Sumber:
http://www.dakwatuna.com/index.php/kaifa-ihtadaitu/2007/singgasana-sang-bintang/
 
 22/11/2007 | 11 Dzulqaidah 1428 H | Hits: 2,513
 
 Singgasana Sang "Bintang"
 
 Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi
 
 "Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun." Said bin Amir Al Jumahi
 mengucapkan lafazh ini saat menerima bantuan 1000 dinar, karena
 namanya tercantum dalam daftar para fuqara saat musibah kelaparan
 melanda daerah Hims, Syiria.
 
 Pada abad ke 18 H, bencana kelaparan hebat melanda wilayah Arab Utara.
 Khalifah Umar Radhiyallahu 'anhu melewati hari-harinya tanpa istirahat
 dan tidak bisa tidur memikirkan cara menanggulangi bencana  tersebut.
 Ia bersumpah tidak akan menyentuh susu dan mentega sampai kelaparan
 berakhir. Bencana itu disusul dengan wabah sampar mematikan yang
 menyebar ke Syria.
 
 Musibah dan bencana itu hanya menyisakan kesedihan dan kepedihan.
 Betapa tidak, sekian orang yang dicinta telah tiada. Harta benda
 terjual habis untuk mengatasi rawan pangan itu. Bahkan segenap pikiran
 tercurah untuk meratapi diri. Kondisi yang menyayat ini sangat
 mengagetkan Khalifah Umar ra. daerah Hims Syiria secara merata dilanda
 bencana kelaparan yang luar biasa. Segera, berita ini mendorong
 khalifah mengirimkan para petugas untuk melihat keadaan di sana
 sekaligus melakukan pendataan korban yang layak memerlukan bantuan.
 
 Namun alangkah terkejutnya Khalifah saat mengetahui di antara  ribuan
 orang yang termasuk dalam daftar orang-orang miskin dan kelaparan,
 terdapat nama Sa'id ibn Amir Al Jumahi. Beliau sendiri adalah Gubernur
 Hims, daerah yang dilanda bencana kelaparan tersebut.
 
 Kemudian khalifah memanggil utusannya untuk klarifikasi prihal
 validitas data dalam daftar tersebut. Apakah daftar itu dibuat-buat
 atau memang sahih, ternyata hasil temuan itu adalah fakta di lapangan.
 Utusan itu mengukuhkan temuannya bahwa faktanya selama berhari-hari
 mereka tidak melihat dapur Sang Gubernur mengepul walau sekali.  Atas
 dasar itulah Al Jumahi dimasukkan dalam daftar orang-orang yang
 memerlukan bantuan.
 
 Lalu, khalifah menanyakan bagaimana roda pemerintahan di sana
 dijalankan. Subhanallah. Meski, gubernurnya miskin dan kelaparan,
 provinsi Hims tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kenyataan tersebut
 tidak dapat menutupi rasa haru yang mendalam di dada Khalifah. Dengan
 meneteskan tangis kesedihan, khalifah menyatakan dirinyalah yang
 bersalah membiarkan rakyatnya kelaparan. Bahkan gubernurnya sendiri
 termasuk dalam musibah itu.
 
 Segera khalifah mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Hims. Dititipkanlah
 sekantung khusus untuk Sang Gubernur dari Khalifah Umar ra., berisi
 uang sebesar 1000 dinar (kira-kira setara dengan 6 juta rupiah). Semua
 bantuan telah disampaikan dan diterima, baik oleh masyarakat demikian
 pula titipan khusus untuk Sang Gubernur.
 
 Menerima titipan khusus sebesar 1000 dinar, bukannya merasa  gembira,
 Sa'id ibn Amir malah merasa menerima musibah. Dipanggil segera
 istrinya menghadapnya, untuk menyampaikan musibah tersebut. Inna
 lillahi Wa Inna illaihi Raji'un. Kenapa gerangan? Bagi Sa'id bin Amir,
 menerima uang sebanyak itu, di tengah krisis yang mendera rakyatnya
 adalah musibah yang berat. Oleh karena itu, setelah disisihkan
 seperlunya, ia sumbangkan kembali sisanya kepada rakyatnya.
 
 Begitulah tinta emas sejarah dituliskan bukan dengan kata-kata apalagi
 jargon-jargon kosong tanpa makna. Al Jumahi ra melakoni semuanya
 karena karakter pemimpin di dalam dirinya sudah demikian meresap.
 Tidak dalam rekayasa tebar pesona maupun membangun citra positif di
 hadapan rakyatnya. Keteladanannya mengemuka lebih dikarenakan  faktor
 ketakwaannya kepada Allah swt.
 
 Lihatlah tatkala inspeksi dilakukan Umar ra ke di Hims­, banyak
 komplain, keluhan dan ketidakpuasan penduduknya, baik dari kalangan
 jelata maupun birokrasinya terhadap kinerja Gubernur Sa'id bin  Amir.
 Aduan para penduduk mengindikasikan 4 hal yang menjadi keluhan mereka
 atas diri Gubernur Sa'id bin Amir.
 
 Satu adegan langka yang mungkin hanya terjadi di zaman Umar.
 Klarifikasi dilakukan Umar dengan mempertemukan gubernur dan warganya
 dalam satu majelis terbuka. Sebuah pemandangan yang tidak mungkin
 terjadi di zaman sekarang ini. Kalaupun terjadi tentunya terikat
 kebiasaan protokoler, dan cenderung seremonial, mungkin
 kunjungan-kunjungan para elite pejabat ke daerah, justru akan lebih
 membebani anggaran.
 
 Mungkin dana untuk membiayai perjalanan dan kunjungan, ikut
 membengkak. Nilainya tak mustahil berlipat ganda. Lebih dari cukup
 untuk membeli beras dan bahan makanan bergizi dan bernutrisi baik yang
 dibutuhkan para penderita rawan pangan. Tanpa membesar-besarkan "buruk
 sangka", sejak dulu di negeri ini beredar pemeo "pejabat datang
 melayat, rakyat makin melarat". Ya, karena dana untuk  mengatasi
 kemiskinan khalayak, tersita oleh kegiatan protokoler dan seremoni di
 tempat yang dikunjungi.
 
 Namun tidak demikian dengan Khalifah yang bijak ini. Tatap muka tetap
 berjalan dalam suasana bersahaja, egaliter dan saling menghormati.
 Sehingga temu rakyat dan pemimpinnya ini berjalan lancar tanpa basa
 basi.
 
 Tatkala semuanya telah berkumpul, Umar bertanya, "Apa yang kalian
 keluhkan terhadap pemimpin kalian?"
 
 "Ia tidak pernah menemui kami kecuali telah siang hari." Keluh warga.
 
 "Apakah benar yang mereka kata­kan, ya Said?" tanya Umar kepada Sa'id.
 
 "Demi Allah, se­benarnya aku tak ingin mengatakannya. Tetapi karena
 itu harus dikatakan, baiklah. Keluargaku tidak mempunyai seorang
 pem­bantu, sehingga setiap pagi aku harus membuat adonan roti untuk
 mereka, menungguinya hingga matang dan membagikannya kepada mereka,
 kemudian aku berwudhu dan baru aku keluar menemui rakyatku." Ja'wab
 Sa'id.
 
 "Ia tidak pernah mau ditemui pada malam hari?" keluh warga lagi.
 "Apakah benar yang mereka kata­kan, ya Said?" tanya Umar
 "Demi Allah, sebenarnya aku juga tak ingin me­ngatakannya. Aku telah
 memberikan waktu siangku untuk mereka dan waktu malamku untuk Allah."
 
 "Apa lagi yang kalian keluhkan atasnya?" tanya Umar kepada warga Hims.
 "Setiap bulan, ia tidak menemui kami satu hari?" Jawab warga
 "Apa lagi ini, ya Said?" tanya Umar heran.
 "Aku tidak mempunyai pembantu, ya Amirul Mu'minin. Dan aku tidak
 mempunyai sehelai kain pun kecuali yang aku kenakan ini, sehingga aku
 harus mencucinya setiap bulan dan aku menungguinya hingga kering untuk
 dipakai kembali. Dan setelah itu, aku keluar menemui mereka di sore
 hari."
 
 "Apa lagi yang kalian keluhkan atasnya?" Umar melanjutkan pertanyaannya.
 
 "Wajahnya selalu murung dan sedih, sehingga membuat orang-orang keluar
 dari majelisnya." Keluh warga selanjutnya.
 "Apa yang terjadi pada dirimu, ya Said?" Umar kembali heran.
 "Dahulu, aku melihat kematian Khubaib bin Adi dan waktu itu aku masih
 musyrik. Dan aku melihat kaum Quraisy memotong-motong tubuhnya dan
 mereka berkata kepadanya, 'Relakah engkau jika Muhammad menempati
 posisimu ini?' Khubaib menjawab, 'Demi Allah, aku tidak akan rela jika
 aku selamat untuk keluarga dan anak-anakku sedang Muhammad ditusuk
 duri.' Demi Allah, aku selalu terbayang akan hari itu, bagaimana  aku
 tidak menolongnya, aku amat khawatir Allah tidak akan mengampuniku.
 Itulah yang sedang menimpaku sampai saat ini."
 
 "Mahasuci Allah yang tidak membuatku su'uzhan kepadanya." Kagum Umar
 atas semua jawaban Sa'id. Kemudian Umar memberikannya seribu dinar
 untuk meme­nuhi kebutuhannya. Ketika istri Said melihat hal itu, ia
 berkata, "Mahasuci Allah yang telah mencukupi kami dengan melayani­mu.
 Belikanlah kami kebutuhan rumah tangga dan carikanlah kami pembantu."
 
 "Bukankah kita memiliki yang lebih baik daripada itu?" Sergah Sa'id
 kepada istrinya. "Sesuatu yang dapat membantu kita memperoleh­nya
 sehingga kita dapat menikmatinya yaitu kita meminjamkannya kepada
 Allah dengan pinjam­an yang baik." Nasihat Sa'id kepada isterinya.
 
 "Ya, semoga Allah membalas dengan yang lebih baik." Jawab sang istri mantap.
 
 Said pun tidak meninggalkan majelisnya, sehingga ia meletak­kan
 dinar-dinar tadi ke dalam beberapa pundi dan berkata kepada salah
 seorang keluarganya, "Pergi dan bawalah ini kepada janda si fulan,
 anak yatim si fulan, orang miskin dari keluarga si fulan, dan orang
 fakir dari keluarga si fulan."
 
 Satu lagi hal penting perlu kita teladani dari pribadi mulia ini
 adalah qana'ah dan kesederhanaan. Di sebuah negara yang sudah  mapan,
 justru orang yang bersahaja lebih disegani, berwibawa dan dihormati
 daripada orang yang bergelimangan kemewahan, hidupnya hedonis. Apalagi
 hidup dengan kekayaan yang tidak jelas asal-usulnya.
 
 Dalam situasi paceklik seperti sekarang ini, musibah di mana-mana,
 harga-harga melambung tinggi, pengangguran terus meningkat, kelangkaan
 BBM. Kalau ada keteladanan terutama dari para pemimpin tentang
 kesederhanaan, niscaya masyarakat akan sadar bahwa dirinya bisa
 seperti yang lain, sehingga akan malu untuk pamer kemewahan dan hidup
 bermewah-mewah, hedonis.
 
 Namun faktanya gaya hidup hedonistik ini tampak semakin banyak saja
 pengikutnya. Hedonisme yang mengajarkan 'nikmatilah segala sesuatu
 dalam hidup selagi memungkinkan dan ada kesempatan' seperti diajarkan
 oleh Epicurus pada 2000 tahun yang lampau kayaknya membuka peluang
 terciptanya pasar untuk kemewahan.
 
 Apalagi setting opini diarahkan agar kemewahan terasa menjadi semakin
 wajar dan manusiawi, meskipun tentu saja banyak pihak yang tidak
 sependapat dengan paham tersebut.
 
 Pola dan gaya hidup yang menginginkan tampak serba mewah, boros dan
 tidak produktif ini telah sejak lama dibahas oleh Von Veblen (1929)
 menjelang resesi dunia pada tahun 1930 dalam teorinya 'The Leisure
 Class'. Perubahan gaya hidup yang diakibatkan oleh perubahan budaya
 sebagai dampak negatif perkembangan teknologi yang mampu menghasilkan
 sikap dan perilaku yang tidak bermanfaat atau sia-sia.
 
 Pola konsumsi yang disebut 'conspicious consumption' ini tampaknya
 menjawab fenomena mengapa banyak orang tidak memliki sense of  crisis
 saat ini. Semakin banyak saja mobil mewah berlalu-lalang di
 jalan-jalan raya, lalu lintas serba macet di hari-hari libur  panjang
 dan tentunya semakin maraknya pembangunan mal dan wisata belanja di
 kota-kota. Dalam pola dan gaya hidup seperti itu maka tujuan dan
 maksud adalah bersantai (leisure) dan untuk pamer agar supaya dikagumi
 orang lain (demonstration effect).
 
