Renungkan, tulisan ustads Syamsi ini.
Agung
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Assalamu'alaikum,
Pornographi dan Budaya Malu
Oleh Syamsi Ali
Sesungguhnya, sejak awal penciptaan manusia perasaan risih dan malu jika
aurat ternampakkan. Artinya, permasalahan aurat ini bukan permasalahan baru,
tapi permasalahan yang memang sudah menjadi perhatian manusia sejak awal
kejadiannya, dan ini pula yang menjadi tabiat aslinya. Ini dikuatkan oleh
sejarah di Kitab Injil yang menyebutkan:
âPerempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap
kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu
ia menhgambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya
yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Maka terbukalah mata
mereka berdua dan mereka tahu bahwa mereka telanjang, lalu mereka menyemat daun
pohon ara dan membuat cawat..dst.dstâ¦â (Kejadian 3-7).
Sengaja saya meminjam sejarah yang ada di Injil ini untuk menunjukkan kepada
semua, termasuk umat Kristiani, bahwa di saat manusia terekspos âauratnyaâ
pasti mereka merasa malu dan berusaha mencari penutup, seperti Adam dan Hawa
terpaksa membuat (dalam Injil Inggris disebutkan menjahit) cawat dari daun
pohon ara tersebut. Manusia yang belum dilihat oleh siapa-siapa itu, kecuali
oleh makhluk gaib dan Penciptanya, merasa malu di saat auratnyat terbuka.
Cerita Injil ini menunjukkan betapa bahwa di saat aurat seseorang terekspos
akan melahirkan perasaan malu dan bersalah (embarrassment and guilt). Dan
perasaan malu dan bersalah ini sendiri menggambarkan âtabiatâ manusia yang
orisinal, karena prilaku Adam dan Hawa di awal penciptaan menggambarkan
keaslian tabiat manusia. Maklumlah, Adam dan Hawa belum terkontaminasi oleh
berbagai penyelewengan sosial, termasuk propaganda kaum feminist seperti saat
ini.
Berpakaian sopan itu alami
Sebenarnya, menutup aurat dengan pakaian yang sopan (sesuai syaraâ) adalah
tuntutan alami manusia. Dengan mengikuti tuntutan alami tatacara berpakaian
ini, sebenanarnya seseorang akan lebih merasa tenang dan percaya diri. Inilah
yang digambarkan di dalam Al Qurâan dengan istilah âdan agar mereka menjaga
kesucian dan dikenalâ. Artinya, dengan pakaian yang ditetapkan oleh agama,
kesucian fitrah akan terjaga, dan juga melahirkan percaya diri karena memang
dikenal dengan pakaiannya sebagai orang-orang yang baik.
Sebagai ilustrasi terhadap fakta di atas, saya ceritakan pengalaman ketika
pertama kali balik liburan ke Indonesia setelah tiga tahun di Islamabad. Setiba
di Makasar (Ujung Pandang), saya cukup terasa âshockâ dengan perubahan
kultur anak-anak remaja Muslim. Mungkin karena memang jarang berada di luar
kampus sebelum ke Pakistan, atau juga karena memang selama di Pakistan hanya
melihat kaum wanita dengan pakaian yang cukup modest. Salah satu hal yang
mengejutkan adalah cara anak-anak remaja wanita Muslim yang sangat minim.
Hampir saja aku menilai bahwa barangkali keadaan ekonomi semakin memburuk,
sehingga mereka kekurangan uang untuk membeli kain yang cukup.
Suatu ketika di sore hari saya ada kesempatan jalan-jalan ke kota dengan
menaiki pete-pete (angkot). Setelah duduk beberapa saat, pete-pete itu kembali
berhenti untuk menjemput penumpang lainnya. Tiba-tiba naiklah seorang anak
remaja, sepertinya anak SMA (SMU), dengan pakaian yang sangat minim.
Hampir-hampir saja roknya itu tidak mampu menutupi bagian-bagian sensitif dari
tubuhnya. Bersamaan dengan naiknya remaja tadi juga seorang pemuda dan duduk
persis di hadapannya. Rupanya pemuda ini tidak mau mubazir. Ditatapnya
habis-habisan paha mungil anak remaja tersebut, sehingga anak tersebut dengan
sendirinya merasa tidak tenang mendapat sorotan mata yang buas itu. Hampir
dalam perjalanan yang memakan waktu lebih sejam itu, remaja itu tidak bisa
duduk dengan tenang. Bolak balik ke samping kiri dan kanan, berusaha menutupi
ke-(tidak)malu-annya itu.
Dari kejadian ini nampak, betapa berpakaian yang menutupi aurat itu adalah
pakaian yang sesuaiu dengan tuntutan alami. Maka penolakan terhadap keterbukaan
ke-(tidak)malu-an itu adalah penolakan alami. Sebaliknya mendukung pengiklanan
aurat, baik untuk kepentingan ekonomi atau sekedar untuk dianggap ekspresi
kebebasan adalah penentangan yang nyata terhadap tabiat manusia.
Pergeseran tabiat
Akan tetapi seiring dengan perjalanan zaman, tabiat (nature) manusia itu
sendiri semakin bergeser dari posisinya yang asli. Akibatnya, penyingkapan
âauratâ bukan saja menjadi biasa, melainkan dianggap sebagai bagian dari
kemajuan peradaban manusia yang yakini sebagai manusia modern. Konsekwensi
selanjuntya, perasaan malu itu semakin minim, dan bahkan menjaga âmaluâ (al
hayaa) dianggap sebagai bagain dari keterbelakangan.
Di dunia barat misalnya (walau kata barat ini relative, karena boleh jadi
Jakarta lebih kebarat-baratan), mempertontonkan Ke (tidak)-malu-an ini justeru
dianggap bagian dari hiburan (entertainment). Di mana mata menatap di situ juga
akan nampak hal-hal yang seharusnya memalukan itu. Dari dalam rumah, sekolah,
pasar, pinggir jalan, hingga ke pertokohan-pertokohan, semuanya menampakkannya
secara bebas. Mata-mata yang menatap pun tidak lagi merasakannya sebagai
sesuatu yang seharusnya membuat malu.
Oleh karena menampakkan ke-(tidak)malu-an ini sudah dianggap sebagai hiburan,
maka menentangnya dapat dianggap menentang kodrat hidup itu sendiri, atau
minimal dianggap menempuh cara hidup abad pertengahan yang terbelakang dan
kurang beradab. Persepsi ini menampakkan keterbalikan tabiat manusia dari yang
sesungguhnya seperti tabiat Adam dan Hawa menjadi tabiat âhewaniâ yang
tidak merasa malu menampakkan kemaluan ke mana-mana. Bahkan lebih jahat,
sebaliknya dengan menampakkan kemaluan, baik secara utuh maupun sebagian
dianggap sebagai ekspresi kebebasan (freedom of expression).
Tapi betulkah itu adalah sebuah hiburan? Betulkah itu adalah ekspresi
kebebasan? Lebih tragis lagi, kaum wanita khususnya, dipertontonkan auratnya
secara tanpa malu-malu dibumbui dengan konsepsi emasipasi? Tapi benarkah itu
adalah emansipasi atau pembebasan kaum hawa?
Sebagaimana disebutkan di awal, merasa malu dengan tertampakkannya
ke-(tidak)malu-an itu adalah tabiat dasar manusia yang memang sejak awal
penciptaan manusiapun sudah ada. Maka ketika terjadi sebaliknya, berarti
manusia sudah dengan terang-terangan telah melakukan penodaan dan penolakan
kepada tabiat dasarnya sendiri. Dan jika manusia telah melakukan penodaan dan
penolakan kepada tabiat dasarnya ini, maka di kemudian hari akan terlahirlah
darinya prilaku-prilaku yang lebih buruk dari prilaku hewani. Prilaku
homoseksual dan lesbianis barangkali adalah wujud langsung dari kenyataan ini.
Seekor kucing atau anjing tidak akan melakukan kontak seksual di hadapan
anjing atau kucing yang lain. Biasanya mereka melakukan kontak lawan jenis ini
di saat ada kesempatan yang sepi. Apalagi, belum kita dengar ada anjing yang
mengawini sesame jenisnya. Sebelaiknya manusia sekarang ini justeru
mengekspresikan kontak seksualnya, dalam berbagai ragam, di hadapan publik, dan
bahkan tidak jarang memang diiklankan. Bahkan ada kecenderungan untuk
melegalkan perkawinan sejenis di berbagai belahan dunia saat ini. Sebuah
pemndangan kontras yang dahsyat antara prilaku dan tabiat dasar manusia.
Wanita dan budaya malu
Sebenarnya, malu itu adalah fondasi hidup. Jika dikaji lebih dalam, ternyata
asal kata hidup (hayah) dan malu (hayaâ) berasal dari dasar kata yang sama.
Malu yang dalam bahasa Arab dikenal dengan âistihyaaâ (seperti innallah laa
yastahyii) juga terpakai dengan bentuk yang sama untuk menggambarkan pemberian
hidup (istahya), seperti dalam kisah Firâaun dan Bani Israel (istahya
nisaahum).
Dengan demikian, hidup manusia yang sesungguhnya adalah hidup manusia yang
masih berpegang teguh pada pada nilai-nilai budaya malu. Semakin minim budaya
malu menandakan semakin minimnya kehidupan hakiki seseorang. Dengan hilangnya
malu (shamefulness) dalam kehidupan manusia, secara tidak langsung juga
menggambarkan bahwa manusia seseungguhnya sudah kehilangan kehidupannya yang
alami (tabiâi).
Di dalam Al qurâan, ada kisah yang agung tentang bagaimana seorang wanita
menjaga budaya malunya ini. Yang secara langsung disebutkan dengan
pengistilahan menjaga âkemaluanânya adalah Maryam (allati ahshonat
farjaha). Seorang wanita yang dilahirkan untuk hanya mengabdi di rumah ibadah,
dan kemudian menjadi seorang ibu dari seorang rasul yang agung. Mengandung
dengan cobaan dan menghadapi cobaan yang luar biasa, melahirkan sendirian,
menghadapi kaumnya, dan seterusnya. Tapi beliaulah seorang wanita yang secara
khusus disebutkan sebagai wanita yang menjaga kemaluannya.
Kisah anak-anak nabi Syuâaib juga adalah contoh kongkrit bagaimana
seharusnya kaum wanita membawa diri. Bahwa profesionalisme dan berbagai stastus
sosial tidak seharusnya menjadikan wanita kehilangan jati diri dengan hilangnya
âbudaya maluâ. Bahkan sebaliknya dengan budaya malu itu, mereka mengusulkan
kepada ayahnya untuk melakukan sesuatu yang baik demi menjaga benteng budaya
malu itu.
Ceritanya adalah ketika Musa membela salah seorang Bani Israel yang berkelahi
dengan seorang Mesir. Tiba-tiba pukulan nabi Musa itu menjadikan orang Mesir
mati. Maka Firâaun yang sudah lama mencari alasan untuk membinasakan Musa,
kini menemukan alasan itu. Tentunya dia akan menjatuhkan hukuman yang berat,
kemungkinan akan dihukum mati. Maka tatkala Musa diberitahu, beliaupun
meninggalkan tanah Mesir menuju sebuah kota lain yang disebut âMadyanâ. Di
kota inilah hidup seorang nabi lain yang bernama nabi Syaâaib A.S.
Ketika Musa A.S. memasuki kota tersebut, didapatinya sekelompok orang yang
akan memberikan minum kepada gembalaan mereka. Di antara orang-orang tersebut
ada dua wanita nampak malu berdiri di bagian paling belakang. Musa mendekati
mereka dan bertanya apa gerangan yang terjadi dengan mereka. Mereka memberitau
Musa bahwa mereka wanita dan tidak mungkin mereka dapat memberikan minuman
kepada gembalaannya sebelum semua kaum lelaki itu selesai. Sementara ayah
mereka adalah seorang yang sangat tua.
Singkat cerita, Musa membantu mereka dan bahkan mendahului lelaki yang lain.
Memang Musa memiliki kemampuan fisik yang lebih. Segera wanita itu kembali
kepada ayahnya dan menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Lebih dari itu,
salah satu dari dua gadis itu mengusulkan agar ayahnya mempekerjakan Musa
karena sebaik-sebaik yang dipekerjakan adalah yang kuat dan terpercaya. Sang
ayah lalu menyuruh anak gadis tersebut mendatangi Musa dan meminta agar dia
berkenan datang kepadanya.
Poin yang ingin saya sebutkan di sini adalah pernyataan Al Qurâan: âMaka
salah satu diantara mereka mendatangi Musa dengan berjalan penuh maluâ.
Sebuah ungkapan yang menggambarkan kepribdian wanita yang berani tapi tidak
kehilangan âmodestyâ (budaya malu). Anak Syuâaib ini adalah seorang yang
professional, yang pada zamannya hanya dilakukan oleh kebanyakan kaum pria.
Yaitu mengembalai ternak yang secara sosial saat itu hanya dapat dilakukan oleh
kaum pria yang pemberani dan tekun. Tapi kenyataannya dua di antara anak-anak
nabi Syuâaib melakukan tugas ayah mereka. Ternyata, profesionalisme tidak
menjadikanya kehilangan jati diri sebagai wanita yang memiliki budaya malu itu.
Sekarang ini, terkadang atas nama profesionalitas, seorang wanita bangga
menggadaikan budaya malunya. Demi persepsi manusia lain yang menganggapnya
wanita professional dengan cirri-ciri, salah satunya, dengan berpakaian yang
minim, diapun menggadaikan budaya malu ini. Maka akibatnya, ilusi mereka
sendiri menjadi perangkap terjatuhnya mereka kembali ke dalam kungkungan
âperbudakanâ yang berhiaskan modernisme. Wanita modern saat ini, disadari
atau tidak, telah terjatuh ke dalam sebuah perbudakan. Mereka telah dijadikan
korban-korban kosumerisme dan hedonisme kehiduoan manusia. Barangkali contoh
terdekat adalah iklan-iklan yang ada, dari iklan gula-gula hingga iklan
barang-barang mewah, wanita-wanita cantiklah menjadi alat penggoda dan
penggairah.
Perintah hijab
Oleh karena tabiat dasar manusia memang malu jika âauratnyaâ terekspos,
Islam memberikan aturan untuk menjaga kemurnian tabiat manusia ini. Selain
memerintahkan manusia untuk menjaga pandangan (ghaddul Bashar), juga
diperintahkan agar menjaga agar pandangan tidak terpancing untuk menjadi liar.
Maka turunlah perintah untuk berjilbab bagi kaum wanita, dan perintah kepada
kaum pria untuk berpakaian sopan. Masing-masing keduanya memiliki aturan sesuai
kodrat alami masing-masing.
Saat ini, jilbab adalah satu hal yang seringkali dipertanyakan oleh banyak
kalangan, baik di kalangan kaum Muslim sendiri, lebih-lebih lagi oleh kalangan
non Muslim. Pertanyaan non Muslim tentunya logis, karena memang tidak mengimani
ajaran agama ini. Sehingga jika mereka bertanya tentu dengan senang akan
direspon. Tapi yang aneh, di saat umat ini sendiri yang kemudian mempertanyakan
âurgensiâ ajaran menutup aurat ini.
Jilbab sesungguhnya bukan sebuah hal baru dalam ajaran agama. Sejarah agama
mengajarkan bahwa sejak zaman dulupun, wanita-wanita selalu menampakkan
kesalehannya dengan simbol kerudung ini. Wanita-wanita Bani Israel memakai
krudung dengan rok panjang. Hingga hari ini, wanita-wanita Yahudi di compound
Yahudi di Brooklyn New York masih berpakaian seperti itu.
Dalam ajaran Kristiani, khususnya umat Katolik, kita lihat dengan mata kepala
wanita-wanita terhormat mereka memakai kerudung. Para biarawati (nuns) memakai
kerudung, seorang wanita suci pertama dalam sejarah Katolik (Saint) yang
bernama Mother Theresa juga memakai kerudung. Bahkan yang lebih penting adalah
wanita tersuci, dan bahkan kesuciannya melebihi kesucian manusia biasa juga
memakai kerudung. Wanita ini bernama Maryam (Mary). Di mana-mana kita lihat
(what so called) gambar Mary dengan kerudung yang rapi.
Tapi sejujurnya, pernahkan orang-orang Yahudi mempertanyakan ini kepada para
ulama (Rabbis) mereka? Atau pernahkan mempertanyakan kalau-kalau wanita itu
berpenyakit âinferiority complexâ karena memakai kerudung? Pernahkah pula
orang-orang Kristen mempertanyakan hal yang sama ke para Pastor atau pendeta
mereka? Pernahkan mereka membanyangkan bahwa Mother Theresa, apalagi Mary itu
berpenyakit âinferiority complexâ karena memakai kerudung?
Jika tidak, lalu kenapa selalu mempertanyakan wanita-wanita Muslimah yang
berkerudung? Bagi saya pribadi, ini menunjukkan bahwa Islam itu memang selalu
menjadi daya tarik untuk dipertanyakan oleh banyak orang. Tapi jangan heran,
jika pada akhirnya mereka yang selalu mempertanyakan atau bertanya tentang
Islam itu, masuk ke dalam agama ini.
Yang disayangkan memang, jika pemakaian kerudung ini dipermasalahkan oleh
orang-orang Islam sendiri. Mempertanyakan masalah ini hanya menandakan dua hal.
Mungkin memang tidak tahu atau boleh jadi memang ada masalah dengan keimanan
itu sendiri. Maka, jangan heran jika mereka yang mempertanyakan jilbab ini
adalah mereka yang kemudian tidak pernah serius mengambil agamanya, kecuali
untuk dijadikan alat argumentasi sebatas lisan. Banyak yang pintar bicara atau
menulis, tapi kemudian di saat dituntut menjalankan agama ini, mereka mencari
berbagai justifikasi untuk menghindarinya.
Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, justeru kaum wanita
dinilai tidak pantas untuk tampil ke public jika berjilbab. Seorang wanita di
Turkey terpilih menjadi anggota parlemen dengan suara mutlak, gagal menduduki
kursinya karena tidak diterima ketika akan diambil sumpahnya.
Di negara tercinta, Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia, masih ada
orang yang merasa tidak sesuai dengan penampilan wanita berkerudung. Saya
terkejut melihat berita seorang presenter TV Metro yang tidak lagi
diperkenankan untuk tampil di depan kamera karena memilih untuk memakai
kerudung. Sangat menyedihkan, tapi barangkali memang begitulah logikah otak dan
hati pengambil kebijakan TV tersebut.
Sebaliknya, di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas non Muslims,
justeru wanita diberikan kebebasan untuk memakai kerudung jika memang dirasa
pantas dan merupakan kewajiban agamanya. Polwan NYPD (Kepolisian New York) yang
beragama Muslim, semuanya memakai kerudung. Jika anda jalan-jalan ke City Hall
atau Kantor Walikota, anda akan melihat dengan jelas beberapa wanita yang lalu
lalang.
Murid saya bernama Sonia, sejak masuk Islam setahun lalu berazam untuk
memakai kerudung ke kantornya. Pada awalnya memang bossnya mengingatkan,
jangan-jangan tugasnya sebagai Public Relations Menager di salah satu
perusahaan telekomunikasi itu akan terganggu. Kenyataannya, hingga saat ini
justeru semakin percaya diri dalam menjalankan tugas-tugas, dan telah
mendapatkan promosi dengan kedudukan yang lebih tinggi.
Lalu, kira-kira logikanya di mana, jika ada orang-orang Indonesia yang nota
benenya Muslim, risih dengan jilbab tapi justeru mendukung cara berpakaian yang
âyou can see?â Apakah tidak seharusnya orang-orang seperti ini kembali
mempertanyakan jati dirinya sebagai orang Indonesia yang memiliki budaya malu
yang tinggi dan beragama (dari Hindu, Budha, Islam dan Kristen berakar dalam
sejarah bangsa ini)? Atau barangkali memang âtabiat dasarâ kemanusiannya
sudah terbalik?
Ah masaâ iya! Relahkah mereka jika isterinya dipotret dengan hanya memakai
âcawatâ persis seperti yang dipakai Hawa (dalam bahasa Injil) lalu dipajang
di pinggir-pinggir jalan Jakarta? Saya yakin, fitrah mereka masih ada dan sudah
pasti akan menolak. Sayang fitrah itu kini terjangkiti berbagai kotoran
sehingga mengalami gangguan (sakit). Akibatnya, dalam melihat realita di
hadapan matanya terjadi pembolak balikan. Yang baik menjadi buruk, dan yang
buruk justeru dipandang baik. Waâiyaazu billah!
New York, 6 Maret 2006
**** Jaringan Media Profetik ****
This email and any files transmitted with it are confidential and
intended solely for the use of the individual or entity to whom
they are addressed.
Any other distribution, copying or disclosure is strictly
prohibited. If you are not the intended recipient or if you have
received this email in error please notify the lists owner
([EMAIL PROTECTED]) and the sender immediately.
---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
Visit your group "profetik" on the web.
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
---------------------------------
Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Save Aceh now! visit http://www.pusatkrisisaceh.or.id
Click English section for contact Islam Relief Organizations
Want to learn about Islam and Christian?
visit: http://come.to/christian-islam
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/muslim/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/