"Matthew Sanches"   

Oleh A. Syamsi Ali

Matt, demikian ia biasa dipanggil, baru saja memeluk Islam sepekan lalu. Dia 
datang ke kelas saat diskusi hampir berakhir, di the Islamic Forum for non 
Muslim. "Saya datang terlambat. Maaf, tadinya masih pikir-pikir apakah akan 
datang atau tidak," mengawali diskusinya.

Pemuda berusia 27 ini nampak lebih tua dari umurnya. Dengan pakaian seadanya, 
jeans and baju kaos, nampak dahinya berkerut. Kumisnya pun nampak kurang 
terurus, bahkan terlihat dengan jelas bahwa sang pria keturunan Hispanic ini 
kurang memperhatikan kebersihan dirinya.

Ketika saya tanyakan, apa yang menjadikannya tertarik untuk bergabung dengan 
the Islamic Forum? Dia sendiri agak bimbang menjawabnya. Tapi pada akhirnya dia 
jelaskan bahwa sebenarnya dia termasuk pemuda yang beruntung. Tamat sekolah 
dari New York City University pada fakultas teknik, dan sekarang bekerja di 
sebuah perusahaan Jepang di kota yang sama. "Tapi saya tidak tahu, kenapa saya 
merasa hidup ini tidak berarti," keluhnya.

Ketika didesak oleh salah seorang peserta mengani hidup yang tidak berarti itu, 
dia menjawab dengan suara lirih, "Saya merasa hidup saya seperti mesin. Bangun 
pagi, pulang sore, atau sekalian saya habiskan masa di bar-bar untuk minum." 
"Saya merasa selama ini bekerja keras, tapi setiap akhir bulan atau akhir tahun 
saya tidak melihat atau merasakan sebuah hasil," katanya lagi.

"Saya capek!" serunya dengan nada meninggi.

Sambil kembali menyalami Matt, saya menyela, segera ambil alih kendali diskusi 
hari Sabtu lalu itu. Saya mulai menjelaskan, bahwa "manusia sengaja diciptakan 
dengan penciptaan yang termulia dan untuk tugas yang termulia pula. 
Diciptakannya manusia bukan untuk sebuah kesia-siaan. Bahkan semua makhluk 
lainnya diciptakan untuk mendukung manusia dalam mencapai tujuan mulia dalam 
hidupnya".

Matt, nampak tenang mendengarkan penjelasan saya. Tapi sesekali gelisah dan 
mengerutkan dahinya. Saya kemudian menjelaskan, manusia diciptakan pertama 
kali, ditempatkan di syurga. Tapi syurga bukan tujuan penciptaan. Syurga 
hanyalah konsekuensi dari tujuan penciptaan manusia. Jika manusia berhasil 
melakukan tugasnya secara baik, maka syurga akan kembali diraihnya.

Matt sepertinya tidak sabar menunggu makna dari penjelasan saya. Sehingga 
dengan sigap kembali bertanya, "Jadi saya harus bagaimana? Saya butuh 
ketenangan, saya butuh kebahagiaan."

Saya kemudian berpanjang lebar menjelaskan makna hidup, bahwa hidup dunia ini 
memang penuh dengan tantangan. Tapi di balik tantangan itulah manusia 
diharapkan mampu menemukan ketenangan dan kebahagiaannya. 

"Kebahagiaan yang sebenarnya, bukan apa pekerjaan dan berapa gaji yang kita 
dapatkan, tapi pada hati sikap hati dalam menerima realita tantangan di depan 
mata,” kata saya.

Oleh karena kelas memang sudah hampir berakhir, saya berjanji untuk diskusi 
lebih jauh dengan Matt. Sebelum meninggalkan kelas, seperti biasanya, saya 
berikan terjemahan Al- Quran dan beberapa buku ringan tentang Islam. Tidak lupa 
nomor HP saya yang bisa dihubungi 24 jam. Saya juga ingatkan Matt untuk membaca 
Al-Quran secara perlahan-lahan, dan jika ada hal-hal yang tidak difahami agar 
dicatat untuk didiskusikan pada pertemuan selanjutnya.

Tiga hari selanjutnya, hari Senin lalu, Matt menelpon Islamic Center untuk 
berbicara dengan saya. Pertayaan lumrah dari seseorang yang nampaknya sudah 
tertarik untuk bersyahadat, "Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi Muslim?"

Saya tanyakan apakah sudah mempelajari Islam? Apakah sudah membaca Al-Quran 
yang saya berikan? Jawabannya, "Sedikit, tapi saya sudah merenungkan apa yang 
Anda sampaikan tempo hari itu.”

Setelah saya jelaskan bagaimana cara untuk menjadi seorang Muslim, dengan 
mantap Matt mengatakan akan datang. "Anda punya waktu hari ini? Bisakah saya 
melakukannya hari ini?" tanyanya. Saya balik bertanya seolah tidak percaya 
kalau Matt yang datang dan sedikit "bingung" kini yakin ingin masuk Islam. 
"Anda yakin Islam cocok untuk Anda?" tanyaku. "Ya," jawabnya.

Saya menyuruh mandi dan bersih diri, lalu datang menjelas jam 12:00 siang. Tak 
berselang lama datanglah Matt. Kini ia nampak bersih dan berpakaian cukup rapi. 

Menjelang azan, saya menyuruh Matt untuk ke kamar mandi ditemani oleh seorang 
Muslim lainnya dan berwudhu. Setelah wudhu dan di saat jama'ah telah berkumpul, 
saya menuntun Matt mengucapkan Kalimah "Laa ilaah illah Allah-Muhammadan Rasul 
Allah", diikuti gema takbir para jama'ah. Dilanjutkan dengan shalat Zuhur 
berjama'ah, shalat pertama bagi Matthew Sanches.

Alhamdulillah, semoga Br. Matt dikuatkan di jalanNya!


*) Penulis adalah Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York.


 
____________________________________________________________________________________
Get your own web address.  
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/domains/?p=BESTDEAL

Kirim email ke