Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh

Berikut saya copy-kan sebuah artikel menarik.
Semoga bermanfaat & menambah ilmu bagi kita semua.

Wassalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh
*Harap di-forward ke saudara/i lainnya
--
Haryo 4 Dakwah
http://anNajiyah.notLong.com <http://annajiyah.notlong.com/> -- Islamic
download, up to 250 KB/sec!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Jika email ini ditandai sebagai spam/ bulk/ junk / mass, harap tandai ulang
sebagai NOT spam/ bulk/ junk / mass!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~


---------- Forwarded message ----------
From: Mailinglist alsofwa <>
Date: Mar 30, 2007 8:49 AM
Subject: [syiar-alsofwah] DI ANTARA UCAPAN KENABIAN PERTAMA

Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh
Semoga Netters Syiar al-Sofwa senantiasa dalam lindungan Allah Ta'ala


DI ANTARA UCAPAN KENABIAN PERTAMA
Rabu, 28 Maret 07, selengkapnya klik di sini:
http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=421

Banyak orang yang terbiasa mengucapkan kalimat, "Malu dong!" yang merupakan
ungkapan untuk mengecam dan diarahkan kepada orang yang menentang syari'at
Allah subhanahu wata'ala, melakukan sesuatu yang diharamkan-Nya atau
menyepelekan suatu kewajiban dan kurang berlaku sopan terhadap sesama
manusia dalam bentuk apa pun.! Benar, sesungguhnya itu adalah ungkapan yang
memiliki makna dan misteri.

Kerapnya ungkapan seperti itu dilontarkan merupakan pertanda adanya
kecemburuan dan kepekaan yang tidak lain merupakan salah satu dari metode
beramar ma'ruf nahi munkar, yang pantas diterapkan terhadap sekelompok
manusia yang tidak mempan dengan cara-cara yang lain dan perilaku maksiatnya
telah mencapai puncaknya hingga secara terang-terangan melakukannya tanpa
rasa takut kepada Allah subhanahu wata'ala dan rasa malu kepada sesama
manusia. Pelecehan terhadap hak-hak makhluk yang dia lakukan telah sampai
kepada batasan di mana orang-orang harus mengatakan kepadanya, "Malu dong!'
tersebut.

Sekalipun demikian, terkadang kita tidak mengetahui makna malu itu sendiri,
bahkan sebagian kita tidak memahami perbedaan antara malu 'syar'i' dan malu
bukan 'syar'i', demikian juga malah ada di kalangan kita yang tidak mengenal
nilai malu tersebut.!

Kedudukan Sifat Malu

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah
malu." (HR. Malik dan Ibn Majah dengan sanad Hasan)

Saking pentingnya sifat malu dan tingginya kedudukannya, maka ia merupakan
karakteristik Dien ini dan juga semua agama terdahulu. Ia merupakan salah
satu dari sekian syari'at-syari'at terdahulu yang tidak dihapus. Oleh karena
itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya di antara ucapan kenabian pertama yang didapati manusia adalah
(ungkapan), "Bila engkau tidak malu, maka lakukanlah apa yang kamu mau."
(HR. al-Bukhari dan Abu Daud)

Dan cukuplah untuk menunjukkan betapa kedudukan malu sangat tinggi,
penilaian bahwa ia merupakan sebagian dari iman dan jalan menuju surga.
Lawannya adalah badza' (ucapan cabul, jorok). Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda, "Malu merupakan bagian dari iman dan iman itu di surga
sedangkan badza' (ucapan cabul) itu merupakan bagian dari jafa' (tabi'at
kasar) dan jafa' (tabi'at kasar) itu di neraka." (HR. at-Turmudzi, Hasan
Shahih)
Definisi Malu

Para ulama mendefinisikan malu secara bahasa yakni perubahan dan kekalahan
diri yang dialami manusia akibat rasa takut dicela. (Fath al-Bari, I:56)

Sedangkan definisi malu secara istilah syari'at adalah sifat yang mendorong
diri menghindari hal yang buruk dan mencegah ketidak-optimalan dalam
memberikan hak kepada pemiliknya. Oleh karena itu, dalam hadits dikatakan,
"Malu itu semuanya baik." (Fat-h al-Bari, I:56)

Malu Adalah Sebagian Dari Iman

Malu merupakan tanda kebaikan dan salah satu dari cabang iman sebagaimana
sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Iman itu memiliki tujuh
puluh tiga-an (tujuh puluh tiga hingga tujuh puluh sembilan) cabang, dan
malu merupakan bagian dari iman." (HR. al-Bukhari). Pertanyaan penting di
sini, mengapa malu merupakan bagian dari iman? Mengapa pula ia disebutkan
secara tersendiri dari sekian cabang-cabang iman? Ada pun mengapa ia
merupakan bagian dari iman, hal ini karena seperti yang dikatakan, Ibn
Qutaibah rahimahullah, "Sesungguhnya malu mencegah pemiliknya dari melakukan
perbuatan maksiat sebagaimana iman mencegahnya, maka dinamakan dengan iman.
Sebagaimana juga sesuatu dinamakan dengan nama yang mewakilinya."

Ibn al-Atsir rahimahullah berkata, "Malu yang merupakan watak merupakan
bagian dari iman. Ia juga sesuatu yang dihasilkan (bukan eksis dengan
sendirinya) sebab dengan sifat malunya, si pemalu akan terputus dari
perbuatan-perbuatan maksiat sekalipun bukan sebagai tameng atau pencegah
baginya. Maka jadilah ia seperti iman yang memutus antara pelaku maksiat dan
kemaksiatan. Malu dijadikan sebagian iman karena iman terbagi kepada sikap
mengikuti perintah Allah subhanahu wata'ala dan berhenti dari larangan-Nya.
Bila sudah berhenti melalui sifat malu, maka ia menjadi sebagian dari iman."
(an-Nihayah Fi Gharib al-Hadits, I:470)

Perbedaan Malu Secara Syari'at Dan Bukan Syari'at

Sementara mengapa malu disebut kan secara tersendiri dari sekian
cabang-cabang iman, maka hal itu karena malu ibarat pendorong kepada sisa
cabang-cabang tersebut sebab si pemalu takut dirinya mendapat malu di dunia
dan akhirat, sehingga ia mengikuti perintah dan mengambil pelajaran.

Dari sini diketahui, betapa kedudukan dan nilai sifat malu yang merupakan
pengawasan internal yang mengontrol prilaku-prilaku manusia, mendorongnya
melakukan perbuatan baik dan mencegahnya melakukan perbuatan buruk, meskipun
berten tangan dengan kemauan dirinya. Bila seseorang menampilkan sifat malu,
maka ia dapat menggiringnya kepada setiap kebaikan dan menghalanginya dari
setiap keburukan. Akan tetapi hal ini memerlukan kesungguhan, kegigihan,
latihan diri dan sikap mengharap pahala dari Allah subhanahu wata'ala.
Inilah malu 'syar'i' yang dituntut itu.! seperti yang dikatakan para ulama,
malu 'syar'i' adalah malu yang selalu bergandengan dengan ilmu dan niat yang
baik. Ia adalah motivator untuk melakukan perintah dan meninggalkan
larangan. Ia yang menyebabkan para tokoh dihargai dan dihormati.!

Sementara malu bukan syar'i (tidak sesuai syari'at) sebagaimana yang
dikatakan al-Hafizh Ibn Hajar rahimahullah, "Dan tidak dapat dikatakan,
"Betapa banyak sifat malu yang dapat mencegah dari mengatakan kebenaran atau
melakukan kebaikan, sebab itu bukanlah malu secara syari'at (malu
'syar'i')." (Fat-h al-Bari, I:52)

Ia juga mengatakan, "Ada pun yang menjadi sebab ditinggalkannya perkara
syari'at, maka hal itu dicela dan bukan merupakan malu 'syar'i' tetapi
kelemahan dan kehinaan.!"

Tiga Tipe Manusia

Dulu orang-orang bijak selalu mengatakan, "Ada tiga tipe laki-laki:

- Pertama; Laki-laki yang melakukan perbuatan baik seraya mengharapkan
pahalanya.

- Ke dua; Laki-laki yang melakukan perbuatan buruk kemudian bertaubat
darinya seraya berharap ampunan Allah subhanahu wata'ala.

- Ke tiga; Laki-laki pembohong yang terus-menerus melakukan dosa seraya
mengatakan, "Aku berharap ampunan Allah subhanahu wata'ala."

Siapa yang mengetahui dirinya berbuat buruk, maka hendaklah rasa takutnya
lebih dominan.!" (Tsalatsu Syu'ab Minal Jami' Li Syu'ab al-Iman Li
al-Baihaqi, I:297)

Tipe pertama dan kedua masih memiliki rasa malu sedangkan tipe ke tiga
adalah orang yang menuruti hawa nafsu dan tidak mengerti makna malu.

Sejumlah Pertanyaan Dan Jawabannya

Timbul pertanyaan, Lalu apa jalan menuju sifat malu itu? Bagaimana manusia
mengetahui dirinya; apakah termasuk golongan orang-orang yang mempunyai rasa
malu atau para penipu dan hanya menipu diri sendiri tanpa sadar.?

Jawabannya adalah sebagaimana terhimpun dalam jawaban Nabi shallallahu
'alaihi wasallam kepada para shahabatnya saat beliau bertanya kepada mereka,
"Malulah kamu terhadap Allah dengan sebenar-benarnya.!" Mereka berkata,
"Demi Allah, alhamdulillah, kami sungguh merasa malu terhadap Allah
subhanahu wata'ala, wahai Rasulullah. Beliau berkata, "Bukan demikian. Akan
tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu adalah dengan menjaga
kepala dan apa yang ditangkapnya; menjaga perut dan apa yang dikandungnya
(isinya) dan mengingat kematian dan cobaan. Siapa yang menginginkan akhirat,
maka ia akan meninggalkan perhiasan dunia dan mementingkan akhirat ketimbang
dunia." Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka berarti ia telah malu
terhadap Allah dengan sebenar-benarnya." (HR.at-Turmudzi, dishahih kan
al-Hakim, disetujui adz-Dzahabi)

Gejala-Gejala Kurang Malu

Secara umum, di antara gejala kurang malu adalah:
- Melakukan perbuatan maksiat secara terang-terangan, apapun perbuatan
maksiatnya.
- Memiliki akhlak yang buruk seperti suka mencaci, fasiq, banyak bercanda,
berucap kotor, sombong, dusta, menipu dan sejenisnya.
- Tidak menghormati orang lain dan menghargai perasaan mereka.

Semoga kita semua dapat berhias dengan sifat malu dan terhindar dari hal-hal
yang mengotorinya, amin. (Abu Shofiyyah)
Sumber: "Min Kalam an-Nubuwwah al-Ula", Dr Sulaiman bin Hamd al-Oadah.

Netter Al-Sofwa yang dimuliakan Allah Ta'ala, Menyampaikan Kebenaran adalah
kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah
dengan menyampaikan Artikel ini kepada saudara-saudara kita yang belum
mengetahuinya.
Semoga Allah Ta'ala Membalas 'Amal Ibadah Kita. Aamiin

Waassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
---------------------------------------------------------------------
YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810
Jakarta Selatan - Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326.
e-mail: info @alsofwah.or.id
website: www.alsofwah.or.id

Kirim email ke