Saya rasa alternative yang cukup menarik untuk mencegah dunia hanya dikuasai oleh segelintir orang.

 

Apakah system ekonomi Islam bisa menjadi salah satu alternative ( IRHAM - bisanya rajin memberikan comments?)  Atau kita harus memulai memikirkan pendirian Partai Sosialis yang bertujuan mengedepankan kesejahteraan bersama tanpa mengabaikan pengakuan harta pribadi ?

 

Regards

Arsono

 

 

-----Original Message-----

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of pontoh_2002

Sent: Wednesday, March 15, 2006 5:13 AM

To: [email protected]

Subject: [ekonomi-nasional] Alternatif Globalisasi Neoliberal

 

Alternatif Globalisasi Neoliberal

 

Oleh Martin Manurung

 

DEWAN Gereja-gereja Sedunia (World Council of Churches/WCC) dalam

Sidang Raya yang ke-9 di Porto Alegre, Brazil, yang berakhir 23

Februari yang lalu, merilis sebuah dokumen penting dalam sejarah

gereja di era globalisasi neoliberal. Dalam dokumen resminya yang

berjudul "Alternative Globalization Addressing Peoples and Earth

(AGAPE)" menyatakan dengan tegas bahwa "...paradigma ekonomi

neoliberal telah mengakumulasikan kekayaan material di tangan

sekelompok kecil orang. Proses akumulasi kekayaan itu telah membawa

ketimpangan yang semakin besar dan kecenderungan destabilisasi yang

tinggi. Kehidupan mereka yang miskin telah dikorbankan demi keuntungan

mereka yang kaya" (Agape 2005: 14).

 

Seruan progresif WCC itu adalah hasil dialektika perjalanan panjang

gereja-gereja sedunia dalam mengamati perkembangan globalisasi

neoliberal, sejak Sidang Raya 1998 di Harare (dengan dokumennya

berjudul "The Logic of Globalization Needs to be Challenged by an

Alternative Way of Life of Community in Diversity"). Sebagaimana

dinyatakan dalam dokumen tersebut, gereja-gereja sedunia mengambil

sikap untuk berpihak kepada gerakan sosial dan serikat buruh dalam

rangka melawan kerakusan modal dalam globalisasi neoliberal yang

semakin membawa dunia kepada ketidakadilan. Bersama-sama elemen

masyarakat sipil, gereja-gereja memperjuangkan pemberantasan

kemiskinan, perdagangan yang adil, pengendalian dan pengaturan pasar

keuangan global, kelestarian alam, melawan privatisasi kebutuhan

publik, reforma agraria, kelayakan kerja dan upah, dan melawan

kekuasaan hegemonik pasar.

 

Bagaimana tidak? Di tengah mitos globalisasi neoliberal yang katanya

akan mengangkat dunia dari keterpurukan, jumlah orang miskin justru

meningkat dari 800 juta orang pada tahun 1995 (ketika World Trade

Organization/WTO didirikan), menjadi 850 juta pada tahun 2005. Laju

pertumbuhan ekonomi per kapita baik di negara maju maupun di negara

berkembang pun melambat.

 

Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita negara-negara termiskin di

dunia (dengan PDB per kapita antara US$ 375 - US$ 1.121 per tahun),

sejak periode 1980-2000 terus melambat 0,5 persen tiap tahun (Chang

2005: 18).

 

Globalisasi telah membawa dunia pada jurang kemiskinan yang semakin

dalam, sehingga 20 persen penduduk terkaya di dunia menguasai 86

persen total konsumsi dunia. Kelestarian lingkungan hidup pun memburuk

dengan deforestasi mencapai 940.000 kilometer persegi di

wilayah-wilayah termiskin dunia sejak 1990.

 

Inilah kenyataan globalisasi di mana Indonesia pun turut 'bermain'

dengan mengaplikasikan kebijakan-kebijakan ekonomi neoliberal dengan

pencabutan jaminan sosial melalui subsidi dan menjual semakin banyak

sektor-sektor hajat hidup orang banyak kepada para pemodal dengan

jargon 'pasar bebas'.

