Jika tidak suka, atau tidak ingin mendengarkan kebenaran, tidak ingin mendengar 
suara hati, HAPUS SAJA EMAIL INI. Tetapi yang jelas Email ini bukan Email SARA, 
anti agama tertentu. Ini hanyalah Email KEMANUSIAAN.   

Pilihan ada di tangan anda, hakim ada dalam hati anda, untuk menyebarkan email 
ini dan menyuarakan kebenaran...atau turut untuk tuli, buta, dan membisu.

  
   
  Bagaimana Cara Mereka Hidup, dan Bagaimana Cara Kita Hidup?

Ane teringat pada saat Malam Minggu lalu menonton film "Last Samurai" yang 
ditayangkan di salah satu TV swasta. 

Ada adegan tatkala Kaisar Jepang bertanya kepada Komandan Algren (yang 
diperankan Tom Cruise), "Ceritakan kepadaku bagaimana ia mati?"

Komandan Algren menjawab, "Saya ceritakan kepada Kaisar bagaimana ia hidup."


Mendadak, imajinasi ane mengembara, melanglang jauh....ke sebuah wilayah yang 
menjadi topik salah satu film Box Office - Kingdom of Heaven. Bagi Dunia, 
wilayah ini adalah wilayah internasional, tempat suci 3 agama yang berakar dari 
rumpun agama Nabi Ibrahim as. (Abraham), yaitu: Islam, Kristen, Yahudi.

Bagi ummat Islam, tempat ini selain merupakan Kiblat pertama ummat Islam, dan 
Masjid ketiga yang berdiri di muka bumi ini,  juga merupakan Kingdom of 
Mujahidin. 

Tempat para pejuang lahir dan berjuang, atau tempat setiap pejuang tertambat 
hatinya untuk berjuang di wilayah tersebut. Selalu. Abadi. Sampai Hari Kiamat. 
Ini termaktub dalam Hadits Nabi Muhammad saw.

Bagi ummat Kristiani (Kristen dengan segala alirannya), tempat ini adalah 
tempat ajaran Kristen tumbuh untuk kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. 
Tempat Yesus (Nabi Isa as.) dilahirkan, menyebarkan ajarannya, dan kemudian 
diangkat ke Langit, untuk kembali kelak.

Bagi ummat Yahudi, tempat ini adalah tanah perjanjian yang harus dijaga 
kesuciannya. Dan dalam sejarah mereka telah tercatat bahwa tempat ini harus 
dijaga dengan keimanan yang suci, dan akhlak yang luhur. Jika tidak, maka akan 
direbut dan dikuasai serta dirusak oleh pihak lain.

Bagi pemeluk agama lain, bahkan untuk orang-orang Agnostic (percaya Tuhan, 
tidak percaya ikatan keagamaan) dan Atheis (tidak percaya Tuhan), tempat ini 
penuh daya tarik dan misteri. Sehingga mereka berkunjung ke sana untuk mencari 
tahu dan ingin merasakan apa rahasia tersembunyi disana. Magnet macam apa yang 
menarik begitu banyak kejadian disana? Perihal apa di sana yang menarik dan 
memicu begitu banyak dinamika dan konflik dalam sepanjang sejarah kehidupan 
manusia?


Ane disini tidak akan membahas panjang lebar mengenai keyakinan 3 agama 
tersebut, baik titik temunya, maupun perbedaan mendasarnya. Dan memang bukan 
itu tujuan email ini dibuat.

Tapi ane disini mengajak semua orang, terutama pemeluk 3 agama tersebut, dengan 
keimanan yang penuh, dengan hati nurani yang bersih, untuk melihat bagaimana 
cara mereka yang ada di Palestina dan sekitarnya (terutama Libanon) untuk 
bertahan hidup...selama puluhan tahun.

Dan lalu mengajak kita semua merenung, melakukan kontemplasi untuk evaluasi 
cara kita hidup. Lalu meningkatkan kepedulian kita sebagai saudara seiman, 
sebagai saudara sesama manusia untuk membantu mereka.


Bila kita membaca begitu banyak media massa, buku, dan sumber informasi 
lainnya, akan terlihat bahwa begitu banyak kekerasan, kekejaman, dan penindasan 
menimpa Palestina. 

Hati nurani manusia, siapa pun, apa pun golongannya, pasti akan terketuk dan 
terenyuh melihat penderitaan mereka. Berusaha untuk menolong membantu 
meringankan beban penderitaan mereka.

Hanya manusia yang hatinya berubah menjadi batu, atau yang telah tercuci dengan 
baik segala fitrah dasar kemanusiaannya...merekalah yang tetap membisu terhadap 
penderitaan Palestina. 

Atau mungkin lebih dari itu, mereka yang sudah bukan `manusia` lagi justru 
sangat bergembira menikmati penderitaan Palestina. Dan selalu membuat 
pembenaran terhadap segala apa yang terjadi, bahkan menyalahkan Palestina 
terhadap segala permasalahan yang ada.



Cara mereka - Palestina - bertahan hidup terhadap segala penderitaan dan 
penindasan yang menimpa mereka sungguh menakjubkan. Penuh rasa optimis, pantang 
mundur, pantang menyerah, demi merebut hak mereka yang sangat azasi, demi 
mewujudkan kedamaian dan kestabilan hakiki di daerah tersebut.

Dr. Ang Swee Chai telah merekam dengan sangat berkesan cara mereka hidup dalam 
catatannya yang berjudul "From Beirut to Jerussalem - Tears of Heaven". Begitu 
pula dengan aktivis-aktivis kemanusiaan lainnya, yang begitu banyak dan sulit 
disebutkan satu-persatu berikut kesaksian mereka.

Al-Jazeera, AFP, dan begitu banyak rekan-rekan jurnalistik lainnya, tanpa kenal 
lelah berani menerobos Killing Field dan Gheto di Palestina, demi mencari fakta 
kebenaran, dan menyuarakannya, mesti nyawa taruhannya.

Begitu juga dengan media massa dan website lokal, seperti Majalah Tarbawi, 
Eramuslim, dan semua yang sevisi - Persaudaraan dan Kemanusiaan - selalu 
menceritakan, tanpa kenal lelah dan jenuh, segala penderitaan mereka yang 
berada di Palestina dan sekitarnya.

Begitu pula komunitas lintas agama dan kemanusiaan, seperti komunitas Kristen 
Orthodox dan Katholik di Timur Tengah serta sekitarnya, Komunitas Yahudi 
Neturei Karta di Barat, juga semua ormas pejuang Hak Azasi Manusia, berpuluh 
tahun bergandeng tangan membantu menyebarluaskan fakta Palestina, dan membantu 
memberikan dukungan moral dan materi untuk meringankan beban Palestina. 

Ingat pula kecaman Nelson Mandela, Keluarga Gandhi, dan semua negarawan yang 
sepemikiran dengan mereka, terhadap penindasan di Palestina.


Mungkin ada orang yang tidak mengerti, bahkan tidak bersimpati terhadap 
Palestina. Untuk apa bersimpati terhadap orang-orang yang selalu 
berdemonstrasi, melempar batu, melakukan bom bunuh diri, menembakkan roket? 
Orang-orang yang keras kepala selalu melakukan tindak kekerasan?

Pertanyaan ini ane serahkan kepada hati nurani masing-masing. Namun dengan izin 
atau tanpa izin siapa pun... Ane menyuarakan suara hati ane, simpati dan 
mendukung Palestina. Selalu!



Dahulu, berabad-abad orang Palestina hidup damai, bahkan dengan komunitas 
Yahudi yang minoritas di sana. Palestina, baik yang Muslim dan yang Kristiani 
selalu hidup tentram, damai berdampingan. Berabad-abad, camkan itu!

Kemudian, ada segolongan manusia yang hatinya bukan manusia, mengatasnamakan 
Yahudi, mencatut nama Israel, demi mewujudkan ambisi kotor mereka, mengoyak 
kedamaian ini. 

Ya, merekalah Zionis yang merusak perdamaian dunia, khususnya di wilayah 
Palestina dan sekitarnya. Ingat kita berbicara tentang Zionis perusak 
kedamaian, pencatut jargon Yahudi dan nama Israel yang banyak komunitas Yahudi 
dan Kristiani mengecam mereka.

Mendekati pecahnya Perang Dunia II, Zionis mulai melakukan teror, sehingga 
memicu kerusuhan pertama di Palestina, yang sebelumnya belum pernah terjadi.

Lalu mereka melakukan teror lebih dahsyat setelah Perang Dunia II, menyebabkan 
pengungsian massal orang-orang Palestina, dan muncullah negara Zionis yang 
mencatut nama Israel pada tahun 1948. 

Padahal nama Israel adalah luhur, nama Nabi Yakub as, Nabi yang dihormati, 
dicintai, diimani keberadaannya dalam 3 Agama tersebut. 

Lalu dengan propaganda palsu tersebut mereka mendatangkan orang-orang Yahudi 
yang tertipu, atau memang simpatisan Zionis, atau yang telah tercuci otaknya, 
untuk bermigrasi ke daerah Palestina.

