Pembantu Juga Manusia
Oleh Rina Setyawati 
Suatu hari pada acara milad perusahaan di sebuah tempat rekreasi, seorang rekan 
datang bersama isteri dan anaknya yang lucu. Bersama mereka ikut serta juga 
seorang wanita muda, yang dari bajunya saya tahu dia adalah seorang pengasuh, 
pembantu, khadimat atau apalah namanya yang mempunyai tugas membantu 
pekerjaan-pekerjaan rumah tangga atau mengasuh anak. Saya mengenali jenis baju 
itu karena rumah saya dulu terletak di perkampungan bersebelahan dengan 
perumahan mewah dan setiap sore para pembantunya keluar menemani majikan dan 
anak-anaknya, mengenakan baju seragam yang khas.
Ada pertanyaan menggelitik dalam benak, mengapa harus memakai baju yang 
berbeda? Apakah hanya karena dia seorang pembantu, seseorang yang tugasnya di 
suruh-suruh lantas harus juga diperlakukan dengan cara berbeda? Saya tak 
berhenti menatap wajah perempuan lugu itu dengan baju biru muda bercelana 
longgar selutut, masih terlihat baju itu baru karena lipatannya yang kaku. 
Mungkin baju itu khusus dibeli untuk dipakai di acara ini, sangat kontras dia 
berpakaian seperti itu di tengah-tengah para karyawan yang berpakaian tertutup 
dan rapi. Saya sedih, hanya karena ingin membedakan status, maka pakaian 
pembantu harus dibedakan.
Sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seorang pembantu yang 
diperlakukan semena-mena oleh majikannya. Contoh yang paling sering kita 
saksikan adalah perlakuan yang diterima para TKW. Sudah tak terhitung berita 
tentang perilaku kasar, penganiayaan, pemerkosaan, hingga pembunuhan yang 
dilakukan majikan kepada pembantunya. Sungguh mereka dalam posisi yang lemah 
dan tidak berdaya. Itu di luar negeri, tapi tidak menutup kemungkinan terjadi 
juga di dalam negeri.
Mungkin kita bisa saksikan tetangga, saudara atau bahkan kita sendiri yang 
bersikap tidak ramah dengan pembantu. Sedikit saja kesalahan seolah-olah dia 
sudah sangat merugikan kita. Saya pernah melihat seorang rekan yang membentak 
pembantunya hanya karena dia tidak bisa menemukan barang yang dicari. Kemarahan 
yang terlontar sesungguhnya tidak sebanding dengan kesalahan kecil yang 
diperbuat. Meskipun ada juga pembantu yang berbuat kriminal dengan mencuri atau 
menculik anak majikan, ia tetaplah seorang manusia seperti kita yang memiliki 
perasaan.
Tetapi ada juga orang yang sangat baik memperlakukan pembantunya. Tetangga ibu 
saya ada yang meliburkan pembantunya setiap hari minggu. Jadi selama majikan di 
rumah, dia bebas tugas dan dipersilahkan untuk bersilaturahmi ke rumah teman 
atau sekedar berjalan-jalan ke pusat kota. Teman saya malah tidak mau 
menyebutnya sebagai pembantu, setiap mengenalkan kepada orang lain dia selalu 
bilang, “ ini partner saya atau kenalkan ini asisten saya “ dan pembantu itu 
dianggap seperti anak sendiri karena usianya yang masih belia. Subhanallah.
Allah menyaksikan apapun yang kita lakukan, termasuk bagaimana perlakuan kita 
terhadap sesama mahlukNYA.Tidak ada yang pantas merasa paling mulia karena 
hanya status di dunia, toh Allah tidak juga pernah membandingkan pangkat, 
status dan jabatan seseorang, yang Dia lihat hanyalah takwanya.


      

Kirim email ke