Jalan raya adalah prasarana yang paling mendasar dalam pembangunan
ekonomi dan pengembangan wilayah. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi
haruslah ditunjang oleh adanya prasarana jalan raya yang handal dan
efisien. Jika tidak maka jangan salahkan jika target pertumbuhan ekonomi
itu tak tercapai, bahkan sebaliknya pertumbuhan ekonomi menjadi minus
dan gawatnya inflasi pun ikut membumbung tinggi.
Bagaimana tidak, hasil pertanian atau perkebunan atau komoditi yang lain
membutuhkan prasarana jalan yang dapat menjamin penyaluran hasil tadi
dari daerah penghasil ke daerah konsumen. Apa jadinya jika kemudian
prasarana itu hancur ?. Dapat ditebak hasilnya, biaya ekonomi tinggi
akibat beban transportasi pengangkutannya menjadi melonjak tinggi, harga
barang pun menjadi terdongkrak membumbung tinggi, dan inflasi pun
menjadi terkerek naik.
Semua kebijakan fiskal dan moneter serta industri perdagangan tak akan
punya arti jika manajemen pengelolaan prasarana yang paling mendasar
(jalan raya) tak ditangani secara benar dan efisien oleh yang
berkompetan.
Ini kesalahan dari adanya otonomi daerah yang notabene adalah jajaran
perangkat birokrasi tingkat daerah ataukah karena kesalahan manajemen
pembinaan tingkat pusat yang tak optimal dan salah urus ?.
Semoga jawabannya bukan jawaban klasik, kurang dana. Benarkah kurang
dana ?, atau terlalu banyak porsi yang disunat ?. 
Wallahu'alambisahwab.
si-pandir, Jakarta 20 Maret 2006.
*
Kerusakan infrastruktur jalan yang begitu parah di Provinsi Bengkulu
sejak setahun belakangan ternyata berdampak negatif bagi perekonomian
daerah yang berada di pantai barat Sumatera ini. Data Bank Indonesia
Bengkulu menyebutkan, rusaknya akses transportasi ke daerah ini terbukti
telah memicu inflasi tinggi di Bengkulu selama tahun 2005, yakni
mencapai 25,23 persen.

”Angka inflasi yang begitu tinggi di Bengkulu sangat jauh di atas angka
inflasi nasional sepanjang 2005 yang hanya sebesar 17,17 persen. Paling
memprihatinkan lagi, inflasi di Bengkulu ini nomor dua tertinggi di
Sumatera setelah Nanggroe Aceh Darussalam yang mencapai 41,11 persen,”
ungkap Pemimpin Bank Indonesia (BI) Bengkulu Syarifuddin Bassara, dalam
jumpa pers, Senin (20/3).

Diungkapkan, keputusan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar
minyak (BBM) per 1 Oktober 2005 memang ikut memicu inflasi di Bengkulu.
Akan tetapi, tekanan paling kuat inflasi di Provinsi Bengkulu justru
dipicu oleh kondisi jalan yang buruk sehingga menyebabkan terhambatnya
arus distribusi barang dan jasa dari dan ke Bengkulu.

”Faktor pemicu laju inflasi di Bengkulu memang tidak bisa dilepaskan
dari dampak kerusakan jalan yang begitu parah. Fakta ini tidak bisa
dielakkan karena sejumlah daerah di bagian timur Sumatera yang jalur
distribusi barang dan jasanya relatif lancar justru mengalami inflasi
yang lebih rendah. Oleh karena itu, guna menekan laju inflasi di
Bengkulu tahun-tahun mendatang, pemerintah daerah seyogianya
berkonsentrasi memperbaiki infrastruktur tersebut,” ujar Syarifuddin.

Tergantung.

Ia menyebutkan, dilihat posisi dan kondisi geografis Bengkulu, di masa
mendatang arus barang dan jasa bagi daerah ini tetap akan sangat
tergantung dari daerah lain. Sejumlah bahan pokok untuk kebutuhan warga
Bengkulu, seperti beras, gula, minyak goreng, dan lain-lain, sebagian
besar terpaksa didatangkan dari daerah lain, misalnya, Padang,
Palembang, dan Lampung.

Faktor infrastruktur ikut memicu laju inflasi bisa dilihat dari inflasi
yang dialami sejumlah daerah yang kondisi jalannya relatif mulus.
Seperti Jambi yang inflasi tahun 2005 di bawah nasional yang hanya 16,50
persen atau Riau yang cuma 17,11 persen. Menurut Syarifuddin, kendati
inflasi Bengkulu jauh di atas nasional, secara tahunan perekonomian
Bengkulu tahun 2005 masih mengalami pertumbuhan sebesar 5,81 persen.
Faktor konsumsi, baik rumah tangga, pemerintah maupun lembaga swasta,
masih memiliki porsi terbesar dalam pembentukan PDRB dari sisi
permintaan.

Kerusakan Jalan Picu Inflasi Tinggi di Bengkulu, Kompas, Selasa, 21
Maret 2006. 
***





-- 
http://www.fastmail.fm - Access your email from home and the web






Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional?
Kirim email ke [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Reply via email to