jazakalloohu khoiron akh...

artikelnya ana copy yah...

assalamu'alaikum



----- Original Message ----
From: Haryo Prabowo (bledaone) <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Sent: Monday, April 14, 2008 8:36:10 PM
Subject: [muslim_binus] Ayat-ayat (Tanda-tanda) Cinta

Assalaamu'alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh

Bagus nih,
semoga bermanfaat

-- 
Haryo Prabowo

NOTE : If this email detected as spam or bulk, please mark it as NOT. Avoid 
wrong detection by adding my email address into your contact list / address 
book.


http://alhujjahlomb ok.wordpress. com/2008/ 04/14/ayat- ayat-cinta/


"ANTARA DAKWAAN & KENYATAAN"
Disusun oleh : Redaksi Al-Hujjah
Buletin Al-Hujjah Vol: 08-IX/Rabi'ul Awwal-1429H/ April-08
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ 
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), 
niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. ' Allah Maha Pengampun 
lagi Maha Penyayang."
[QS. Ali 'Imraan: 31]
Jika hendak diartikan secara harfiah, Ayat-Ayat Cinta berarti Tanda-Tanda 
Cinta. "Tanda-tanda cinta kepada Allah dan Rasul-Nya", makna inilah yang hendak 
kami angkat sebagai titik sentral kajian Tafsir kita kali ini. Menilik fenomena 
belakangan ini, dimana kaum muslimin seolah kehilangan figur sejati untuk 
dicintai. Mereka berbondong-bondong mengidolakan tokoh fiktif novel ketimbang 
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam, teladan sejati –yang riil (nyata)- bagi 
kaum muslimin dalam hal cinta dan ketulusan
Tafsir Ayat
Dikisahkan oleh Imam al-Baghawi dalam tafsirnya Ma'aalimut Tanziil (1/341. Cet. 
Daar Thoyyibah 1423 H), bahwa ayat ini turun ketika Rasulullah Shalallahu 
'alaihi wa salam berkata kepada kafir Quraisy yang tengah bersujud menyembah 
berhala (simbol tokoh-tokoh wafat yang dikeramatkan) ; "Wahai segenap kaum 
Quraisy! Sungguh kalian telah menyalahi agama Bapak kalian, Ibrahim dan 
Isma'il". Kafir Quraisy lantas menjawab: "Kami menyembah berhala itu 
semata-mata cinta kepada Allah, agar mereka (tokoh-tokoh wafat yang 
dikeramatkan itu) mendekatkan kami kepada Allah". Maka Allah menjawab dengan 
ayat di atas.
Ulama tafsir yang lain mengaitkan ayat ini sebagai jawaban atas klaim Yahudi 
dan Nashrani yang mengatakan bahwa merekalah anak-anak Allah dan 
kekasih-kekasih- Nya, sebagaimana yang termaktub dalam (QS. Al-Maa-idah ayat 
18): "(Artinya) Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: 'Kami ini adalah 
anak-anak Allah dan kekasih-kekasih- Nya'…." [lih. Ma'aalimut Tanziil: 1/341] 
Terlepas dari latarbelakang turunnya ayat, para ulama tafsir sepakat menjadikan 
ayat tersebut sebagai "ayat cinta" yang menguji kejujuran dakwaan cinta seorang 
pecinta kepada yang dicintai (Allah). Sebagaimana diungkapkan oleh Imam Hasan 
al-Bashri rahimahullaah: "Suatu kaum mengaku cinta kepada Allah, maka Allah 
menguji mereka dengan ayat ini". [Tafsir Ibnu Katsir: 2/299, Cet. Daar Ibn Hazm 
1419 H]
Betapa indahnya ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullaah ketika menafsirkan ayat 
cinta ini [Raudhatul Muhibbiin: 251. Lih. Badaa-i'ut Tafsiir: 1/498]: "Maka 
Allah menjadikan ittiba' (mengikuti) Rasul sebagai bukti kecintaan mereka 
kepada Allah. Keadaan seorang hamba yang dicintai Allah lebih tinggi dari 
keadaannya yang mencintai Allah. Permasalahannya bukan pada (pengakuan) cintamu 
kepada Allah, akan tetapi (apakah) Allah mencintaimu. Maka ketaatan kepada yang 
dicintai (Allah dan Rasul) adalah bukti cinta kepada-Nya, sebagaimana 
diungkapkan (dalam syair) Artinya:
"Engkau bermaksiat kepada ilahi, sedangkan engkau mendakwa cinta kepada-Nya"
"Ini dalam analogi adalah kemustahilan yang diada-adakan"
"Jika saja dakwaan cintamu jujur, niscaya engkau akan mentaati-Nya"
"Sesungguhnya seorang pecinta terhadap yang dicintai, akan taat"