 

Komponen Pokok

 

Paradigma ekonomi neoliberal memiliki tiga komponen pokok. Pertama, ia

mengangkat peran pasar di atas peran negara, civil society dan sistem

demokrasi partisipatoris dalam menata ekonomi dan arus barang dan

modal. Kedua, mendewakan peran dan cakupan sektor privat dan

kepemilikan privat di atas kepentingan publik.

 

Ketiga, menganggap bahwa tata kelola pemerintahan yang baik (good

governance) hanya dapat dicapai melalui pasar. Sehingga, ketika

kebijakan-kebijakan ekonomi neoliberalnya ternyata justru tidak

membawa hasil seperti yang dijanjikan, maka kesalahan akan ditimpakan

semata kepada tata kelola pemerintahan yang buruk (bad governance).

 

Paradigma inilah yang diagung-agungkan oleh para promotor neoliberal,

di antaranya Margaret Thatcher di Inggris, dan Ronald Reagan di

Amerika Serikat, pada periode 1980-an, dengan mengatakan "There is no

alternative!" ("Tidak ada pilihan!" Bandingkan dengan pidato mantan

presiden Soeharto pada pembukaan Konferensi APEC di Bogor, 1994).

 

Globalization from Below

 

Gerakan progresif sedunia melawan neoliberalisme menyerukan alternatif

terhadap globalisasi neoliberal. Perlawanan itu datang dari gerakan

negara-negara Amerika Latin yang bekerja sama dalam forum ALBA

(Alternativa Bolivariana para la América), kerja sama gerakan sosial

sedunia melalui World Social Forum (WSF), sampai kepada Dewan

Gereja-Gereja Sedunia sebagaimana disebutkan di atas.

 

Perlawanan inilah yang disebut oleh Steger (Globalism, 2005) sebagai

globalization from below (globalisasi dari bawah) yang merupakan

anti-thesis dari globalization from above (globalisasi dari atas).

 

Nasib dunia tidak boleh hanya ditentukan oleh para korporat besar dan

para elite yang berkumpul dalam WTO. Nasib orang-orang miskin tak

boleh diperdagangkan sebagai trade-off dari liberalisasi perdagangan

sebagaimana terjadi pada sidang-sidang tawar menawar di WTO.

 

'Globalisasi dari atas' harus dilawan sebelum dunia seluruhnya lunas

dijual kepada para pedagang. 'Globalisasi dari bawah' mengangkat

suara-suara yang selama ini tak didengarkan dalam WTO dan World

Economic Forum (WEF), yakni suara masyarakat miskin dan marjinal untuk

turut serta menentukan arah dunia.

 

"Globalisasi dari bawah" menyerukan agar globalisasi neoliberal dengan

perdagangan bebasnya (free trade) digantikan dengan perdagangan yang

adil (fair trade). Sebagaimana dikatakan oleh Steger, "relasi pasar

memang penting, akan tetapi demi melayani kebutuhan manusia, maka

pasar harus diabdikan pada kesejahteraan seluruh manusia". *

 

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana School of Develop ment Studies

University of East Anglia (UK)

 

Artikel ini bisa pula dibaca di http://indoprogress.blogspot.com

 

 

 

 

 

Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional?

Kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links

 

<*> To visit your group on the web, go to:

    http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/

 

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:

    [EMAIL PROTECTED]

 

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

    http://docs.yahoo.com/info/terms/

 

 

 

 

 

**********************************************************************

This email and any files transmitted with it are confidential and

intended solely for the use of the individual or entity to whom they

are addressed. If you have received this email in error please notify

the system manager.

 

This footnote message is automatically generated & confirms that

this email message has been swept by the content scanner for the

presence of computer viruses.

**********************************************************************

 



Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***




SPONSORED LINKS
Undergraduate business schools Business school essay Business school and education
Top business schools Best business schools Business school minnesota


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke