Disalin dari "100 Masalah Agama" (Taudlihul Adillah) Jilid 1, hal 4-7, karya 
alm. K.H.M. Sjafi'i Hadzami, Penerbit "Menara Kudus" Kudus.

 
 
JOHANI, Jl. Mangga Besar XIII, Rt. 012 Rw. 03/I, JAKARTA
 
PERTANYAAN 2:
 
            Apakah benar Nabi Isa as. telah wafat dengan jasadnya dikubur 
seperti Nabi-nabi lainnya?
 
JAWABAN 2:
 
            Dari zaman Nabi Muhammad saw. sampai waktu ini, orang-orang Islam 
berkata dan beri'tiqad bahwa Nabi Isa as. hidup di langit dan akan turun. 
Menurut Al Qur'an, Al Hadits dan tarikh, kita telah sama-sama mengakui bahwa 
Nabiyallah Isa as. itu dulunya ada hidup. Sebenarnya, dengan asal ini saja 
sudah cukup buat dalil kita atas hidupnya Nabiyallah Isa as. Kalau sekarang 
kita cari di seluruh dunia bahwa Nabiyallah Isa tidak ada, itu tidak boleh 
dijadikan alasan untuk mengatakan beliau sudah wafat.
 
            Untuk menetapkan aqidah, wajib dengan keterangan dan bukan dengan 
perasaan. Perhatikanlah firman Allah swt. dalam Suratunnisa' ayat 157 
(penyalin:157-158) sebagai berikut:
 
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ 
وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ 
اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْعِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ 
الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
 Artinya: Mereka (kaum Yahudi) itu tak dapat membunuh dia (Isa as.), dan tak 
dapat mensalib dia, akan tetapi disamarkan atas mereka (yakni mereka hendak 
membunuh Isa tetapi terbunuh seorang lain yang serupa Nabi Isa as.); dan 
sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham di tentang itu, adalah di dalam 
keraguan. Mereka tidak berpengetahuan di tentang itu, kecuali dengan turut 
sangka-sangkaan saja. Mereka tidak membunuhnya dengan yakin, tetapi Allah telah 
angkat dia kepada-Nya; dan adalah Allah itu Maha Gagah dan Bijaksana.
 
Kata-kata "rafa'a" atau mengangkat pada ayat tersebut dengan memperhatikan 
lanjutannya adalah berarti angkatan badan, bukan angkatan ruh atau darojah, 
karena Nabi Isa as. ketika itu mau dibunuh dan disalib oleh musuhnya, 
sepantasnya beliau dilakukan dari sana dengan diangkat dari tempat yang 
musuhnya tidak bisa sampai dan tidak tepat kalau diberikan penghormatan.
 
            Selanjutnya, firman Allah swt. dalam surat Ali Imran ayat 55 
(penyalin:54-55).
 
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ 
وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا
Artinya: Mereka (kaum Yahudi) berdaya upaya hendak membunuh Isa dan Allah balas 
tipu daya mereka; dan Allah itu sebaik-baik pembalas. Ingatlah tatkala Allah 
berkata: Ya Isa, aku ambil engkau dan aku angkat engkau kepadaku dan aku 
bersihkan dikai daripada gangguan orang-orang yang kafir itu.
 
            Ayat ini dengan terang menunjukkan, bahwa kaum Yahudi, berdaya 
upaya hendak membunuh Nabi Isa. Maka apakah kiranya tepat, kalau diartikan: 
bahwa Allah swt. akan menyelematkan Nabi Isa dari pada terkena bunuh oleh 
musuhnya, dengan mematikannya. Sudah barang tentu tidak!
 
            Adapun hadits yang berkenaan dengan ini, adalah sebagaimana 
diriwayatkan dari Hasyim bin Hassan dari Muhammad dari Abi Hurairah ra. 
bersabdalah Rasulullah saw.
 
(ada teks Bahasa Arab, tetapi penyalin tidak mampu menyalin/mengetiknya)
 
Artinya: Bagaimanakah nanti keadaan kamu apabila turun Nabi Isa anak Maryam 
dari langit kepadamu sedang imam kamu dari antara kamu sendiri. (HR. Albaihaqi).
 
            Hadits ini dengan terang menyebut, bahwa Nabiyallah Isa as. akan 
turun dari langit dengan mempergunakan kata-kata minas-sama’. Adapula 
diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. dimana bersabda Rasulullah saw. :
 
(ada teks Bahasa Arab, tetapi penyalin tidak mampu menyalin/mengetiknya)
 
Artinya: Demi Tuhan yang diriku berada pada kekuasaan-Nya, sesungguhnya hampir 
turun (Isa) anak Maryam di antara kamu sebagai hakim yang adil, lalu ia yang 
akan hancurkan salib. (HR. Al Bukhari).
 
            Kami kira jelas, yang akan turun dari langit itu tentu bukan 
mayyit, tetapi orang yang hidup betul-betul. Kami tambah pula bahwa 
Suratunnisa’ ayat 159, sebagai berikut:
 
وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ 
الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا
Artinya: Tidak seorangpun dari ahli kitab kecuali tentu akan beriman kepadanya 
sebelum matinya.
 