 Di sini manfaat barang dan jasa yang dikonsumsi adalah diukur oleh
 sejauhmana 'kenikmatan' dan 'manfaat' yang didapat dari tingkat
 kekaguman pihak lain yang melihatnya. Manfaat dan semangat pamer  ini
 akan semakin besar dan efektif dalam lingkungan masyarakat yang
 miskin.
 
 Dengan demikian maka semangat pamer ini menjadi meningkat dan
 mendorong masyarakat menengah ke bawah tertarik untuk mengikutinya.
 Menurut Veblen, secara alamiah melalui proses historis dan
 antropologis, kecenderugan seperti ini akan terjadi.
 
 Perilaku ini melembaga secara seremonial dan memiliki karakteristik
 cinta berlebihan terhadap uang. Oleh karenanya bagi mereka akan lebih
 menghargai pekerjaan yang mampu 'making money' dibandingkan dengan
 'making goods'.
 
 Penghargaan atau nilai tinggi diberikan bila sesuatu dapat dinilai
 secara materi (tangible) dan dapat diukur dengan nilai uang (p-cuniary
 emulation) dibandingkan memaksimalkan manfaat (utility maximization).
 Pada gilirannya maka semangat dan sikap hidup sederhana dan etos kerja
 keras dianggap dan dinilai sebagai 'ketidak-berhasilan', sedangkan
 sikap santai 'biar tekor asal kesohor' dan kemewahan akan dinilai atau
 dianggap sebagai indikasi 'keberhasilan' hidup.
 
 Masyarakat golongan menengah sebenarnya banyak yang memiliki kemampuan
 cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan layak.
 Namun tidak habis-habisnya mereka menjadi target pasar berbagai produk
 'kemewahan' yang sebenarnya bukan yang mereka butuhkan.
 
 Sementara itu para pengusaha semakin jeli menciptakan pasar dan
 membaca nafsu terpendam (desire) dalam diri para calon konsumen ini
 yang siap dan rela menggadaikan 'masa depan' mereka demi kesempatan
 menikmati kemewahan dalam bentuk produk dan layanan yang berselera dan
 berkualitas tinggi, meskipun hanya sesaat.
 
 Pola hidup sederhana tak lain merupakan buah keindahan dari  kekuatan
 mengendalikan diri dari hawa nafsu dan keserakahan. Meski untuk
 menjadi kaya-raya tidak dilarang agama. Termasuk siapa pun, tidak
 dilarang punya mobil mewah, rumah mewah, kapal pesiar mewah dan
 perhiasan mahal, namun asal kekayaannya itu diperoleh secara halal.
 Apalagi kaya tidaknya seseorang bukan dinilai dari seberapa banyak
 harta yang dipamerkan akan tetapi kekayaan itu dinilai dari  seberapa
 banyak harta yang diinfakkan di jalan Allah, seperti yang
 diperlihatkan oleh Abu Bakar ra.
 
 Para pemimpin seharusnya bisa memberi contoh terhadap rakyat yang
 sebagian besar miskin, untuk tidak hidup mewah. Seringkali, justru
 petinggi negara itu terlena, mabuk kepayang dan lupa daratan,  hingga
 tanpa mereka sadari, hidup bergelimang kemewahan. Mentang-mentang
 menjabat, dibiayai negara, mereka menggunakan aji mumpung. Potret
 hidup kita seakan dalam suasana yang paradoks. Kita diimbau hidup
 sederhana, memiliki sense of crisis namun kenyataannya kaum elite
 mempertontonkan kemewahan. Padahal, kesederhanaan dan keprihatinan
 perlu keteladanan.
 
 Allah telah ridha kepada Said bin Amir al-Jumahi. Dia berusaha  keras
 menundukkan ambisi pribadinya, mengendalikan kepentingan diri dan
 keluarganya, demi mengutamakan kepentingan rakyat yang lebih
 membutuhkan. Singgasana yang galibnya penuh gemerlap, bagi seorang Al
 Jumahi hanyalah seonggok limbah yang patut dibersihkan. Puncak
 kariernya adalah puncak pengabdiannya kepada Allah swt. Dia  bertahta
 tanpa istana. Kesederhaannya laksana silau bintang yang dinikmati para
 penghuni langit. Al Jumahi menjadi satu di antara para 'bintang'
 pemimpin shaleh yang rasa takutnya kepada Allah amatlah besar
 dibanding sesuatu yang lainnya. Wallahu a'lam.


       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

Kirim email ke