Semua orang, entah ia jujur dalam ketaatannya atau seorang munafik yang bermuka 
dua, bisa berucap: "Saya mencintaimu Yaa Allah", namun apakah Allah membalas 
cintanya? Inilah yang menjadi inti permasalahan. Maka bukti kejujuran seorang 
hamba dalam mencintai Allah adalah ittiba'-nya kepada Rasulullah Shalallahu 
'alaihi wa salam. Tentu saja yang dimaksud ittiba' di sini adalah dalam segala 
hal, baik yang dicontohkan untuk kita kerjakan ataupun yang beliau tinggalkan 
(tidak kerjakan) untuk kita tinggalkan pula (Silahkan baca Al-Hujjah edisi 
sebelumnya Vol. 06, yang berjudul: "Merajut Ulang Makna Uswatun Hasanah, Antara 
Sunnah Fi'liyyah dan Sunnah Tarkiyyah").
Imam Ibnu Katsir rahimahullaah menafsirkan: "Ayat ini merupakan pemutus hukum 
bagi setiap mereka yang mengaku cinta kepada Allah, sedangkan ia tidak berada 
di atas jalan Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam. (Jika demikian) maka 
sungguh ia seorang pendusta dalam pengakuannya, sampai ia mengikuti syari'at 
dan agama Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam pada seluruh ucapan dan 
perbuatan beliau. Sebagaimana riwayat hadits yang shahih (riwayat Muslim) dari 
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam, bahwasanya beliau bersabda: "(Artinya) 
barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka 
amalannya itu tertolak". [Tafsir Ibnu Katsir: 2/299, Cet. Daar Ibn Hazm 1419 H]
Cinta, Antara Dakwaan dan Kenyataan
Nah, dengan timbangan cinta sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, tentunya 
kita bisa menilai diri kita masing-masing, apakah kita telah benar-benar 
mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan cinta yang jujur? Ataukah kata cinta yang 
kita ucapkan pada Allah dan Rasul-Nya hanya sebatas pemanis di bibir dan 
penghias bait-bait qasidah (baca: nasyid) yang justru melalaikan kita dari 
al-Qur-an? Atau mungkin definisi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya sudah cukup 
terwakilkan oleh tetesan air mata dan bergolaknya perasaan setelah mengikuti 
alur cerita novel dan film "Islami"? Sungguh, jika demikian, kita telah terbuai 
oleh halusnya tipuan setan.
Inilah kenyataan yang merebak saat ini. Sebagian kaum muslimin begitu 
mengidolakan tokoh-tokoh fiktif dalam novel dan film, hanya karena tokoh-tokoh 
khayal tersebut diskenariokan berhias dengan sebagian kecil dari keindahan 
ajaran Islam. Sementara tokoh nyata yang mulia nan agung, Rasulullah Shalallahu 
'alaihi wa salam, yang merepresentasikan keindahan ajaran Islam secara kaffah 
(sempurna), seolah terkikis dan terlupakan oleh pamor artis dan biduan. Inikah 
ayat-ayat (baca: tanda-tanda) cinta kepada Allah? Semestinya, jika pengakuaan 
cinta itu jujur, niscaya mereka berbondong-bondong menuju majelis ilmu, bukan 
justru mengantri di loket bioskop dan outlet novel "Islami". Karena hanya di 
majelis ilmulah, dibacakan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasul-Nya. 
Menghadiri majelis ilmu, inilah tanda cinta yang hakiki kepada Allah dan 
Rasul-Nya. 
Sahl bin 'Abdillah rahimahullaah pernah berucap: "Tanda cinta kepada Allah 
adalah cinta pada al-Qur-an. Tanda cinta pada al-Qur-an adalah cinta pada 
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam. Dan tanda cinta pada Rasulullah 
Shalallahu 'alaihi wa salam adalah cinta pada sunnahnya…" [lih. Tafsir 
al-Qurthubi: 4/63, Cet. Daarul Kitaab al-'Arabi]
Bisakah seseorang dikatakan mencintai Allah, jika ia mengerjakan sesuatu yang 
tidak pernah disyari'atkan dan diperintahkan oleh Nabi-Nya dalam urusan agama 
ini? Contoh nyata: Sebagian kita masih saja beralasan bahwa merayakan maulid 
Nabi –yang notebene tidak pernah disyari'atkan oleh Rasulullah Shalallahu 
'alaihi wa salam - adalah tanda cinta kepada Rasulullah r dan wujud syukur kita 
kepada Allah. Padahal kenyataannya, para Sahabat sebagai figur yang paling 
mencintai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam dan paling bersyukur kepada 
Allah, tidak pernah mengadakan ritual maulidan. Seandainya merayakan maulid 
Nabi adalah simbol cinta yang disyari'atkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tentu 
para Sahabat adalah yang paling dulu dan paling antusias mengamalkannya 
daripada kita. Sebagaimana ungkapan yang telah menjadi kaidah baku di kalangan 
ulama Ahlussunnah wal Jamaa'ah:
لَوْكَانَ خَيْرًا لَسَبَقُوْنَا إلَيْه
"Kalau seandainya itu baik, niscaya mereka (para Sahabat) telah lebih dulu 
mengerjakannya. " Karena para Sahabat adalah orang-orang yang paling 
bersemangat dan rakus dalam mengerjakan amal ibadah.
Kiat Meraih Cinta-Nya
Jalan tercepat menggapai cinta al-Khaaliq adalah dengan memurnikan tauhid 
kepada-Nya, menjauhkan diri dari kesyirikan dan ragam bentuk kekufuran. 
Kemudian mengerjakan hal-hal yang diwajibkan oleh syari'at Muhammad Shalallahu 
'alaihi wa salam, menjauhkan diri dari semua larangan dan segala bentuk ibadah 
yang tidak dicontohkan oleh beliau dalam agama ini. Baru setelah itu berhias 
dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan naafilah 
(sunnah). Inilah yang diisyaratkan oleh Hadits Wali:
"(Artinya) Sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman: "Barangsiapa memusuhi 
Wali-Ku, maka aku mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba-Ku 
mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa 
yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hamba-Ku mendekatkan 
diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku 
mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk 
mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan 
sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia 
gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan 
memberinya, dan jika ia memohon perlindungan dari-Ku pasti Aku akan 
melindunginya". [Shahih Bukhari no. 6137]
Senantiasa membasahi lidah dengan dzikir kepada Allah, juga merupakan sebab 
terbesar dalam meraih cinta Allah. Karena di antara ciri khas seseorang yang 
tengah dilanda cinta adalah senantiasa menyebut dan mengingat orang yang 
dicintainya. Demikian pula Allah, Dia selalu mengingat hamba-hamba- Nya yang 
berdzikir dan bermunajat kepada-Nya. Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
"(Artinya) Karena itu, berdzikirlah (ingat) kalian kepada-Ku niscaya Aku akan 
ingat kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian 
mengingkari (nikmat)-Ku". [Al-Baqarah: 152]
Bergaul dan berinteraksi dengan akhlak yang mulia bersama hamba-hamba Allah 
lainnya juga bisa mendatangkan cinta dan kasih sayang Allah, sebagaimana sabda 
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam:
"(Artinya) Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah 
Tabaaraka wa Ta'ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu 
sayangilah orang-orang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan 
menyayangi kamu". [Silsilah Shahihah no. 925]
Satu lagi yang tidak kalah penting dalam berusaha meraih cinta Allah, yaitu 
do'a. Hafalkan dan amalkanlah do'a -dari sunnah yang shahih- berikut ini di 
waktu-waktu yang mustajab.
Artinya: "Ya Allah. Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu; perbuatan yang memiliki 
banyak kebaikan, dan meninggalkan berbagai macam kemunkaran, mencintai 
orang-orang miskin dan Engkau mengampuni serta menyayangiku. Dan jika Engkau 
menimpakan fitnah (malapetaka) bagi suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam 
keadaan tidak terimbas fitnah itu. Dan aku memohon kepada-Mu rasa kecintaan 
pada-Mu, dan cinta pada orang-orang yang mencintai-Mu, juga cinta pada amal 
perbuatan yang akan menghantarkan aku untuk mencintai-Mu. " [Hadits Hasan, 
riwayat Ahmad: V/243, at-Tirmidzi: 3235] .::. 
 


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Kirim email ke