Lebih parah lagi, mereka mengobarkan perang terhadap negara tetangga mereka. 
Sejarah mencatat dari beberapa peperangan, hanya sekali mereka diserang. Itu 
pun setelah negara tetangga mereka yang menyerang telah mengalami berkali-kali 
agresi dari Zionis. Bahkan Armada Amerika Serikat pun turut diserang mereka, 
padahal Amerika adalah sekutu setia mereka.

Dan mereka tidak bosan-bosannya melakukan penindasan, bahkan tepatnya 
pembantaian terhadap Palestina dan sekitarnya. Dan setiap negara tetangga serta 
Palestina mencoba berdamai, membuat perundingan dan perjanjian yang baik, 
bahkan sebenarnya menguntungkan Zionis...mereka dengan rutin berlangganan untuk 
selalu mengkhianati perjanjian dan menghancurkan perdamaian yang coba dibina.

Maka apakah jika Palestina melawan untuk mempertahankan hidupnya, dan merebut 
kembali hak mereka serta perdamaian yang sudah terenggut dan 
terkoyak...dinyatakan sebagai pihak yang bersalah? 

Sungguh aneh dunia ini bila diisi oleh banyak `manusia` yang menghakimi 
Palestina sebagai tertuduh belaka. Tulikah? Butakah? Bisukah? 

Sungguh Palestina berperang melawan teroris Zionis atas nama 3 Agama! Atas nama 
Kemanusiaan! Atas nama Kedamaian Dunia! 

Jikalau ada yang melecehkan Palestina melawan dengan batu, maka mungkin saja 
mereka juga melecehkan para pejuang kita yang melawan penjajah dengan bambu 
runcing.

Kendati secara pribadi ane tidak sreg dengan Bom Bunuh Diri di Palestina, namun 
ini adalah reaksi mereka melawan Zionis yang begitu kuat dari segi perlengkapan 
militer dan menindas mereka bertahun-tahun, sehingga hanya sedikit upaya 
membela diri secara umum yang bisa mereka lakukan. 

Jika ada yang menghina dan menyalahkan, maka apakah berarti mereka juga 
menghina dan menyalahkan M. Toha dan M. Ramdan mengorbankan diri demi 
membumihanguskan amunisi Belanda, yang membuat peristiwa Bandung Lautan Api?

Salahkah jika segenap Palestina selalu melakukan konfrontasi membela diri 
melawan Zionis? 

Padahal segenap Zionis (baca Zionis, bukan semua Yahudi) adalah combatan, 
militer dan para-militer yang sudah mendarahdaging kebiasaan menteror, 
menindas, membantai, mengkhianati perjanjian. 

Haruskah Palestina pasrah dan tiada berontak, layaknya hewan ternak harus diam 
di hadapan tukang jagal yang pekerjaannya menjagal dan nyaris mustahil 
menghentikan penyembelihan untuk segenap hewan ternak yang ada di hadapannya?

Siapa yang menyalahkan Palestina berjuang, sama seperti menyalahkan para 
leluhur pendahulu kita, para pejuang dan pahlawan kita. Karena sesungguhnya 
pendahulu kita berperang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, sama 
seperti yang dilakukan Palestina.

Bayangkan, ketika banyak masyarakat Palestina ditanya, bencikah kau pada Yahudi 
(sebagai etnis dan/atau agama)? Mereka menjawab tidak, kami hanya memerangi dan 
membenci Zionis yang menjajah dan menindas kami. Salahkah jawaban ini? Jika 
salah, berarti sungguh benar pernyataan Belanda yang menyatakan bahwa para 
pejuang dan pahlawan kita terdahulu adalah ekstrimis belaka.

Bayangkan ketika serdadu Zionis menyeret seorang anak kecil ke hadapan seorang 
Ibu Palestina, menghardik menyatakan apakah Palestina tidak bisa mengajarkan 
kedamaian dan menghormati Israel. Ibu itu dengan tenang dan lantang menjawab, 
"Ajari dulu pihak kalian tentang perdamaian, tidak menindas kami. Maka setelah 
itu sungguh kami dapat dengan mudah mengajarkan anak-anak kami cara berdamai 
dan menghormati kalian!"

Palestina bukanlah teroris, pihak yang haus darah, gemar berperang. Tetapi 
semua manusia sepakat bahwa kita harus berperang mempertahankan hak dan 
kedamaian kita yang telah terenggut sebelumnya. Lebih baik mati berkalang tanah 
dari hidup hina terjajah! Kecuali manusia berjiwa kerdil, berhati batu..mereka 
tidak paham prinsip ini.

