tertentu.
> 4. dan hampir 90 % mereka menyatakan dengan jelas nama dan bisnis
utama
> perusahaan yang membuka lowongan kerja.
> 5.hampir 75 % mencantumkan salary range yang ditawarkan serta
fasilitas dan
> benefit yang diberikan secara gamblang dan jelas.
> Jelas sekali bahwa mereka menerima pelamar berdasarkan
kompetensi,
> kemampuan, serta pengalaman serta skill dari para job applicant.
> coba bandingkan dengan iklan-iklan lowongan kerja di tanah air
kita yang
> serba s umir (banyak perusahaan menyamarkan nama perusahaan dan
bisnisnya)
> malu-malu seolah takut ketahuan petugas pajak, membatas usia
pelamar
> (seolah-olah kalau sudah diatas 40 tahun dianggap sudah pikun/uzur
bahkan
> dianggap tidak produktif), kadang-kadang menyebutkan lebih disukai
wanita
> atau sebaliknya (diskriminasi gender), menginginkan pelamar dengan
indek
> prestasi tertentu (seolah-olah kalo indeks prestasinya tinggi
dianggap lebih
> capable dalam bekerja), tidak pernah mau secara terus terang
menyebutkan
> salary range yang ditawarkan, sehingga salary dianggap sebagai
salah satu
> bagian dari seleksi, bukankah yang memiliki keahlian dan
pengalaman lebih
> banyak pasti akan memiliki gaji yang lebih tinggi, kalau
sebaliknya perlu
> dipertanyakan mengapa? (ingat prinsip : you give peanut you get
monkey).
> Tolong kepada rekan-rekan HR Manager di forum ini atau forum
lain, untuk
> memberikan tanggapan mengapa hal ini bisa terjadi di tanah air
tercinta ini,
> kita harus melakukan perubahan paradigma berpikir dalam proses
recruitment
> dan selection human resources, agar Indonesia menjadi bangsa yang
maju dan
> lebih beradab.
> kalau kita tidak memulai, siapa lagi?
> Adrian Christianto | Funding Officer | Unisys Credit
Services
> UCS | Level 2 Building G, 1 Homebush Bay Drive, RHODES NSW 2138
AUSTRALIA
> | Ph: 02 9647 7201 | E: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
> Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
> *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
>
>
>
> SPONSORED LINKS
> Undergraduate business schools Business school essay
Business school and education Top business schools Best
business schools Business school minnesota
>
> ---------------------------------
> YAHOO! G ROUPS LINKS
>
>
> Visit your group "mm-ugm" on the web.
>
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service.
>
>
> ---------------------------------
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> To help you stay safe and secure online, we've developed the all
new Yahoo! Security Centre.
>







Yahoo! Photos – NEW, now offering a quality print service from just 8p a photo.



Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***




SPONSORED LINKS
Undergraduate business schools Business school essay Business school and education
Top business schools Best business schools Business school minnesota


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke