Yogi Prabowo
Web Developer
www.bengkel.web.id



----- Forwarded Message ----
From: aryanto budi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
Ade Yulia Putri <[EMAIL PROTECTED]>; Era Kartika <[EMAIL PROTECTED]>; hetty eci 
<[EMAIL PROTECTED]>; Irvan Juliasyah <[EMAIL PROTECTED]>; milis anak smu baru 
<[EMAIL PROTECTED]>; milis angkatan di ui <[EMAIL PROTECTED]>; MR MR <[EMAIL 
PROTECTED]>; Osi adm 2004 <[EMAIL PROTECTED]>; Pengmas 02-03 <[EMAIL 
PROTECTED]>; pipin <[EMAIL PROTECTED]>; PKS Depera PoCin <[EMAIL PROTECTED]>; 
Prapto Suprapto <[EMAIL PROTECTED]>; Priyatna <[EMAIL PROTECTED]>; Rosi hyunmin 
1 <[EMAIL PROTECTED]>; solikhin PNE <[EMAIL PROTECTED]>; Udin saprudin <[EMAIL 
PROTECTED]>
Sent: Wednesday, June 11, 2008 2:53:15 AM
Subject: [le quatrieme generation] Fw: [sepenuhhati] Sisi yang Tidak Diekspos 
Media tentang FPI




 regards, 

Aryanto Budi Nugroho 
PT MAAS Standard Consulting 
Menteng, Jakarta



----- Forwarded Message ----
From: fauziah rasad <fauziahrasad@ yahoo.com>
To: sepenuh hati <sepenuhhati@ yahoogroups. com>; uswah 99 <[EMAIL PROTECTED] 
.com>; IYMC P3I <[EMAIL PROTECTED] com>
Sent: Wednesday, June 11, 2008 10:23:13 AM
Subject: [sepenuhhati] Sisi yang Tidak Diekspos Media tentang FPI


Sisi yang Tidak Diekspos Media Tentang FPI
Rabu, 11 Jun 08 07:54 WIB
Kirim teman
Front Pembela Islam (FPI) sebenarnya sudah lama jadi incaran aliansi musuh 
Allah SWT yakni kelompok gabungan antara kelompok liberal, kelompok maksiat 
(prostitusi, perjudian, dan pornografi), kelompok kuffar, dan aparat serta 
pejabat yang selama ini mendulang uang haram dari perputaran bisnis haram 
tersebut. 

Abdurrahman Wahid saja, gembong kaum liberal dan sekutu Zionis, dengan sangat 
pede menyatakan jika dirinya sudah 15 tahun berjuang hendak membubarkan FPI. 
Itu berarti sejak tahun 1993. Padahal FPI baru berdiri tahun 1998. Walau 
demikian kita hendaknya maklum dengan pernyataannya yang ngawur ini karena 
memang orang yang sudah kena serangan stroke dua kali biasanya banyak syaraf 
yang sudah tidak terkoneksi dengan baik. Istilah komputernya sering hang, 
sehingga harus di-restart atau kalau tidak bisa juga ya di-off-kan saja.
Sejak berdiri pada tahun 1998, FPI memang getol memerangi tempat-tempat 
maksiat. “Sudah banyak tokoh dan elemen Islam yang menyampaikan amar ma’ruf, 
maka kami memang mengkhususkan diri pada Nahyi Munkar. Tapi tentu dengan 
prosedur yang benar secara hukum formal, ” demikian ujar Habib Rizieq.
Keberanian FPI ini dalam menggempur lokasi-lokasi kemaksiatan memang tidak 
main-main. Rumah-rumah pelacuran, rumah judi, termasuk kantor tempat raja media 
porno dunia “Playboy”di Jakarta, semua diganyang oleh laskar Islam yang satu 
ini. Bagi media massa, baik cetak, radio, maupun teve, tindakan FPI tersebut 
memang merupakan berita yang layak dijadikan tajuk utama. Sayangnya, 
media-media yang juga banyak disusupi kelompok liberal dan kelompok penyuka 
kemaksiatan ini yang diekspos adalah kekerasan FPI semata.
Padahal, kekerasan atau penyerbuan yang dilakukan FPI merupakan jalan terakhir 
yang terpaksa diambil FPI setelah melewati berlapis-lapis prosedur, di 
antaranya mendesak kepolisian untuk berbuat. 

“Media massa hanya mengekspos hal itu, tapi tidak memuat apa yang kami lakukan 
sebelum itu, ” ujar Habib Rizieq dalam sebuah pertemuan beberapa waktu lalu. 

Penyerbuan atau pengrusakkan merupakan langkah terakhir yang diambil FPI 
setelah melewati tahap-tahap sebelumnya. Habib Rizieq memaparkan, “Jika ada 
informasi yang menyebutkan di suatu tempat ada lokasi yang tidak beres, maka 
kami biasanya mengirim intelijen kami yang terdiri dari beberapa orang untuk 
menggali informasi yang valid. Jika benar itu tempat yang tidak beres, maka ada 
dua pengelompokkan yang FPI lihat. Jika tempat maksiat itu didukung warga 
sekitar dalam arti banyak warga sekitar yang mencari nafkah di sana dan 
menggantungkan hidupnya di sana, maka kami kirim ustadz untuk memberi 
pencerahan. Ini sisi amar ma’ruf FPI. Kami mendirikan pengajian dan sebagainya.”
“Namun jika tempat maksiat itu ternyata meresahkan warga sekitar, dan banyak 
yang dilindungi oleh preman terorganisir atau malah ada oknum aparat yang ikut 
melindungi, maka kami biasanya melayangkan surat pemberitahuan kepada pihak 
kepolisian agar polisi bisa bersifat pro-aktif. Jika sampai waktu yang kami 
minta belum ada tindakan apa pun juga dari kepolisian, kami melayangkan surat 
kembali mendesak agar aparat segera turun tangan. Ini kami lakukan sampai tiga 
kali. Namun jika aparat ternyata diam terus, tidak menunjukkan itikad baik 
untuk menyikat kemaksiatan, maka FPI pun segera mengirim surat pemberitahuan 
bahwa FPI akan mengirim laskarnya ke tempat tersebut untuk membantu tugas 
kepolisian. Ini semata-mata kami lakukan karena polisi tidak bertindak, ” 
lanjut Habib.
“Kami membantu tugas kepolisian. Ini patut diberi tekanan. Karena polisi 
terlalu sibuk sehingga tempat maksiat tersebut tetap berjalan dengan aman dalam 
meracuni masyarakat, maka laskar kami yang turun. Selain memberi surat kepada 
polisi, kami pun melayangkan surat pemberitahuan berlapis-lapis kepada 
pengeloal tempat kemaksiatan itu, dan biasanya mereka membandel karena 
menganggap polisi saja tidak berani membereskannya, apalagi FPI. Tapi sekali 
lagi saya tekankan. FPI berjuang untuk menegakkan agama Allah, jadi kami tidak 
kenal takut terhadap segala kemaksiatan. Mereka yang berada di jalan setan saja 
berani, masak kami yang berjaung di jalan Allah harus takut?” tegas Habib. 

“Sisi inilah yang jarang diekspos media massa sehingga masyarakat banyak 
tahunya kami ini organisasi anarkis. Padahal kami telah melakukan 
berlapis-lapis peringatan, bahkan berkoordinasi dengan kepolisian dan 
sebagainya, ” tambah Habib.
Sebenarnya, media-media massa di negeri ini banyak yang mengetahui hal 
tersebut. Namun disebabkan mereka memang banyak yang berkepentingan agar FPI 
bubar, maka yang diberitakan adalah sisi kekerasan dari FPI. Padahal, FPI hanya 
membantu tugas kepolisian yang terlalu sibuk dengan tugas-tugas rutin seperti 
“razia” di jalan-jalan dan sebagainya. (rz)
 
 
sumber: http://www.eramusli m.com/berita/ nas/8611075158- sisi-tidak- diekspos- 
media-tentang- fpi.htm 

 Fauziah Rasad
Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI)
The Indonesian Society for Transparency
Jl.Pulombangkeng No.11 Kebayoran Baru Jaksel 12110
t : 62 (21) 72783670
62 (21) 8199882
f : 62 (21) 7221658
HP: 62 8159810134
fauziahrasad@ yahoo.com
[EMAIL PROTECTED] i.or.id 

 


      

Kirim email ke