(ada teks Bahasa Arab, tetapi penyalin tidak mampu menyalin/mengetiknya)
 
Artinya: Sebelum matinya Isa anak Maryam.
 
            Begitulah dalam tafsir Ibnu Katsir, Fathul Bari.
            Tafsir ayat ini menurut Ibnu Abbas:
            Telah berkata Imam Malik:
 
(ada teks Bahasa Arab, tetapi penyalin tidak mampu menyalin/mengetiknya)
 
Artinya: Yang demikian itu adalah seketika turunnya Isa. Tidaklah ketinggalan 
seorangpun dari Ahli Kitab melainkan akan beriman kepada Isa. Kata Al Hasan 
(mengenai tafsir ayat tersebut).
 
(ada teks Bahasa Arab, tetapi penyalin tidak mampu menyalin/mengetiknya)
 
Artinya: Sebelum matinya Isa. Demi Allah, sebenarnya Isa itu masih hidup sampai 
sekarang di sisi Allah, tetapi apabila ia turun mereka sekalian akan beriman 
kepadanya.
 
            Berkata Al Hasan pula:
 
(ada teks Bahasa Arab, tetapi penyalin tidak mampu menyalin/mengetiknya)
 
Artinya: Sesungguhnya Allah telah angkat Isa dan Ia akan kirim dia sebelum hari 
Qiyamat.
            Demikianlah jawaban kami tentang masih hidupnya Isa as.

 

 
 
Sudah sepakat pada generasi salafus-sholih bahwa Nabi Isa as. masih hidup, 
diangkat ke langit oleh Allah swt. dan akan diturunkan kembali ke bumi 
menjelang (sebelum) hari Qiyamat. 
Karena itu, tiada keterangan adanya perdebatan tentang hidup atau matinya Nabi 
Isa as. pada masa lampau, generasi salaf. 
Hanya pada masa kontemporer, belakangan ini, generasi Khalaf…topik ini 
diperdebatkan, dengan berbagai alasan, baik yang bersifat ilmiah, maupun lebih 
ke tendensi untuk sentimen tertentu.
Secara ilmiah, kebanyakan berasal dari masalah kata مُتَوَفِّيكَ pada surat Ali 
Imran yang dianggap berarti mati. Dan memang kata wafat (mati) berasal dari 
turunan kata tersebut. Tetapi perlu diingat bahwa banyak kosakata dalam Bahasa 
Arab bermakna ganda, tergantung konteks (musytarak). 
Contohnya kata ad-Diin, tergantung konteksnya, bisa diartikan “Agama” atau 
“bukti”, tetapi tatkala dikaitkan dengan konteks penghakiman, hari Kiamat, maka 
apabila kata ad-Diin disandingkan dengan kata Yaum (hari, waktu atau 
masa/periode), maka berarti Hari Pembalasan, nama lain dari Hari Akhir/Kiamat.
Dan sudah dijelaskan dengan sangat baik oleh alm. K.H.M. Sjafi’I Hadzami bahwa 
dengan melihat konteksnya, tidak tepat diartikan mati, tetapi yang layak adalah 
mengambil atau menjaga, dan yang sejenisnya. Juga bisa dibaca dari kitab-kitab 
Tafsir terkenal.
 
Dan banyak dalil penguat dan penjelas lebih detail (takhshish) tentang topik 
pengangkatan Nabi Isa as. dan masih hidupnya Nabi Isa as. dari Hadits yang 
jelas-jelas Shohih.
 
Kendati jalur sanadnya terbatas, dan berhimpun kepada sahabat Abi Hurairah ra., 
yang banyak orang menilainya hadits Ahad pada matannya (kalimat isi haditsnya), 
namun hadits-hadits tersebut shohih, serta sudah masyhur dan mutawatir 
maknanya. Apalagi tidak ada orang yang menentangnya di masa lampau, berarti 
ijma (sepakat) dengan kediamannya, mengganggap benar berita ini, dan tidak 
perlu dibantah.
 
Sudah mafhum diketahui bahwa para Sahabat terkenal vokal dan keras dalam 
memprotes hal-hal yang dianggap bertentangan dengan Al Quran dan Hadits 
Rasulullah saw. atau perlu diklarifikasi karena dianggap ada keganjilan atau 
ketidakjelasan. 
 
Contoh kasus, Khalifah ‘Umar bin Khattab ra. diprotes dengan keras oleh Sahabat 
Khaulah ra. dari kaum perempuan tentang penetapan batas mahar (mas kawin) yang 
dianggap bertentangan dengan prinsip dalam Al Quran. Sehingga belakangan 
Khalifah membatalkan keputusannya tentang penetapan batas mahar.
 
