bagaimana dengan almamater kita ?

Rgds, 
Cahyo


http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2006/032006/09/kampus/lain01.htm
Cukuplah Kampus Mencetak Garong

ALUMNI pulang ke kampus punya banyak cerita. Tapi yang
muncul bukan melulu cerita kesuksesan, malah kesan
miris melihat almamaternya melempem. Setidaknya
lontaran-lontaran miris itu terjadi saat Keluarga
Mahasiswa ITB mengajak alumni membagi cerita kepada
anak-anak baru angkatan 2004 dan 2005.

Cardiyan HIS, jebolan Teknik Geodesi ITB tahun 1973,
tidak ragu menyebut kampusnya sebagai penyokong
keterpurukan bangsa Indonesia. Pernyataan Cardiyan
memang bukan tudingan, jika melihat berapa besar kasus
yang melibatkan jebolan-jebolan ITB. Seperti Deputi
Direktur Pembangkit PLN, yang mesti menginap di
Bareskrim Polda Metro Jaya.

"Entah berapa banyak alumni ITB yang menjadi preman,
garong, penipu dan koruptor, yang masih berkeliaran
ataupun tidak, dengan bangga mengklaim sebagai lulusan
ITB!" katanya di hadapan puluhan mahasiswa angkatan
2004 dan 2005 di Aula Timur ITB, Minggu (5/3).

Contoh itu, kata President & CEO PT SWI Group,
setidaknya menutupi kesan positif jebolan ITB lainnya.
Macam penemuan Dr. Dicky Rezadi Munaf tentang
konstruksi bulan dan Dr. I Gede Wenten untuk proses
pembuatan bir tanpa limbah. Keduanya berturut-turut
telah mengantongi penga! kuan dari Badan Antariksa
Amerika Serikat (NASA) dan penemuan terbaik dari
peneliti-peneliti Eropa.

Contoh garong itu, sebut Lendo Nevo, alumni ITB dari
Departemen Perminyakan, sebagai wujud karakteristik
manusia yang tidak memiliki kejujuran. ITB, katanya,
selama ini hanya melakukan transfer ilmu pengetahuan
tanpa melihat pentingnya pembangunan karakter
manusianya itu sendiri. Fenomena itu tidak hanya di
ITB, tapi menjadi momok serius di perguruan tinggi di
Indonesia.

Pendidikan adalah instrumen strategis dalam proses
pembangunan karakter nasional. Proses pendidikan harus
mengondisikan perilaku normatif yang membentuk
karakteristik dan sikap politik yang mengapresiasi
nilai dan tradisi serta budaya bangsa, menghormati
kedaulatan rakyat, taat terhadap hukum, dan bersikap
patriotisme.

Tapi jangan dulu bicara membangun karakter jujur
seperti itu, jika para hadirin di Aula Timur itu hanya
kurang dari lima orang yang! mengaku belum pernah
mencontek ujian atau tugas kuliah. Padahal, integritas
itu muncul tidak sekonyong-konyong lewat mata kuliah
tiga SKS, tapi pada prinsip yang dibangun pribadi
orang perorang.

Demikian yang ditekankan oleh Hotasi Nababan, alumni
Teknik Sipil ITB yang sekarang Dirut PT Merpati
Airlines. Hotasi yang mengaku tidak pernah mencontek
selama kuliah, mengatakan integritas seperti kejujuran
itulah yang saat ini menjadi modal lulusan saat
mencari kerja. "Nggak usah mikir IP dan jebolan dari
mana, kalau terbukti integritasnya jelek, tetap susah
cari kerja," katanya bersungut-sungut.

Seperti pula yang dikatakan oleh Rektor Magnificius
Technische Hoogeschool Bandung (sekarang ITB), Prof.
G. Klopper, M.E. saat mewisuda Soekarno. Ia berpesan,
"Insinyur Soekarno, ijazah ini dapat robek dan hancur
menjadi abu suatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah,
bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan
kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap
hidup dalam hari rakyat, sekalipun sudah mati."

Tidak cukup ijazah

ITB yang secara fisik berdiri sejak 1920 merupakan
kampus teknologi pertama, mendahului Universitas
Kebangsaan Malaysia (UKM), dan Universitas Teknologi
Malaysia (UTM). Tapi apakah Indonesia lebih maju
dibandingkan Malaysia dan Singapura?

Jawabannya, kata Cardiyan, tentu saja belum.
Persoalannya bukan ijazah sarjana terlalu sedikit,
tapi minim karya-karya universitas yang dipakai oleh
dunia industri.Karena itu, katanya, ITB harus mulai
menerapkan model seperti ini kepada para mahasiswanya.
Harus lebih banyak proses latihan merealisasikan ide
menjadi suatu karya. "Nantinya akan lahir manusia ITB
yang berani ambil keputusan, inovatif, dengan
keputusan yang tidak biasa-biasa saja," ujarnya.

Cardiyan menyadari bahwa tidak semua pada akhirnya
menjadi seorang entrepreneur. Bisa menjadi birokrat,
politikus, dosen, peneliti, militer, pendakwah dan
lain sebagainya. Namun, baik enterprenuer atau bukan,
ia tetap bergerak dalam ranah kepentingan rakyat
benyak, jujur, dan tanpa ada konflik kepentingan.

Alangkah cemerlang, lanjutnya, manusia ITB yang
berdarah sains teknologi juga berinteraksi dengan
masyarakat, umum atau industri, dengan memiliki
integritas kejujuran dan taat terhadap hukum. Menurut
pemimpin majalah Gatra yang juga jebolan Teknik Fisika
ITB, Budiono Kartohadiprojo, hal itu bukan sekadar
wacana, jika saja mahasiswa mulai memahami tentang
kewajiban daripada hak, mengedepankan kreativitas, dan
melatih akalnya.***

agus rakasiwi
[EMAIL PROTECTED]


--
Lalu Muhamad Jaelani
Geomatics Engineering Department
Faculty of Civil Engineering and Planning
Sepuluh Nopember Institute of Technology












Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke