Belajar yuk, Nak? Penulis : Ummu Shafa KotaSantri.com : Pada anak usia sekolah, kerapkali orangtua mengalami kesulitan ketika menyuruh anaknya belajar. Ibu-ibu terutama, tak jarang harus berteriak, atau cerewet mengingatkan anaknya untuk belajar. Padahal, belajar adalah sebuah proses penting yang harus senantiasa dilakukan anak agar ia bisa terus meningkatkan pengetahuannya. Apalagi, dalam Islam, belajar atau menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim yang harus terus diikhtiarkan. Bahkan, hingga tua sekalipun. Karena itu, orangtua harus pandai menyiasati kondisi anak dan lingkungan terdekat agar anak tetap termotivasi utnuk belajar.
*** Penyebab Malas Belajar Agar bisa bertindak bijak, orangtua perlu mengetahui penyebab anak malas belajar. Di antaranya, pertama, berkaitan dengan kondisi psikologis anak. Misalnya, sedang sedih, kurangnya waktu bermain, atau sedang bermasalah di rumah (cemburu pada adik baru), atau bermasalah di sekolah (bertengkar dengan teman). Atau, bisa juga karena hubungan antar anggota keluarga yang kurang harmonis, orangtua sering bertengkar, sehingga suasana rumah menjadi tidak nyaman untuk belajar. Selan itu, kondisi fisik anak yang sedang tidak sehat atau sakit juga menyebabkan anak sulit untuk berkonsentrasi dan enggan belajar. Pelajaran sekolah yang kurang sesuai dengan usia anak juga akan menyebabkan anak malas belajar. Hal ini akan membuat anak merasa kesulitan, putus asa dalam memahami materi, dan akhirnya mogok belajar. Penyebab lainnya, adalah anak tidak terlalu memiliki minat untuk tahu. Bisa jadi karena sejak awal orangtua kurang merespon positif setiap pertanyaan kritis anak atau menjawab seadanya saja. Alhasil, anak menjadi enggan untuk bertanya dan mengembangkan keingintahuannya, karena merasa diabaikan orangtuanya. Anak-anak yang tidak suka belajar, boleh jadi, karena menganggap belajar adalah aktivitas yang tidak menyenangkan. Terlalu serius, tidak bisa bermain. Padahal, sebenarnya, belajar tidak terbatas pada 'duduk di depan meja' saja. Kegiatan sehari-hari bersama anak, dapat di-setting menjadi kegiatan belajar yang menyenangkan. Maka, menciptakan suasan belajar yang fun adalah prioritas yang harus diupayakan orangtua. *** Tips Agar Anak Mau Belajar Nah, berikut ini tips yang bisa dicoba orangtua agar anak suka belajar. Pertama, orangtua harus menjadi contoh. Anak harus melihat bahwa belajar adalah kegiatan yang juga dilakukan orang dewasa. Cobalah membaca, menulis, atau berdiskusi bersama anak. Jadikan belajar sebagai budaya keluarga kita. Kedua, Buatkan waktu belajar yang sesuai dengan schedule anak. Mungkin ba'da Ashar, setelah ia tidur siang, atau malah sesudah Isya setelah ia menyelesaikan aktivitasnya (bermain). Jangan sampai, orangtua terkesan memaksakan waktu belajar kepada anak, sehingga malah tidak ada waktu untuk bermain. Karena itu, orangtua dapat berdiskusi dengan anak, tentang kesepakatan waktu belajar. Hal ini, juga mendidik anak untuk komitmen dengan kesepakatan yang diputuskan bersama. Ketiga, dampingi anak ketika ia belajar. Agar ketika mendapatkan kesulitan anak tidak langsung putus asa, karena ada orangtua yang segera membantunya. Sekaligus, kenali pula daya konsentrasi anak kita. Ada anak yang hanya mampu konsentrasi 10 menit di awal saja, ada pula yang lebih lama. Maka, perlakuannya pun berbeda. Anak yang daya konsentrasinya relatif lebih pendek, dapat disiasati dengan bermain, atau rehat di antara waktu belajar. Bahkan, lebih baik lagi bila orangtua juga mengenal tipe belajar anak. Visualkah, audiokah, atau malah kinestetik. Tujuannya agar upaya belajar anak lebih optimal, dan sekali lagi agar anak tidak merasa terbebani, terpaksa dalam belajar. Lalu, keempat, beritahukan manfaat belajar kepada anak. Bahwa belajar akan membuatnya pintar, tahu banyak hal yang berguna bagi kehidupannya kelak. Tentu, orangtua dapat menyesuaikannya dengan tingkat pemahaman anak, artinya lebih konkrit dan bisa dimengerti anak. Dan, tidak salah pula jika sesekali orangtua memberikan insentif atau reward kepada anak. Misalnya, berupa pujian, pelukan, atau penghargaan lainnya yang kian memotivasi anak. Kelima, optimalkan setiap kesempatan menjadi sarana pembelajaran untuk anak. Acara di tv misalnya, bisa menjadi ajang kita menguji pengetahuan anak. "Ade tahu gak kalo sapi yang di tv itu makannya apa ya?" Atau bersama menjawab pertanyaan kuis. Membaca buku bersama di sela waktu senggang, juga sangat memungkinkan sebagai waktu belajar bagi anak. Yang terpenting juga, jangan pernah menyepelekan pertanyaan kritis anak. Sebisa mungkin, orangtua harus menjawab yang memuaskan keingintahuan anak. Atau, bisa juga dengan bersama mencari jawabannya di buku. Karena, sesungguhnya pertanyaan anak adalah awal dari keingintahuannya, lalu memotivasinya untuk terus belajar. Semoga dengan segala upaya yang dioptimalkan orangtua, anak kita menjadi pembelajar sejati yang tidak akan pernah jemu belajar, meningkatkan pengetahuannya, dan menjadi generasi terbaik kebanggaan Islam, insya Allah. [Swadaya-022007]