Atau pertanyaan klarifikasi tentang tambahan jatah kain yang diterima Khalifah 
‘Umar bin Khattab ra, karena mereka merasakan ada `aura` korupsi, dan selama 
belum jelas status asalnya maka mereka tidak mau berbicara seperti biasa dengan 
Khalifah. Namun belakangan diketahui tambahan itu hibah dari anaknya ‘Abdullah 
ibnu ‘Umar ra. Dan mereka, para sahabat meminta maaf, serta menarik kembali 
sangkaan mereka, dan kembali berbicara sebagaimana biasa.
 
Apalagi dalam masalah aqidah, kalau ada yang aneh atau tidak jelas, apalagi 
tidak benar, pasti ditanyakan dan dibahas. Namun bila dianggap benar dan kuat, 
dan datang dari Allah swt. dan Rasulullah saw. maka mereka langsung diam, 
mengimani dan mengamalkan, serta mendakwahkannya.
 
Nabi Isa as masih hidup adalah benar, karena didukung oleh dalil ayat Al-Quran, 
beserta tafsir serta tarikh (sejarah) yang telah diterima dan disebarkan secara 
umum pada generasi salaf, mulai dari masa Nabi Muhammad saw, ke Sahabat, hingga 
Tabi’in dan Tabi’it-Tabi’in. Jelas kuat sekali dalil ini.
 
Untuk cross-check, bisa dibaca kembali ke kitab-kitab Tafsir, Hadits, dan 
Tarikh dari para ulama terkenal, terutama yang berasal dari generasi lalu 
(salaf) yang jauh lebih dekat ke asal dan sumber berita. 
 
Ada pun keterangan dalam masalah aqidah dari generasi kontemporer, kita harus 
hati-hati menerimanya, dan harus cross-check dengan keterangan dari generasi 
salaf. Karena jauh dari asal dan sumber berita, dikhawatirkan ada distorsi 
akibat ketidakpahaman, atau tendensi kepentingan tertentu. 
 
Sekali lagi ditegaskan, ini penting untuk masalah Aqidah dan hukum Syari’at, 
merujuk ke pemahaman generasi Salaf, yang diajarkan secara bersambung (ada 
sanadnya) dari Nabi saw dan generasi Salaf, kepada atau melalui para imam dan 
ulama yang benar keilmuannya dan akhlaknya.
 
Ada pun jika karena alasan tendensi dengan sentimen tertentu, terutama karena 
khawatir bila menerima Nabi Isa as. masih hidup dianggap membenarkan aqidah 
orang Kristiani, maka ini alasan yang salah. 
 
Karena sesungguhnya dasar dari iman adalah tunduk, berserah diri, dan meneriman 
semua keterangan dan pengajaran serta perintah dari Allah swt. dan Rasulullah 
saw. , yang merupakan cerminan dari konsekuensi 2 kalimat syahadat. 
 
Para sahabat ra. melakukan hal itu, dan inilah contoh terbaik yang perlu kita 
teladani. 
 
Bahwa tatkala diperintahkan shalat menghadap Baitul Maqdis yang merupakan 
Qiblat Ahli Kitab, mereka tidak pernah protes karena khawatir dianggap menjadi 
Ahli Kitab. Tatkala disuruh merubah arahnya ke Ka’bah, mereka juga patuh, tanpa 
khawatir dicela Ahli Kitab. 
 
Bahwa tatkala disuruh memuliakan Nabi Musa as. dan Nabi Isa. , mereka lakukan 
tanpa takut dikatakan pro Ahli Kitab. Namun mereka memuliakan sesuai tuntunan 
Allah swt. dan Rasulullah saw. , tidak berlebihan sampai menuhankan, tidak 
mengutamakan dan mendahulukan syari’at 2 Nabi tersebut di atas syari’at yang 
dibawa Nabi Muhammad saw, dan juga tidak mengingkari 2 Nabi tersebut.
 
Bahwa tatkala terdengar kaum Yahudi berpuasa pada bulan Muharram sebagai bentuk 
penghormatan kepada Nabi Musa as dan bersyukurnya atas selamatnya mereka dari 
kejaran bala-tentara Firaun, bersyukurnya mereka atas keluarnya mereka dari 
Mesir…Nabi Muhammad saw menyatakan mereka lebih berhak menghormati dari kaum 
Yahudi. Lalu Nabi saw beserta para sahabat ra berpuasa, tanpa ragu dikatakan 
meniru Yahudi.
 
Inilah bentuk keimanan sesungguhnya…pasrah, tunduk, berserah diri dan menerima 
semua yang jelas dan benar, yang datang dari Allah swt. dan Rasulullah saw. , 
baik mengerti hikmah atau manfaatnya secara detail, atau pun belum/tidak 
memahaminya.
 
Saya rasa sekian masukan dari saya, dan sekian pula salinan pengajaran dari 
‘ulama betawi yang terkenal dengan keilmuan dan akhlaknya yang mulia, terkait 
pertanyaan apakah Nabi Isa as telah wafat atau masih hidup.
 
Astaghfirullah lii wa lakum.
Al Haqq mir-Robbika, falaa takum-minal mumtarin.
 
Wassalam,
 
 
 
Nugon (Nugroho Laison)
 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
http://nugon19.multiply.com/journal


      

Kirim email ke