Mereka sungguh cinta damai, tetapi optimis dan semangat menentang penindasan 
mereka sungguh jauh lebih besar, sehingga tak akan berdamai melawan penjajah 
dan teroris, apalagi dgn sosok Zionis. 

Zionis musuh semua manusia yang memang berhati manusia! 

Dan tak akan surut semangat mereka mesti semua manusia tidak mendukungnya, 
lantaran semua berubah hatinya menjadi batu dan mendukung secara Zionis tidak 
langsung dengan tetap membisu.



Dr. Ang Swee Chai menuturkan bahwa setelah pembantaian pada tragedi 
Sabra-Shatila di Libanon terhadap pengungsi Palestina, terkuat banyak fakta 
yang mengagumkan atau mengherankan.

Bahwa pengungsi Palestina yang dibantai, semuanya Orang Tua, Perempuan, dan 
anak-anak. Semua lelaki gagah pelindung mereka tiada yang mati. Kenapa? Karena 
mereka telah ditipu dengan perjanjian damai sebelumnya. Dijanjikan bahwa 
pengungsi Palestina dilindungi, jika mereka keluar dari kamp pengungsian 
tersebut dan menyerahkan semua senjata. Janji ini mereka tepati, hasilnya darah 
pengungsi Palestina mengalir.

Kemudian setelah pembantaian, ternyata pihak yang tersisa, tetap optimis, 
berusaha hidup layak seperti manusia normal. Banyak anak-anak Palestina yang 
masih hidup, selamat dari pembantaian, ketika didokumentasikan dalam foto, 
mengacungkan dua jari simbol perdamaian dan kemenangan, V - Victory. Tragedi 
itu mencekam, tapi tidak akan pernah merenggut semangat mereka untuk berjuang 
bertahan hidup dan merebut kembali hak-hak mereka. 

Dan dengan tragedi ini pula, Palestina belajar bahwa tidak akan sekali-kali 
melakukan perjanjian yang melucuti kemampuan mereka untuk bertahan hidup. Sejak 
saat itu, mereka dengan kemampuan seadanya mencoba membuat atau menghimpun 
amunisi dan persenjataan militer untuk bertahan hidup dan membela diri dari 
Zionis dan para simpatisannya.

Dan karena tragedi ini pula, semangat berjuang yang luhur ini menular ke 
orang-orang Palestina di wilayah pendudukan Israel di Palestina. Inilah trigger 
awal pemicu Intifadhoh yang berkepanjangan.

Yang lebih unik lagi, ternyata sejak tahun 1950 an, banyak komunitas Yahudi dan 
Kristiani yang ikut berdiam di pengungsian, sebagai tanda simpati terhadap 
Palestina, sekaligus mencoba membantu mengurangi penderitaan Palestina. 

Banyak komunitas Yahudi dan Kristiani dari belahan penjuru dunia, termasuk di 
Israel dan Inggris serta Amerika sendiri yang turut berdukacita, bela sungkawa 
terhadap berbagai tragedi yang menimpa Palestina, terutama tragedi 
Sabra-Shatila.


Dengan cara inilah mereka hidup. Dan mereka selalu hidup di sisi Allah, walau 
mereka telah gugur dalam medan perjuangan. Inilah cara mereka hidup!!

Pertanyaannya untuk kita semua, Bagaimana Cara Kita Hidup? Juga Bagaimana Sikap 
dan Pandangan Hidup kita terhadap Palestina?

Apakah ingin selalu menjadi penonton, baik dalam kehidupan kita pribadi, maupun 
dalam menentukan sikap kepada peristiwa lain. Juga tentang Palestina? Apakah 
hanya diam membisu menikmati tontonan, sembari kadang mengomentari belaka? 
Tidak ada andil sedikitpun? Atau justru menjadi lawan tanding, selalu melawan 
terhadap yang berpihak kepada kebenaran dan hati nurani manusia...kemanusiaan?


Apa pun sikap dan jawabannya, semua berpulang kembali kepada masing-masing, 
kepada apakah kita mampu mendengar, menyuarakan, dan melakukan apa yang 
diteriakkan oleh hati kita.

Dan...sungguh ane tidak akan pernah bisa menceritakan bagaimana Palestina mati. 
Ane hanya bisa menceritakan bagaimana cara Palestina hidup dan berjuang. Selalu!


Wassalam,




Nugon


Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
http://nugon19.multiply.com/journal
       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke